22 Nov 2017 Adlun Fiqri Sosok

Kisah singkat Dewesy, Dominggus William Sijaranamual, seorang penyair pejuang dari Maluku yang sudah seharusnya “dicatet” dan “dapat tempat”.

SIANG itu, Jumat 18 September 2017, dari terminal Mardika Ambon kami menumpangi mikrolet menuju negeri Mamala di Jazirah Lei Hitu, Maluku. Saya bersama dengan rombongan dari Paparisa Ambon Bergerak, sebuah wadah komunitas di kota Ambon. Pada malam sebelumnya kami telah membuat janji.

Rombongan tersebut diasuh Rudi Fofid, penyair dan wartawan senior asal Maluku. Mereka pernah mementaskan sebuah teater berjudul “Pelarian Terakhir” bercerita tentang seorang penyair asal Maluku, yang akan kami ziarahi makamnya hari itu.

Setelah dua jam perjalanan, mobil yang kami tumpangi akhirnya tiba di ujung negeri (desa) Mamala. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar dua ratus meter kemudian berhenti pada sebuah persekolahan Muhammadiyah.

Rombongan kami lalu berbelok menuju halaman samping sekolah tersebut dan berhenti pada sebuah petak semen berukuran 2x3 meter.  Saya tertegun sejenak, ternyata itu adalah makam yang kami tuju. Awalnya saya berpikir makamnya berada di wilayah pemakaman.

Pada nisan berwarna hitam itu tertulis “beristirahat dalam pelarian, pahlawan penyair Dominggus William Syaranamual (Dewesy)” dan sebuah marmer putih setinggi 180cm yang terukir sebuah sajak sebagai berikut:

Baru saja terang membenam hari/ Membayang lagi mega merah asap kebakaran/ Membawa makluk lari berlepas diriPilih ! Mati atau hidupDi sini masih ada orang kuat lariBerlomba dengan mautSedang aku berharap dengan lautAku turun ke lautTapi bukan anak lautAku mau tamatkan ini lembaran/ Dalam kelam hariBiar dengan pedomanPada hanya sebuah bintangYang lagi bercahayaOrang berlombaAku berlombaAku membuat satu pelarian terakhir/.

Sajak dengan judul Pelarian Terakhir di atas adalah sajak terakhir yang ditulis Dewesy sebelum meninggal enam puluh tujuh lalu. Dewesy meninggal beberapa hari sesudah tiba di Mamala dalam sebuah pelarian dari Ambon dan dimakamkan pada 22 November 1950.  Ia melarikan diri dari kejaran Militair Inlechting Dien (MID), tentara Republik Maluku Selatan.

Menurut Rudi Fofid dalam tulisannya, pasca-kemerdekaan, Dewesy dan kelompoknya adalah pendukung Negara Indonesia Timur (NIT). Ada pula kelompok yang mendukung NKRI. Sementara di Ambon sendiri muncul RMS. Kelompok Dewesy dan kelompok pendukung NKRI sama-sama menentang proklamasi RMS dengan tulisan-tulisan mereka. Oleh karena itu mereka menjadi musuh dan incaran bekas Het Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) yang mendukung berdirinya RMS.

“Sebab itu Dewesy dikejar sebagai buronan. Ia terus meloloskan diri, tapi kawannya yang memberi tumpangan dan perlindungan, justru menjadi korban. Dewesy memilih mengungsi ke Kubur Cina di Gunung Nona. Dalam kondisi lelah, lapar, kedinginan dan sakit, penyair yang saat itu berusia 24 tahun menulis puisi berjudul Pelarian Terakhir. Dengan mengendap-endap, puisi itu dititipkan kepada seorang wartawan surat kabar Suluh Ambon, melalui jendela kantor redaksi,” tulis Rudi.

Puisi yang kemudian diterbitkan itu makin membuat murka MID hingga menyerang kantor redaksi Suluh Ambon. Situasi genting dan tidak aman. Mendengar kabar itu, Dewesy, sendirian dan dalam keadaan sakit keras, melarikan diri ke negeri sahabatnya, Mohammad Malawat di Mamala. Di atas pangkuan sahabatnya, ia mengembuskan nafas terakhir. Kesehatannya kian memburuk ketika melakukan perjalan pelarian ke Mamala dengan jalan kaki naik turun bukit dan hanya bertahan dengan air kelapa.

Dominggus Wiliam Sijaranamual, lahir pada 9 Mei 1926 di desa Itawaka, Saparua. Namanya mungkin asing dalam deretan nama sastrawan nasional, namun penyair asal Maluku ini aktif berjuang menulis propaganda menentang penjajahan Indonesia. Dewesy merupakan nama pena (samaran) guna menghindari kejaran militer penjajah.

Pamflet, esei-esei propaganda dan puisi-puisinya selalu menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Berkali-kali ia bersama kawan-kawanya ditangkap dan diinterogasi oleh Kempeitai – satuan polisi militer pada masa penjajahan Jepang.

Dewesy mulai menulis puisi ketika melanjutkan pendidikan guru Volks Onderwyser, Saparua. Di sana pula ia mulai bersahabat dengan Muhammad Malawat dan Hasan Malawat, dua sepupu asal Mamala yang dikirim orang tuanya untuk ikut bersekolah guru. Mereka memulai dunia kepenyairan dan puisi-puisi mereka dimuat di Suluh Ambon.

J. Lisapaly dalam catatannya menulis, setelah Jepang menyerah, Dewesy dan kawan-kawannya pernah melakukan pemogokan di V.O. namun tidak terlacak alasan dari pemogokan itu. Setelah lulus, Desewy sempat menetap di sana selama setahun bersama ibu angkatnya dan barulah pada tahun 1947 ia mulai bekerja pada Kantor cabang Kementrian Penerangan NIT di Ambon pada bagian planning.

Tahun 1949 Dewesy mengikuti kursus kader penerangan yang diadakan di Makassar dan lulus dengan nilai terbaik. Lisapaly mengakui sejak saat itu bakatnya dalam karang-mengarang makin dipergiat. Hal ini terbukti karena sebagian besar sajak-sajaknya terbit di media nasional seperti majalah Mimbar Indonesia dan mingguan Siasat berkisar pada tahun 1949 hingga 1950.

*

Setelah dari makam Dewesy, kami kemudian berjalan kaki menuju rumah Muhammad Malawat, sahabat Dewesy. Rumah dengan bentuk tradisional bercat putih dengan tiang-tiang berwarna hijau itu terletak di tengah kampung Mamala, sekitar 20 meter dari masjid Mamala. Kamar depannya terpisah di luar. Konon di sanalah kamar Dewesy sewaktu dirawat di Mamala. Bahkan tempat tidur yang dipakai Dewesy masih berada pada posisi yang sama dalam kamar tersebut.

Dalam kamar itu pula Dewesy menghembuskan nafas terakhir di pangkuan sahabatnya pada 19 November 1950 pukul 4.30 sore. Kuburan Dewesy awalnya berada tidak jauh dari rumah Muhammad Malawat, namun karena semakin ramai pembangunan pemukiman warga, makamnnya kemudian dipindahkan di halaman persekolahan Muhammadiyah, Mamala.

Di teras rumah Muhammad Malawat, teman-teman dari rombongan pementas teater membacakan dengan lantang bait-bait sajak Pelarian Terakhir karya Dewesy. Beberapa warga sekitar berkumpul ikut menyaksikan.

Setelah itu kami kemudian disuguhi teh dan kudapan oleh warga setempat sambil berbincang mengenai sosok Dewesy. Kisahnya hidup dalam masyarakat dan diceritakan secara turun-temurun oleh warga Mamala.

Dalam perbincangan itu saya menanyakan soal puisi-puisi Dewesy selain Pelarian Terakhir.  “Ada beberapa arsip di pusat dokumentasi sastra H.B Jassin di Jakarta,” kata Opa, panggilan akrab Rudi Fofid. Namun belum ada satupun copyan arsip-arsip tersebut di tangan teman-teman Ambon.

Memburu Dewesy ke Jakarta

Karena alasan itu dan rasa penasaran saya akan sosok Dewesy, tiga minggu lalu dalam suatu lawatan ke Jakarta, saya mampir ke Taman Ismail Marzuki guna mencari arsip-arsip milik Dewesy di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin.

Melalu petunjuk seorang petugas saya kemudian menuju sebuah gedung tua di bagian selatan TIM. Gedung itu tampak gelap dan sepi. Dari sebuah papan, saya lalu menaiki tangga menuju lantai dua. Di depan pintu masuk saya menyapa seorang ibu.

“Permisi ibu, PDS-nya di ruangan mana ya?”

“Mari dek masuk di sini,” jawabnya sembari mempersilahkan saya mengisi daftar pengunjung sambil mengarahkan saya pada petugas lainnya untuk mencari naskah.

Pada sebuah lembaran kecil saya kemudian memasukan kata kunci “Dewesy” dan memberikannya kepada seorang bapak, petugas di sana. Lima menit kemudian si bapak keluar dan memanggil saya, katanya naskah dengan kata kunci itu tidak ada. Wah saya kemudian mencoba kata kunci lain dan hasilnya tetap saja nihil.

Saya mulai putus asa. Tapi si bapak menyodorkan buku bibliografi karya sastra dan kami mencari bersama. Akhirnya kami menemukan kunci Sijaranamual, DW. (masih menggunakan ejaan lama). Si bapak kemudian masuk kembali dan keluar sebuah folder biru yang tertulis “Sijaranamual, D.W., Sajak-sajak (ketikan, kliping)” lalu memberikannya kepada saya.

Dalam folder tersebut terdapat sebuah daftar isi yang ada dalam map tersebut. Tertulis ada 11 puisi, antara lain Ketinggalan (1948), Musim Tjengkih (Siasat, 1949), Merdeka! (1949), Surat dari Laut (Mimbar Indonesia, 1949), Lepas (Siasat, 1949), Djandji Terakhir (1949), Kita Hanya Satu (Mimbar Indonesia, 1949), Pasang Surut (Mimbar Indonesia, 1949), Sumpah (Mimbar Indonesia, 1949), Berpisah (1950), dan Sadjak dari Riwayat Seorang Kawan (1950).

Semua naskah itu saya minta digandakan.

Dewesy dalam catatan J. Lisapaly

Keistimewaan lain yang saya dapatkan ialah mendapati arsip tulisan J. Lisapaly berjudul Sijaranamual: Pengembara Jang Tewas terbitan Mimbar Indonesia (tanpa tanggal) yang terarsip dalam folder itu. Dalam tulisan itu dimuat juga foto Dewesy muda.

Lisapaly menulis bahwa jika membicarakan kebudayaan baru Indonesia maka pikiran kita akan tertumpu pada sosok Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan ‘45. Berbarengan dengan itu ternyata muncullah orang-orang yang bukan dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, melainkan dari Maluku dengan Sijaranamual dan Chris Latuputty.

Mereka baru saja mulai, lanjut J. Lisapaly, tapi suara yang diperdengarkan adalah janji kesatuan dan kemerdekaan yang justru pada masanya kita masih terlibat dalam rantai penjajahan, mereka telah berhasil memberi bentuk yang nyata pada api revolusi kita.

Lisapaly mengaku berkenalan baik dengan Dewesy ketika masuk dalam pendidikan guru. “Baru pada waktu itu kegemarannya dalam karang-mengarang memberikan kesempatan luas untuk lebih mempertajam dan mencari bentuknya sendiri,” tulisnya. Menurutnya, Dewesy adalah seorang yang keras hati, dan syarat itulah yang dipergunakannya dalam rintisan pertama untuk menghancurluluhkan bentuk kolonialisme melalui sajak-sajaknya.

Selain sajak-sajak, Dewesy juga menulis cerita-cerita pendek. Yang pertama dimuat adalah cerpen berjudul Sesudah Aku Hamil yang dimuat dalam majalah mingguan Siasat. Dalam cerpen itu, menurut Lisapaly, Dewesy menghantam habis-habisan serba keburukan dalam masyarakat sukunya yang masih keras berfoya-foya sebagai pintu kerusakan moral dan budi pekerti. Sementara cerpennya yang kedua berjudul Perempuan yang membahas perkembangan bahasa Indonesia dan sistem menir-menirkan di kantor-kantor.

Namun arsip dari kedua cerita pendek Dewesy di atas belum saya temukan hingga hari ini. Pada akhir catatan tersebut, setelah meninggalnya Dewesy, Lisapaly mengatakan angkatan muda di Maluku merasa suatu kekurangan yang besar dan berpesan semoga jejak Dewesy ini akan dituruti oleh yang lain untuk memberi bentuk yang kuat dalam perkembangan kesusateraan Indonesia.

Kumpulan sajak-sajak Dewesy yang saya gandakan dari PDS HB. Jassin, bisa dilihat di sini.

*

Biarpun kamu pada menghilang

Tapi kita yang tingal terus berjuang

Mendekatkan jarak ini yang sudah kita sama dekatkan

Biar bagaimana pula juga kita tidak akan berdiam

Kepada anak – anak dari kamu yang sudah pergi 

Dan dari kita yang masih tinggal

Kita akan tutur ini sejarah

Kita akan ajar dia pegang tangkai dayung

Biking tutup ini jarak

 

Dewesy - Kita Hanya Satu (Mimbar Indonesia, 1949)

 

Saudara,

Kau yang hidup dekat api, dekat rumah orang buangan

Mari dengan aku anak asal Alifuru

Makan sumpah cara alifuru

Lalu kita makan sirih – tikam tombak

Kita dua ambil parang dan salawaku

Kita dua cakalele

Lanjutkan sumpah hari akhir

 

Dewesy - Sepenggal Sajak Sumpah (Mimbar Indonesia, 1949)


Adlun Fiqri
Senang mengembara, sesekali kuliah. Bergiat di Literasi Jalanan dan masih terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Antropologi Sosial di Univ. Khairun Ternate.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara