Puisi: dihindari karena terkesan lebay tapi diam-diam dicintai. Satu hal yang juga penting setelah memberi ruang menulis puisi adalah memberikan ruang untuk membacakannya, termasuk di warung kopi, dan taman kota.

PADA SATU kesempatan di Malam Puisi Medan, seorang perempuan muda berdiri dengan secarik kertas di tangan. Di sampingnya duduk seorang laki-laki pemetik gitar. Sementara khalayak duduk terdiam bersiap mendengarkan. Kemudian mengalirlah bait-bait puisi:

Maaf kalau malam ini

aku hanya bisa membaca puisi untukmu

Maaf kalau aku merangkai semua kesedihanmu lewat kata-kata

yang semoga punya makna

yang semoga tak menjadi kata saja

yang menceritakan betapa sedihnya hidupmu di masa tua

Matahari pagi sudah tak lagi menghangatkan

dan aku tahu itu.

 

Embun-embun sudah mengering

daun-daun berguguran

dan hutan terbakar

Sementara aku masih diam

masih saja menulis

maaf, lagi-lagi maaf

Maaf kalau air matamu kusimpan untuk menjadi tinta

agar mata pena tak pernah kering

Aku menyimpan air matamu

agar bisa terus menulis tentang kesedihan…

Malam Puisi adalah sebuah ruang untuk membaca puisi yang diadakan pertama kali pada bulan Maret 2013 di Kedai Kopi Kultur, Bali. Acara yang diselenggarakan sebulan sekali ini adalah ruang bagi para pencinta puisi; baik pendengar, penulis, maupun pembaca puisi. Ketika memasuki bulan ke-6, selain di Bali, Malam Puisi telah diadakan di banyak kota, antara lain Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Purwokerto, Malang, Balikpapan, Rantau Prapat, Bekasi, Batam, dan lain-lain. Sampai bulan Juni 2014, acara ini telah ada di 34 kota, termasuk Kediri dan Palu.

Dalam sebuah kata penutup di cetakan ke-17 buku puisi Aku Ini Binatang Jalang, penyair Sapardi Djoko Damono menulis tentang posisi Chairil Anwar, yang menurutnya amat mewakili ciri seniman di mata masyarakat, “Ia dikagumi sekaligus diejek. Ia menjengkelkan, tetapi selalu dimaafkan.”

Puisi sebagai teks, di mata masyarakat umum, barangkali tak jauh beda dengan seniman. Ia kerap dianggap sebagai sesuatu yang—meminjam istilah anak muda sekarang—lebay, menggelikan, dan omong kosong.

Orang-orang yang berkhidmat di teks seperti ini sudah kenyang dilabeli sebagai manusia “sok seniman” atau “sok nyastra”. Namun di sisi lain, puisi secara diam-diam, sering hadir di ranah privat, catatan harian misalnya. Kini di ruang publik, penggalannya banyak dikutip untuk mempercantik gambar-gambar editan yang diunggah di jejaring sosial.

Ya, masyarakat masih mendua dalam memperlakukan puisi, antara menghindari karena malu dan takut diolok-olok, dan mengakrabi karena diam-diam mencintai. Malam Puisi dengan slogan “Datang, dengar, dan bacakan puisimu!” seolah hendak mendobrak ruang kontradiktif ini. Siapapun, terutama anak muda, ditantang dan diberi ruang untuk tak lagi malu mengekspresikan rasa melalui kekayaan bahasa. Puisi digelar dan dihamparkan dengan pendekatan kekinian. Ia dirayakan di warung kopi, taman kota, dan ruang alternatif lain yang lebih karib.

Meski sekarang sudah begitu banyak bertebaran, namun tak semua orang mampu membuat puisi. Dalam prosesnya, puisi seringkali lahir dari pengendapan. Pengalaman, kegelisahan, dan rasa, difermentasi lalu dituangkan ke dalam kata-kata yang “bertenaga”. Tak heran jika kemudian banyak puisi, yang walaupun amat hemat dalam kata, namun serupa bunyi tetes air hujan dari atap yang menyentuh batu, di tengah sunyi.

Malam Puisi sebetulnya bukan yang mula-mula menggagas untuk mendekatkan antara kata sebagai karya sastra dengan masyarakat. Sejak penghujung tahun 90-an, beberapa sastrawan telah mengadakan safari sastra ke sekolah-sekolah di Nusantara dengan tajuk Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab. Namun karena acaranya hanya ditujukan kepada warga di ranah pendidikan, dan yang tampil membacakan karya hanya para sastrawan tersebut, maka hasilnya tidak terlalu menyentuh kesadaran berbahasa.

Kini tahun demi tahun telah berlalu, generasi tumbuh dan mati silih berganti. Apa yang telah dilakukan oleh komunitas Malam Puisi, di tengah masyarakat yang tidak terlalu gandrung membaca dan menulis, kiranya layak untuk diapresiasi. Satu tradisi telah digulirkan, tentang pengendapan, mengolah rasa dan kata, dan bermuara pada penghargaan dan mencintai bahasa.  

Dalam buku The Hidden Face of Iran karya Terence Ward, ada satu penggambaran tentang negeri para Mullah tersebut. Di negeri Hafez Shirazi—penyair Persia yang dicintai rakyat, Iran disebut sebagai berikut, “Kemana pun kamu melangkahkan kaki, niscaya akan menginjak para pujangga.”       

Terlalu muluk rasanya jika dibandingkan dengan tradisi yang telah lekat di Iran, namun setidaknya, di sini, langkah pertama telah digulirkan.


Irfan Teguh Pribadi
Menulis di beberapa media cetak dan daring. Bergiat di Komunitas Aleut. Blog: wangihujan.blogspot.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara