Dalam dunia sastra eksperimen-eksperimen selalu lahir setiap saat sehingga mencegah munculnya kebosanan. Salah satu contoh eksperimen itu ada dalam “Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini”-nya Eko Triono.

BERSYUKURLAH. Eko Triono tidak meneruskan kegilaannya menulis dengan bahasa terbalik semua cerita dalam buku “Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini”. Cukup satu cerita saja, “Atirec Malad Mukuh Kilabret”, yang menguji nalar dan keimanan pembaca dalam mengunyah cerita.

Ditulis dengan gaya “boso walikan” (bahasa berkebalikan) ala daerah Malang, cerita yang satu ini dipersembahkan untuk pembaca dengan kadar kesabaran di atas batas normal dan ketekunan bak seorang pemancing puritan menunggu umpan dimakan ikan di tengah hujan badai. Cara membaca judul cerita tersebut (dan isi cerita) adalah dari belakang setiap katanya. Cara yang bisa Anda pakai untuk mengenali bahwa “Kera Ngalam” adalah kebalikan dari “ Arek Malang”.

Eko adalah sosok penulis ganas dengan kemampuan bercerita yang menerabas batas. Dalam buku ini tampak jelas keganasan Eko meracik cerita, membangun tokoh, serta berpetualang dalam bentuk dan tema cerita itu sendiri. Salah satu bukti keganasan Eko adalah dengan menempatkan tokohnya dalam posisi yang rumit dan tak termaafkan. Wajar apabila penulis seperti Eko ini diseret ke meja hijau peradilan cerita. Persis yang terjadi dalam cerita “Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini”, yang juga dijadikan judul buku ini.

Dalam cerita, dikisahkan bahwa terjadi penculikan terhadap seorang penulis dari kamarnya. Penculikan yang seharusnya gampang justru menjadi ironi karena seorang penculik tanpa sengaja menembak kepala temannya sendiri saat sedang menertawakan kondisi Si Penulis yang mengikat dirinya sendiri ke kursi agar fokus menulis dan tidak pergi dari depan layar monitor.

Si Penulis akhirnya berhasil dibawa ke sebuah kota asing yang sangat mirip dengan kota yang pernah ditinggali Si Penulis di masa kecil. Si Penulis yang kebingungan atas motif penculikannya tersebut akhirnya tahu bahwa ia akan dibawa ke pengadilan atas cerita-cerita yang ditulisnya.

Tebak, siapa pihak yang menuntut Si Penulis? Tidak lain, tidak bukan kelompok yang menuntut Si Penulis adalah tokoh-tokoh yang terpaksa menjalani kehidupan tragis karena cerita Si Penulis kampret itu. Salah satu tokoh yang menjadi penuntut adalah seorang gadis cantik jelita yang cinta mati kepada … seekor KAMBING HITAM. Ini serius. Kambing Hitam yang dimaksud adalah kambing berwarna hitam. Bukan tokoh politik, bukan ketua ormas, tapi kambing betulan yang hitam.

Jangankan tokoh gadis cantik itu, saya sebagai pembaca juga dibuat senewen dengan cerita ini. Yang lebih pahit lagi adalah kenyataan bahwa di antara banyaknya lelaki jomlo anggota Klub Buku Basabasi, Eko dengan entengnya menyuguhkan cerita tentang tragedi perempuan cantik yang mencintai kambing hitam, alih-alih mencintai pria lugu dan polos seperti kami. Sungguh keterlaluan bukan?

Kesaksian demi kesaksian dibacakan, hingga akhirnya timbul kerusuhan dan membuat suasana ruang sidang kacau balau. Setelah kondisi terkendali, Si Penulis akhirnya diputuskan bersalah dan diberikan kesempatan terakhir untuk membela diri sebelum dihukum mati. Simak pledoi Si Penulis yang menggetarkan jiwa ini:

Kalian harus tahu bahwa kesadaran yang kalian miliki hanyalah kesadaran di dalam ketidaksadaran yang lain. Kalian ibarat baru mampu mencoba menyalakan lampu kecil di dalam botol gelap, di mana botol itu berada di ruangan gelap, ruangan itu berada di rumah gelap, rumah itu berada di kota gelap, kota itu berada di bumi gelap, bumi itu berada di alam semesta gelap ...

Sampai di sini saya merasa bahwa ucapan Si Penulis itu bukan hanya ditujukan kepada penduduk kota imajiner tersebut, tetapi juga kepada saya, pembaca buku ini, dan masyarakat modern kita yang sedang dirundung kegelapan. Masyarakat kita hari ini sangat mirip dengan masyarakat dalam cerita tersebut.

Masyarakat yang menuhankan gawai 6 inchi, minim literasi, malas mencari informasi pembanding, dan tentu saja gemar memojokkan orang yang tidak sepaham dengan kemauannya. Telepon pintar sebagai salah satu simbol modernitas ternyata tak selamanya menjadikan penggunanya menjadi pintar. Mirip dengan cerita di atas, masyarakat menjadi kelompok yang rentan dipermainkan oleh arus politik yang ditopang berita bohong (hoaks) dan dramaturgi elit.

Kegelisahan Eko akan kehidupan dan masyarakat modern terselip di antara kekonyolan dan keabsurdan cerita yang ada dalam buku ini. Eko mempertanyakan peran dan idealisme  seorang penulis pada bangunan kebudayaan dan perubahan sosial. Kegelisahan yang mendalam hingga berubah menjadi mimpi buruk. Simak kegelisahan Eko lainnya dalam buku ini:

“Aku bermimpi dijagal orang-orang yang menuduh aku menjual peristiwa orang-orang miskin dan budaya lokal, tetapi aku tidak berbuat apa-apa bagi mereka.”

Eko juga menumpahkan ketakutan-ketakutan yang muncul dalam masyarakat modern. Ketakutan yang memaksa masyarakat merubah pola hidup dan budaya yang melekat pada jiwanya. Ketakutan yang membuat masyarakat membuat pagar rumah berupa tembok kokoh nan tinggi, menggantikan fungsi tanaman hias dan tanaman obat sebagai pembatas halaman. 

“Kembali ke kota, tiba di depan rumah, aku mendapati rumahku sendiri berpagar tinggi. Aku menyandarkan kepala pada pagar. Apa yang kutakutkan? Atau rasa takut adalah bisnis dunia modern?”

Ketakutan yang ditangkap secara sempurna oleh raksasa modal bernama kapitalisme untuk diproduksi menjadi aneka kebutuhan siap saji. Mulai dari alarm anti maling, obat penghitam rambut, hingga vitamin anti keriput, semua ada dalam ponsel Anda. Tinggal klik sambil duduk santai di rumah, dan barang-barang itu akan berjalan sendiri menghampiri Anda. Tentu dengan harga yang “sesuai” dan ongkos kirim yang memadai tentunya.

Membaca Eko adalah sebuah ikhtiar untuk memahami cerita dan manusia (di dalam dan luar cerita). Ada banyak hal-hal berubah di luar sana yang membawa berbagai kemudahan sekaligus mengusung aneka kecemasan. Eksperimen Eko melalui cerita (eksperimental) dalam buku ini membuka pelbagai kemungkinan-kemungkinan baru dalam penulisan cerita, melalui aneka bentuk dan tema.

Eksperimen adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan guna mencari karya-karya baru dalam hal sastra maupun pengetahuan. Apalagi Eko termasuk penulis muda yang cukup piawai dalam merakit cerita. Sebagai buktinya, buku “Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon” karyanya menjadi unggulan 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2016 lalu. Tak sabar rasanya menunggu karya Eko selanjutnya.


Iswan Heriadjie
Penggiat Klub Buku Yogyakarta dan perpustakaan jalanan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara