Sebuah buku tentang para pembelanja buku adalah sebuah buku yang akan menarik dimasukkan daftar belanja buku. "Atas Nama Buku: Memoar Teladan Para Pembelanja Buku" yang diterbitkan Diomedia ini adalah salah satunya.

1/

… alasan sesungguhnya kenapa saya tidak ingin selamanya menjadi penjual buku adalah karena rasa cinta saya pada buku hilang memudar ketika saya masih menjual buku—George Orwell, Bagaimana Si Miskin Mati (2016:26).

Kalimat itu diucapkan George Orwell saat mengisahkan pengalamannya berjualan buku. Saya membaca kisahnya dalam esai yang diterjemahkan Widya Mahardika “Kenangan di Toko Buku” (2016). Itu alasan paling logis yang diungkapkan Orwell perihal keputusannya berhenti berjualan buku. Sebelumnya, ia hanya mengungkapkan alasan ketidakbetahannya berjualan buku hanya karena perkara bisnis. Misal keadaan toko yang setiap hari ramai dikunjungi tapi sedikit sekali buku yang terbeli.

Keadaan itu membuat Orwell sangat tidak nyaman. Bahkan selama menjadi penjual buku, Orwell mengungkapkan ada dua tipe orang paling menyebalkan yang mendatangi tokonya. Pertama, seorang nenek-nenek beraroma remah roti yang menjual buku-buku sampahnya. Biasanya nenek seperti ini datang lebih dari sekali dalam sehari. Kedua, pembeli buku yang meminta disimpankan daftar belinya tapi tak sedikit pun berniat membayarnya.

Barangkali Orwell mengira dirinya yang mencintai dan mengetahui banyak buku bagus bisa berdampak baik pada bisnis jualan buku. Ia bisa menceritakan secara fasih isi buku yang ditanyakan oleh calon pembeli. Ia bisa menyuguhkan dagangan buku yang bermutu sesuai dengan selera intelektualnya. Ia pun seperti menjamin bahwa buku dagangannya pasti bermutu.

Tapi itu keadaaan yang diperkirakan. Sedangkan keadaan yang terjadi? Banyak pembeli menyebalkan yang sering mendatangi tokonya. Banyak buku bagus yang tidak laku. Dan jarang sekali ia bertemu pembeli yang datang secara khusus untuk mencari buku bagus. Kenyataan ini tentu menusuk batin Orwell.

Ia memutuskan berhenti berjualan buku dan tetap menjadi pencinta buku. Ia ingin menjadi seorang pencinta buku yang sebaik-baiknya. Seorang pencinta yang selalu bisa menjaga rasa cintanya. Seorang yang terpana setiap berjumpa dengan buku-buku bagus. Dan ia ingin merasakan sensasi itu bersama buku. Maka, keputusan berhenti menjadi penjual buku lalu beralih sebagai pembeli adalah tepat! Pembeli juga sama pentingnya dengan penjual. 

Ada banyak alasan orang menjadi penjual buku. Selain alasan untuk mencari rezeki demi kebutuhan. Ada juga penjual buku yang secara khusus dan sadar memilih berdagang buku dengan segala risikonya. Orwell boleh saja mundur halus dari niaga buku setelah ia khawatir kehilangan rasa cintanya pada buku.

Tapi di Indonesia banyak sekali orang yang memilih berjualan buku karena memang mencintai buku. Mereka bisa menjalankan dua peran sekaligus: pencinta dan penjual buku. Sebuah peran yang gagal dijalani Orwell dengan baik. Pencinta buku selalu memiliki kisah yang menarik dengan penjual buku. Apalagi bertemu penjual buku yang juga tahu buku, peristiwa berbelanja pun menjadi akrab dan bisa bertukar informasi. Para penjual buku seperti itulah yang kadang menjadikan profesi berdagang buku sebagai siasat untuk bertemu orang-orang yang mencintai buku. Mungkin ada semacam kegembiraan bisa mengantarkan buku di hadapan orang-orang. Atau juga semacan perasaan girang bisa menyalurkan buku kepada para pembaca.

Kegembiraan-kegembiraan seperti itu yang menyebabkan mereka terus bertahan meski seringkali orang-orang mengatakan berniaga buku sulit memberi keuntungan. Adalah Goenawan Mohaman yang tidak kapok mengulang pernyataan seperti itu. Dalam kata pengantar di bukunya yang diterbitkan untuk memeringati 70 tahun kelahirannya, Goenawan Mohamad menyapa pembaca dengan pernyataan agak pesimistis dengan dunia penerbitan buku di Indonesia. Ia menulis:

“Semua penerbit di Indonesia tahu, memproduksi buku bukanlah sebuah usaha yang menguntungkan. Acap kali merugi.”

Dua belas buku diterbitkan pada peringatan itu dan semuanya diawali dengan pernyataan yang sama: niaga buku sulit menguntungkan.

Kita juga ragu apakah para penjual buku meyakini apa yang dituliskan Goenawan Mohamad tadi? Saya rasa tidak. Bahkan setelah beberapa tahun Goenawan Mohamad menuliskan itu. Orang yang bernama Ngadiyo malah memulai profesinya sebagai penjual buku. Ia juga mendirikan penerbit yang namanya diambil dari tiga huruf terakhir nama lengkapnya: Dio. Ditambah dengan “media”. Jadilah “diomedia”.

Atas Nama Buku Memoar Teladan Para Pembelanja Buku adalah proyek buku pertama “diomedia” yang dilaksanakan dengan menyertakan publik. Buku itu mendokumentasikan kisah para pembelanja buku yang tersebar di pelbagai kota. Ada 72 tulisan yang terkumpul. Mereka mengisahkan memoar berbelanja buku di tanah kelahiran atau di tanah perantauan. Kehadiran buku ini sekaligus bisa mendokumentasikan kisah para pembelanja yang selama ini terpinggirkan.

Penerbit sering memberi tempat utama pada penulis buku tapi jarang memerhatikan pembeli buku. Padahal sasaran penerbit adalah para pembeli-pembeli buku yang tidak lain adalah pembacanya. Penerbit pun berharap bukunya diserbu pembeli di bazaar buku. Penulis juga berharap bukunya diborong oleh pembacanya. Maka, para pembelanja buku sangat pantas mendapat tempat utama dalam perbincangan dunia buku.

Ada banyak alasan mengapa anda harus membaca buku ini meski nama-nama penulisnya tidak anda kenal. Memoar-memoar yang terhimpun telah banyak mengabarkan alamat-alamat toko buku yang berada di kota-kota Indonesia. Dari 72 penulis itu kita bisa memetakan alamat toko buku yang berada di kota Jawa dan luar Jawa. Setidaknya dengan mengetahui toko-toko buku yang ada kita bisa mengetahui bagaimana orang-orang yang tinggal di kota yang tidak identik dengan buku bisa mendapatkan buku. Kisah itu akan mengimbangi dominasi kisah berbelanja buku yang melulu merujuk pada Solo, Jogja, Semarang, Bandung. Sangat disayangkan apabila para penulis yang di kotanya ada di toko buku tapi yang diceritakan malah toko buku yang ada di kota besar. Sehingga toko-toko buku di kota-kota kecil tak terlacak dan terlewatkan.

2/

Para konglomerat tidak bisa menindas toko buku kecil seperti mereka menindas toko makanan atau penjual susu—Bagaimana Si Miskin Mati (2016:26).

Agus M. Irkham (2012) pernah menyinggung awal-awal kehadiran toko buku Togamas di Semarang. Di kota bercap ibukota Jawa Tengah ini, Togamas harus menanggung rugi di tahun pertama dan kedua. Keuntungan baru didapat setelah tiga tahun berjalan. Ada kesulitan yang harus dilewati ketika hendak memertahankan toko buku di kota besar. Kerugian demi kerugian harus diantisipasi agar tidak terulang dan lekas memberikan laba. Kesabaran adalah sifat yang harus dijaga konsistensinya agar diri terhindar dari frustrasi dan keinginan bunuh diri. Di masa-masa awal berdirinya Togamas di Semarang—mengutip Agus M Irkham lagi—seperti menjual es krim di kutub utara. Sepi!

Tapi sepi itu tidak lantas membuat Togamas minggat dari kota yang melahirkan ideologi komunis ini. Ada dua kampus negeri kondang di kota ini. Dan beberapa kampus swasta yang selalu bersedia menampung mahasiswa yang ditolak kampus negeri. Mahasiswa menjadi sasaran dagang buku Togamas saat itu. Meski sempat mengalami menjadi “penjual es krim di kutub utara”, Togamas akhirnya bisa memanen keuntungan demi keuntungan. Sejak pertama kali dibuka pada 31 Maret 2001 sampai sekarang, Togamas sudah seperti  penjual es teh di tengah pertandingan sepakbola di stadion: laku itu pasti, habis belum tentu.

Kehadiran toko buku besar di Semarang sedikit banyak bisa mempermudah para pencinta buku dalam mendapatkan buku-buku terbaru. Termasuk juga para pencinta buku yang tinggal berdampingan dengan kota Semarang seperti Demak, Purwodadi, Kendal, dan kota-kota Pantura lainnya. Mereka bisa menuju ke Semarang jika hendak berbelanja buku-buku terbaru.

Keadaan itu mungkin agak berbeda saat kita menengok kota-kota Pantura khususnya wilayah Karesidenan Pati. Di Karesidenan itu ada kota Jepara, Kudus, Rembang, Pati, Blora, dan Purwodadi. Dari semua kota itu hanya Kudus lah yang tampak modern dengan adanya dua pusat perbelanjaan di pusat kota. Tapi sayang kota-kota itu tidak dihuni oleh toko buku besar. Alasan bisnis dan pangsa pasar yang kurang meyakinkan menjadi masuk akal saat toko besar menolak hadir di daerah pinggiran. 

Ketiadaan toko buku besar di kota-kota kecil bukan berarti bisa berpengaruh secara signifikan terhadap distribusi buku. Kehadiran toko-toko buku berskala kecil bisa menjadi ganti dari ketiadaan toko buku besar tersebut. Di Kudus, ada toko buku Santoso yang menjual buku terbaru dan memberi diskon. Kehadiran toko semacam ini juga bisa menjembatani para pencinta buku yang hendak memerbarui bacaannya. Selain di toko buku Santoso, toko buku bekas juga ada di sekitar GOR Kudus. Tempat itu sering juga menjadi para pemburu buku-buku lawas.

Setahu saya, cuma Kudus yang memiliki toko buku yang buka setiap hari. Para pembeli bisa datang kapan saja jika memiliki uang. Tidak perlu menunggu datangnya bazaar atau pameran yang terselenggara setahun dua kali. Sebagaimana yang terjadi di kota-kota lainnya yang bergantung pada pameran buku saat hendak belanja buku. Sebab itu satu-satunya acara atau tempat yang tersedia bagi orang-orang berburu buku.

Kehadiran toko buku daring menjadi berkah bagi para pencinta buku yang berada di pinggiran. Sebab toko buku di dunia maya ini bisa menghubungkan buku-buku dari kota ke daerah. Ketiadaan toko buku besar atau ketiadaan toko buku di daerah bisa diobati dengan berbelanja di toko buku daring. Meski berkomunikasi lewat layar.

Berbelanja di toko daring memang tidak bisa bercakap-cakap langsung dengan penjual. Tapi percakapan di media sosial sangat memungkinkan untuk membuat janji pertemuan. Keakraban pun akan terjalin setelah perkenalan di media sosial. Toko buku daring pun terasa sangat menguntungkan dan membantu saat toko buku besar tidak bisa menjembati buku dari kota ke daerah. Padahal di daerah juga para pembaca bertempat tinggal. Kemajuan teknologi semacam ini memang pantas dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mereka bisa berbelanja via daring meski cara itu tidak menawarkan keakraban tubuh dengan suasana toko atau tempat belanja. Kelebihan dan kekurangan adalah keniscayaan dalam setiap belanja buku. Kita bisa menikmatinya tanpa terus menebar keluhan.

3/

Dan menjual buku adalah satu profesi manusiawi yang sampai taraf tertentu, tidak bisa dihinakan—Bagaimana Si Miskin Mati (2016:26). 

Berbelanja buku adalah memori bersama toko buku dan penjualnya. Keintiman dengan toko-toko buku memang bisa menghadirkan suasana ruang belanja buku. Para penulis di Atas Nama Buku telah mengisahkan keintimannya dengan tempat-tempat berbelanja buku. nama-nama kota disebutkan bersanding dengan nama tempat berjualan buku.

Maka penulis dari Solo atau yang pernah tinggal di Solo tidak melewatkan dua tempat legendaris berbuku: Gladak dan Sriwedari. Penulis asal Bandung atau yang pernah tinggal di Bandung tidak luput menyebutkan Palasari. Penulis dari Semarang atau yang pernah tinggal di Semarang menyebutkan Pasar Johar dan Simpang Lima.

Keintiman raga dengan tempat perlu kita genapi dengan kisah keintiman dengan para penjualnya. Banyak nama-nama tempat berjualan buku yang disebutkan tapi sedikit sekali yang menyebut nama pedagang buku yang dibelanjai. Dari 72 tulisan, hanya ada empat tulisan—silakan koreksi kalau salah—yang menyungging nama penjual buku. Perkenalan dengan penjual buku yang sampai tahu namanya cukup menjadi bukti keakraban.

Ada misalnya M. Endy Saputro mengisahkan peristiwa belanja buku bertaut para penjualnya. Ia merekam saat menegangkan negosiasi harga yang tak kunjung tercapai. Harga tawar tidak lekas disepakati Mbok Karmi. Setelah rayuan demi rayuan dikeluarkan tapi tak mampu membuat Mbok karmi luluh. “saya sempat mutung pergi meninggalkan lapak si Mbok ini. Si Mbok Karmi mengejarku sambil mendekap buku itu. Aku pun tak tega. Buku kemudian pindah tangan (hal.148).”

Sosok Mbok Karmi terkenang dalam peristiwa belanja buku. Ketegangan di tengah negosiasi menjadi episode menarik yang terus teringat. Adegan seperti itu tentu tidak akan kita temukan di penjual-penjual yang cuma menanyakan kartu member. Ketegangan bernegosiasi adalah bukti kedekatan. Saat beberapa tahun Endy mendatangi kios milik Mbok Karmi tapi yang menjaga bukan Mbok Karmi, ada rasa kehilangan sejenak.

“Mbokku wis rak iso opo-opo mas”, kata si penjaga buku yang ternyata anaknya Mbok Karmi saat ditanya ibu-ibu yang biasanya jaga ada di mana.

Peran penjual-penjual buku yang berdagang dengan murah hati bisa mempertemukan kita dengan buku-buku bagus dengan harga yang tidak mengingatkan lauk apa yang bisa dimakan seminggu ke depan. Mengisahkan kebaikan dan keakaraban dengan penjual kecil menjadi cara kita memberi penghormatan kecil atas peran-peran para penjual memasok bacaan bermutu kepada para pencinta buku.

Suasana berbelanja yang berbeda juga kita rasakan dalam kisahnya Moh Aniq KHB. Ia mengajukan kawasan Simpang Lima sebagai langganan berbelanja buku. Tidak seperti toko buku sebagaimana lazimnya, penjual buku di Simpang Lima hanya berjualan hari Minggu dengan memanfaatkan hari bebas kendaraan di pusat kota. Pengisahan Aniq berbelanja buku agak berbeda dari yang lainnya sebab ia ada pemilihan hari dan bertaruh di pagi hari. Belanja buku sudah berlangsung sejak subuh hari sebab menjelang pagi lapak buku akan menyediakan buku-buku hafalan doa-doa dan tuntunan salat dan wudlu.

Aniq menulis saat pertama kali berjumpa dengan penjual buku bernama Pak Diswan. Simaklah:

”Aku jumpai lelaki tua kurus berkemeja putih lengan pendek sedang sembahyang subuh sendirian di pinggir dagangannya. Sejenak aku menunggu dia sampai selesai. Ketika salam ke kiri, sedikit dia arahkan mukanya ke arahku. Mulailah aku membantu membuka kardus-kardusnya dan menata dagangannya. Dialah Diswan, pedagang buku yang mulia. Aku tidak canggung lagi melakukan kebiasaan itu sejak kami berdua saling mengenal. Aku pilah beberapa buku yang menarik.”

Kisah Aniq merekam suasana berbelanja buku di Simpang Lima sebelum para pedagangnya dipindah ke Stadion Dipanegara. Pak Diswan juga termasuk pedagang buku yang dikenal baik di kalangan mereka yang memulai perburuan buku di subuh hari. Banyak para pemburu buku yang antusias menghampiri dagangannya Pak Diswan. Sebab, harga yang dipatok Pak Diswan tidak memberatkan kantong-kantong kempis mahasiswa. Para pembelanja buku berkantong kempis pun masih bisa membeli buku bagus meski uang belanja mepet. Ini tentu yang membuat girang. Juga kesempatan langka bertemu buku-buku bagus dengan harga pertemanan.

Kenikmatan semacam ini hanya bisa dirasakan berkat kebaikan penjual buku. Oleh karena itu, nama-nama para penjual buku yang berbaik hati pantas dicatat dan dikisahkan kebaikannya. Barangkali itu cara kita menghormati etos kerjanya dan membalas kebaikannya. Sebab dari kelapangan hati beliaulah kita bisa sedikit mesem saat harga-harga buku baru di toko buku besar sering membuat dahi meninggalkan bekas lengkungan garis.

4/

Kalau aku pergi belanja

Dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang,

“Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius

Maupun yang ringan. Jangan bawakan saya

rencana-rencana besar masa depan.

Jangan bawakan saya kecemasan.”

Joko Pinurbo—Surat Malam Untuk Paska (1999)

Puisi Joko Pinurbo menampilkan percakapan dua tokoh soal peristiwa belanja. Tokoh A hendak pergi ke pasar dan menanyakan ke tokoh B mau dibelanjakan apa. Si B menjawab dengan enteng, belanjakan saja buku bacaan yang serius maupun ringan. Sebab melalui buku-buku itu dirinya bisa terhindar dari kecemasan-kecemasan yang merusak kenikmatan hidup.

Belanja buku agak berisiko saat tubuh memerlukan polesan tampilan baju, celana, dan sepatu yang pantas. Buku menjadi daftar belanjaan kesekian setelah sering kalah dari benda-benda yang memermak tubuh. Orang-orang sering kalah saat tubuh tidak ditempeli barang-barang bermerek dengan gaya terbaru. Memutuskan belanja buku memang memerlukan kenekatan saat pilihan barang-barang lain mendesak untuk dibeli. Berbelanja buku memerlukan niat mulia agar kebutuhan jiwa dan pikiran terpenuhi. Kegandrungan menukarkan lembaran uang dengan tumpukan buku bisa membuat kita tak pandai memermak tubuh tapi bisa menyelamatkan kita dari ketololan.

Ketika peran para pembelanja buku dianggap sepele dan remeh. Keputusan memborong buku-buku bisa membuat kita menyesal karena selama ini meminggirkannya. Jalan menjadi pemilik buku ditempuh dengan pertaruhan isi perut dan ingatan akan beban hutang. Mereka tetap menjadi pembelanja buku meski keruwetan hidup sulit diredakan. Para pemilik buku ini memiki ketegasan sikap yang sulit dianggap remeh.

Elliya Nuril Karimah misalnya mengakui “Jika ada dua pilihan antara belanja baju dan buku, maka yang kupilih adalah belanja buku baru kemudian baju. Setelah itu bersenang ria dengan sesuatu yang baru dimiliki itu (hal.246).”

Buku mampu menggeser baju dari daftar utama barang belanjaan. Kenekatan menempatkan buku di urutan pertama barang belanjaan menunjukkan kewarasan dan kesadaran. Perempuan tentu yang paling merasakan pertaruhan berbelanja buku. Sebab dari dirinyalah kita tahu buku yang dibeli kadang harus menyisihkan baju, parfum, bedak, tas, dan sepatu. Sekian barang itu terlewati demi memenuhi nafsu berbuku. Mereka lebih memilih memamerkan pikiran ketimbang tubuh. Kemolekan dihadirkan dalam bentuk gagasan. Barangkali mereka tahu jalan terhormat menjadi perempuan.

Para penulis Atas Nama Buku mendefinisikan belanja buku tidak secara kaku. Sekadar pertukaran uang dengan buku. Belanja buku dimaknai dengan menyertakan alasan-alasan yang tak picisan. Moh Aniq menganggap belanja buku bisa “menentukan takdir dan nasib seseorang ke depan. Belanja buku mengandung pengisahan atas urutan riwayat menyantap hidangan ilmu" (hal.309). Definisi agak berbeda juga disuguhkan oleh Citra Pertiwi Amru. Ia mengartikan “membeli buku sama seperti menemukan oase di tengah gurun. Buku bukan hanya jendela melihat dunia. Buku bahkan bisa menyelamatkan sawah dari pembangunan perumahan orang kota" (hal.289).

Barangkali karena alasan-alasan yang diungkapkan itulah mereka tidak tampak menyesal menjadi pembelanja buku. Mereka akan tetap terus berbelanja buku meski dandanan ruwet. Mereka akan terus memborong buku meski sering dibuat kere oleh nominal belanjaan. Belanja buku bisa berarti pemborosan saat tumpukan buku yang dibeli tergeletak tak dibaca. Berbelanja buku tak cuma menjadi pemilik buku, melainkan peran itu berlanjut menjadi pembaca dan penulis. Pertaruhan bertambah berat saat menjadi pembaca. Waktu membaca tidak bisa ditebus dengan nominal angka. Mengkhatamkan buku juga tidak bisa ditentukan durasinya. Semuanya memerlukan ketekunan dalam memperlakukan buku.

Orang bisa mengeluarkan uang di dompet untuk dibelikan buku tapi sulit menggunakan seluruh waktunya untuk membaca buku. Kehormatan berbelanja buku agaknya sulit ditentukan dengan jumlah belanjaannya. Kehormatan itu terletak bagaimana tanggungjawab setelah buku itu sah menjadi miliknya. Apakah pemilik buku membiarkannya terkapar di rak atau mencumbuninya di kala pagi dan malam? Disitulah iman pembelanja buku sedang diuji.

Menjadi pembelanja buku adalah langkah pertama untuk menjadi pembaca buku baru kemudian penulis buku. Bagaimana mau mengaku penulis kalau memori berbelanja buku tidak punya. Memang tersisa kekhawatiran bahwa semua buku tidak bakal dibaca. Tapi itu bisa digunakan untuk sewaktu-waktu butuh. Seperti yang dikatakan Muhidin M Dahlan (2009: 624), “Sedia kondom sebelum bercinta, sedia buku referensi sebelum ide datang.”

5/

Sesudah tua begini, masih juga ada yang bertanya.

“Apa keinginan Anda yang belum tercapai?” Aku

Menjawab, “Menjadi sebuah buku…”

Hasan Aspahani—Sajak Ini Kuberi Judul: Buku (2016)

Berbelanja buku adalah bagian dari jalan panjang menjadi buku. Berbelanja buku bisa juga diartikan sebagai cicilan bahan bangunan untuk mendirikan buku. Para penulis tidak akan bisa melahirkan karya-karya yang bagus jika tidak diimbangi kekayaan referensi. Para pembaca buku juga akan sempit pengetahuannya jika daftar bacaannya tidak diperbarui. Berbelanja buku bisa jadi menyiasati itu semua. Menambah pengetahuan dan meluaskan cara pandang.

Dari mata para pembelanja buku-lah buku-buku di rak toko buku ditatap dengan mata terpana dan kekaguman berlipat-lipat. Buku dipinang dengan rasa girang tak berkesudahan. Mengunjungi toko buku selalu menyimpan kisah pertemuan tidak terduga dengan buku pujaan. Selain itu, ada juga banyak hal lain yang disinggung dalam dunia buku, mulai dari penerbit, toko buku, pameran buku, sampai para penjual buku yang baik hati atau yang bikin jengkel di hati. Semua itu bisa terkisahkan dengan fasih dari mulut para pembelanja buku.

Tidak ada ruginya kalau para pembelanja buku kita persilakan bercerita secara panjang dan lebar soal memoar berbelanja buku. Dengan begitu kita bisa tahu kondisi niaga buku di Indonesia. Kalau merujuk dalam kisah para pembelanja buku di Atas Nama Buku tampaknya mereka selalu siap menjadi pembeli garis keras selagi kantong masih terisi. Dan semuanya berkisah masih menikmati bentuk buku konvensional dan tidak tertarik dengan buku virtual yang bisa didapatkan gratis di laman-laman perpustakaan kampus di Indonesia.

Barangkali benar yang dikatakan George Orwell kecintaan kita pada buku bisa berlipat ganda saat menjadi pembelanja buku. Jadi kalau ingin menjadi pencinta buku yang teguh jadilah pembeli dan pembaca buku yang tekun. Cara itu bisa tetap menjaga intensitas kita berbuku. Dan jangan coba-coba berlagak berpikiran menjadi penjual buku. Kata Orwell itu bisa memudarkan rasa cinta anda pada buku.

Tapi kalau mau menjalankan dua-duanya tidak ada salahnya dicoba. Mengikuti kisah Ngadiyo pembaca buku yang berjualan buku. Dan akan mengajak orang-orang menjadi pemilik buku. “Karena belanja buku adalah kehormatan.”


Kredit Gambar : pictagram warungarsip
Muhammad Yunan Setiawan
Bergiat di Kelab Buku Semarang. Selain aktif di komunitas itu, aktivitas lainnya adalah menjadi muazin “part time” di musala Alharomain
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara