Setelah Malang dan Surabaya, bedah buku Nice Boys Don`t Write Rock n Roll diadakan di Jember, kota kelahiran Nuran Wibisono.

HUJAN mengguyur Jember sejak sore, membuat para mahasiswa terpaksa mendekam di kamar kosnya masing-masing. Keinginan untuk keluar sekadar mencari makan atau ngopi harus tertahan. Kebetulan, pada hari itu ada acara bedah buku yang rencananya dilaksanakan pada malam harinya. Saya pikir acara itu akan mundur dari jadwal dan minim pengunjung.

Sehabis waktu maghrib, hujan pun reda. Langsung saya menuju ke tempat acara untuk sekadar membantu teman-teman panitia mempersiapkan acara. Sesampainya di aula kampus FIB Universitas Jember, tempat sudah siap dan rapi. Karpet sudah tergelar. Banner terpasang. Tiga buah sound system cukup terdengar untuk seisi aula, juga sebuah meja di depan pintu masuk yang di atasnya terdapat tumpukan buku yang akan dibedah tertata rapi, lengkap dengan banderol harganya. Di dalam ruangan, hanya ada beberapa kawan-kawan saya geletakan di atas karpet. Untuk mengisi waktu kosong, kopi dan rokok menjadi teman yang baik sembari mengobrol menunggu pemateri dan acara dimulai.

Dugaan sementara saya tentang minimnya pengunjung masih tepat adanya. Selepas isya masih segelintir orang terlihat. Jam menunjukkan angka 19.00 lebih. Lagi-lagi praduga awal saya benar. Acara molor. Sesaat kemudian pemateri utama datang. Pemateri yang bukunya akan dibedah malam itu. Datang dengan setelan jaket berwarna gelap, celana jeans serta sepatu, ia menyalami beberapa orang yang dikenalnya yang duduk santai di teras depan aula. Kemudian, masuk ruangan dan menyapa juniornya di lembaga pers mahasiswa dimana dirinya pernah berproses.

Semakin malam satu persatu peserta berdatangan, baik dari kalangan pers mahasiswa, komunitas kesenian kampus dan juga terlihat beberapa peserta dari kalangan umum. Pegiat sejarah Jember, RZ Hakim datang kemudian. Pria kurus dengan rambut sedikit gondrong tersebut datang ditemani istri yang selalu lengket bersamanya. Dia menjadi salah satu pemateri pada malam Jumat itu. Berselang kemudian, menyusul Oryza Wirawan yang akan turut menjadi pembedah.  Kedatangan wartawan portal berita daring beritajatim.com ini, menjadi penanda akan segera dimulainya acara, karena dua pemateri sudah datang sebelumnya.

Pukul 19.40, panitia memberitahukan peserta yang duduk santai di teras depan aula untuk dipersilahkan masuk ruangan. Acarapun dimulai. Ketiga pemateri sudah duduk lesehan di depan, lengkap dengan sajian dan air mineral yang sudah disediakan panitia.

Oryza mendapat giliran pertama berbicara. Tak banyak yang ia paparkan. Hanya sekadar memaparkan episode singkat Nuran Wibisono, penulis buku Nice Boys Don't Write Rock n Roll, yang satu UKM di lembaga pers mahasiswa UKPKM Tegalboto Universitas Jember. Sesekali Oryza terlihat menepuk bahu Nuran, menimbulkan kesan kebangaan kepada seniornya.

Setelah itu dilanjutkan pertanyaan-pertanyaan susulan yang dilontarkan kepada Nuran, seputar awal mula sejarah dan ketertarikannya menulis tentang musik. "Saya tertarik menulis musik ketika salah satu band metal tampil di Jember, kemudian mengulasnya dalam sebuah tulisan", jawab Nuran. Bermula dari situ kesukaannya menulis musik tumbuh, hingga pada akhirnya menulis buku.

Buku pertama Nuran, diterbitkan penerbit indie Jogja, EA Book, berisi tulisan yang ia mulai sejak 2007 hingga 2017. Rentang waktu yang lama, dan begitu istiqomahnya ia menulis musik disela-sela kesibukannya sebagai wartawan berita daring tirto.id. Buku dengan gambar kover sebuah kaset, tape recorder, dan serta gambar dua  musisi dengan dua cewek yang sedang memeluk ini berjumlah 575 halaman. Berisi 83 tulisan yang terbagi dalam side layaknya sebuah kaset. Side A sampai  side F  

Nuran juga menceritakan pengalamannya yang juga terdapat dalam buku ketika ia mewawancarai fans ladies rock 90-an Indonesia, Nike Ardila. Dalam pemaparannya, Nuran mengatakan bahwa para fans Nike Ardila adalah salah satu fans yang fanatik. Sejak kematiannya, medio tahun 1990-an, fans Nike setiap tahunnya mengadakan acara ziarah untuk memperingati penyanyi yang terkenal dengan lagu `Bintang Kehidupan` yang meninggal 19 Maret 1995 itu. “Bahkan,” kata dia sembari berhenti sejenak “Ada juga salah satu fans Nike Ardila yang berusia 3 tahun. Orang tua si anak adalah fans berat yang setiap harinya mendengarkan lagu-lagu Nike Ardila”

Kemudian pada sesi selajutnya, dalam konteks lokal, giliran RZ Hakim menceritakan dinamika musik dan pengalamanya mengenal beberapa komunitas punk di Jember. Sebagai seorang musisi yang menjadi front man dari sebuah grup band bernama Tamasya, ia menceritakan semasa masih menjadi mahasiswa sudah ditemuinya beberapa zine dan majalah yang khusus mengulas tentang musik. Menurutnya, geliat kepenulisan tentang musik sudah ada di Jember sejak tahun 90an akhir hingga 2000an. Perihal perkenalannya dengan komunitas punk, ia mengatakan begini:

“Punk merupakan gaya hidup yang anti-kemapanan dan anti dengan narasi-narasi besar lainnya, seperti; globalisasi, kolonialisme, liberalisme, dan terutama kapitalisme”.

Punk juga secara frontal mengkritik pemerintahan Soeharto, sebagaimana RZ Hakim melanjutkan, “Orde Baru adalah tai”,  ungkapnya.

Dalam sesi pertanyaan, ada pertanyaan menarik yang ditanyakan oleh seseorang yang mengaku sebagai seorang penggemar musik metal tentang alasan pemilihan judul buku. “Ada dua kunci kata yang akan saya tanyakan kepada Mas Nuran, kata `nice` dan `rock n roll`. Dua kata ini terlihat kontradiktif sekali ketika kita membincangkan tentang musik rock n roll”.

Menjawab pertanyaan tersebut, menurut Nuran, stigma tentang rock n roll yang identik dengan drugs dan seksnya sudah tidak relevan untuk saat ini, “Banyak musisi yang pernah saya kenal dan wawancarai adalah seorang individu yang baik,” jawabnya. Vokalis Sangkakala adalah salah satu individu yang dikenal dengan karakter yang baik dan berperilaku sebagaimana manusia pada umumnya.

“Vokalis Sangkakala itu adalah pribadi yang baik. Enak diajak ngobrol. Selain di atas panggung, ia juga membantu istrinya yang mempunyai usaha jahitan untuk mengantarkan pesanan kepada para pelanggan,” lanjutnya. Nuran juga menceritakan personil band indie Efek Rumah Kaca dan The Sigit sebagai pekerja kantoran biasa selain karir mereka di dunia musik.

Ketika ditanya teman pematerinya tentang siapa musisi Indonesia yang ingin ditulis, Nuran menjawab bahwa Ahmad Albar-lah yang ingin diwawancarainya. Ahmad Albar memang adalah salah satu ikon rock n roll Indonesia yang besar dan terkenal dengan grup band God Bless-nya. Gaya hidup mabuk-mabukan juga melekat pada dirinya sebagai seorang musisi. “Ahmad Albar juga sempat menodongkan pistol kepada Gito Rollis, ketika mengatakan Arab kok mabuk-mabukkan,” ungkap pemilik blog nuranwibisono.net ini.

Nuran juga menceritakan salah satu musisi legendaris sekaligus pentolan grup band Dewa 19 yang kasetnya pertama kali pernah ia beli di toko kaset dekat Plaza Johar Baru ketika masih berseragam SMP. Menurut Nuran, Ahmad Dhani sebagai individu yang arogan. Tentang  kearoganan Ahmad Dhani, ia dapatkan dari teman-temannya yang pernah meliput musisi yang sempat masuk kancah politik ini. Sebagaimana yang diceritakannya, Ahmad Dhani adalah orang yang sulit ditemui ketika ada permintaan untuk diwawancarai dari wartawan. Nuran sempat mengakui mempunyai rencana menulis 25 tahun Dewa 19. Namun akhirnya rencana tersebut diurungkan, karena mengetahui karakter Ahmad Dhani yang arogan.

*

Udara dingin ternyata tak sedingin diskusi buku pada malam Jumat  26 Oktober tersebut. Bicara musik memang tak pernah ada habisnya, selalu menggoda untuk terus diperbincangkan. Terlihat aura saling menghormati antar penggemar musik dengan genre yang berbeda pada malam itu. Mereka menyimak pemateri tanpa membuat suasana gaduh.  

Tepat pukul 21.20 acara pun selesai. Dalam pesan penutupnya, Nuran mengatakan, ada hal lain yang menarik untuk ditulis selain masalah politik dan budaya, yaitu menulis musik. Dengan musik kita secara tidak langsung juga mempelajari manusia, karena musik juga diciptakan oleh manusia.


Muhammad Shidiq
Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember Sementara berdomisili di Jember, Jl. Jawa 4 no 35d. Tulisannya pernah dimuat di minumkopi.com,
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara