Karawang, anak muda, dan puisi. Semesta Literasi mencoba mempererat kembali hubungan ketiganya, termasuk dengan mengundang Naya pada hari jadi komunitas itu.

HARI Minggu lalu, 27 November 2017, salah satu komunitas literasi di Karawang, Semesta Literasi merayakan hari jadinya yang kedua tahun. Saya tidak tahu apa kontribusi mereka terhadap perkembangan literasi di Karawang sehingga kelahirannya layak untuk dirayakan. Meski demikian, kabar keberadaan mereka membuat saya merasa bahagia.

Karawang bukan lagi kota yang banyak menyimpan sawah melainkan pabrik. Saya tidak ingin mengomentari mengapa pemilik sawah rela menjual lumbung padinya, tetapi pola pikir yang akhirnya dibangun oleh kawula muda menjadi sangat prihatin. Keberadaan pabrik membuat mereka menyedihkan dan berpikir setelah lulus sekolah mau kerja di mana?

Sehingga sangat wajar jika saya atau juga mungkin Anda berpikir bahwa mungkinkah pemuda atau masyarakat di sini bisa memikirkan hal lain? Tentu saya tidak akan terlalu jauh berharap bahwa mereka akan memikirkan bagaimana cara membantu masyarakat sekitar dalam menumbuhkan kesadaran literasi. Setidaknya mereka bisa berpikir bagaimana cara makan dari hasil tanamannya sendiri, misalnya.

Tapi sudahlah, Minggu itu cuaca mendung dan bahkan gerimis. Acara dimulai pukul empat sore dan gerimis masih menangis. Saya tidak mengerti apakah tangisan kali ini merupakan rupa kesedihan atau kebahagiaan tuhan, entah. Sedangkan saya menyaksikan gerimis dengan menyulut sebatang rokok. Membayangkan bagaimana suara Reda dan petikan gitar Ari menghentikan kesepian.

Perayaan komunitas literasi tersebut memang akan dihibur oleh Ari-Reda. Mereka menyimpannya di penghujung acara, sebagai penutup. Mereka seperti tahu betul bahwa peserta akan merasa lelah setelah mendengarkan berbagai pendapat mengenai puisi dari beberapa penulis, yang salah satunya adalah Naya, si penyair cilik dari karyanya Resep Membuat Jagat Raya.

Saya tidak tahu alasan mereka memilih untuk mendatangkan Naya ketimbang penyair-penyair ulung semacam Aan Mansyur atau Joko Pinurbo atau Sapardi Djoko Damono atau Saut Situmorang. Apakah mereka sengaja memilih penyair yang popularitasnya sedang dalam puncaknya? Sebab beberapa kali pertanyaan datang kepada Naya tapi jawabannya begitu singkat dan malu-malu.

Bahkan mereka seperti mengundang ibunya untuk menjadi pembicara dan bukan Naya. Sebab beberapa kali ternyata ibunyalah yang banyak bicara. Naya, sebagai seorang anak, malah memberikan tebak-tebakan kepada peserta yang hadir dan jika bisa menjawabnya mendapatkan hadiah. Itu saja. Tapi sayangnya ia begitu lucu, menghabiskan beberapa buku karya Pram yang bahkan bagi mahasiswa sekali pun masih sangat sulit dan tentu menulis puisi.

O tentu tidak, sama sekali saya tidak meremehkan kapasitas Naya sebagai pembicara sebab nyatanya memang demikian, ia berada di depan kami dan membuat seluruh peserta mengembangkan senyum karena, mungkin kagum. Ia melakukan sesuatu yang mungkin saja kebanyakan dari kita masih sulit untuk melakukannya.

Proses kreatif menulis Naya pun cukup sederhana. Merupakan refleksi dari apa yang sudah ia dengar atau baca atau tonton.

Demikianlah yang dijelaskan oleh Yona, ibu dari Naya.

Di pertengahan acara gerimis jatuh lagi. Sedangkan pembicara terus saja membikin percakapan dengan entah siapa, mungkin dengan moderator. Saya tidak tahu apakah peserta lain bisa mendengar apa yang disampaikan pembicara pada saat itu. Sebab Gastronom Cafe, tempat acara itu berlangsung tidak kondusif. Sering kali saya lebih sering mendengar suara blender berputar atau koki yang sedang menggoreng.

Beberapa kali kereta lewat, motor dengan knalpot bersuara sangat nyaring dan banyak hal lainnya yang membuat saya akhirnya memilih keluar untuk merokok. Semua mengganggu. Seolah tidak menerima kebangkitan literasi di Karawang. Apakah kegiatan itu merupakan sebuah kebangkitan literasi atau hanya rasa percaya diri saya yang menggebu-gebu saja?

Selain Naya, mereka juga menghadirkan Mikael Johani dan Gratiagusti Chananya Rompas yang dimoderatori oleh Syarafina Vidyadhana. Orang-orang yang cukup dan sangat asing bagi telinga saya, pun mungkin bagi peserta lainnya. Sebab satu hal yang saya yakini kenapa hadirin mau membeli tiket dan hadir ke acara mereka, ya benar, Ari-Reda penyebabnya.

Jauh daripada itu, terserah siapa mereka dan apa yang mereka bicarakan mengenai apapun atau puisi di sana, di kota Karawang dengan segala yang ada di sana, itu tidak menjadi penting. Sebab yang membikin semuanya terasa begitu haru adalah kehadiran komunitas literasi di tengah-tengah kemunduran zaman (?).

Bahwa sebetulnya masih banyak anak muda di Karawang yang paradigma mereka tidak terkerangkeng atau terkurung atau terjebak atau apalah istilahnya itu ke kehadiran banyak pabrik di sana. Saya percaya bahwa keberadaan mereka bukan untuk menantang zaman. Terlalu revolusioner bagi mereka jika melahirkan gagasan demikian.

Semesta Literasi, juga komunitas literasi lainnya semacam Perpustakaan Jalanan Karawang, lahir hanya karena ingin memerangi kemunduran. Sebab kemajuan teknologi tidak dibarengi dengan kemajuan pengetahuan sejatinya hanyalah omong kosong. Adalah kemunduran.

Saya berharap selain mereka konsisten dalam menyebarkan kesadaran literasi terhadap masyarakat, kehadiran mereka juga mesti membuat kawula muda lainnya berpikir untuk menggagas sebuah komunitas yang bergerak di bidang yang sama, yaitu literasi.

Sudah saatnya kawula muda Karawang tidak hanya membicarakan slip gaji ketika berkumpul di restoran atau tempat mewah. Atau bercakap tentang betapa sulitnya mencari kerja di kota industri, sebuah percakapan yang bisa dilakukan bahkan saat kaubuang air besar.

Sebab berbicara tentang puisi seharusnya juga berbicara masalah harokah atau pergerakan. Puisi, bagi saya, bukan hanya sekadar kumpulan kata-kata penuh diksi melainkan sebuah tindakan yang baik di mata umum dan itu jarang sekali orang lakukan. Seperti kata Emily Dickinson, ketika membaca sebuah buku dan buku itu berhasil membuatnya sedemikian menggigil sehingga tiada api yang mampu menghangatkannya. Ketika ia merasa secara fisik bahwa ubun-ubunnya dicomot, ia tahu itulah puisi. Adakah sesuatu yang lain seperti itu?

Puisi adalah apa yang kita perjuangkan hari ini.


Muhammad Syamsul Aimmah
Mahasiswa jurusan Sejarah dan Peradaban Islam di UIN Bandung. Menggagas komunitas Catatan Kaki.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara