Lalu, apa yang tidak menarik dari sebuah kota yang menyimpan banyak kisah tentang penerbitan buku? Kisah tentang lahirnya sekian banyak penerbit yang tidak terjadi di kota-kota lain...

TANPA mengecilkan kontribusi dan arti penting kota-kota lain di dunia penerbitan buku dan hal-hal mengenai perbukuan, saya kira Jogja dan Bandung memberikan warna yang cukup dominan. Seperti yang ditulis dalam buku DECLARE! Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007), yang mana jika melihat dalam konteks perbukuan, Jogja mempunyai perangkat yang lengkap. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di kota gudeg ini, terdapat banyak ilmuwan, mahasiswa, perpustakaan, komunitas budaya, seniman, dan tentu saja penerbitan, percetakan dan juga toko buku.

Jogja dahulu bahkan sampai hari ini dikenal menjadi kawasan yang ramah untuk lahirnya rumah-rumah penerbitan–meski beberapa berskala kecil. Dengan adanya toko buku seperti Indira, toko buku Pembangunan, toko buku Kedaulatan Rakyat, toko buku Gunung Agung, toko buku Hien Ho Sing, toko buku Ekonomi dan toko serta penerbit masa kini yang sekarang merebak di kawasan DIY seperti Indie Book Corner, OAK, Mojok, dan lain-lainnya, seolah menasbihkan kalau Jogja memang menjadi barometer kota literasi di Indonesia.

Masih menurut buku yang sama, sejarah kemunculan penerbit-penerbit di Jogja awalnya berkaitan dengan kehadiran lembaga-lembaga sosial. Penerbit Persatuan hadir bersamaan dengan kelahiran dan berkembangnya Muhammadiyah pada awal abad ke-20. Pada tahun 1922 lahir pula penerbit Kanisius. Tak hanya itu, setelah kemerdekaan muncul penerbit lainnya seperti Hien Hoo Sing yang menerbitkan buku-buku pelajaran. Setelahnya, penerbit-penerbit Jogja kian bermunculan dan semakin marak, bahkan nafasnya berhembus kencang hingga saat ini.

Berkilometer ke arah barat, tepatnya di Bandung, sejarah berkata jika ternyata kota yang konon berjuluk Parijs van Java ini juga sempat ramai dengan penerbitan atau toko-toko buku yang menggeliat. Meski kini, kebanyakan dari toko-toko itu sudah beralih fungsi dan hanya tersisa bangunannya saja, bahkan beberapa sudah hilang sama sekali.

N.V. Mij. Vorkink, Visser & Co, Klaas de Vries & Jan Fabricius, G. Kolff & Co, N.V.G.C.T van Dorp & Co, hingga M.I. Prawira-Winata (M.J Prawira-Winata) adalah contoh beberapa toko dan penerbit yang berada di pusat Kota Bandung yang pernah berjaya di masa lampau.  

*

Sabtu, 03 Februari 2018, saya bersama Komunitas Aleut berdiskusi perihal pengalaman-pengalaman membeli buku. Sejenak, ingatan kami dibawa ke beberapa tahun belakang. Seorang kawan bercerita pengalamannya berkunjung ke Reading Light beberapa pekan sebelum toko buku tersebut akhirnya tutup. Ada pula cerita seorang kawan lainnya yang membeli buku di Palasari dengan harga super murah setelah si penjual diajak ngobrol ngalor-ngidul. Sedangkan saya, lebih banyak nyimak daripada bercerita.

Selain membeli langsung ke toko-toko buku, belanja buku secara online menjadi alternatif lainnya. Perihal ini, para peserta diskusi saling melemparkan alasan-alasan yang mendasari kapan mesti belanja langsung ke toko buku dan kapan mesti belanja online. Saling bertukar pertanyaan mengiringi sore kami di Buahbatu yang saat itu tak hujan, tumben memang.

Diskusi berjalan seru dan sangat cair. Hingga tak terasa jika obrolan makin melebar ke beberapa bahasan seperti buku favorit, pengalaman meminjam buku di perpusatakaan, sampai “kenakalan” yang pernah dilakukan di toko buku atau perpustakaan.

“Kalau saya sih bukunya Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta-nya Muhidin M. Dahlan yang sampai sekarang masih berbekas, selain tentunya ada juga buku yang saya suka dari segi cerita seperti Perahu Kertas-nya Dewi Lestari, lalu Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London-nya George Orwell,” begitu jawaban saya saat seorang kawan bertanya tentang buku favorit.

*

Minggu pagi, saya dan Komunitas Aleut akan mengadakan kegiatan rutin: Ngaleut. Melanjutkan tema diskusi sehari sebelumnya, yakni Toko Buku. Bedanya, kali ini kami akan mengunjungi toko buku tempo dulu di kawasan pusat kota. Sebelum matahari makin meninggi, berjalanan beriringan menuju toko buku tempo dulu pun dimulai.

 

N.V. Mij. Vorkink

Salah satu penerbit dan juga percetakan yang berada di Bandung dan beralamat di Groote Postweg (Asia Afrika). Dibuka pada tahun 1896, perusahan ini juga menerbitkan koran pertama di Bandung bernama De Preangerbode. Pada tahun 1910, bangunannya diubah menjadi bergaya Eropa. Namun, setelah masa kemerdekaan, toko buku Vorkink berubah menjadi toko buku Sumur Bandung.

Gids van Bandoengen Omstreken (S.A Reitsma & W.H. Hoogland, 1921), Gedenkboek MOSVIA 1879-1929, 1929, Braga en de Bragaweg (W.H. Hoogland, 1957) merupakan beberapa buku yang diterbitkan oleh Vorkink. Setelah menjadi toko buku Sumur Bandung, salah satu buku terbitannya yaitu Saumur Jagong (Sjarif Amin, 1983). Saya hanya dapat membayangkan bangunannya, karena sekarang Vorkink sudah lenyap tak berbekas. Hanya ada lahan yang cukup lapang dan berumput tinggi.

Visser & Co

Tak jauh dari Vorkink, ada pula perusahaan di bidang percetakan dan penerbitan bernama Visser & Co. Namun, bangunan yang saya datangi sebetulnya adalah hasil dari perombakan dari bangunan sebelumnya yang mempunyai gaya Eropa. Pada saat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika 1955, atap bangunan toko Visser & Co ini diserbu oleh masyarakat yang ingin menyaksikan kedatangan para delegasi saat itu dengan cara memanjatnya. Setelah masa kemerdekaan, toko Visser & Co berubah nama menjadi Karya Nusantara. Sekarang penerbit dan toko ini sudah tidak ada lagi, tapi tidak dengan bangunannya yang masih terlihat cukup kokoh.

Klaas de Vries & Jan Fabricius

Penerbit buku milik Klaas de Vries dan Jan Fabricius yang merupakan sastrawan dan wartawan koran Preangerbode ini menerbitkan buku Geschiedenis der Preanger Regentschappen, Kort Overzigt karya R.A Kern pada tahun 1898. Gedung toko buku dan penerbit ini terletak bersebelahan dengan toko de Vries lama yang dirombak pada tahun 1909 dengan arsitektur baru bergaya oud indisch stijl hasil rancangan Edward Cuypers untuk kemudian dirombak lagi pada tahun 1920 menjadi bentuk seperti yang saya kunjungi Minggu itu. Di kompleks bangunan yang sama juga terdapat sebuah toko buku lainnya yang khusus jual beli buku-buku bekas, De Boekenbeurs, milik L.A. Lezer.

N.V.GC.T van Dorp & Co

Toko van Dorp dibangun tahun 1922 oleh seorang arsitek Ir. C.P Wolff Schoemaker. Bangunannya saat ini tidak banyak mengalami perubahan semenjak pertama kali didirikan, selain namanya saja yang sekarang dikenal menjadi Landmark Convention Centre. Toko yang satu ini berpusat di Batavia, namun memiliki jaringan di Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Akhir-akhir ini gedung yang berada di Jalan Braga tersebut sering dijadikan gedung pameran. Entah itu pameran buku atau pun pameran-pameran lainnya. Pada awal tahun 1940-an toko van Dorp pernah menerbitkan sebuah buku botani berjudul Indische Tuinbloemen. M.L.A Bruggeman menjadi penyusunnya, dia merupakan seorang botanikus pengelola Kebun Raya Bogor dengan Ojong Soerjadi sebagai ilustrator.

Uniknya, Indische Tuinbloemen sendiri memuat 107 kolom kosong dengan keterangan nama bunga di bawahnya. Untuk mengisi kolom kosong tersebut, kita dapat menyicil untuk membeli koleksi gambarnya. Setiap membeli sebuah gambar bunga tertentu, pembeli akan mendapatkan bibit tanaman bunga lengkap dengan potnya.


Hendi “akay” Abdurahman
Pegiat Komunitas Aleut, sering menulis di pustakapreanger.com dan pejalan kaki di Minggu pagi.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara