Jagat pengarsipan adalah jagat yang senyap, tapi tidak demikian halnya pada 19 September s/d 1 Oktober kemarin. Ada riuh Festival Arsip IVAA 2017 diselenggarakan di Yogyakarta.

Hall Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjsoemantri UGM mulai ramai di Minggu sore pukul 16.30, 1 Oktober lalu. Hari pertama di bulan Oktober itu adalah hari terakhir penyelenggaraan rangkaian Festival Arsip IVAA 2017 yang bertajuk “Kuasa Ingatan.” Saya tiba tepat ketika Baskara T. Wardaya sedang bicara di panggung utama tentang buku Membangun Republik yang ia tulis. Diskusi buku itu merupakan salah satu acara yang berlangsung di hari terakhir Festival Arsip. Namun saya tidak merapat ke panggung utama. Di sisi lain hall terdapat berbagai stan lembaga dan komunitas yang menjadi partisipan festival ini.

Perhatian saya langsung jatuh pada stan Lokananta Records yang berada di sisi barat pintu utama. Beberapa piringan hitam tersaji di atas meja, lengkap dengan alat pemutarnya. Danang Rusdianto, staf divisi Pengembangan Bisnis Lokananta menawari kesempatan mendengarkan piringan hitam langsung di stan. Saya lalu sibuk memilih-milih piringan hitam, sementara Danang menyiapkan peralatannya. Pilihan saya lalu jatuh pada piringan hitam Zainal Combo, grup bentukan gitaris Zainal Arifin. Foto Zainal Arifin dengan gitar di pundak, terpasang di bagian depan pembungkus piringan hitam. “Tunggu sebentar ya mbak, ada masalah sedikit. Saya benahi dulu,” ujar Danang sembari memeriksa beberapa bagian dari mesin pemutar yang ada. Tak berselang lama masalah pun beres. Saya lalu memakai headset yang Danang beri. Lagu demi lagu mengalun bersamaan dengan kian ramainya hall Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjasoemantri.

Perhelatan Festival Arsip yang diselenggarakan Indonesia Visual Art Archive (IVAA)?khususnya sesi Pameran Komunitas yang berjalan di tiga hari terakhir? disebut Danang Rusdianto sebagai moment langka yang dengan bahagia disambut oleh  segenap staf Lokananta. Perusahaan rekaman pertama milik pemerintah ini, menyimpan sangat banyak arsip audio. Mulai dari lagu-lagu daerah sampai rekaman pidato kenegaraan para petinggi negeri. Bertahun-tahun Lokananta seakan tenggelam, tidak dikenal masyarakat. Padahal pada dekade pertama pasca-kemerdekaan, Lokananta berperan besar membangun kepribadian bangsa lewat bidang musik, dengan menghimpun dan mengarsipkan banyak lagu daerah.

Sepuluh tahun lalu nama Lokananta akhirnya kembali dikenal saat muncul pemberitaan lagu “Rasa Sayange” dipakai sebagai jingle iklan pariwisata Malaysia. Arsip audio Lokananta berhasil menjernihkan masalah itu. Lagu daerah asal Maluku itu terbukti merupakan salah satu lagu dari piringan hitam yang direkam di Lokananta pada 1962 untuk dijadikan suvenir bagi peserta Asian Games 1962 di Jakarta.

Lokananta tentu tidak sendiri bergerak dalam jagat arsip yang demikian sunyi senyap. IVAA lewat Pameran Arsip “Kuasa Ingatan” yang berlangsung dari 19 September-1 Oktober 2017, menghimpun berbagai arsiparis dari berbagai lini, baik dari lembaga pemerintah, arsiparis mandiri maupun komunitas. Bentuk arsip yang dihimpun pun berbeda-beda, mulai dari arsip tertulis, gambar, audio, sampai gambar bergerak. 

Ada beberapa lembaga selain Lokananta yang membuka stan di event ini. Ada Institut Dayakologi, yang merupakan bagian dari Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK) yang dimandati untuk melakukan revitalisasi kebudayaan Dayak melalui penelitian dan kajian. Ada pula Dewan Kesenian Jakarta, lembaga yang menjadi mitra kerja Gubernur DKI Jakarta, untuk merumuskan kebijakan guna untuk mengembangkan kehidupan kesenian di provinsi tersebut. Selain tiga lembaga ini, tercatat dalam buku panduan Pameran Arsip, masih ada delapan lembaga lain yang turut serta, yakni Museum Sonobudyo, Taman Baca Kesiman, Tikar Media Nusantara, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Studio Audio PUSKAT, OK.Video, Festival Film Dokumenter, serta dua arsiparis individu, Slamet dan Primanto.

Ada empat tim kerja yang menopang berjalannya pameran ini, yakni tim kerja artistik, tim kerja arsip, tim edukasi publik, dan tim seminar. Keempat tim ini bertugas mengonsep dan menjalankan setiap detil acara sesuai dengan job desk masing-masing. Dilihat dari susunan acara yang beragam, Pameran Arsip seolah ingin membuang jauh-jauh label sunyi dari kerja-kerja pengarsipan. Bahwa arsip, apapun bentuknya, adalah kerja kebudayaan yang harus dirayakan, diapresiasi setinggi-tingginya. Maka, menjadi menarik bahwa arsip-arsip ini disajikan ke hadapan publik lengkap dengan pertunjukan musik, diskusi buku, seminar, pertunjukan teater, sampai bursa arsip.

Ramai-Ramai Menggandakan Arsip

1 Oktober itu sekaligus menjadi hari terakhir penggandaan arsip yang berjalan selama tiga hari. Segmen ini memberi kesempatan bagi publik untuk memiliki kopian arsip yang mereka butuhkan. Tak hanya menampilkan arsip-arsip sebagai benda mati, Bursa Arsip pun menampilkan produk-produk yang dihasilkan berbasis arsip. Untuk menunjang hal tersebut, Bursa Arsip membagi kegiatannya menjadi beberapa aktivitas, yakni,  Zlink! atau Pameran Zine, Bakar Arsip, Lapak Buku, Lapak Lawasan, Diskusi Buku, Worksop Artistik Buku, dan Musik Akustik.

Ada sebanyak 600 zine yang dipamerkan selama tiga hari. Adapun arsip-arsip itu terdiri dari koleksi Warung Arsip, Indra Menus, Isrol Media Legal, Arsita Cangkang Serigala, Newseum, Ora Weruh, Pawon, Arsivis Solo, dan lain-lain. Koleksi ini masih ditambahkan dengan koleksi dari perpustakaan IVAA. Dibagi menjadi tiga meja, zine-zine ini kemudian bebas dipilih pengunjung untuk kemudian digandakan. Sebuah form pemesanan tersedia di setiap meja. Pengunjung hanya perlu menuliskan judul zine yang hendak digandakan di dalam form tersebut. Panitia kemudian menggandakan zine sesuai pesanan pengunjung.

Sementara koleksi untuk Bakar Arsip, terdiri dari koleksi IVAA dan Dodit Tokohitam. Panitia menyediakan dua komputer untuk melihat katalog data yang dipinjam dari koleksi perpus IVAA dan Dodit Tokohitam. Seluruh katalog berjumlah 40 GB.  

Fairuzul Mumtaz selaku Koordinator Tim Kerja Arsip mengatakan bahwa antusiasme pengunjung cukup baik dengan banyaknya permintaan penggandaan. Bahkan, seperti yang diutarakan Fairuz, mesin fotokopi utama yang digunakan pun sampai rusak saking banyaknya permintaan penggandaan. Nominal hasil penggandaan zine selama tiga hari itu sebesar Rp363.000. Sementara hasil penjualan CD Bakar Arsip sebesar Rp255.000. Tentu ini jumlah yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan hasil penjualan di lapak buku. Namun setidaknya menunjukkan besarnya antusiasme pengunjung untuk memiliki arsip-arsip tersebut sesuai kebutuhan masing-masing.

“Kita tidak menargetkan secara finansial Bursa Arsip ini harus menghasilkan berapa rupiah, karena bukan itu tujuan kita. Dijualnya pun dengan harga tejangkau. Yang jelas, arsip-arsip ini diharapkan dapat membantu orang-orang untuk keperluan akademis dan penelitian yang sedang mereka kerjakan,”ujar Fairuz.

Politik Pengarsipan Sebagai Strategi Kebudayaan

Mengusung tajuk “Kuasa Ingatan”, pameran ini hendak menekankan pentingnya aktivitas pengarsipan, khususnya perihal politik pengarsipan dan etikanya. Lisistrata Lusandiana, Direktur Festival Arsip IVAA “Kuasa Ingatan”, mengatakan bahwa alur dan versi dari penyusunan sejarah di bidang apa saja, bertalian erat dengan relasi kuasa. Dalam pengantarnya, Lisis menyebut kerja pengarsipan menjadi sangat urgen untuk menelusuri sumber dari versi sejarah yang selama ini ada. Penelusuran ini dimaksudkan untuk membangun narasi yang tidak melulu menempatkan “sang pemenang” sebagai pemilik sejarah, melainkan juga orang-orang yang kalah. Itulah kenapa arsip dan pengarsipan merupakan kepentingan kolektif yang harus ditunjang dan dikembangkan. Mengingat betapa pentingnya gairah publik dalam rangka menunjang arsip dan pengarsipan, lahirlah ide untuk mengadakan festival ini.

Selain pameran dan penggandaan arsip, sesi yang tak kalah penting adalah seminar. Topik-topik tentang arsip sebagai penjaga ingatan dibicarakan dalam sesi ini. Adapun, untuk sesi seminar IVAA bekerja sama dengan Program S3 Kajian Budaya (Kajian Seni dan Masyarakat) Universitas Sanata Dharma. Berjalan selama tiga hari dengan format akademis, ada tiga hal besar yang dibicarakan yakni pengarsipan seni budaya di Indonesia, wacana maupun praktik seni dan politik di Indonesia, dan yang terakhir tentang digital humanities.

Festival ini dimaksudkan menjadi ajang bertemu, belajar dan, saling menyapa dengan kritik. Membuka ruang-ruang dialog agar dapat bersama-sama menciptakan pengetahuan yang baru. Masih menurut Lisistrata Lusandiana, harapannya, kelak Indonesia memiliki politik pengarsipan yang secara sadar dikelola sebagai bagian dari strategi budaya masyarakat bekas jajahan di tengah arus globalisasi.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara