Penghancuran buku dilakukan bukan oleh orang bodoh. Sebaliknya, pelakunya biasanya adalah orang yang terpelajar: Descartes dan Hume misalnya. Lalu bagaimana kisah sebenarnya sampai orang tega menghancurkan buku?

...buku adalah parit-parit ingatan, dan ingatan adalah dasar bagi perjuangan keadilan dan demokrasi. (Baez, 2017: viii)

*

Selama 55 abad buku telah dimusnahkan, dan kita tidak tahu apa sebabnya. Begitu Baez menulis. Ada ratusan kajian mengenai asal mula buku dan perpustakaan, tapi tidak ada satu pun karya karya sejarah mengenai penghancurannya: tidakkah ini mengherankan? Baez menambahkan demikian di bagian pendahuluan sub-pendahuluan kedua.

Pertanyaan bernada resah yang dilontarkan Baez, barangkali dipicu oleh seorang mahasiswa sejarah bernama Emad, yang datang menghampirinya ketika Baez sedang berada di Irak. Emad bertanya demikian bukan tanpa sebab. Waktu itu, di Irak, atau lebih spesifiknya di Bagdad, sedang terjadi peristiwa penghancuran buku yang meluluhlantakkan buku-buku di perpustakaan, juga laboratorium universitas.

Oleh karena pertanyaan Emad, Baez terdorong untuk menelusuri sebab-sebab mengapa manusia (tega) menghancurkan buku. Hasil penelusurannya, sudah terbit dan sudah ada terjemahan Indonesianya yang diterbitkan oleh Marjin Kiri berjudul “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa”. Buku ini terbit pertama kali dalam versi Indonesia pada tahun 2013. Empat tahun pasca-penerbitan awal, edisi pembaharuan muncul, 2017. Kedua edisi tersebut sama-sama diterbitkan oleh Marjin Kiri, dan saya membaca versi Indonesianya yang terbitan tahun 2017.

Penelusuran yang dilakukan oleh Baez bukan berarti tanpa tantangan. Untuk menelusuri sebab-musabab mengapa manusia, berani atau bahkan tega, menghancurkan buku, dia harus berhadapan dengan motif yang mendasari mengapa manusia melakukan demikian. Di bagian pendahuluan, sub-pendahuluan ketiga, yang berjudul “mitos-mitos apokaliptis”, Baez mengungkapkan bagaimana ‘mitos apokaliptis’ mempengaruhi manusia untuk melakukan tindakan penghancuran buku.

Konsepsi kosmologis, atau mungkin kosmogoni, yang mengindikasikan bahwa semesta mempunyai awalan dan akhiran, ternyata mempunyai dampak terhadap laku penghancuran buku. Melalui konsepsi awalan dan akhiran, atau penciptaan dan penghancuran, manusia melakukan penghancuran—dalam hal ini buku, dengan menganggap hal demikian itu dapat menciptakan sebuah keselamatan di masa mendatang. Begitulah yang dimaksud Baez dengan mitos apokaliptis.

Selain itu, yang menarik dari membaca buku ini adalah klaim Baez mengenai daya intelektualitas pelaku penghancuran buku. Bila kita menganggap bahwa pelaku penghancuran buku adalah orang bodoh, bagi Baez, itu adalah sebuah kekeliruan. Sebab, menurut Baez (2017: 21-22), setelah dua belas tahun bergulat dengan laku penghancuran buku, semakin terpelajar suatu bangsa atau seseorang, semakin besar keinginannya untuk menyingkirkan buku-buku dibawah tekanan mitos apokaliptis.

Salah dua contohnya adalah Rene Descartes dan David Hume.

Baik Descartes maupun David Hume, nama keduanya begitu menjulang dalam kepustakaan filsafat. Terlebih dalam wacana epistemologi. Bila Descartes meminta pembacanya membakar buku-buku lama, Hume justru tidak ragu-ragu meminta agar semua buku mengenai metafisika diberangus (Baez, 2017: 22).

Guna memperkuat klaimnya, Baez nampaknya tidak cukup hanya menyebutkan dua nama filsuf. Martin Heidegger yang juga seorang filsuf kenamaan abad ke-20, pernah mengambil buku-buku dari perpustakaan Edmund Husserl untuk dibakar oleh mahasiswa-mahasiswa filsafatnya. Dari sini, Baez memperkuat klaimnya bahwa semakin terpelajar seseorang, maka semakin besar pula kemungkinan seseorang tersebut untuk melakukan penghancuran buku.

Sewaktu saya membaca buku ini, saya begitu terkesima. Selain disebabkan oleh alasan-alasan di muka, ada beberapa alasan lain yang membuat saya merasa tidak sia-sia bila anda membaca buku ini.

Pertama, terkait pemetaan buku yang begitu bagus. Kedua, data yang disajikan oleh Baez perihal penghancuran buku juga tidak kalah menarik. Ketiga, motif-motif yang mendasari adanya laku penghancuran buku.

Alasan pertama, mengapa saya mengatakan kalau pemetaan buku ini bagus, dikarenakan buku ini disusun secara kronologis. Maksudnya, pembahasan buku ini dibagi menjadi tiga pembahasan: Dunia Kuno, Dari Byzantium hingga abad ke-19, dan Abad ke-20 hingga sekarang (abad ke-21). Pada bagian pertama pembahasan, Dunia Kuno, kita akan menemukan siapa pelaku pertama penghancur buku, ia bernama Akhenaton (Baez, 2017: 41).

Pada bagian pertama pembahasan pula, dalam sub-pembahasan berjudul “Yunani”, kita akan mengetahui bagaimana buku pertama kali dijadikan komoditas (Baez, 2017: 46). Dan juga, kita bisa mengetahui bahwa buku bergambar yang pertama kali terbit adalah buku bergambar karya Anaxagoras (Baez, 2017: 47).

Sedang untuk alasan kedua, mengapa saya mengatakan kalau data yang disajikan oleh Baez itu menarik, itu dikarenakan, selain penyajian data, Baez menyelipkan unsur-unsur spekulatif. Misalnya ketika Baez membicarakan mengenai Plato. Seorang filsuf kenamaan yang mendirikan akademi di Athena.

Mungkinkah Plato membakar buku? Ya, Mungkin sekali, dan ada cukup alasan untuk meyakini bahwa ia juga akan memberangus kebebasan bicara yang tidak sejalan dengan kebenaran (tentunya, kebenaran menurut sistemnya). Para penyair—yang dijulukinya sebagai pendusta dan gila—diharamkan dari Republik yang diidealkan olehnya. Plato juga tidak memandang adanya banyak manfaat dari keberadaan buku-buku. Dalam pelbagai tulisannya, Plato meremehkan peran tulisan, dan bukunya Phaedrus (274 e-275 b) menampilkan mitos Mesir untuk menjelaskan bahwa tulisan akan berakibat ditelantarkannya ingatan manusia. (Baez, 2017: 51)

Sedang untuk alasan terakhir, atau ketiga, itu berkaitan dengan motif. Selain dua motif yang kerapkali mendasari laku penghancuran buku, ideologi dan politik, ternyata, isu seksualitas menjadi salah satu penyebab penghancuran buku. Motif ideologi dan politik begitu kental pada pembahasan periode dunia kuno sampai abad ke-19. Namun, pada abad ke-20, motif ideologi dan politik agaknya terkesan mereduksi.

Seperti yang terjadi pada Maret 1997.

Pada tahun itu para pustakawan Herfort School memerintahkan penghancuran 30.000 buku sumbangan mengenai isu-isu homoseksualitas. Kasus serupa juga terjadi pada karya Nancy Garden. Karyanya yang berjudul Anne on My Mind (1982), yang sempat dinobatkan oleh American Library Association dan School Library Journal sebagai novel remaja terbaik karena sikap toleran terhadap homoseksualitas yang terkandung dalam karya tersebut, tidak dinyana karena alasan itu pula karya tersebut ditolak dan dibakar di beberapa sekolah di Kansas (Baez, 2017: 245).

Sebagai penutup, membaca buku ini, bagi saya, adalah ajakan untuk merenung bagaimana kita (sepatutnya) menjaga ingatan. Sebab, buku adalah parit-parit ingatan, begitu menurut Baez. Bila ingatan kita terbakar, kepada apa kita mesti bergantung?


Moh. Fitriyansyah
Kebetulan, sedang berkuliah di Filsafat UGM. Sesekali, ikut bantu-bantu di lsfcogito.org—meski lebih banyak merepotkannya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara