24 May 2017 Muhidin M. Dahlan Sosok

Jurnalisme dan pergerakan: betapa akrabnya! Ada banyak tokoh jurnalisme Indonesia yang memberikan sumbangsih bagi perjuangan kemerdekaan negeri ini. Salah satu tokoh tersebut: Mas Marco Kartodikromo.

Mas Marco Kartodikromo yang esai-esai terpilihnya diterbitkan kembali Penerbit OCTOPUS pada 2017 berjudul Mas Marco Sang Journalist adalah satu dari tujuh manusia “keras kepala” yang pernah dilahirkan Blora. Di tanah tandus Jati itu tersebut nama Arya Penangsang, Samin Surontiko, Tirto Adhi Soerjo, Maridjan Kartosoewirjo, Pramoedya Ananta Toer, dan L.B. Moerdani.

Marco merupakan paman dari Kartosoewirjo yang nanti dalam sejarah pergerakan Indonesia dua ideologi yang dianut keduanya bergesekan dengan sangat keras, saling membunuh, dan dikalahkan sepenuhnya para penghelat "nasionalisme".

Lahir di Cepu/Blora tahun 1890, Marco secara akademis masuk dalam kategori priyayi rendahan. Sekolah hanya tamat Ongko Loro. Untuk naik dan sejajar dalam kelas akademik yang distratakan secara diskriminatif pemerintah kolonial, Marco bersusah payah belajar secara otodidak. “Ilmu” jurnalistik ia peroleh dari Tirto Adhi Soerjo, guru yang sangat dihormatinya, dengan cara merangkak: dari merangkai huruf-huruf untuk dicetak hingga mengenali manajemen jurnalistik dan bahkan meniru bagaimana seorang jurnalis harus berani melawan kekuasaan dan membela kaum kromo yang tak berdaya.

Kebangkitan (Suara) Nasional

Kita tahu bahwa kebangkitan kesadaran nasional awal mula bukan dibangun dari kasta, pertentangan kelas, pembentukan gilda atau pasar, tapi lewat jalan cetak. Karena itu membicarakan proyek nasionalisme Indonesia awal berarti kita membicarakan dunia cetak. Mulai dari masuknya mesin cetak pada tahun 1668 di mana ada juga yang menyebutnya 1659 terkait dengan laporan Nieuhoff dalam catatannya “Zae-en Lantreise” hingga bagaimana jalan cetak dan jalan pers itu dijadikan aktor-aktor pergerakan menjadi palagan diskursif.

Oleh karena itu, hampir semua aktor pergerakan kita adalah redacteur koran. Sebut saja. Mulai dari Tirto Adhi Soerjo, HOS Tjokroaminoto, Semaun, KH Ahmad Dahlan, Tjipto Mangoenkoesoemo, Sutomo, Soewardi Soerjadiningrat (Ki Hadjar Dewantara), Haji Misbach, Agus Salim, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifuddin, Kartosoewirjo, hingga Aidit, Natsir. Termasuk di dalamnya Marco Kartodikromo.

Jadi, jalan pers yang ditempuh Marco dengan darah dan sabungan nyawanya yang membuat dirinya memiliki peran sangat signifikan dalam arus sejarah pergerakan Indonesia. Namun itu tadi, perannya dikucilkan, disusutkan, dan bahkan dihilangkan.

Mengapa ia diblejeti perannya? Karena ia jurnalis yang liat, kritis, dan keras kepala. Bukalah salah satu koran paling garang di masanya: Doenia Bergerak. Usia koran yang ukurannya seperti “buletin jumat” itu memang hanya 2 tahun; terbit pertama kali pada Maret 1914. Bahasa yang dipakai Marco berbeda sama sekali dengan bahasa yang dipakai oleh Medan Prijaji, tempat Marco dilatih sebagai jurnalis awal di bawah bimbingan langsung Tirto Adhi Soerjo. Termasuk soal keberanian.

Bahasa Marco meledak-ledak seperti dinamit. Marco tak suka basa-basi menulis. Jika tak suka pada priyayi tertentu, ia maki saja priyayi itu dan disebutnya penjilat pantat. Tak suka pada pejabat kolonial, dihantamnya saja langsung. Saat tak suka pada gaya politik Tjokroaminoto, dimakinyalah “raja Jawa tanpa mahkota” itu. Maaf kata ini, kadang Marco ini tak taktis. Ia mengumpulkan begitu banyak musuh yang setiap saat akan mengeroyoknya. Tapi, ia tak bergeming. Ia memosisikan dirinya sebagai sebaik-baik redacteur koran rakyat.

Bagi Marco, bahasa jurnalistik itu menggerakkan. Ia harus tegas mengatakan siapa musuh siapa kawan. Dan, ia bersiap dengan itu. Sudah cukup bagi Marco belajar tentang apa konsekuensi tulisan terhadap nyawa. Marco sudah melihat dengan telanjang bagaimana Dr Rinkes, salah satu pejabat tinggi pemerintah kolonial, menghancurkan karir jurnalistik gurunya, Tirto Adhi Soerjo, meluluhlantakkan badan usaha CV Medan Prijaji, dan membuang Tirto ke tempat yang jauh. Ini pengakuan Marco atas guru pemulanya yang mengenalkannya pada dunia kata dan pergerakan:

Pembatja jang terhormat jang baroe berkenalan dengan soerat kabar dalam 4-5 tahoen sadja, boleh djadi beloem tahoe terang akan keadaan beliau, siapakah Raden Mas Tirto ini? … Raden Mas Tirto Hadi Soerjo, jalah seorang bangsawan asali dan djoega bangsawan kafikiran Boemipoetra jang pertama kali mendjabat Journalist. Boleh dibilang toean T.A.S. indoek Journalist Boemipoetra di ini tanah Djawa, tadjam sekali beliau poenja penna, banjak Pembesar-pembesar jang kena critieknja djadi moentah darah dan sebagian besar soeka memperbaiki kelakoeannja jang koerang  Pembatja jang terhormat djangan heran saja....

Bagi priyayi bawah macam Marco, apa yang dilihatnya secara harian yang menimpa Tirto Adhi Soerjo sudah lebih dari cukup menabalkan keyakinan bahwa pemerintah Hindia Belanda dan semua centeng-centengnya yang pribumi ini harus dilawan dengan kata (jurnalistik, sastra) dan organisasi.

Sebagai jurnalis dinamit, Marco membuat banyak titik api di koran-koran berapi semasa; baik sebagai pemilik maupun redaktur tamu. Paling tidak, di koran-koran ini Marco meledakkan dinamit: Saratomo, Doenia Bergerak, Medan Moeslimin, Pantjaran Warta, Sinar Hindia, juga Medan Rakjat. Marco pun seorang penulis buku Babad Tanah Djawa, roman Gelap Mata, Matahariah, Student Hidjo, dan brosur kursus Bahasa Inggris.

Mas Marco Kartodikromo memang memulai kiprah “profesionalnya” di Doenia Bergerak, sebuah koran yang disebutnya koran yang digerakkan oleh “kaum melarat yang tak berwang”. Doenia Bergerak adalah corong bagi organisasi pribumi yang di mana Marco menjadi presidennya: Indlandsche Journalisten Bond (IJB). Miriplah dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Sama-sama tak memakai kata “wartawan”, tapi jurnal/jurnalis/jurnalistik. Sayang, sewaktu kami meriset “Seabad pers Kebangsaan” pada 2007 dan membuka-buka laporan Dewan Pers tentang direktori pers Indonesia di ruang perpus mereka, saya menemukan nama Mas Marco di-HILANG-kan sebagai presiden IJB, dan “digantikan” oleh nama di bawah nama Mas Marco: Redacteur-Administrateur, R. Sr. Koornio. Itu jelas penggelapan!

Dari Doenia Bergerak, Marco mencicipi “royalti” pertama tulisannya: penjara. Itu terjadi pada 1915.

Salah satu periset Indonesia Buku yang terlibat dalam proyek Seabad Pers Kebangsaan, Agung Dwi Hartanto merinci setidaknya ada 4 artikel yang dimuat di Doenia Bergerak yang kena persdelict. Yaitu Doenia Bergerak No 15 berjudul "Wong Gede"; Doenia Bergerak No 18 berjudul "Pendapatan hal technische Hooge School di Hindia"; Doenia Bergerak No 19 berjudul "Ah Javanen ziznerg dom"; dan Doenia Bergerak No 22 berjudul "Keluh kesah jang amat sangat". Tulisan-tulisan itu mengkritik tabiat pejabat pemerintah, pendidikan diskriminatif, dan kemelaratan kaum kromo. Sebagai hoofd redacteur, Mas Marco bertanggung jawab penuh atas semua pemuatan tulisan itu.

Menyesal Marco dengan terbitnya tulisan-tulisan itu? Tidak! Malah dia bangga! “Sesoenggoehnja ini persdelict loear biasa, sebab kebanjakan Redacteur kalau kena perdelict hanja seboeh karangan, tetapi ini Doenia Bergerak pertama kali terserang dengan empat boeah karangan.” “Royalti” untuk persdelict itu, Marco mendapat 7 bulan penjara!

Tulisan-tulisan seperti di Doenia Bergerak itulah yang menjadikan Marco mengukir sejarah hidupnya dalam penjara. Keluar dari penjara, tulisan Mas Marco makin berapi. Doenia Bergerak memang sudah masuk kubur. Tapi, tulisan pamflet Marco masih ditampung oleh Pantjaran Warta yang kemudian kita mengenal sikapnya yang keras. Di Pantjaran Warta No 36, 14 Februari 1917, Marco menulis puisi pamflet dan dihadiahi “royalti” penjara.

Comitee Indie Weerbaar!

 

Indie Weerbaar jang dibitjarakan

Sana sini sama mengatakan

Indie Weerbaar akan memasoekkan

 

Anak Hindia ke lobang meriam.

Oentoeng sekali anak Hindia

Soedah memboeka matanja

Tidak soeka di bikin sendjata

 

Orang jang mengisap darah kita

Pers Hindia sama bertereak

Indie Weerbaar itoe tidak layak

Oentoek kita jang dipandang katak

 

Oleh bangsa jang terlaloe galak

Pemerentah kita main soelap

Anak Hindia dibikin kalap.

Barang kita sama di anggelap

 

Oleh orang bertabeat smeerlap

Anak Hindia kamoe jang awas

Kepada orang-orang jang boeas

Sebab dia toekang merampas

 

Tanah kita jang terlaloe loeas

Anak Hindia Kamoe PERT JAJA

Kepada Toehan maha koeasa

Si kianat jang menganiaja

 

Kepada kamoe anak Hindia

Poekoelah dia setengah mati

Kalau perloe boleh sampe mati

BERANI itoe sendjata kami

Goena hidoep dan mati sedjati.

Keluar dari penjara, tulisannya bikin ulah lagi. Kali ini artikel “Sama Rata Sama Rasa” yang dimuat di Sinar Hindia 16 April 1918 yang dikendalikan SI Semarang.

“Selama kita masih mempoenjai kesabaran, tentoe hal jang koerang menjenangkan itoe tida akan kedjadian, tetapi kalau kesabaran itoe sudah lenjap, barang kali tida djarang kalau semoea anak Hindia mempoenjai tekat dan berkata: HILANGE TANAH DJOWO BARENG KARO PATIKO E!! (tanah Hindia hilang dari tangannja anak Hindia, dia orang mati). Di sitoe barang kali waktoenja anak Hindia mati semoea dan Belanda jang ada di tanah kita tida hidoep lagi! Siapakah jang oentoeng? Jaitoe orang Djepang jang soedah lama kepingin gandengan dengan poeteri jang amat molek parasnja si tanah Djowo. Kalau betoel kedjadian begitoe, tentoe kita sekalian dikatakan orang sama gilanja, karena tida soeka hidoep roekoen, tetapi lebih baik mati bersama-sama!”

Menulis dengan Dinamit, Berbaris dengan Organisasi

Marco adalah aktivis Sarekat Islam Surakarta. Sebagai cabang SI dari Surabaya pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, SI Surakarta kerap bikin perkara dengan Centraal Bestuur itu.

Sedari awal, Marco menyadari bahwa bergabung dengan Sarekat Islam adalah jawaban melawan kolonial dengan jalan saf yang rapi lewat organisasi modern. Pastilah kesadaran itu ditimbanya dari sang mentor utama Tirto Adhi Soerjo yang mendirikan Sarekat Dagang Islamijah yang kemudian bermetamorfosis menjadi SI. Keterlibatan pertamanya adalah ketika Tirto menunjuk Marco mengurusi koran Saratomo milik Sarekat Islam Solo. Namun, Marco merasai Tjokroaminoto terlalu lembek berhadapan dengan pemerintah buas kolonial. Ia makilah Tjokroaminoto dan Oetoesan Hindia.

Puncak pembelahan itu terjadi saat Marco dan Doenia Bergerak terkena persdelict. Ketika kabar itu sampai di Surabaya, Oetoesan Hindia yang dipimpin Tjokroaminoto alih-alih menyatakan simpati dan pembelaan malahan bersyukur. Justru perlakuan berbeda terjadi di Semarang. Sneevliet yang menggerakkan ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) dan dekat dengan SI Semarang merasa iba dan lantas membantu Marco. Ketika Marco keluar dari penjara pun, hanya SI Semarang yang memberikan tampungan buatnya. Dia ditunjuk sebagai salah satu komisaris Sinar Hindia dan tentu saja boleh menulis di sana. Dan kita tahu kemudian lahirnya PKI dari Rahim Sarekat Islam Semarang ini.

Sejarah berorganisasi Marco, dan terutama sepanjang tahun 1919-1924, adalah sejarah yang saling beririsan dengan pembentukan organisasi-organisasi radikal di Jawa, dari ISDV, SI Merah, ISDP, hingga PKI. Pemogokan buruh yang dihelat SI Semarang pimpinan Semaoen dan SI Yogya pimpinan Soerjopranoto, antara lain, menabalkan nama Mas Marco sebagai jemaah dalam satu saf pembangkangan anak-anak Hindia yang sudah berapi atas kolonial.

Pandangan radikal lewat jalan berorganisasi itu secara jujur dikatakan Marco disumbang Sneevliet: Bagi kalangan ‘kaoem pergerakan rakjat’ Sneevliet adalah seorang berbangsa Belanda ataoe seorang ‘pembela kita kaoem rendah dan kaoem tertindas’, orang ‘kromo’ jang berkata teroes terang… (SH, 10 Desember 1918).

Melawan Sampai Mati di Boven Digoel

Seperti yang saya katakan di awal, Mas Marco punya semboyan: Ingatlah saoedara-saoedara: PERT JAJA dan BERANI, itoelah sendjata kita!

Kata-kata dinamit itu dituliskan Mas Marco di Sinar Djawa pada 1918. Sekaligus itu jadi sikapnya bagaimana membaca dan menentukan tindakan terhadap pemerintah kolonial. Jelas Mas Marco ada dalam barisan orang-orang keras kepala nomor wahid di Jawa. Tak pernah mau kompromi dengan kolonial, seperti bunyi brosurnya:

Awas!! Kita anak Hindia soedah berapi!!

Gouvernement!!

Berilah permintaan kita anak Hindia!

Soepaja bahaja berontakan tida mendjangkit di

tanah Hindia, toempah darah kita!!!

WONG DJOWO

Jadi, apa kontribusi Mas Marco dalam pergerakan? Besar! Tapi dilupakan. Di jalan pergerakan dan pers ia mempertaruhkan segala-galanya. Manifesto Mas Marco untuk kaum jurnalis cum activist yang ditulisnya di Sinar Hindia pada 1918 ini sudah dibayartunainya dengan kematian dalam kesunyian abadi di Boven Digul.

Awas! Kaoem Journalist!

Jadi Journalist zaman sekarang,

Berani di hukum dan di buang.

Karena dia yang mesti menendang,

Semua barang yang melangmalang.

 

Journalist harus berani mati,

Bekerja berat membanting diri.

Sebab dia hendak melindungi,

Guna mencari anak sendiri.

Dari jauh di Boven Digul kita lalu tahu ada banyak koran berapi yang pernah disulut barisan jurnalis progresif yang “bekerdja berat membanting diri; berani di hukum dan di buang”. Para penyuluh api itu dipadamkan dengan kekuatan marsose di seantero Nusantara. Di Semarang ada Sinar Hindia, Soeara Ra’jat, SI Tetap, Barisan Moeda. Di Surakarta ada Islam Bergerak, Medan Moeslimin, Persatuan Ra’jat, Senopati, Hobromarkoto, Mowo. Di Surabaya ada Proletar; Yogyakarta ada Kromo Mardiko; Bandung ada Matahari, Mataram, Soerapati, Titar; Batavia Kijahi-Djagoer, Njala; Pekalongan Sendjata Ra’jat; dan Purwokerto ada Doenia Merdeka.

Tak hanya di Jawa, titik api itu juga muncul Sumatera, Kalimantan, dan Maluku. Di Padang ada Petir dan Torpedo; di Padang Panjang terdapat Djago! Djago! dan Pemandangan Islam; di Bukittinggi Doenia Achirat; Solok Sasaran Ra’jat; Sawah Lunto Signal; Langsa Oetoesan Ra’jat dan Batterij; Sibolga Persamaan; Medan Goentoer; Palembang Djam; Pontianak Halilintar, Berani, Warta Borneo; Makassar Pelita Ra’jat; dan Ternate Bendera Merah.

Boven Digul mengumpulkan semua pegiat koran-koran dinamit itu. Dan, sebagian besar pegiat-pegiatnya tumbang bersama nyamuk malaria Papua yang ganas. Termasuk Mas Marco Kartodikromo van Blora. Ia syahid, saya kira.


Muhidin M. Dahlan
Pendiri @radiobuku dan @warungarsip
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara