Kadangkala saat membaca karya seorang penulis muncul perasaan tentang kemiripan dengan karya penulis lainnya. Demikian juga halnya dengan "Pelisaurus dan Cerita Lainnya".

SAYA langsung teringat Haruki Murakami saat membaca cerpen pembuka Gunawan Tri Atmodjo pada kumpulan cerpennya Pelisaurus dan Cerita Lainnya (selanjutnya Pelisaurus)  yang diterbitkan Penerbit Basabasi, seperempat bulan terakhir 2017.

Mari mulai dengan cerpen pembuka. Pada cerpen berjudul “Sepasang Pengumpat dan Seorang Wali” ini setidaknya ada dua setengah ke-Haruki-an yang saya temukan. Pertama, kecenderungan menyebut merek secara gamblang yang menjadi salah satu ciri khas yang dimiliki Haruki Murakam. Murakami pernah membeberkan alasan mengapa dia mengutarakan nama merek secara langsung, dia menganggap bahwa merek yang dituliskan secara langsung akan mendapatkan efek deskripsi yang lebih tajam. Gunawan pun dengan gamblang menuliskan macam-macam merek mulai dari Corsa, Anggur cap Orang Tua, Extra Joss, Jasjus, sampai GL Pro.

Kedua, munculnya orang-orang yang matang secara spiritual seseorang yang tercerahkan, sesuatu yang sering ditemui dalam karya Murakami, contoh yang paling jelas adalah Pemimpin Sakigake pada novel 1Q84. Pada cerpen pembuka milik Gunawan muncullah karakter Sunan Yayan sang putra mahkota pabrik resleting YKK yang merupakan kependekan dari Yayan dan Kawan-Kawan. Yayan diyakini memiliki karomah sebagai seorang sunan setelah kesurupan di Gunung Lawu.

Setengahnya lagi adalah sesuatu yang tiba-tiba menghilang, mari kita ambil contoh cerita pendek Murakami “The Elephant Vanishes” cerita pendek yang mengisahkan hilangnya seekor gajah beserta pawangnya dari sebuah kebun binatang di Tokyo, lalu kenapa setengah? karena pada cerita pembuka tersebut yang ada adalah kemunculan alih-alih lenyap. GL pro yang diduga milik Sunan Yayan secara tiba-tiba muncul menembus car free day yang tiba-tiba usai dan hampir mencelakai sepasang pengumpat yang duduk di tengah jalan.

Setelah menemui dua setengah itu saya melahap kumpulan cerita Gunawan dengan satu harapan akan menemukan ke-Haruki-an yang lain.

Buku kumpulan cerita yang saya selesaikan dengan penuh tawa ini ternyata memang menyimpan banyak ke-Haruki-an di dalamnya. Yang paling jelas ialah keberanian Gunawan mengangkat tema seksualitas. Murakami seringkali menuliskan perilaku seks yang manis dan kaku. Gunawan pun tidak ingin ketinggalan untuk mengeksplor zona tersebut dengan kebiasaan ngeloco (masturbasi) yang dimiliki tokoh-tokoh dalam ceritanya.

Jika pada Norwegian Wood, Murakami memiliki Toru Watanabe yang dibantu masturbasi oleh Naoko. Tak mau kalah dengan Murakami, pada cerita berjudul “Rudolf Lakang”, Gunawan memunculkan tokoh Rudolf Lakang yang  sering diloco pacar, Mariati Sumeh yang kelak akan menjadi istrinya.

Juga kepiawaian Murakami mendedah pengetahuan musik jazz dan buku-buku bacaan, dilakukan oleh Gunawan tetapi dalam ranah musik yang berbeda. Yaitu dangdut, Gunawan menyebut penyanyi dangdut dari kontemporer hingga dangdut koplo, dari Ikke Nurjanah sampai Nela Kharisma.

Judul-judul buku yang disitir Gunawan hanya dalam cerita yang bertajuk “Franky Idu” pun cukup banyak antara lain Pramuria dari Locknow, The Famished Road, Forest Gump, Enrique’s Journey, serta Ali dan Nino. Belum lagi buku fiktif maupun nyata yang tercecer pada cerita lainnya: Melupakan dengan Ingatan karya Ronjec Dutchuh Farouk, Kerang yang Dikecapi Asam Manis tak Pernah Membenci Wajan karya Kere Piye, Terbacok Petuah Bijak karya Pipiet Surup, Orong-Orong Keraton yang terinspirasi petuah bijak Rudi Dalma, sampai Tuhan Tidak Makan Ikan buku karangan Gunawan sendiri yang masuk longlist Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2016.

Selanjutnya pemilihan nama. Adalah kecenderungan Murakami mengunakan nama-nama yang aneh dalam karyanya. Murakami memilih nama yang tidak biasa pada karya-karyanya, misalnya Aomame yang kalau diterjemahkan bermakna kacang polong (sunguh nama yang tampak seperti lelucon). Gunawan tidak mau ketinggalan dengan nama yang lebih aneh Rudolf Lakang misalnya, lakang yang dalam bahasa Jawa bermakna selangkang(an). Juga nama Mario Gamblis yang diterjemahkan menjadi Mario rambut yang tumbuh di area dubur.

Di dalam cerpen-cerpennya kita juga akan menemukan sederet nama tokoh yang tidak kalah hebohnya, sebut saja Sri Suwar-suwir, Siti Semak-semak, Hansip Rudal, Ugahari Tanu, Gempil, Franky Idu, Valentina Kerok, Sunu Deglok, dll. Tak ketinggalan penggunaan nama penulis besar juga terjadi, jika Murakami meminjam nama Kafka sebagai tokoh juga bagian judul pada novel Kafka on the Shore, Gunawan juga meminjam nama-nama yang dipelesetkan seperti Rudi Dalma, Pipiet Surup, Kere Piye,  hingga nama alias yaitu Kabut sang begawan Bilik Literasi.

Yang lain adalah proses akulturasi budaya Barat dan Timur. Pada karya-karya Murakami tercium jelas kebudayaan Barat meskipun mengambil latar di Jepang. Pastilah Murakami mengambil tokoh yang mengerti tentang kebudayaan Barat, musik, buku, film, bahkan baseball (menurut beberapa literasi baseball yang sangat mahsyur di Amerika ini lahir di Perancis). Meskipun memasukkan kultur-kultur Barat, Murakami tidak meninggalkan Jepang dia tetap menuliskan Jepang dengan sangat realis, tidak sekadar ditempel untuk menunjukkan bahwa karya ini mempunyai warna lokal Jepang.

Begitu pula halnya dengan Gunawan, dengan baik dia menceritakan Jawa (Solo) dalam karyanya, mulai dari umpatan-umpatan yang njawani, pilihan nama yang sangat Jawa, serta beberapa produk khas Solo-Jogja dan sekitarnya seperti ciu dan angkringan yang menjual sate kikil.

Ke-Murakami-an yang tercecer dalam Pelisaurus seperti didedah secara singkat di atas bisa saja hanya suatu kebetulan. Akan tetapi kesamaan dan kebetulan yang terjadi ini bisa menjadi pisau bermata satu, dapat bermakna sebagai anugerah atau musibah.

Ketika sebuah kebetulan terjadi dua kali dalam sehari, itu berarti sebuah pertanda bahwa kalian akan segera mendapat anugerah, atau justru sebaliknya, segera tercekam musibah. (Halaman: 22)


Latif Pungkasniar
Bekerja sebagai editor pada sebuah penerbit di Solo
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara