Benarkah mencintai buku adalah sesuatu yang sederhana, dan mudah? Di zaman ketika kebiasaan berceloteh di media sosial dianggap lebih berkelas, semakin sulit untuk mencintai buku tanpa rasa bersalah.

MESKIPUN HIDUP DAN bekerja dalam dunia buku, khususnya sebagai peneliti, saya  selalu merasa bersalah saat membeli buku-buku baru. Saat memesan ataupun memegang buku-buku baru, terpancar wajah kedua anak saya dan sekian banyak kebutuhan mereka ke depan yang harus kami rencanakan dan cicilan KPR bulanan yang tidak bisa ditangguhkan seberapapun sulitnya situasi yang saya hadapi saat itu.

Di sisi lain, mengharapkan buku-buku baru hadir lebih cepat sebagai penunjang riset di tempat saya bekerja adalah sebuah kemustahilan. Perpustakaan belum menjadi jantung pengetahuan yang menggerakkan dan memompa orang untuk datang di tengah minimnya pembaharuan referensi yang disuguhkan. Kehadiran perpustakaan adalah ruang formal yang menandakan bahwa peradaban sedang dibangun, meskipun mereka tidak benar-benar membangunnya secara serius.

Tentu asumsi tersebut di atas bisa saja salah. Kita bisa membuktikannya dengan mengecek ada tidaknya di setiap perpustakaan, nasional maupun daerah, buku terbitan terbaru yang dipajang di toko-toko buku. Situasi ini kemudian mendorong orang menimbun buku dan membangun peradabannya masing-masing dengan membuat perpustakaan pribadi di Indonesia. Yang memiliki inisiatif literasi, mereka membangun kantong-kantong komunitas perpustakaan di daerah-daerah, dengan harapan semua orang bisa mengakses buku, betapun tertinggalnya bacaan yang mereka tawarkan.

Saya sadar bahwa saya bukan tinggal di negara maju, di mana perpustakaan menjadi kiblat tempat orang berkunjung mencari dahaga pengetahuan sehingga para sarjana sekaliber apapun selalu menempatkan perpustakaan sebagai satu-satunya sandaran tempat mereka mencari informasi dan referensi. Alih-alih memiliki referensi yang berlimpah di rumah, para sarjana itu seringkali hanya memiliki koleksi buku yang benar-benar mereka sukai.

Indonesia juga tidak bisa dibandingkan dengan Singapura, negara yang hanya sebesar kota Jakarta. Meskipun kecil dan tidak memiliki sumber daya alam, Singapura mengerti bahwa meningkatkan kualitas manusia harus dimulai dengan memperkuat fasilitas publik, salah satunya adalah perpustakaan.

Kalau ada waktu, cobalah mampir ke Perpustakaan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Tidak hanya buku berbahasa Indonesia, di perpustakaan tersebut kita bahkan bisa menemukan buku stensilan atas satu isu yang kita anggap sebagai sampah yang tak berguna. Perpustakaan itu benar-benar merawat pengetahuan dengan menjaga kertas yang bertinta, meskipun tahu itu bukan sejarah negara mereka.

Dalam kondisi tersebut, yang bisa saya ucapkan kepada isteri saya adalah meyakinkan dirinya bahwa melalui buku ada rejeki yang tak terduga menanti. Jika rejeki itu tak dapat diraih, minimal buku-buku itu menjadi warisan pengetahuan yang berharga untuk anak-anak kami kelak saat mereka dewasa. Setidaknya, jika tidak bernilai secara beradaban, buku-buku itu bisa menjadi koleksi klasik yang berharga untuk dijual.

Meskipun ia tahu bahwa saya sekedar menenangkan dirinya di tengah kebutuhan bahan pokok yang semakin meningkat, sementara saya masih mempertahankan menjadi pengepul buku-buku di tengah dunia yang tak lagi membaca buku secara manual; dunia yang terkoneksi dengan menggenggam telepon pintar sebagai pengetahuan utama dan google sebagai raksasa arsip yang memuat apa saja atas informasi yang kita inginkan.

Namun, tidak semua orang memanfaatkan arsip raksasa tersebut sebagai pencarian pengetahuan untuk memahami kebenaran. Meskipun disuguhkan melalui pelbagai situs dan ragam bacaan yang memudahkan orang untuk membaca buku-buku elektronik, di era pasca-kebenaran, membaca status facebook, cuitan twitter, ataupun informasi yang disuguhkan oleh situs-situs yang mengejar akumulasi kapital adalah penyokong utama mengapa tradisi membaca buku-buku cetak mulai ditinggalkan.

Kini, tradisi membaca dengan mencium  bau kertas dan menimbang berat buku sambil melihat visualisasi gambar depan buku yang disuguhkan untuk menarik orang berimajinasi menjadi aktivitas yang ganjil. Membaca buku-buku cetak tidak bisa mempercepat orang untuk segera menjadi pintar di tengah media sosial yang membutuhkan kecepatan agar lekas diakui sebagai ahli dan memiliki otoritas di segala bidang.

Dengan kata lain, inilah era di mana memiliki buku cetak menjadi semacam kebodohan tersendiri bagi orang-orang yang tetap menekuninya. Sementara itu, menjadi pemberi komentar yang paling aktif dengan mengajukan pertanyaan dan penjelasan adalah jalan utama yang sering dilakukan sambil lambat laun melupakan bahwa isi kepala perlu diisi amunisi pengetahuan yang memadai.

Maka, janganlah heran bahwa di media sosial justru kita akan menemukan umpatan dan cacian yang menandakan kekosongan otak tanpa referensi bacaan. Orang yang membangun literasi melalui membaca dan membagi pengetahuan di media sosial pun dianggap sebagai tak mengerti apa-apa. Di tengah situasi inilah kita sedang membangun peradaban menuju masyarakat yang kikir terhadap pengetahuan tapi boros kata-kata.

Ya, ini era yang ganjil bagi penggila buku.

Ironisnya, di tengah keganjilan itu, penerbit-penerbit indie tetap bermunculan, menawarkan perspektif dan dan pengetahuan baru di luar arus utama. Penulis-penulis muda terus bertumbuh menawarkan gagasannya tentang dunia yang berbeda dengan orangtua mereka, dengan ekspresi tulisan yang tak pernah saya duga.

Saya mengerti bahwa mereka menuliskan dan menerbitkan buku tanpa harapan berlebih bahwa karya-karya mereka akan laku keras di pasar perbukuan di tengah gurita kapitalisme cetak yang telah digenggam oleh pemain perbukuan lama dan dominan. Bagi saya, dan ini tampak terlihat, kehadiran mereka adalah sebuah perlawanan kecil-kecilan bahwa seburuk apapun dunia harus dikontestasikan dengan buku untuk dibaca, sekecil apapun itu pasar pembacanya.

Saya sendiri adalah satu orang yang ganjil tersebut dengan mempercayai mereka dengan cara membeli buku-buku mereka untuk dibaca. Pada titik ini rasa bersalah itu lambat laun berbuah menjadi rasa kebanggaan bahwa saya menjadi bagian dari orang yang melawan atas sesuatu yang ganjil. Meskipun saya sadar bahwa saya tidak bisa memastikan secara jelas, apakah ini benar-benar perlawanan atau sekadar memuaskan nafsu saya saja untuk mengoleksi buku-buku yang ingin saya miliki sebagai orang yang tergila-gila kepada buku untuk memiliki dan membacanya dengan lahap.

Setidaknya, dengan tetap membeli buku, saya menghidupkan nafas literasi yang jatuh-bangun seiring dengan perubahan rezim pemerintahan.     

 


Kredit Gambar : @Eka pocer
Wahyudi Akmaliah
Peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK) LIPI dan penulis Menggadaikan Ingatan: Politisasi Islah di Kalangan Korban Priok 1984 (2009).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara