Setiap esai adalah sebuah usaha “coba-coba”. Esai-esai Hawe Setiawan mencoba membahas wacana budaya, sejarah, sastra, bahasa dan tradisi Kesundaan dengan menghindari kekakuan makalah seminar.

“Lahir sebagai orang Sunda adalah takdir, menjadi Sunda adalah pilihan”, demikian sebuah kredo yang pernah diucapkan Hawe Setiawan suatu ketika. Sebagai urang Sunda pituin kelahiran Cisalak, Subang, Hawe Setiawan sudah memenuhi takdirnya. Namun untuk menjadi Sunda adalah sebuah ikhtiar yang terus dicarinya selama hayat masih dikandung badan. Dan usaha pencarian atas identitas dan jati dirinya sebagai urang Sunda, bagi Hawe Setiawan, sudah bukan lagi berupa angan-angan atau khayalan, melainkan sudah mewujud dalam bentuk ritus pergulatan intelektual.

Tanah dan Air Sunda adalah sebuah buku kumpulan esai mengenai topik-topik yang selama ini ia cari: Kesundaan. Buku karya doktor ITB yang diterbitkan secara indie setebal 378 halaman yang berisi 23 esai-esai panjang ini adalah kumpulan tulisan yang pernah disampaikan Hawe dalam berbagai seminar dan forum sastra dan kebudayaan. Dengan dibantu dua punggawa literasi dari Bandung, Atep Kurnia dan Yus Ariyanto yang bekerja memilah dan menyunting tulisan-tulisan Hawe Setiawan yang berserakan itu, jadilah buku yang diharapkan akan menjadi pustaka rujukan tentang ikhtiar dan tafsiran-tafsiran wacana kebudayaan, sejarah, sastra, bahasa dan khazanah tradisi Kesundaan.  

Dengan menggunakan sastra sebagai pisau bedah analisisnya dan upaya pendekatannya menyentuh persoalan-persoalan pelik tentang Kesundaan, kumpulan esai ini tidak jatuh menjadi kumpulan tulisan yang kaku selayaknya tulisan-tulisan kering yang umumnya miskin rasa seperti makalah-makalah seminar.

Kumpulan esai dalam buku ini terasa menyenangkan dibaca, mengasyikkan untuk ditelaah. Tanpa terkesan menggurui dan pamer ilmu dengan taburan istilah-istilah akrobatik yang asing, Hawe Setiawan menulisnya dalam gaya sastrawi yang memikat tanpa harus kehilangan bobot wacana yang sedang dipersoalkannya.

Sebagaimana pengertian umum tentang esai, bahwa esai merupakan penghormatan pada karya ilmiah dan puisi, buku ini tampaknya sudah mendapat kredit poin sebagai buku kumpulan esai yang baik. Tidak berlebihan kiranya apabila Mikihiro Moriyama, guru besar Nanzan University Jepang mengatakan bahwa Hawe Setiawan merupakan pujangga Sunda tipe baru pada abad 21. Segendang sepenarian dengan Teddi Muhtadin, Kepala Pusat Studi Budaya Sunda Unpad, Hawe Setiawan adalah ‘juru bicara’ sastra Sunda dan Kesundaan pasca Ajip Rosidi.

Ikhtiar Sang Penafsir

Di tangan Hawe Setiawan, ikhtiar mencari dan mempersoalkan wacana Kesundaan yang merentang sejak zaman kolonial sampai post-kolonial; tentang pengaruh advertensi untuk bagaimana mojang Priangan tampil cantik jaman baheula; mulai dari isu politik khas Jawa Barat macam DI/TII hingga; Sunda pasca Reformasi, Mati di Jagat Godi sampai mengupas dangding mistisme Sunda, Haji Hasan Mustapa. Di dalam ranah kebudayaan dan sejarah di Priangan, dengan dibekali seperangkat hasil riset dan horizon bacaan yang luas, di tangan Hawe Setiawan masa lalu menjadi aktual.

Semisal tentang bagaimana proses kebudayaan itu terbentuk, seperti yang tertuang dalam esai “Geulis Zaman Belanda”, “Telaah atas Ilustrasi Buku Rusdi djeung Misnem”, “Sastra Sunda dan Warisan Belanda” atau “Priangan Dalam Kehidupan Franz Wilhelm Junghuhn”. Tema-tema wacana yang seakan sudah dianggap kompleks dan jadul itu, justru menjadikan bahan telaah baru, hidup kembali dan kontekstual.

*

Dalam definisi Michel de Montaigne (1533-1592), sosok yang biasa dianggap sebagai "bapak esai", esai adalah sebuah usaha “percobaan”. Pada pengertian ini, betapa “tidak seriusnya” mahluk bernama esai itu karena ia hanya berupa usaha “coba-coba”. Dalam konteks inilah sebuah esai kemudian menjadi semacam cerminan, laku perenungan dan usaha percobaan dalam mengungkapkan gagasan yang kemudian diekspresikan ke dalam bahasa (tulisan) yang lentur, renyah, lincah dan enak dibaca.

Sebagai seorang intelektual yang kesehariannya bergulat dengan dunia kebudayaan dan sastra, dan bersetia pada kerja penerjemahan, sudah tidak diragukan lagi kepiawaian Hawe Setiawan dalam menulis. Termasuk menafsir makna linguistik yang tersurat dan tersirat di dalam bahasa Sunda buhun. Banyak teks-teks Sunda yang ada dalam buku kumpulan esai ini berhasil diterjemahkan, dimaknai dan diberi penafsiran-penafsiran yang membuat pembacanya tidak menemukan kesulitan mencerna isi teks-teks itu. Dengan menyitir apa yang disebut sebagai esai seperti yang didefinisikan Montaigne, barangkali Hawe Setiawan adalah penulis esai yang dimaksud.

Meskipun isi dari tulisan-tulisan dalam buku ini cukup panjang dan berbobot karena ditulis berdasarkan riset ilmiah, ia tidak lantas membuat pembaca buku ini ikut mengerutkan dahi terlalu lama dan dalam. Sebaliknya, pembaca seolah-olah dituntun untuk mengajak dan menghayati persoalan-persoalan tentang identitas dan jati diri Ki Sunda dengan suasana santai namun berbobot. Ditambah beberapa gambar dan ilustrasi yang diambil dari iklan-iklan media massa zaman dulu membuat buku ini kian menarik.

Pada titik ini Hawe Setiawan sudah melakukan percobaan atas definisi penting sebuah esai, yaitu fokus. Dan Hawe Setiawan sudah bersetia fokus di dalam persoalan wacana yang senantiasa ia ikhtiarkan dan rayakan dalam kehidupannya sehari-hari sebagai urang Sunda pituin. Dengan bahasanya yang basajan dan lentur, buku Tanah dan Air Sunda ini seolah hendak menegaskan bahwa identitas, eksistensi dan jati diri Ki Sunda tidak hanya sekadar jatuh pada romantisme primordial, nostalgia tanpa dasar dan glorifikasi berlebihan, melainkan sebuah ajakan dan ikhtiar yang tak pernah usai. Hurip Sunda!

Selamat membaca.


Andrenaline Katarsis
Andrenaline Katarsis, nama akun yang aslinya bernama Andrias ini nyemplung di dunia buku sejak tahun 2000. Tahun 2004-2006 pernah jadi penjaga perpustakaan - tokobuku 'Das Mutterland'. Kini sedang coba-coba menerbitkan buku secara "indie".
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara