Selain diksi ternyata ada hal lain yang penting dalam publikasi puisi: tata letak, termasuk font. Mengabaikan hal-hal tersebut mungkin tak memberikan akibat fatal, tapi hal itu bisa jadi mengurangi estetika puisi.

LUMRAH bagi seorang penyair untuk menaruh peduli atas bahana yang ditimbulkan dari puisi. Dari pemilihan tema, rasa, diksi, imajinasi, hingga irama dan bunyi yang muncul ketika dibaca, tidak boleh tidak dipilih secara saksama. Segala hal mulai dari unsur intrinsik hingga ekstrinsik perlu dicermati. Selain itu, apakah masih ada yang perlu diperhatikan?

Bagi Saut Situmorang, iya. Dia pernah bercerita tentang dirinya yang mencak-mencak kepada penerbit karena ada kesalahan dalam ilustrasi dan layout kumpulan puisinya. “Mulai dari depan buku sampai belakang buku, sangat penting bagi saya. […] Di buku puisi, satu koma itu sama kayak satu puisi,” ungkap Saut dalam acara Apresiasi Sastra #10 di Radio Buku beberapa waktu lalu. Kala itu ia hadir untuk mengomentari kumpulan puisi berjudul Aligator Merangkak Sajak karya Ujianto Sadewa.

Kalau Saut sangat jeli dalam tata letak dan ilustrasi buku puisi, Adrienne Raphel dan para koleganya di Iowa University dituntut untuk lebih dari itu. Ketika Raphel mengikuti sebuah lokakarya di sana, ia dilatih untuk mengeraskan bunyi sebuah puisi hanya dengan memilih font yang tepat.

Dalam esainya di Theparisreview.org yang berjudul “The Font of Poetry, the Poetry of Font”, kita bisa tahu kalau ia dan para peserta lainnya hanya diberi beberapa pilihan font untuk bereksperimen sehari-hari. Untuk me-layout sebuah puisi, terkadang mereka diminta menggabungkan serif dan sans serif dalam satu baris. Pada satu sesi tertentu, variasi yang diperbolehkan hanya berkutat pada permainan huruf kapital dan penggunaan spasi.

Begitulah kegiatan mereka selama satu semester pertama. Mereka hanya mengulang-ulang eksperimen font tersebut, dari ukuran delapan poin yang membuat mata memicing, hingga ukuran empat belas yang membuatnya puisi tadi lebih terlihat seperti teks baliho.

Pada 1992, seorang penyair dan pengamat tipografi asal Kanada, Robert Bringhurst menerbitkan buku The Elements of Typographic Style. Buku itu berisi sejarah dan gaya yang pernah dimodelkan oleh William Strunk dan E.B. White pada buku tata bahasa mereka yang terkenal itu. Dengan menggunakan contoh buku tata bahasa itu, Bringhurst mencoba menawarkan penggunaan fungsi dan pemasangan font yang tepat sesuai dengan naskah apa yang sedang di-layout. Di lokakaryanya di Iowa, Bringhurst mengulang jargon yang juga ia tulis di bukunya:

“Bawa batas-batas itu ke dalam desain! Bawa juga desain-desain itu sampai pada batasnya!”

Hal lain yang juga bisa di-highlight dari paparan Bringhurst adalah (khusus di bagian ini ia tulis dengan font Constantia ukuran lima belas): “Hubungan antara puisi dengan font yang digunakan sering kali merupakan fiksasi neurotik.” Maksudnya, font-font itu digunakan untuk menyelaraskan diksi-diksi pada puisi agar lebih mudah diterima dan diimajinasikan oleh para pembaca. Sebagai gambaran, Anda bisa membayangkan kesan yang muncul pada puisi-puisi sendu Chairil Anwar yang di-layout dengan font Comic Sans atau Blackadder ITC. Menggelikan bukan?

Penelitian Princeton University pada tahun 2010 yang berjudul “Fortune Fibe the Bold (and Italicized)” mungkin bisa jadi salah satu bantuan untuk membayangkan kegelian itu. Penelitian itu fokus menguji asumsi bahwa tulisan yang dicetak dengan ukuran kecil dan sulit terbaca lebih mudah diingat oleh otak manusia. Comic Sans dan Bodoni, sebagai representasi font yang bentuknya aneh dan sulit dibaca, ditampilkan sebagai bahan percobaan. Hasilnya, ditemukan kondisi disfluency pada pembaca yang memicu kerja pemrosesan syaraf motorik lebih dalam. Efeknya retensi atau penyimpanan memori meningkat. Satu fakta yang cukup aneh bahwa melihat font-font yang berbentuk aneh itu lebih membuat kita mudah mengingat isi dari teks.

Satu hal yang perlu digarisbawahi kemudian adalah bahwa memudahkan mengingat tak sama artinya dengan menyelaraskan. Bukan berarti Comic Sans dan segala macam font “aneh” lainnya cocok digunakan sebagai jenis huruf bagi naskah-naskah yang perlu dihafal. Namun, font dengan masing-masing bentuk dan variasinya punya kekuatan yang berbeda-beda dalam hal memengaruhi otak kita.

Calvin Bedient, seorang penyair dan kritikus sastra yang menulis untuk Jurnal Lana Turner juga menunjukkan pengaruh itu dalam jurnal puisi yang ia tulis. Di sana, ia menyajikan beragam puisi dengan rasa yang berbeda-beda berikut dengan font yang berbeda-beda pula. Meski sekilas penggunaan banyak font tersebut tampak boros dan mengganggu, toh baginya itu berguna. Ia sadar bahwa sebagai satu kesatuan, kumpulan puisi itu tidaklah bagus. Mengerikan malah. Mungkin wujudnya lebih seperti katalog font dibanding jurnal sastra. Namun ia berani bertaruh, “suara” puisi-puisi itu menjadi semakin kuat ketika mereka berdiri sendiri.

Jika Anda ingin membuktikannya sendiri, cobalah ketik ulang puisi Aku karya Chairil Anwar dengan font Chiller lalu berikan pada seseorang untuk segera dibaca dalam pementasan puisi. Saya pernah mencobanya sekali, dan Anda tahu, puisi itu terlihat mengerikan setelahnya. Dari situ saya sadar, bukan saja kata dan kalimat yang perlu dipelajari dari puisi-puisi Chairil dan Rendra, tapi perwajahan mereka ketika mendapatkan riuh pembaca terbesarnya.


Kredit Gambar : pixabay.com
Aziz Dharma
Pekerja grafis serabutan. Bisa dihubungi via Facebook.com/AzizDhar atau surel azizdarma@gmail.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara