Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017 melahirkan banyak cerita. Salah satunya ini: sebuah “surat” dari seorang penulis yang mengikuti acara festival sastra terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

MONTJEL YANG BAIK,

Wajah-wajah di Ubud ?terutama di empat tempat gelaran Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017, dari Neka Museum, Taman Baca, Indus Restaurant sampai Blanco Museum ? tak semuanya aku ingat. Rasa akrab dalam kerumunan, saling tersenyum saat berpapasan, pertemuan antara pembaca-buku-penulis, bahasa-bahasa asing yang tak sepenuhnya kupahami, bagai langit yang disepuh warna emas. Ketika senja jadi keindahan singkat, burung-burung mengepakkan sayap ke arah matahari terbenam, begitu erat dengan perpisahan.

Selama lima hari di Ubud, 25-29 Oktober 2017, UWRF 17 seakan menjadi rumah besar bagi ribuan orang dari berbagai belahan dunia yang disatukan oleh sastra. Tapi di luar tumpukan-tumpukan buku, lirik puisi, bangunan cerita pendek, konflik dalam novel atau kejujuran dalam memoar terselip keindahan tersendiri di Ubud: cerita keseharian para penulis yang tak selama 24 jam sehari semata berurusan dengan kata.

Masih terngiang di telingaku, cerita penyair Morika Tetelepta tentang rasa hormatnya pada lumba-lumba dan doa rahasia nelayan-nelayan Maluku mengarungi ombak. Cerpenis Aksan Taqwin Embe dan Ade Ubaidil di Banten disibukkan dua aktivitas berseberangan antara mendidik santri di pesantren dan memaksa bahagia menjadi mahasiswa abadi ilmu sistem komputer. Di Solo selama 8 jam sehari, penyair Seruni Unie menunggu pembeli di Toko Meubel, lantas mengajar anak-anak kampung di sore hari, sebelum kesunyian kembali jadi sahabat paling karib di malam hari.

Di puncak perpisahan Closing Night Party, Museum Blanco 29 Oktober, ratusan penulis memang telah menjadi bagian euforia di antara suara biola, gitar, bir dan segelas wine.  Aku sendiri diam-diam memandang senyummu, mengingat-ngingat warna alam paling pas menggambarkan baju hijaumu, rambutmu sebahu disentuh angin, mataku yang menatap ke matamu berupaya bisa mengakrabimu dari jauh —bercanda dengan naik turun gelombang mimpimu (meminjam lirik puisi Saut Situmorang).

Surat ini kutulis untukmu sebagai bagian takdir seorang pencerita yang kerap menolak meletakkan pertemuan dan perpisahan sekadar di laci kenangan. Setiap kata di tulisan ini kujalin dari satu benang merah yang saling mengikat kita di UWRF 17 bahwa buku begitu istimewa sebab di dalamnya menyimpan nilai-nilai kultur manusia yang takkan hancur: kisah dan sejarah manusia. Tapi nampaknya, seperti kata-kata yang ditulis oleh Leo Tolstoy dalam karya termasyhurnya Anna Karenina (1873-1877), “kisah derita manusia selalu khas melebihi kebahagiaan”.

I

Montjel yang baik,

Ketahuilah, sastra itu penting, tapi dalam hidup memang bukan segala-galanya. Sastra seperti dikatakan Orhan Pamuk, adalah tempat paling mulia yang pernah dicapai kemanusiaan untuk memahami keresahannya sendiri. Di Bar Luna, 28 Oktober, aku memilih berdiam diri di sudut ruangan menunggu peluncuran buku berjudul Origins Sangkan Paraning Dumadi A Bilingual Antology of Indonesian Writing. Buku itu menghimpun keresahan-keresahan dari 16 penulis yang terpilih sebagai Penulis Emerging Indonesia UWRF 2017.

Untuk melipur hatiku yang kerap dirundung sepi di penginapan, aku pun membaca buku Origins. Tulisan-tulisan di dalam buku itu berhasil membuatku terjaga dan pikiranku diseret oleh esai berjudul “Benda-benda Berbahasa (Perkelahian Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing dalam Iklan-Iklan Produk di Media Massa dan Ruang Publik) yang ditulis Na’imatur Rofiqoh. Na’im begitulah aku menyapa penulis asal Ponorogo ini, menganalisa adanya kekalahan bahasa Indonesia dalam rupa kekalahan bahasa benda-benda.

Esai itu mendesakku untuk mengamati benda-benda yang ada di tubuhku. Di lengan kiriku melingkar jam bermerk Casio G-Shock, pengingat waktu buatan Jepang. Sepasang kakiku dibalut celana jeans khas Amerika yang tersohor dengan ikon James Dean dan Marlon Brando. Di esai Na’im sendiri, ia menguliti kenyataan bahwa kekalahan dalam bahasa benda-benda terentang sejak invasi bahasa asing merangsek masuk ke dalam sumsum bahasa Indonesia lewat iklan produk-produk impor di media cetak zaman kolonial, hari ini terlihat dari kelatahan warung-warung penyedia menu ayam di berbagai kota yang lebih memilih membahasakan dagangannya dengan chicken meniru gerai siap saji semacam KFC, sampai para pengiklan perusahaan Indonesia yang berada di alam kebahasaan Indonesia tapi nekat menawarkan dagangan dalam bahasa Inggris.

Bagiku, esai Na’im juga mengandung ironi tersendiri bagi buku Origins. Buku ini yang memuat karya-karya penulis Indonesia dari Maumere sampai Yogyakarta, ditulis dalam alam berpikir bahasa Indonesia, faktanya justru berjudul besar bahasa asing. Aku tak tahu, apakah Na’im akan menilai maksud pemilihan judul Origins adalah bagian dari memposisikan kelayakan untuk lebih mudah “dibaca dunia”, dan proyek penerjemahan sebagai strategi untuk mengenalkan sastra Indonesia pada tataran global. Atau tak dipilihnya judul “Asal Mula”, sebentuk persetujuan tak terucapkan bahwa bahasa Indonesia dipandang tak memiliki aura transnasional (sistem global membentuk suatu kepastian bahwa bahasa-bahasa nasional di Asia Tenggara hanya diperuntukkan buat “penutur“ lokal, kata Benedict Anderson di esai “The Unrewarded: Notes on the Nobel Prize for Literature” Jurnal New Left Review edisi Maret-April 2013), lagi-lagi kekalahan mutlak dalam bahasa benda-benda.

Di luar segala kemungkinan penilaian, aku sendiri memberi hormat pada UWRF yang bersusah payah membentuk tim penerjemah — Pamela Allen, Debra Yatim, Julia Winterflood, Suzan Piper, Toni Pollard, Ketut Yuliarsa? mengalih bahasakan karya sastra dari 16 penulis Indonesia di buku Origins. Aku jadi teringat esai Cecep Syamsul Hari “Belajar dari Korea dan Hongaria” yang mengetengahkan kenyataan miris bahwa di Indonesia para penerjemah berada pada situasi yang mesti bekerja mencari sumber-sumber pendanaan sampai penerbitan sendiri-sendiri dan alpanya lembaga khusus yang memfasilitasi para penerjemah asing untuk sementara waktu tinggal di Indonesia bekerja menerjemahkan karya sastra Indonesia. Sedang di lain sisi, lewat buku Origins aku percaya laju proses kreatif penulis sastra di Indonesia berjalan kian dinamis. Pengalaman kesusastraan Indonesia dalam persinggungannya dengan modernisasi dan tradisi, Timur dan Barat, telah memperlihatkan dinamika budaya dan intelektual yang mengasyikkan.

Memata-matai keresahan penulis di dalam buku Origins misalnya, puisi “Sembako” karya Rizki Amir dari Sidoarjo merepresentasikan suara-suara pedagang pasar tradisional di tengah situasi ekonomi tak menentu. Puisi Ibe S Palogai dari Makassar berjudul “Allegia” dan “Konkuisnador” menyikapi pengaruh panjang perang Makassar dan memaknai bagaimana cara orang Sulawesi menyikapi kekalahan. Sedang esai Taufiqurrochman dari Yogyakarta berjudul “Solastalgia” meneroka cerita pendek “Aku, Ikan yang Berenang” karya Putu Fajar Arcana untuk mengandaikan kesejajaran hubungan manusia dan alam, mengingatkan kembali pandangan Heideggerian bahwa manusia sejatinya adalah pemukim, di tengah kenyataan miris eksploitasi habis-habisan pada alam demi alasan pembangunan.

Bagiku, buku bersampul transformasi rerajahan bali karya Kuncir Sathya Viku ini setidaknya fragmen dari sastra Indonesia yang telah merepresentasikan kebudayaaan-kebudayaan etnis, situasi Indonesia terkini sekaligus memposisikan pengetahuan dunia sebagai bagian di dalam kesusastraan Indonesia.

II

Montjel yang cantik,

Jauh dari Ubud, memandang ke seberang lautan, aku akan menutup surat ini lewat cerita Mo Yan saat ia membacakan pidato nobelnya “Storytellers (2012)”. Ia mengisahkan pengaruh juru cerita di masa kanaknya yang kerap ia simak kisahnya di pasar kota Gaomi, juga kebaikan ibunya yang diam-diam memberinya izin untuk pergi ke pasar menyimak kisah-kisah baru. Kelak dua pengalaman itu menjadi modal berharga bagi Mo Yan, menemukan kekhasan gaya bercerita dan merealisasikan harapan untuk menjadikan kota Gaomi Timur Laut sebagai mikrokosmos China, bahkan dunia.

Bagiku, posisi penulis dalam buku Origins mungkin berada satu ikatan benang merah latar belakang proses kreatif semacam itu. Antara menjelajahi cerita, buku-buku dari berbagai belahan dunia, sembari memahami keresahan pribadi juga lingkunganya. Dan Indonesialah pusat cerita-cerita mereka.

Setidaknya lewat UWRF 17 yang (konon) merupakan festival sastra terbesar se-Asia Tenggara, suara-suara para penulis dalam buku Origins berpeluang mendapat pembaca lebih luas. Dengan lain kata terupayakan agar dibaca oleh berbagai warga dari berbagai bangsa dalam dua bahasa: Indonesia—lingua franca yang mewakili jejak panjang bangsa dan kebangkitannya dari keterjajahan?juga Inggris—jembatan bahasa yang paling memungkinkan menghubungan sastra Indonesia dengan “masyarakat dunia”. Begitulah caraku memetik kenangan di UWRF 17 lewat surat singkat ini. Mudah-mudahan kau bahagia selama di Ubud, senyum jauhku untukmu di Salatiga.

Ubud-Malang-Yogya, 30 Oktober-10 November 2017

 

Keterangan foto: Penyair Erich Langobelen dari Maumere membaca puisi saat peluncuran buku Origins


Abdul Aziz Rasjid
Esais & Wartawan. Bergiat di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto. Penulis Emerging Indonesia Terpilih Ubud Writers & Readers Festival (UWRF).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara