Perjalanan sejarah memang tak terduga. Tiga tempat bersejarah di Bandung zaman pergerakan, kini menjadi ini: Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, tanah lapang, dan Parahyangan Plaza.

SEIRING DENGAN perkembangannya menjadi pusat perkebunan di akhir abad ke-19, dibukanya jalur kereta api, dan setelah diresmikannya menjadi gemeente (kotapraja) pada tahun 1906, Bandung makin menggeliat. Hingar-bingarnya Bandung di awal abad ke-20 itu, setidaknya, bisa dirasakan jika membaca Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa: Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 (Ultimus, 2016).

Membaca roman karya Chabanneau tadi membawa kita melancong ke pusat kota Bandung dengan deskripsi yang cukup detail. Bandung memang sudah ramai. Pengaturan zonasi kota masih mengadaptasi konsep pembagian ras kolonial: kelompok Pribumi, Tionghoa, Arab, dan Belanda mendiami kawasan tertentu, walau tidak diterapkan seketat kota kolonial lainnya. Lewat kabar mulut, ditambah promosi pariwisita yang gencar saat itu, dengan penyebutan ‘Garden of Allah’ atau ‘Parijs van Java’, semua ingin ke Bandung. Kota ini menjadi semacam melting pot.

Namun bagi mereka, Bandung bukan soal pelesiran. Gemerlap kamar bola, pusat perbelanjaan, berbagai bangunan Art-Deco tak menarik minat mereka. Bagi mereka, Bandung adalah sisi lain dunia yang dihisap oleh kolonialisme yang harus dibangunkan dan digerakkan. Seperempat pertama abad kedua puluh itu, mencatut judul bukunya Takashi Shiraishi, adalah “Zaman Bergerak”. Bergesernya arah kebijakan politik pemerintah kolonial seiring dengan adanya pergantian kekuasaan parlemen oleh kemenangan kaum liberal Belanda, dan munculnya kebijakan baru bernama Politik Etis, menjadikan awal abad ke-20 sebagai masa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Yang menggerakan zaman pada perempat pertama abad itu, meminjam judul bukunya Robert van Niel, adalah munculnya elite modern Indonesia. Bandung punya andil. Para penggerak dan beragam gerakan terjadi di Bandung. Namun di Bandung, yang sekarang sering membanggakan diri sebagai pusat sejarah pergerakan nasional, kisah mereka malah tidak jadi ingatan umum. Beruntung, sebagian dari mereka menjadi nama jalan dan foto mukanya terpampang di rupiah. Kisah hidupnya mungkin sedikit disinggung dalam pelajaran Sejarah di sekolah, menjadi hapalan, meski sialnya kadang tak muncul di soal ujian.

Sedikitnya ada 16 tokoh yang kami kumpulkan. Masih banyak yang lain, tentu. Mereka adalah Tirto Adhi Suryo, HOS Tjokroaminoto, Abdul Muis, Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, Sosrokartono, Kartini, Dewi Sartika, Tan Malaka, Jacob Alexander Pati, Gatotmangkupraja, Oto Iskandar di Nata, Soekarno, Sjahrir, dan Supratman. Minggu pagi (14/05), kami berkumpul di Alun-Alun Masjid Raya Bandung, tepat di sebelah gedung perpustakaan yang entah kapan ada bukunya. Kami akan ngaleut, yang berarti jalan beriringan, kegiatan rutin Komunitas Aleut! Menelusuri jejak-jejak para penggerak tadi, mereka yang merintis satu gol yang bernama kemerdekaan.

Yang menarik, hampir semua tokoh pergerakan tadi, bersentuhan baik secara langsung ataupun tidak, dengan dunia jurnalistik. Tak terlalu berlebihan jika menyebut tulisan sebagai penggerak zaman. Jurnalisme yang bukan hanya mengabarkan, tapi menggerakkan. Agar tidak terlalu panjang, saya hanya menuliskan tiga surat kabar. Ketiga-tiganya berlokasi di pusat Kota Bandung, berada di keramaian, namun sekarang hanya ada sunyi. Hanya segelintir yang tahu.

Medan Prijaji

Pramoedya Ananta Toer mengangkat sosok Tirto dalam Sang Pemula dan Tetralogi Bumi Manusia. Kiprah Medan Prijaji sendiri secara gamblang dikisahkan dalam Jejak Langkah.

Ketika pertama kali terbit di Bandung, Medan Prijaji mencantumkan moto: "Ja'ni swara bagi sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda".

Medan Prijaji berformat mingguan yang terbit tiap hari Jumat. Surat kabar yang berukuran seperti buku atau jurnal mungil, dengan ukuran 12,5x19,5 cm tersebut dicetak di percetakan Khong Tjeng Bie, Pancoran. Rubrik tetapnya adalah mutasi pegawai, salinan Lembaran Negara dan pasal-pasal hukum, cerita bersambung, iklan, dan surat-surat.

Suara koran ini menjadi kritik pedas bagi pemerintah kolonial dan alamat pengaduan bagi setiap pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh kekuasaan. Oleh karena itu diperlukan usaha mandiri mencetaknya. Maka dengan pengetahuan dan pengalaman niaganya, diwajibkan bagi calon pelanggan untuk terlebih dahulu membayar uang muka berlangganan selama satu kuartal, setengah, atau satu tahun. Untuk tambahan dana, dilobi beberapa pangrehpraja yang tertarik dengan gagasannya.

Medan Prijaji melakukan apa yang sekarang kita kenal dengan jurnalisme advokasi. Tujuannya jelas, membela kaum lemah, mengungkapkan kebenaran, dan memicu perubahan sosial. Dari sepak terjang itu Medan Prijaji pun menjadi model pertama dari apa yang kelak disebut sebagai surat kabar pergerakan, mendahului Sarotomo, Soeloeh Indonesia, ataupun Daulat Ra'jat.

Karena galaknya Medan Prijaji ini, tentu ia menjadi perhatian pihak penguasa. Banyak tekanan dialamatkan pada Medan Prijaji. Nomor terakhir terbit 3 Januari 1912 tahun VI. Pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup. Tirto sendiri dikriminalisasi dan disingkirkan ke Pulau Bacan, dekat Halmahera.

Kantor Medan Prijaji beralamat di Jalan Naripan, bersilangan dengan Jalan Braga yang selalu ramai. Kantor itu sekarang menjadi Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan.

De Expres

“Kantor De Expres teh di mana, sih?” tanya saya, di malam sebelum ngaleut karena jadi pemateri soal Tiga Serangkai. Indische Partij didirikan di rumah Douwes Dekker di kawasan Dago, tempat praktek Cipto di Tegalega, dan beragam wawasan trivia lainnya sudah saya catat. Tapi soal kantor surat kabar tersebut, yang pernah menerbitkan esai Als Ik Eens Nederlander Was (Andaikan Saya Seorang Belanda) dari Suwardi Suryadiningrat itu belum saya dapatkan infonya.

Sama seperti Indische Partij, surat kabar De Expres hanya berumur pendek saja. Namun bersuara lantang dan galak.

Surat kabar ini dijadikan Dekker sebagai tempat menuangkan gagasannya tentang apa pun, terutama kesetaraan antara Indo dengan Pribumi. Dipimpin Dekker dan dibantu oleh H.C. Kakebeeke, harian berbahasa Belanda ini tak hanya menyediakan forum guna membahas berbagai masalah politik di Hindia Belanda. Lebih jauh, suratkabar De Expres ini menjadi semacam pematangan ide-ide tentang nasionalisme.

Dalam perkembangannya, Dekker lalu mengajak dua pribumi radikal, Cipto dan Suwardi, untuk bergabung di redaksi De Expres dan pengurus organisasi Indische Partij. Sifat keras dan radikal dua putra Jawa itu sesuai dengan idealisme Douwes Dekker, De Expres, dan Indische Partij, yang keras dengan antikolonialisme dan antifeodalisme. Sejak diterbitkannya, De Expres memang paling sering memuat tulisan dari “Tiga Serangkai” ini.

De Express sendiri berkantor di salah satu bangunan di seberang timur Alun-Alun. Sekarang, hanya jadi tanah lapang penuh semak, tepat di bekas Palaguna, mal tersohor di era 1990an.

Sipatahoenan

Gerakan etno-nasionalis, atau yang bercorak kedaerahan, punya peran cukup penting. Paguyuban Pasundan contohnya, sebuah organisasi dan partai yang beretnis Sunda. Namun tidak hanya untuk orang Sunda, sebab ketua pertamanya saja sewaktu didirikan tahun 1913 adalah Daeng Kandoeroean Ardiwinata, orang Bugis.

Sipatahoenan lahir dari hasil konferensi Paguyuban Pasundan yang digelar di sebuah rumah di Jalan Balonggede, Bandung, dari tanggal 25-26 Desember 1922. Tidak tepat disebut konferensi sebenarnya, karena riungan itu cuma dihadiri beberapa orang. Namun dari segelintir itu, tak urung keluar keputusan: Paguyuban Pasundan akan mengeluarkan surat kabar.

Selama tiga bulan pertama, koran itu tidak jelas juntrungannya. Tugas mendirikan koran kemudian dibebankan kepada Paguyuban Pasundan Cabang Tasikmalaya. Dengan perencanaan asal-asalan dan modal pas-pasan, sampai pegawai pun hanya digaji dengan ucapan “hatur nuhun”, Sipatahoenan terbit juga. Dengan dijalankan secara militan, Sipatahoenan akhirnya mendapat banyak pembaca juga. Terbit mingguan, lalu dua minggu sekali, untuk kemudian menjadi harian.

Baru tiga tahun terbit, Sipatahoenan mendapat cobaan. Bulan November 1926, terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Ketika itu alat-alat pemerintah kolonial bertindak sangat represif. Tindakan yang kemudian dikritik lewat artikel berjudul ”Si Roda Mala”. Dipicu tulisan itu, orang-orang berhenti berlangganan. Sebagian karena anjuran dari atasannya dan sebagian karena takut ditangkap Belanda karena membaca Sipatahoenan. Sebagian lagi tetap membaca Sipatahoenan dengan cara sembunyi-sembunyi. Radikal memang seksi. Bukannya merugi, justru Sipatahoenan mendapat lebih banyak pembaca.

Setelah berjalan baik di Tasikmalaya, Sipatahoenan kemudian ditingkatkan kapasitasnya yang ditandai dengan kepindahan redaksi ke Bandung pada awal 1931, setelah Paguyuban Pasundan dipimpin oleh Oto Iskandar di Nata. Sejak saat itulah Sipatahoenan didukung penuh oleh Pengurus Besar Paguyuban Pasundan. Awalnya bertempat di percetakan “Pengharepan” di Oude Kerkhofweg (Banceuy), yang kemudian pindah lagi ke Groote Postweg (Jl. Asia Afrika).

Sebagai corong dari Paguyuban Pasundan, koran ini tentu kena imbas kesuksesan kepemimpinan Otista. Pada 1939, koran ini mencapai puncak kejayaannya dengan peresmian Gedung Sipatahoenan. Bangunan dua lantai yang megah dan bertempat di jantung kota Bandung, di Jalan Dalem Kaum ini, adalah monumen puncak pencapaian media cetak berbahasa Sunda, mungkin sampai hari ini.

Koran ini memuat berbagai persoalan kehidupan secara kritis. Dengan menggunakan Bahasa Sunda, dan kadang disampaikan dengan gaya tulisan jenaka, lebih memudahkan lagi agar tak kena sensor. Sipatahoenan harus pasrah, harus gulung tikar saat kedatangan masa pendudukan Jepang.

Kantor berita Sipatahoenan sekarang jadi Parahyangan Plaza, sebuah kompleks distro. Bangunan enam lantai yang dibangun sejak tahun 1983 dan bisa dikatakan cikal bakal dari pusat perbelanjaan modern di Kota Bandung.


Arif Abdurahman.
Menulis dan menerjemahkan jurnal, esei, dan cerpen. Bermukim di Bandung dan yeaharip.com. Karya yang sudah terbit: Pernik KAA 2015: Serba-Serbi Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika Catatan Liputan Komunitas Aleut!
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara