06 Mar 2018 Ghalim Oemabaihi Sosok

Jauh sebelum seorang penulis dikenal melalui karyanya, ada fase yang mungkin dia lewati: fase di mana kultur menulisnya bermula, termasuk sejak kecil dalam keluarga.

KEHEBATAN seorang penulis tak jarang lahir dari proses panjang bersama orang-orang hebat. Mereka tekun melatih hingga tumbuh sejurus, meski sejarah akan melukis masa yang berbeda. Nukila Amal bagian dari proses itu, mampu menggoda penikmat sastra dengan kata-katanya yang sarat makna. Penulis asal Maluku Utara ini, lahir dengan genre sendiri melalui beberapa karya sastranya. Adalah Cala Ibi (2003), novel pertamanya yang mendapat perhatian besar di dunia sastra Indonesia, bahkan masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award, dan diterjemahkan dalam bahasa Belanda, dan Italia.

Kumpulan cerpennya, Laluba (2005) mendapat penghargaan Karya Sastra terbaik majalah Tempo dan Karya Sastra Pusat Bahasa (2010). Nukila juga meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2008 melalui cerpennya, Smokol. Karya yang lain adalah Mirah Mini: Hidupmu, Keajaibanmu (2013). Lulusan Sekolah tinggi Pariwisata Bandung ini, juga pernah menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, dan menerjemahkan sejumlah kumpulan puisi.

Tak banyak yang tahu di balik kemampuan itu, Nukila bersama enam saudaranya tumbuh dalam keluarga penulis. Ayahnya, M. Adnan Amal, adalah seorang hakim yang gemar menulis sejarah. Tulisan-tulisannya banyak menjadi rujukan dalam penulisan maupun diskursus sejarah Indonesia. Adalah Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, salah satu buku sejarah yang ditulisnya, boleh disebut sebagai magnum opus.

Beberapa karya M. Adnan Amal yang lain yang juga berpengaruh adalah Sejarah Maluku Utara (dua jilid), Tahun-Tahun Yang Menentukan, Tobelo Tempo Doeloe, Portugis dan Spanyol di Maluku, Cerita Rakyat Halmahera, dan Babullah Datu Syah.

Adnan Amal, juga menulis sejumlah artiel hukum yang dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional. Memang, ia sangat mencintai dunia menulis, tak heran anak-anaknya tumbuh mengikuti jejaknya. Selain Nukila Amal, Taufiq Amal dengan karyanya, Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman (2006), dan Rekonstruki Sejarah Al-Qu’an (2012). Melly Amalia Amal dengan karyanya, Una Teteruga, dan Marjorie Amal dengan karya-karya puisinya yang belakangan terhimpun dalam Antologi Puisi Kitab Halmahera; Kitab Penyair Maluku Utara (2017), dan Membaca Mikrofon (2017). Chairunnisa Amal, Anastasya Amal, dan Wardah Amelia Amal pun gemar menulis.

Terlahir sebagai anak kampung, 3 Januari 1931, di pelosok Galela, Halmahera Utara, tak menghambat proses pendidikannya, meski berliku-liku. Pada 1938, Adnan Amal masuk Gouvernement Holland Inlandsche School (HIS) sampai kelas 4. Setelah pendudukan Jepang, ia meneruskan belajar pada Shogakko (Sekolah Dasar) di Galela. 1950, Adnan Amal menamatkan SMP Muhammadiyah di Gorontalo, dan menamatkan SMA di Semarang pada 1954, kemudian melanjutkan pedidikannya di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya.

Antara tahun 1957-1959, Adnan Amal menjadi guru SMA Negeri di Tanjung Karang, Lampung, kemudian melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan tingginya di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung pada 1963. Usai studi, ia mengembangkan karirnya sebgai Hakim di Pengadilan Negeri Ternate dan Ambon, kemudian menjabat sebagai Hakim Tinggi di Manado dan Bandung. Dan, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi di Palu dan Makasar. Jabatan terakhirnnya sebelum pensiun pada 1994 adalah Ketua Pengadilan Tinggi Maluku.

Berbekal pengalaman  guru SMA, dan profesi hakim, Adnan Amal memiliki metode sendiri untuk mendidik anaknya supaya tumbuh menjadi penulis. Pendidikan itu ia terapkan dalam keluarga di setiap aktifitas keseharian mereka.

Marjorie Amal menceritakan, sejak kecil ayahnya telah membiasakan mereka membaca dan menulis. Hal itu tampak ketika ada dinas di luar daerah, ia selalu membawa oleh-oleh buku bagi mereka—masing-masing diberikan dua buku. Buku tersebut diminta untuk dibaca, siapa yang duluan selesai, lalu dapat menceritakan hasil bacaan dengan baik, akan diberikan uang sebagai hadiah. Bahkan, bagi anaknya yang tak mengerjakan pekerjaan rumah, ia memberikan hukuman membaca buku sebanyak-banyaknya, lalu menyampaikan hasil bacaannya.

Berbagai cara Adnan Amal lakukan untuk mendekatkan anak-anaknya dengan buku. Tak hanya di rumah, di kantor misalnya, saat masih tugas di Ambon, ia sering menjemput Marjorie dari sekolah, kemudian mampir di kantor, ia telah menyiapkan buku di atas meja untuk dibaca sambil menunggu selesai sidang.

Menurut Marjorie, ia pernah juga meminta membeli sepeda, ayahnya menolak dengan segala macam alasan. Tetapi jika minta dibelikan buku, langsung dibelikan.

Sosok panutan ini, juga memberikan buku tulis (buku diari) pada anak-anaknya untuk menulis catatan harian. Saban hari buku itu ditulis dengan aktifitas mereka: entah bermain, belajar, hingga tidur. Dan ketika buku penuh, ia belikan buku baru. Ia telah mengajari anak-anaknya untuk menghargai buku yang dibaca, dan orang yang berprestasi. Dengan demikian, anak-anaknya dapat pintar membaca, berbicara, dan menulis.

Kebiasaan tersebut berlanjut hingga dewasa. Adnan Amal melibatkan anak-anaknnya dalam menulis bukunya: mulai dari riset, menyalin naskah, menyunting, sampai pada proses perampungan buku. Kata Marjorie, Nukila-lah yang paling sering dilibatkan dalam riset dan menulis.

Tak hanya dalam keluarga, kala pensiun dari hakim, menjadi dosen di Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Adnan Amal sangat  menghargai siapa saja yang menulis, termasuk mahasiswanya yang suka menulis. Ia akan mengkompromi mahasiswa tersebut, sekalipun jarang masuk kelas. Dedikasinya di dunia pendidikan pun cukup besar, ia termasuk salah satu pendiri Unkhair, bersama Yusuf Abdurahman.

Sosok yang kembali ke rahmatullah pada 4 Oktober 2017 itu,  semasa hidup bercita-cita dikenang sebagai penulis yang banyak memberikan warisan pada penerus, itu sebabnya sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk membaca, meriset dan menulis. Baginya menulis bukan perkara mudah, apalagi menulis dengan data riset: membutuhkan ketangguhan, keberanian dan keuletan. Dan, kebiasaan itu ia lakukan hingga di ujung usia.

Adnan Amal sangat konsisten dengan waktu membaca. Di tengah kesibukan kerjanya, saban hari ia luangkan waktu tersendiri untuk membaca—pagi setelah subuh, dan sepulang dari kantor.

“Sampai tua pun ia selalu membaca, bahkan hingga nyaris tak lagi mengenal huruf, ia menggunakan kaca pembesar. Dan ketika kesadarannya mulai menurun, ia meminta saya membaca untuknya, sesuai dengan buku yang diinginkan. Setelah membaca, ia masih sempat menanyakan dan mengomentari,” kata Marjorie.

Kata Adnan Amal, jika tak ingin lupa, membacalah. Dan menulislah jika tak ingin dilupakan. Membaca dapat memperkaya diri, dan lebih unggul dari orang lain. Begitu pula menjadi penulis, harus menghargai setiap waktu, dan berani untuk memulai. Karena kalau tak berani, orang tak pernah menghasilkan karya. Ia sendiri menulis dengan niat mewariskan sesuatu untuk generasi berikutnya, karena hanya itu yang bisa ia tinggalkan.

Adnan Amal juga tampak sebagai perencana yang baik. Sebelum menjadi hakim, ia sudah membuka lahan kebun dan menanam sejumlah tanaman ekonomis. Anak-anaknya tidak sempat berpikir bahwa hasil tanaman itu akan sangat bermanfaat ketika pensiun. Bahkan ia tidak mau mengambil uang pensiunnya dan lebih memilih menikmati hasil kebunnya. Sebabnya, ia sangat menyukai sejarah, dan bertani.

Keluarga Adnan Amal konsisten melestarikan literasi, mulai dari membaca, menulis, hingga terbentuk dalam perilaku. Tak heran, Adnan Amal sangat menghargai dan senang, ketika keluarganya dikatakan keluarga penulis, karena itu, ia mengingatkan pada anak-anaknya untuk menulislah sepanjang usia.


Ghalim Oemabaihi
Pegiat Literasi Independensia Ternate dan belajar menulis di Indonesia Buku Yogjakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara