Jika biasanya yang dibahas orang adalah nama-nama besar, bagaimana jika dalam musik dicoba dibahas para pemain figuran? "Pop Kosong Berbunyi Nyaring" mencoba melakukan hal "di luar kebiasaan" itu.

SEBAGAI PRODUK industri hiburan, musik populer melahirkan nama-nama besar yang akan selalu dikenang sepanjang kehidupan manusia modern. Sebut saja Elvis Presley, The Beatles, atau Michael Jackson misalnya. Nama-nama itu selalu melekat, bahkan mungkin bagi yang tak begitu mengikuti perkembangan musik pop sekalipun.

Akan tetapi, bagaimana jika nalar generik ini kita putar balik: membincangkan nama-nama tersisihkan dari kancah pertarungan industri musik pop. Memperhatikan pemain-pemain figuran dalam kemilaunya belantika musik dunia serta Indonesia. ‘Pop Kosong Berbunyi Nyaring’ mengajak kita untuk menyimak bebunyian di persimpangan jalan itu.

Daya pikat pertama buku ini adalah dari desain sampulnya yang digarap dengan ciamik oleh Herry Sutresna. Sebaris deretan entah buku, piringan hitam atau cakram padat yang tersusun rapi di rak memberikan kesan elegan.

Buku setebal 200 halaman ini hendak memaparkan buah pikir Taufiq Rahman. Seorang redaktur pelaksana di harian cetak Ibukota berbahasa Inggris. Ia juga pengelola portal jakartabeat.net dan pemilik label rekaman Elevation Records. Lewat kompilasi 19 esainya ini Taufiq membeberkan seluk-beluk selera musiknya serta korelasinya dengan kehidupan sosial-politik, hingga agama. Taufiq merupakan pencerna musik yang baik. Juga penggali nilai-nilai spiritual dan intelektual karya musik yang telaten.

Seperti sebuah komposisi album musik, buku ini disajikan dengan gaya yang musikal: terdapat Intro, Outro, Bonus Track, bahkan Hidden Track. Tentunya dalam bentuk tulisan.

Di bagian Intro kita bisa langsung meraba gaya bertutur Taufiq yang ringan juga menyenangkan. Renyah seperti kerupuk yang baru diangkat dari penggorengan: hangat kemepul (kontekstual). Meskipun ia membumbuinya dengan kadar pengetahuan tinggi (over-intellectual). Tetapi justru cara itu yang berhasil memantik saya untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya dijelaskan. Kita juga harus cermat membacanya, karena tiap kalimat mengandung pengetahuan baru, meski tak jarang sekadar opini pribadi.

Pada bagian awal Taufiq menyempatkan diri untuk ‘sambat’ kepada layanan musik daring. Sebagai pengusaha label rekaman kecil-kecilan, ia turut ambil bagian dengan jualan musik di salah satu layanan digital. Alih-alih mendukung musisi jalur independen, bagi Taufiq cara ini hanya sebagai asa penunda kekalahan bagi artis yang tak begitu dikenal. Karena semakin besar nama di podium musik digital itu, semakin besar kemungkinan untuk diputar dan meraup penghasilan. Sebaliknya, semakin tidak dikenali semakin ceking saja keuntungan yang didapat.

Kemudian kita diajak menelusuri selera musik Taufiq dari arus pinggir atau yang tak begitu dikenal secara umum. Nama pertama yang diajukan ialah Brian Eno. Pemusik ambient dari Inggris. Jika musik adalah soal bunyi, maka album Another Green World dari Brian Eno adalah materi penting ihwal bebunyian yang dirancang di kepala, diramu di studio dan direproduksi secara massal. Ini adalah album yang cocok untuk menemani kesendirian dan kedalaman berpikir. Paling tidak buat Taufiq.

Selanjutnya Taufiq mengajak kita terbang ke Amerika. Menuju kota kecil bernama Seattle. Kota kematian bagi legenda anak-anak muda 90-an, Kurt Cobain. Di kota ini terdapat label rekaman non-arus utama bernama Sublime Frequences, asuhan Alan Bishop sejak tahun 2003 silam. Label rekaman ini merilis album-album eksotis dari negara-negara non Eropa apalagi Amerika. Mulai dari karya biduan organ tunggal asal Suriah bernama Omar Souleyman, petikan gitar Timur Tengah dari Omar Khorsid, hingga album-album legendaris dari artis Indonesia seperti Koes Plus dan Dara Puspita.

Meski demikian, bukan dua nama besar ini yang paling berkesan bagi Taufiq. Yang membuatnya terkesima adalah album Folk and Pop Sounds of Sumatra Vol.1; sebuah kaleidoskop musik tradisional dari Minangkabau, Batak, Melayu Sumatera Utara dan Riau. Bahkan kesan Taufiq saat mendengar lagu ‘Siti Payung’ yang dinyanyikan oleh Rubiah ini, ia merasa seperti mendengarkan rekaman asli delta bluesnya Robert Johnson. Sebuah perbandingan yang menarik atas keontetikan karya musik beda rumpun dari kulit hitam Amerika dan Melayu Sumatera.

Eros Djarot menjadi salah satu seniman Indonesia yang diperbincangkan Taufiq. Bukan, bukan tentang album soundtrack mahakarya Badai Pasti Berlalu (1977). Pembahasan Taufiq justru pada album sebelum itu. Album soundtrack Kawin Lari (1976) yang digarap Eros dengan kugirannya Barong’s Band. Album itu bagi Taufiq mengalir cemerlang dengan citarasa yang sangat Indonesia. Ia juga termasuk orang yang tidak setuju jika lagu “Kembali ke Djakarta”-nya Koes Plus menjadi  lagu terbaik tentang ibukota sejak mendengar lagu “Jakarta” dari Barong’s Band.

Bandempo termasuk band yang masuk kategori peserta turnamen ‘tarkam’ dalam skema musik independen Jakarta. Jauh dari popularitas. Musik mereka dianggap aneh. Sulit masuk di akal. Namun ajaib bagi telinga Taufiq. Di esai urutan kesepuluh ini Taufiq menguliti lagu-lagu Bandempo satu persatu. Menjelaskan tafsir artistik dari band nyeleneh itu.

Dalam buku ini Taufiq tak hanya narsistik membincangkan selera-selera musiknya saja. Salah satu esai berjudul ‘Pressing Problem’ menjadi satu-satunya tulisan yang bernada kritik. Ia bertanya ke mana mesin cetak piringan hitam di studio legendaris Lokananta, di tengah ingar-bingar wacana Lokananta sebagai aset musik Indonesia serta berbagai upaya untuk menyelamatkannya. Analisis tajam Taufiq mengibaratkan peristiwa-peristiwa serupa sering terjadi di negara ini.

Kita sudah terbiasa dengan fenomena tahu bulat: produk yang muncul tiba-tiba tanpa pernah melakukan riset pasar dan keberlanjutan usaha. Kita juga terbiasa dengan angkot mogok melintang di tengah jalan dan menimbulkan kemacetan tanpa alasan jelas. Pendeknya, kita sering melakukan apa pun tanpa rencana awal yang jelas dan tujuan akhir yang tegas (hal 107).

Mirisnya, hal ini juga terjadi dalam industri budaya kita.

Musik, Agama dan Politik

Kecintaan Taufiq pada musik tak berhenti sebagai penikmat garis keras, atau kritikus yang genit, ia cukup bernas mengejawantahkan musik ke dalam ruang-ruang spiritual: agama. Sebagaimana ia menjelaskan filsafat musik; musik ada karena Tuhan, atau setidaknya ide tentang Tuhan.

Dalam masyarakat Yunani Kuno, misalnya, mereka percaya musik adalah hadiah langsung dari dewa-dewa untuk manusia. Juga menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad mengabarkan Islam dengan menyerap tradisi musik rakyat di semenanjung Arab untuk keperluan dakwah dan penaklukan geopolitik. Islam juga erat dengan nada: lafaz-lafaz tawaf, langgam pembacaan Qur’an dan olah vokal adzan. Taufiq pun membeberkan ketika peradaban Eropa masih busuk, musik kemudian diambil alih oleh istana dan gereja sebagai tradisi yang adiluhung, yang kemudian digunakan sebagai sarana untuk pengagungan Kristus.

Perkawinan silang antara musik dan politik sudah lama terjadi. Namun Taufiq tak bicara tentang siapa musisi di balik Pilpres Indonesia 2014, atau band-band metal kesukaan Jokowi yang bagi Taufiq itu hanya upaya untuk menarik simpati anak-anak muda. Karena Jokowi sebagai metalhead adalah omong kosong politis belaka.

Taufiq membincangkan Tim Kaine, kandidat wakil presiden Hillary Clinton. Kaine menarik di mata Taufiq karena ia seorang music nerd, penggila musik sejati. Hal ini dibuktikan saat ia mencalonkan diri sebagai senator mewakili negara bagian Virginia, Kaine mengadakan kontes harmonika. Ia juga menyukai band non-arus utama seperti Cornershop dan The Replacement, bukan nama-nama besar kaliber Metallica, Megadeth atau Anthrax yang digembar-gemborkan Jokowi saat pilpres 2014 silam.

Musisi jenius kelahiran Tasikmalaya, Benny Soebardja tak luput pula dari bahasan buku ini. Benny Soebardja mungkin pemusik independen pertama di Indonesia. Ia mendirikan Sharkmove, band psikedelik yang hanya sempat merilis satu album serta bersolo karier dengan nama Benny Soebardja and The Lizard. Taufiq menyebut Benny sebagai ‘kadal’ Orde Baru. Bagi Taufiq, Benny membuktikan bahwa jam malam dari nadir rezim Soeharto masih bisa diakali untuk menulis lagu radikal seperti ‘Evil War’ atau ‘In 1965’ yang berkisah seputar genosida anti-komunisme di negaranya.

Bagi saya, pembacaan klimaks atas buku terbitan Elevation Books ini ada di esai urutan dua belas. Taufiq membeberkan betapa Amerika Serikat adalah negeri paradoks, bebal bahkan konservatif. Berbekal pengalaman dari studi masternya di Northern Illinois University, juga tentunya kesehariannya sebagai editor berita politik yang menimbun pengetahuan tentang negeri paman sam itu.

Menurut Taufiq, rata-rata setiap tahun lebih dari 13.000 orang mati karena senjata api, dan lebih dari 26.000 orang terluka akibat kasus penembakan. Hak kepemilikan senjata api itu diatur dalam amandemen konstitusi yang ternyata dirumuskan pada tahun 1791, saat di mana para koboi dan Indian masih berkeliaran di jalanan. Taufiq menganalisis kebobrokan negara adikuasa ini dengan album musik berjudul Deceit dari band asal London bernama This Heat. Bagi Taufiq, demokrasi yang diagung-agungkan Amerika adalah tak lebih dari sekadar ilusi.

Sayangnya, Taufiq tak memberi garis tegas antara data-data fakta yang bisa dipertanggungjawabkan dengan opini pribadi. Selera dan sentimentil diaduk dalam satu baskom adonan yang sama. Buku ini juga tak dilengkapi dengan referensi yang pasti. Sehingga kita tak bisa langsung percaya dengan apa-apa yang dijelaskan, sementara yang dipaparkan adalah peristiwa-peristiwa penting seputar kehidupan sosial dan politik. Meskipun ujung-ujungnya kita harus memaklumi bahwa ini bukanlah buku ilmiah.


Kredit Gambar : The Jakarta Post
Gunawan Wibisono
Domisili di Solo. Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Sebelas Maret. Tulisan-tulisannya tersebar di media cetak dan daring.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara