Tahun 2017 tiga terjemahan karya Freud dalam bahasa Indonesia kembali hadir. Pada tahun-tahun awal 2000-an, pernah hadir banyak terjemahan karya Freud dari penerbit Jendela. Apakah sekarang karya Freud memang mulai dilirik lagi penerbit?

PENERBITAN terjemahan karya-karya Freud di Indonesia tak pernah mati. Nampaknya. Siapa dan kapan yang memulai penerjemahan karyanya jelas membutuhkan penelaahan lebih lanjut, tapi tercatat penerbit Gramedia menerbitkan Memperkenalkan Psikoanalisa (1979) yang merupakan kumpulan lima ceramah Freud dan Sekelumit Sejarah Psikoanalisa (1983). Kedua buku kecil itu dijadikan satu buku bersama Masalah Analisis Awam pada tahun 2006 dan dicetak ulang dengan revisi pada 2016 termasuk revisi diksi “psikoanalisa” menjadi “psikoanalisis”.

Jauh hari kemudian, pasca-2000, penerbit Jendela menerbitkan beberapa karya Freud. Yang tercatat misalnya: Kenangan Masa Kecil Leonardo da Vinci (2001), Tafsir Mimpi (2001), Totem dan Tabu (2002), Peradaban dan Kekecewaan-kekecewaan (2002), Musa dan Monoteisme (2003) dan Teori Seks (2003).

Pada tahun 2002, kita juga bisa menemukan buku Freud yang lain, A General Introduction to Psychoanalysis: Psikoanalisis Sigmund Freud diterbitkan oleh Ikon Teralitera. Baru nanti pada tahun 2006 penerbit Pustaka Pelajar menerbitkan buku yang sama meski sumbernya berbeda, dengan judul Pengantar Umum Psikoanalisis. Setahun kemudian Pustaka Pelajar juga menerbitkan terjemahan Civilization and Its Discontents meski dari sumber yang berbeda dengan sumber Jendela--Jendela menggunakan teks sumber terjemahan Strachey, Pustaka Pelajar A.A. Brill--dan diberi judul Peradaban dan Kekecewaan Manusia.  

Karena terjemahannya yang lumayan banyak dibandingkan penerbit lain, maka akan lebih afdal jika membahas sedikit tentang terjemahan yang dilakukan penerbit Jendela, dan hal pertama yang patut dicatat adalah bahwa terjemahannya sangat bagus. Penjelasan untuk adjektiva yang sebenarnya sejak awal selalu penulis minimalisir kemunculannya ini adalah begini: karya Freud bukanlah fiksi, ia adalah tulisan ilmiah. Psikoanalisis, banyak melahirkan istilah-istilah yang maknanya spesifik dalam ranah psikoanalisis sendiri. Ego dalam ranah psikoanalisis misalnya, adalah sesuatu yang tak sama dengan ego dalam kalimat yang sering kita dengar sehari-hari: “egomu itu lho harusnya kamu kurangi dikit”.

Maka seorang penerjemah karya Freud harus mengetahui makna terminologi-terminologi khusus psikoanalisis. Dia tak harus menjadi Freudian—meski idealnya demikian—akan tetapi setidaknya dia paham Freudianisme. Ada banyak kamus Psikoanalisis yang bisa digunakan untuk mendapatkan kejelasan pengertian terminologi-terminologi yang hadir. Yang paling mudah digunakan untuk keperluan ini adalah A Critical Dictionary of Psychoanalysis susunan Rycroft yang diterbitkan Penguin. Kamus ini menyodorkan pengertian istilah-istilah dalam ranah Psikoanalisis dengan penjelasan yang singkat.

Ada memang sebuah terjemahan terbit mencantumkan judul Kamus Psikoanalisis Sigmund Freud (e-Nusantara, 2009), akan tetapi kamus yang merupakan terjemahan dari teks berbahasa Inggris yang dieditori Nandor Fodor dan Frank Gaynor itu bukanlah kamus ilahar. Ia merupakan kumpulan kutipan Freud yang disusun berdasarkan lema, bukan kamus yang menjelaskan definisi lema. Lagipula hasil terjemahannya seturut penelaahan penulis cenderung membingungkan alih-alih menjelaskan.

Penerbit Jendela juga mengambil langkah yang menarik dengan mencantumkan glosari kata-kata penting di bagian akhir buku. Tak banyak memang, akan tetapi itu sudah merupakan upaya yang menunjukkan keseriusan penerjemahannya, terutama karena dalam naskah sumber pun tidak ditemukan glosari itu.

Dan, terjemahannya juga mengalir. Memang selalu ada celah untuk dikritisi dalam setiap terjemahan, akan tetapi hal semacam itu pada dasarnya adalah tugas yang tersisa untuk editor terjemahan cetakan selanjutnya.

Jika membutuhkan terjemahan karya-karya Freud yang bagus, carilah terbitan Jendela.

Perlu disinggung juga satu penerbit yang pernah menerbitkan terjemahan karya Freud dan melakukan hal senada yang dilakukan oleh penerbit Jendela: penerbit PORTICO Publishing. Satu karya yang tercatat diterbitkannya adalah Cinta yang Menyimpang, terbit tahun 2010. Terjemahan ini dilakukan dari terbitan Penguin, Deviant Love, yang memuat lima esai penting Freud tentang cinta dan—tentu saja—seksualitas.

Apa yang dimaksudkan sebagai “melakukan hal senada yang dilakukan oleh penerbit Jendela” adalah bahwa dalam buku ini juga penerjemah memberikan tambahan pengertian dan penjelasan beberapa terminologi Psikoanalisis yang ada dalam buku ini berupa catatan kaki. Dalam pengantarnya penerbit menyebutkan bahwa tambahan pengertian itu diambil dari Kamus Psikologi JP Chaplin yang sudah diterjemahkan oleh Dr. Kartini Kartono.

Itu sudah merupakan niat yang bagus yang dilakukan dengan bagus pula meski tidak terlalu bagus. Psikoanalisis memang memiliki banyak terminologi yang sejajar dengan penggunaannya di ranah psikologi, tapi juga ia memiliki lebih banyak lagi yang tak sejajar. Tentu akan lebih baik jika kamus yang digunakan adalah salah satu dari kamus khusus psikoanalisis yang sudah disinggung sebelumnya.

Sementara itu, dari segi terjemahan, penerjemah terkadang melakukan penerjemahan literal sehingga makna yang dihasilkan menjadi ambigu. Lihat misalnya “surat izin berpuisi” yang digunakan sebagai padanan untuk “poetic license”. Pengertian lazim poetic license sebenarnya adalah kebebasan pengarang, setidaknya itulah yang biasa dipahami di ranah sastra.

Setelah periode penerbit Jendela, kini penerbitan terjemahan karya Freud nampaknya mulai kembali bangkit, meski masih dengan pola yang sama: penerjemahan dilakukan dengan mengambil karya-karya yang memang populer. Tak salah memang, karena apa boleh buat pasar untuk Freud masih harus diuji. Bahwa penggemar karya-karya Freud di Indonesia selalu ada dan biasanya militan memang benar, tapi biasanya mereka memilih membeli produk yang memang sudah jelas bagus.

Dalam hal itulah terjemahan bahasa Inggris karya Freud cenderung lebih bisa diterima. Pemantauan di beberapa akun yang menjual karya Freud berbahasa Inggris menunjukkan bahwa buku-buku Freud selalu laris meski harganya biasa dipatok di atas seratus ribu. Sebuah akun bahkan berani menjual The Interpretation of Dreams edisi hardback sampai harga setengah juta.

Pada deret penerbit terjemahan karya-karya Freud tahun-tahun paling kiwari setelah masa penerbit Jendela inilah bisa kita menyebut penerbit Forum dan Indoliterasi.     

*

Penerbit Forum sudah menerbitkan dua karya Freud, Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari (2017) dan Moses and Monotheism: Musa dalam Sudut Pandang Psikoanalisis (2017) (untuk ulasan singkat tentang penerbit Forum bisa dibaca di tulisan ini). Buku yang pertama merupakan salah satu karya Freud yang paling populer dan mudah dipahami oleh orang awam: buku ini menjelaskan analisis banyak hal yang ilahar terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari sudut pandang psikoanalisis misalnya tentang pelupaan nama dan salah tulis.

Sementara buku yang kedua adalah salah satu risalah Freud yang paling kontroversial pada zamannya, terutama karena ia menyodorkan analisis yang berbeda tentang historiografi agama. Satu hal yang patut dicatat dengan sodoran Freud dari penerbit Forum adalah ini: terjemahannya bagus. Memang ada beberapa kesilapan ringan pada teks—misalnya “bisa” yang tertulis “bias”—akan tetapi hal itu tak terlalu mengganggu karena cenderung masih bisa dipahami dari konteks kalimat. Di sisi lain, itu tentu saja merupakan pekerjaan rumah untuk editor penerbitan cetakan selanjutnya.

Sebagaimana penerbit Forum, penerbit Indoliterasi juga sudah menerbitkan dua karya Freud, awakaryanya The Interpretation of Dreams: Tafsir Mimpi (2015), dan A General Introduction to Psychoanalysis: Pengantar Umum Psikoanalisis (2017). Dua karya ini, sebagaimana juga dua karya yang diterbitkan Forum, bukanlah karya yang belum pernah ada terjemahannya.

Terjemahan Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari misalnya, sudah pernah ada dari penerbit Pedati (2005), Musa dan Monoteisme (Jendela, 2003), Tafsir Mimpi (Jendela, 2001), dan Pengantar Umum Psikoanalisis (Ikon Teralitera, 2002, dan Pustaka Pelajar, 2006). Karena itulah perbandingan secara menyeluruh perlu dilakukan kalau ingin melihat yang manakah dari segi kualitas yang bisa dikatakan lebih bagus.

Akan tetapi satu hal yang jelas, karya-karya Freud dihadirkan kembali terjemahannya oleh penerbit yang berbeda, oleh penerjemah yang berbeda, dan terkadang dari teks sumber yang juga berbeda, nampaknya terutama karena terjemahan karya yang bersangkutan sudah sukar ditemukan di pasar. Buku-buku Freud terbitan Jendela misalnya sudah sangat sukar ditemukan, kalaupun ada biasanya dalam kondisi second dan dengan harga yang lumayan. Demikian juga buku Pedati dan Ikon Teralitera.

Adapun buku terbitan Pustaka Pelajar memang masih mudah didapatkan. Meski demikian, Pengantar Umum Psikoanalisis terbitan penerbit ini membutuhkan penelaahan lebih lanjut dan sayangnya teks sumber yang digunakan belum bisa penulis lacak. Ada keanehan dalam komposisi buku ini yang menyimpang dari teks yang umum digunakan, termasuk jumlah babnya yang lebih sedikit.  

Jadi, masih perlukah penerbit melirik terjemahan karya-karya Freud—ke dalam bahasa Indonesia?

Nampaknya masih. Terjemahan ulang karya Freud ke dalam bahasa Inggris—dan dari teks berbahasa Inggris itulah kita biasanya mendasarkan terjemahan kita—masih terus berjalan sampai sekarang, Wordsworth dan Penguin adalah dua penerbit besar yang tak berhenti meliriknya. Padahal, berbeda dengan kita yang baru memiliki beberapa terjemahan karya penting dan populer Freud, mereka sudah memiliki terjemahan lengkap 23 jilid karya Freud.

Suara Freud, bagi saya, adalah suara yang penting untuk didengar terutama karena dia selalu menjadi suara alternatif akan suara-suara mainstream. Pada zaman ketika dunia sudah terlalu bising sampai kita terkadang tak bisa memisahkan suara yang satu dengan yang lainnya, mendengarkan bisikan lirih dari zaman yang jauh sebagai suara alternatif, menurut saya, adalah sesuatu yang sangat penting.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara