26 May 2017 Adhe Teras Penerbit

Mas Marco Kartodikromo: seorang aktivis dengan kemampuan menulis yang lengkap. Ia menulis esai, cerpen, babad, roman, drama, dan syair. Selain itu, ia juga bergerak dalam penerbitan yang "non-mainstream".

KARYA-KARYA tulis Mas Marco Kartodikromo tidak pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka, bahkan ia sendiri memilih untuk berada di seberang penerbit milik pemerintah kolonial tersebut. Kita bisa membandingkan sikapnya itu dengan sikap Abdoel Moeis dan Haji Agus Salim yang justru pernah menjadi awak redaksi di Balai Pustaka.

Marco adalah salah satu penulis utama, bahkan termasuk yang paling banyak, menulis karya-karya yang dikategorikan “Bacaan Liar”. Penulis lainnya di kubu Bacaan Liar yang jumlah karyanya sebanding dengan Marco adalah Semaoen.

Marco sudah memilih jalan alternatif sejak usia remaja. Pada usia 15 tahun ia meninggalkan pekerjaannya sebagai juru tulis di Nederlandsch Indische Spoorweg (NIS), perusahaan kereta api Hindia Belanda, di Semarang. Ia lantas magang di Medan Prijaji, surat kabar yang dipimpin oleh Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Sejak itu pula ia tidak berhenti menempuh jalan yang keras di dunia pergerakan dan penerbitan. Ia menulis, menerbitkan media, dan karya-karyanya diterbitkan pula oleh sejumlah penerbit yang mendukung sikap anti-kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan sebagaimana dinyatakan oleh Marco.

Pada awalnya Marco hanya menulis di surat kabar, tapi bahan-bahan dari media itu pula yang kemudian dibukukan. Yang menarik, penerbitan buku-buku Marco tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan finansial melainkan demi penyebaran gagasan kemerdekaan bagi rakyat Bumiputra. Hal ini berbeda dengan model penerbitan buku oleh penerbit-penerbit komersial milik orang-orang Eropa, atau rumah-rumah percetakan dan penerbitan dari lingkungan peranakan Tionghoa dan Arab. Bahkan sikap Marco itu kontras dengan model penerbitan buku ala Balai Pustaka yang mengkampanyekan bacaan-bacaan “halus”.

Pada 1914 Drukkerij Insulinde di Bandung menerbitkan Mata Gelap: Tjerita Jang Soenggoeh Kedjadian Ditanah Djawa karya Marco. Versi paling awal dari novel ini dimuat di Selompret Melajoe, surat kabar yang terbit di Semarang. Namun koran itu bangkrut, dan Mata Gelap pun terhenti. Marco lantas berinisiatif meneruskan ceritanya dengan merilis “soerat tjeritera” yang menurutnya akan “kami terbitkan tiap-tiap boelan sekali sampe habis”. Dari sinilah Drukkerij Insulinde, “rumah cetak” yang sebagian besar dananya disokong oleh H.M. Misbach, menerbitkannya. Marco sebelumnya memang mengajak Misbach untuk masuk ke lingkungan pergerakan Insulinde. “Duo M” ini lantas menghela surat kabar Medan Moeslimin.

Pada 2015, novel Mata Gelap diterbitkan ulang oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER). Penyuntingnya adalah Koesalah Soebagyo Toer. Edisi mutakhir ini hanya menyatukan jilid 2 dan 3 buku tersebut dari total tiga jilid aslinya. Tinjauan penulis atas novel yang diterbitkan JAKER itu dapat dibaca dalam esai di sini: https://adheoctopus.wordpress.com/2016/05/31/moco-marco/

Pada 1916, muncul buku lainnya, lebih tepatnya semacam buklet atau brosur, dari Marco, yaitu Boekoe Sebaran jang Pertama. Ia menulisnya ketika ia sedang berada di Belanda setelah dipilih oleh Goenawan, pemimpin redaksi Pantjaran Warta, sebagai koresponden. Ia berada di sana sejak akhir 1916 hingga awal 1917.

Boekoe Sebaran jang Pertama adalah buklet sederhana, terdiri dari 16 halaman isi, dan 3 halaman iklan penjualan buku. Buku ini berisi tujuh esai, yaitu “Tweede Kamer”, “Tentoe Koerang Senang!!!”, “Selamet”, “De Indische Vereeniging”, “Nasibnja Leider”, “Pertjaja dan Berani”, “Volksraad”. Buku ini juga disebarkan secara cuma-cuma. Pembiayaan produksi buku ini didapatkan dari subsidi silang hasil penjualan buku-buku terbitan Tri Moerti.

Menurut Harry A. Poeze dalam buku di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda (1600-1950, Javaansche Brochuren-handel Tri Moerti adalah perusahaan penerbitan yang didirikan oleh Marco pada 1916 di Belanda yang akan menerbitkan buku dan brosur. Penerbitan ini didirikan sebagai pengganti atas rencana awal Marco yang ingin menerbitkan majalah berbahasa Melayu tapi terhambat karena mahalnya ongkos produksi di Belanda. Mungkin itulah sebab Boekoe Sebaran jang Pertama juga memuat iklan buku-buku lainnya yang dijual Tri Moerti. Pola pemuatan iklan buku di dalam buku ini mirip dengan iklan-iklan buku yang dimuat di koran-koran “kiri” di Semarang, bahkan kantor-kantor surat kabar itu menjadi gerai penjualan buku.

Sampai sekarang belum ada penerbit yang menerbitkan ulang Boekoe Sebaran jang Pertama dan melanjutkan model produksi serta distribusi buku tersebut sebagaimana dulu dilakukan oleh Tri Moerti. Padahal, pola produksi dan distribusi ala Tri Oerti itu dapat menjadi contoh tentang penyebaran gagasan melalui gaya “indie”.

Sebuah buku lainnya yang diduga ditulis oleh Marco adalah Rasa Merdika: Hikajat Soedjanmo. Namun sampai sekarang belum diterbitkan ulang oleh penerbit mana pun sejak edisi awalnya yang dikerjakan oleh Drukkerij VSTP. di Semarang, “rumah cetak” yang juga menerbitkan surat kabar Si Tetap. VSTP (Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel) sendiri merupakan serikat buruh kereta api dan trem yang didirikan pada 1908 dan menjadi semakin radikal setelah masuknya Henk Sneevliet.

Buku berikutnya dari Marco adalah Matahariah. Versi paling awal dari novel ini adalah cerita bersambung di serangkaian edisi Doenia Bergerak pada Agustus 1918 hingga Januari 1919. Di dalam novel ini pula terdapat naskah drama yang berjudul Kromo Bergerak. Kedua teks ini baru muncul dalam format buku melalui upaya Agung Dwi Hartanto dalam Karya-karya Lengkap Marco Kartodikromo: Pikiran, Tindakan, dan Perlawanan (I:Boekoe, 2008). Bahkan mereka memuat pula Babad Tanah Djawi karya Marco yang versi awalnya terdapat di majalah Hidoep pada edisi-edisi di tahun 1924-1925.

Dalam sebuah kompilasi berukuran tebal, Agung dan I:Boekoe mampu menyatukan serakan-serakan teks Marco lalu membukukannya. Bahkan buku ini memuat Sama Rasa Sama Rata yang semula dimuat di Sinar Hindia pada 1918.

Marco memang dikenal pula sebagai penulis syair. Karyanya yang berjudul Sair Rempah-rempah, buku kumpulan syair, diterbitkan di Semarang oleh Drukerij N.V. Sinar Djawa pada 1918. “Rumah cetak” itu pula yang menerbitkan surat kabar Sinar Djawa yang lantas berganti nama menjadi Sinar Hindia, media yang banyak memuat tulisan-tulisan Marco. Hingga tahun 2017 ini Sair Rempah-rempah belum diterbitkan lagi. Hal yang sama terjadi pada ini salah satu syair terkenal Marco, yaitu Sjair Sentot (1919) yang belum dimasukkan ke dalam sebuah kompilasi dan diterbitkan lagi. Padahal, syair-syair ini pula yang dapat membuktikan bahwa Marco adalah penulis yang komplet karena ia mampu menulis esai, cerpen, babad, roman, drama, dan syair.

Pada 1919, N.V. Boekhandel en Drukkerij Masman & Stroink di Semarang menerbitkan Student Hidjo karya Marco dari cerita bersambung dengan judul yang sama di surat kabar Sinar Hindia pada 1918. Masman & Stroink adalah salah satu “rumah cetak” yang tumbuh pada awal abad ke-20 di Hindia Belanda. Selain menerbitkan Student Hidjo, mereka juga pernah menerbitkan tulisan Sneevliet yang berjudul Pertoendjoekan Kekoeasaan dan Bahaja Kelaparan.

Pada tahun 2000, atau 81 tahun sejak buku edisi awalnya terbit, Student Hidjo diterbitkan ulang oleh dua penerbit di Yogyakarta, yaitu Yayasan Aksara Indonesia dan Yayasan Bentang Budaya. Bahkan buku itu lantas diterbitkan lagi oleh Narasi pada 2010. Penerbit Bentang, dalam penerbitannya, memberinya judul Student Hidjo: Sebuah Novel, suatu tindakan yang anakronistik karena di masa penerbitan awal buku itu istilah “novel” belum dikenal dan yang ada adalah “roman”. Daniel Dhakidae sudah membahas hal ini dalam bukunya, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003).

Pada 1921 muncul naskah berjudul Persdelict dan soerat perlawanan dari Marco Kartodikromo (di persidangan oemoem Landraad Djokjakarta pada hari Kemis 8 December 1921 dengan poetoesan vonnis tanggal 8 December 1921, no. 989/1921). Penerbit naskah ini tidak diketahui walaupun sebuah sumber menyatakan bahwa versi sebelumnya dimuat dalam surat kabar Persatoean Hindia pada 7 Agustus 1920. Mungkin naskah ini semula adalah sebuah dokumen pengadilan. Hingga hari ini belum ada penerbit yang menerbitkannya.

Setelah Marco meninggal dunia di Boven Digul, Papua, pada 1932, tulisan-tulisannya tidak diterbitkan lagi dalam bentuk buku oleh penerbit-penerbit yang kerap merilis Bacaan Liar. Sebelum Student Hidjo terbit lagi pada awal abad ke-21, upaya mengenalkan lagi karya-karya Marco justru dilakukan oleh Paul Tickell di luar Indonesia. Ia membuat sebuah kertas kerja (working papers) yang berisi tiga fiksi karya Marco, yaitu Semarang Hitam (1924), Tjermin Boeah Kerojalan (1924), dan Roesaknja Kehidoepan di Kota Besar (1925). Dua cerpen pertama ditulis oleh Synthema, sebuah nama alias yang diyakini oleh Tickell sebagai Marco.

Tickell menerjemahkan cerita-cerita pendek itu ke dalam bahasa Inggris, dan menyusun sendiri pengantar untuk kertas kerjanya tersebut. Hasilnya adalah sebuah kertas kerja yang berisi cerpen-cerpen Black Semarang, Images of Extravagance, dan Corrupted Life of A Big City. Naskah itu lantas diberi judul Three Early Indonesian Short Stories dan diterbitkan oleh Departement of Indonesian & Malay, Monash University, pada 1981.

Mengikuti penerbitan ulang Student Hidjo oleh Aksara dan Bentang, pada 2002 karya tulis lainnya dari Marco terbit lagi dalam format buku. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) merilis Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel. Pemburu dan editor naskah, yang semula dimuat secara bersambung di surat kabar Pewarta Deli dalam 51 angsuran, dari 10 Oktober sampai 9 Desember 1931 sebagai Pergaoelan Orang Boeangan di Boven Digoel, itu adalah Koesalah Soebagyo Toer.

Setahun kemudian enam esai dan dua syair Marco dimuat dalam buku yang disusun oleh Edi Cahyono, yaitu Jaman Bergerak di Hindia Belanda: Mosaik Bacaan Kaoem Pergerakan Tempo Doeloe” (Yayasan Pancur Siwah, 2003).

Penerbit-penerbit kecil yang menerbitkan buku-buku Marco sepertinya selalu berupaya agar karya-karya Marco itu dapat dijangkau dengan murah dan mudah oleh rakyat Bumiputra. Pola penyebaran gagasan anti-penjajahan semula dilakukan melalui surat kabar dan majalah, lantas materi itu dibukukan. Keragaman medium ini membuat ide-ide anti-kolonialisme tidak surut bahkan ketika surat kabar atau majalah itu bangkrut.

Rumah-rumah cetak yang membikin “bacaan alternatif” juga menyiasati produksi cetak buku-buku Marco dengan menjadikannya dalam pelbagai format. Mata Gelap, misalnya, diterbitkan dalam tiga jilid supaya harga jualnya tidak mahal. Sedangkan Boekoe Sebaran jang Pertama dibuat dalam bentuk buklet atau brosur tipis. Cara ini juga menumbuhkan ikatan di antara penulis, penerbit, dan pembaca karena ketiga pihak itu akan terdorong untuk meneruskan kelanjutan materi tersebut. Artinya, gagasan tentang kemerdekaan pun selalu dimunculkan tanpa batasan produksi cetak. Hal yang sama sudah dilakukan ketika Marco menulis cerita-cerita bersambung di pelbagai surat kabar. Kunci dari pola ini adalah kontinuitas.

Selain kontribusi Marco dalam gaya penulisan yang penuh eksperimen dalam bahasa karena ia menggunakan kata-kata, frasa, dan adegan yang berbeda dengan gaya penulisan dalam terbitan-terbitan Balai Pustaka, Marco juga memberitahu kita bahwa penerbitan buku dapat dilakukan dengan cara-cara yang mudah serta murah. Marco tak merasa perlu menjadi penulis dan penerbit yang menghamba pemerintah kolonial atau mencari keuntungan berupa uang. Ia justru menjadi “orang buku” yang membela buku itu sendiri demi kepentingan rakyat. Hal ini tampak antara lain ketika ia menyatakan sikapnya itu dalam penerbitan Mata Gelap:

“Keoentoengan bersih dari pendapatannja ini soerat tjeritera kami dermakan kepada perhimpoenan (Inlandsche) J(ournalisten) B(ond) di Solo.”

Marco adalah penulis sekaligus penerbit yang menempuh jalur independen dan alternatif. Ia menolak takluk pada dominasi Balai Pustaka. Ia merumuskan dan mempraktikkan sendiri pola produksi dan distribusi di luar arus utama penerbitan buku di masa kolonial. Ia adalah salah satu pelopor penerbitan buku non-mainstream. Dengan demikian predikat yang disandangnya pun bertambah dari sebelumnya sebagai aktivis pergerakan yang didakwa, dibui, dibuang, dan akhirnya meninggal dunia di Boven Digul pada 1932.


Adhe
Adhe adalah salah satu tokoh perbukuan Jogja. Penulis buku Declare, dan saat ini berdiri di balik penerbit Octopus.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara