Sapardi Djoko Damono, penyair besar dengan puisi-puisi yang populer bukan hanya dari buku antologi, tapi juga melalui ragam alihwahana, termasuk musikalisasi.

KITA ingin mencintai Sapardi dengan sederhana. Setelah W.S. Rendra, barangkali gelar penyair sejuta umat berpindah ke Sapardi Djoko Damono. Sekian penyair boleh-boleh saja merasa kondang dan menerbitkan banyak buku. Namun, kita tahu, puisi-puisi penyair kelahiran Solo, 20 Maret 1940, itulah yang dirayakan hampir oleh semua orang: pembaca sastra maupun bukan.

Puisi-puisi Sapardi dinikmati dan dikagumi meski buku-bukunya tak selalu dibeli. Kita cukup berkunjung ke semesta maya lewat gawai, maka puisi-puisi Sapardi dapat dijumpai di mana pun, sebagai apa pun. Puisi-puisi Sapardi berhasil melarikan diri dari kurungan buku-buku. Hampir semua orang mengingat puisi Aku Ingin, tapi tak semuanya ingat di buku Sapardi yang mana puisi itu tertera.

Puisi-puisi Sapardi banyak teralihwahanakan menjadi bukan lagi puisi. Puisi-puisi dijelmakan baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain sebagai novel, film, dan paling banyak: musikalisasi puisi.

Puisi, atau sekumpulan puisi, paling kerap dialihwahanakan jelas Hujan Bulan Juni (1994). Selain dicetak ulang, buku kumpulan puisi itu menjelma novel Hujan Bulan Juni (2015), film Hujan Bulan Juni (2017), dan sekian musikalisasi puisi oleh banyak penggubah-penampil.

Tuhan bahkan sampai benar-benar menurunkan hujan di bulan Juni, bulan yang seharusnya bermusim kemarau, demi merayakan puisi Sapardi itu. Tuhan mungkin menyayangi puisi-puisi Sapardi sekalipun duka-Nya tetap abadi. Tuhan tetap sabar menunggu Sapardi keluar sebentar.

Alih wahana dari puisi ke novel dan film yang dilakukan oleh Sapardi baru-baru ini saja. Ikhtiar alih wahana yang telah ditunaikan sejak lama adalah musikalisasi puisi. Mengingat puisi-puisi Sapardi berarti mengingat musikalisasi AriReda. Mereka itu duo musikus berpersonil Ari Malibu dan Reda Gaudiamo, yang terbentuk pada tahun 1982. Semula, AriReda itu pelantun lagu-lagu folk dan balada. Namun, sejak terlibat proyek apresiasi seni yang diprakarsai Sapardi Djoko Damono dan Fuad Hassan pada tahun 1987, mereka lebih dikenal lewat musikalisasi puisi. Memang, proyek yang diikuti oleh AriReda bermaksud membantu orang-orang awam menikmati puisi lewat lagu. Puisi, bagi orang awam, adalah lagu.

AriReda sejak awal memutuskan mengakrabi puisi-puisi Sapardi. Album perdana mereka, Becoming Dew (2007), berisikan musikalisasi sepuluh puisi Sapardi. Becoming Dew mengajak para pendengarnya mabuk Sapardi. Baru di album kedua, Menyanyikan Puisi (2015), mereka memusikalisasikan puisi-puisi dari sekian penyair Indonesia: Amir Hamzah, Abdul Hadi WM, Goenawan Mohamad, Toto Sudarto Bachtiar, dan tentu saja Sapardi lagi. Barangkali, puisi-puisi Sapardi memang yang paling enak dimusikalisasi. Lain dari puisi-puisi Goenawan Mohamad, katakanlah, yang dalam pengakuan AriReda sulit digarap. Namun, AriReda tidak monopolistik. Selain mereka, masih ada lagi yang doyan memusikalisasi puisi-puisi Sapardi.

Tahun 2017, buku kumpulan puisi Sapardi, Duka-Mu Abadi, dicetak ulang. Buku itu tipis tapi dibanderol harga mahal: 85 ribu rupiah! Rupanya buku berbonus kepingan CD musikalisasi puisi Sapardi. Barangkali, buku sebetulnya hanya berharga 40-50 ribu rupiah, sedang sisanya adalah harga CD. Empat puisi Sapardi dimusikalisasikan di CD itu: Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, Cahaya Bertebaran, Sebuah Taman Sore Hari, dan Kuhentikan Hujan. Musikalisasi puisi digubah Umar Muslim bareng lantunan suara merdu Tatyana Soebianto. Umar dan Tatyana mengajak kita membayangkan Cahaya Bertebaran sebagai lagu:

cahaya bertebaran di sekitarmu

butir-butirnya membutakan dua belah matamu

 

Sudah sampaikah kita?” tanyamu tiba-tiba

lupakah kau bahwa baru saja meninggalkan dermaga.

AriReda dan duo Umar-Tatyana rupanya masih sekutu. Reda dan Tatyana sempat merilis sekian musikalisasi puisi Sapardi dengan nama Dua Ibu. Mereka memusikalisasi puisi Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, Sajak-sajak Kecil tentang Cinta, Hatiku Selembar Daun, dan Ketika Jari-jari Bunga Terbuka. Puisi-puisi Sapardi itu liris, dimusikalisasi jadi lagu-lagu melankolis. Kita merasakan suasana hampir sama, baik dari musikalisasi AriReda, Umar-Tatyana, maupun Dua Ibu. Selain penggubah-penampilnya itu-itu saja, barangkali Sapardi sendiri pun sudah menaruh nada di tiap-tiap puisi yang ditulisnya. Maka, ikhtiar memusikalisasi puisi Sapardi akan tertahan di corak yang sebenarnya gampang kita duga.

Penyimpangan baru dilakukan musikus folk bernama Jason Ranti. Ia menggubah-membawakan lagu usil berjudul Pak Sapardi alias Lagunya Begini, Nadanya Begitu. Lagu itu bukan musikalisasi puisi tapi melagukan serba-serbi Sapardi. Di lagu itu, Jason meminjam petilan-petilan puisi Sapardi sebagai liriknya. Petilan-petilan itu sudah pasti teringat di benak penggandrung Sapardi. Petilan puisi kadang asli, kadang dipelesetkan oleh Jason. Misalnya “ada berita apa hari ini, Den Sastro?” dipelesetkan menjadi “ada berita apa hari ini, Dian Sastro?” Di bagian refrein, kita juga menjumpai pelesetan lain:

Pak Sapardi

aku ingin ngopi dengan sederhana

di bulan Juni

dengan murid cantikmu di UI.

Jason tak ingin mencintai, cuma butuh ngopi bareng mahasiswi.

Lagu Pak Sapardi dibuka lirik usil:

berlayar ke Depok di waktu pagi hari

sambil menulis lirik untuk lagu pop

bilangnya begini, maksudnya begitu

kita abadi, yang fana itu waktu.

Jason terasa menyindir kecenderungan musikalisasi puisi yang sedikit-sedikit pakai puisi Sapardi. Maka, bagi Jason, Sapardi tak ubahnya penulis lirik lagu-lagu pop. Jason menyoal lagi musikalisasi puisi di bagian akhir lagu:

Pak Sapardi

lihat AriReda jualan tiket

di Cikini

bikin konser mini merayakan puisi.

Lagu Jason kian meyakinkan kita: mengingat puisi-puisi Sapardi berarti mengingat musikalisasi puisi. Sekian banyak musikalisasi puisi mengajak kita mendengarkan Sapardi dengan sederhana. Namun, kita masih berhak merayakan puisi Sapardi tetap sebagai puisi: menyambut buku-bukunya yang terbit berkali-kali. Selamat ulang tahun, Sapardi.


Udji Kayang Aditya Supriyanto
Pembaca buku dan pengelola "Bukulah!"
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara