Selalu ada proses panjang sebelum seseorang menjadi penulis. Demikian pula halnya Linda Christanty. Bermula dari pendidikan literasi dalam keluarga, lalu lahirlah karya-karya sastra dan nonsastra dari tangannya.

Indonesia Pusaka adalah lagu kebangsaan yang lekat dengan masa kecil Linda Christanty. Puluhan tahun silam di kampung halamannya di pulau Bangka, lagu ini kerap dinyanyikan sang Ayah sebagai penutup sesi mendongeng di malam hari. Linda kecil beserta adik-adiknya segera pergi ke kamar masing-masing untuk tidur setelah lagu itu selesai dinyanyikan. Hingga kini, Linda tak paham benar kenapa lagu itu yang dipilih ayahnya sebagai penutup aktivitas mendongeng yang ia sukai. Yang jelas, sampai sekarang Linda tak pernah gagal dibuat haru ketika lagu itu dia dengar.

Kenangan ini dituturkan Linda dalam perbincangan kami via surel beberapa waktu lalu. Keluarga adalah tempat pertama ia mengenal buku, dan secara perlahan membangkitkan hasratnya untuk menjadi penulis. Cita-cita itu terwujud. Sudah banyak karya sastra dan nonsastranya yang dipublikasikan di media dan dibukukan. Karya-karya itu pula sudah dianugerahi banyak penghargaan.

Pendidikan literasi keluarga memang selalu relevan untuk dibicarakan, tidak untuk mengarahkan anak menjadi penulis, tetapi lebih pada pembentukan nalar dan kepribadiannya. Terlebih kondisi “banjir informasi” hari ini yang membuat siapapun akan terjebak dalam kesalahpahaman yang sulit diurai apabila tidak memiliki bekal pengetahuan literasi yang memadai.

Perjalanan literasi Linda Christanty yang dimulai sejak masa kanaknya memaparkan bagaimana ia terbentuk menjadi Linda hari ini, yang konsisten dengan pilihan hidupnya. Dengan amat mengalir ia bercerita bagaimana benih literasi itu ditanam, dirawat dan akhirnya berbuah demikian lebatnya hari ini.  

Mbak Linda kerap menyebut keluarga sebagai bagian penting dalam perjalanan kepenulisan. Ada sosok ibu yang mengoleksi banyak buku, bapak yang pertama kali mengirim puisi Mbak Linda ke majalah, dan kakek yang membuka kesadaran politik untuk pertama kali. Bisa menceritakan lebih detail perihal keluarga ini? Latar belakang budaya, pekerjaan, dan apa yang membuat mereka memiliki kesadaran yang sangat tinggi mengenai pentingnya membaca dan menulis.

Saya hidup dalam sebuah keluarga yang terhubung dengan banyak bangsa, peristiwa sejarah dan tempat. Terlalu panjang untuk menuturkannya di sini. Sejarah keluarga kami ini sebagian kecil sudah saya tulis dalam empat buku, Dari Jawa Menuju Atjeh, Jangan Tulis Kami Teroris, Seekor Burung Kecil Biru di Naha dan Para Raja dan Revolusi.

Dari pihak Ayah, kami memiliki hubungan dengan Kesultanan Banten. Berdasarkan silsilah keluarga yang diwariskan, ayah saya adalah keturunan dan pelanjut nasab kesultanan yang hancur akibat konflik internal dalam keluarga dan ulah VOC. Dari catatan-catatan milik keluarga saya, catatan para pejuang di masa itu, dokumen-dokumen, buku dan kesaksian orang-orang, saya juga mengetahui bahwa kakek saya, Tubagus Abdul Malik Ismail, adalah seorang perintis dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Dari pihak Ayah, saya juga memiliki seorang kakek angkat yang memberi nama untuk ayah saya, Johnny. Dia seorang Ambon, KNIL yang berpihak kepada Republik, dan Panglima Tentara dan Teritorium Bangka Belitung. Namanya, Kolonel FFJ. Manusama. Dia kawan seperjuangan kakek saya. 

Dari pihak Ayah, saya memiliki salah seorang kakek buyut bernama Batin Tikal, seorang pejuang yang melawan penjajah Belanda dan Inggris. Dia tidak pernah menyerah sampai akhir hayatnya. Pasukannya terdiri dari berbagai bangsa. Dia kemudian dibuang Belanda ke Manado, Sulawesi Utara. Makamnya diperkirakan  berada di sebuah tempat yang kini di atasnya berdiri sebuah pertokoan atau pusat perbelanjaan. Tapi melalui kesaksian keluarga kami dan dokumen kolonial yang sudah terungkap, letak makamnya di Manado belum bisa dipastikan. Dia menjadi salah satu teladan dalam keluarga kami tentang pengorbanan, keteguhan hati dan semangat juang yang tidak pernah padam.

Dari pihak Ayah, saya juga mewarisi darah Bugis-Makassar lewat kakek buyut kami Syeh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani. Dia adalah pahlawan nasional Indonesia dan Afrika Selatan.

Dari pihak Ayah juga, saya memiliki kakek buyut angkat, Kung Tai kami memanggilnya. Dia seorang Hakka bermarga Liau yang hingga akhir hayatnya tidak bersedia taucang-nya dipotong dan dia harus membayar pajak kepada pemerintah kolonial Belanda untuk sikapnya itu. Dalam tradisi orang Hakka, marga ditentukan oleh siapa kamu diberi kehidupan, oleh siapa kamu diberi makan serta dibesarkan. Karena itu, dari sebelah Ayah, saya juga mendapat warisan marga Liau.

Kakek saya dari sebelah Ibu bernama Uni Saleh, seorang Melayu asal Pulau Tengah, Kerinci, Jambi. Ayahnya, Mat Saleh, melawan penjajah Belanda dalam Perang Kerinci. Keluarga kami masih menyimpan sejumlah senjata pusaka warisannya dari masa itu. Setelah kekalahan melawan kolonial Belanda dalam Perang Kerinci, keluarga Kakek awalnya berencana mengungsi ke Palembang dengan perahu, tapi mereka dikejar bajak-bajak laut di perairan Selat Bangka. Mereka melawan, sehingga seluruh bajak laut itu tumpas dan akhirnya dikuburkan secara massal oleh kakek buyut saya dan keluarganya.

Di Pulau Bangka, kakek buyut saya mendirikan sebuah kampung di seberang Sungai Belo yang dinamai Kampung Belo Laut. Kakek saya kelak dimakamkan di kampung itu sesuai wasiatnya sebelum meninggal dunia, di dekat kuburan massal bajak-bajak laut yang dibunuh ayahnya dan keluarganya dulu. Kakek adalah anggota Partai Nasional Indonesia dan pengurus Muhammadiyah. Dia ditahan dalam penjara militer Jepang akibat melawan Jepang. Kakek merupakan sosok yang sangat penting dalam membentuk diri saya hingga menjadi seperti hari ini.

Ayah saya belajar teknik perkapalan di Semarang, tapi meraih sarjana di bidang ekonomi. Dia kemudian bekerja sebagai salah satu manajer perusahaan pertambangan. Ibu saya bekerja di bagian personalia dan ketika masih SMA, dia adalah sekretaris Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia kota Mentok yang menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia. Ayah dan Ibu bertemu pertama kali waktu remaja. Rupanya mereka saling jatuh cinta, orang menyebutnya puppy love, dan ternyata berlanjut sampai dewasa. Akhirnya mereka pun menikah. Berkat pekerjaan orang tua saya, kami hidup berkecukupan. Ayah dan Ibu adalah anggota partai pemerintah waktu itu, Partai Golongan Karya atau Golkar, berseberangan dengan Kakek yang menolak menjadi anggota partai mana pun pascakejatuhan Soekarno.

Sejak saya masih kanak-kanak, keluarga saya memiliki sebuah perpustakaan di rumah karena Kakek dan kedua orang tua saya suka membaca buku. Tidak ada hari tanpa membicarakan buku ataupun tulisan di rumah kami. Tiap kenaikan kelas, saya dan adik-adik juga memperoleh hadiah buku-buku yang kami inginkan. Di rumah pusaka orang tua saya, perpustakaan itu masih ada dan ditambah dengan buku-buku baru, yang kami bawa dan taruh di sana ketika berkunjung.

Kebiasaan membaca membuat saya lama-kelamaan suka menulis. Sebuah proses alamiah dan ditambah lagi, saya sepertinya berbakat. Adik-adik saya juga suka menulis, tapi tidak ada yang melanjutkan kesenangan menulis itu menjadi kegiatan yang rutin sampai sekarang ataupun sebuah profesi. Selain suka membaca dan menulis, kami berbakat dalam matematika. Dua adik saya menjadi sarjana di bidang sains.

Mengapa keluarga saya mempunyai kebiasaan membaca buku? Saya belum pernah menyelidikinya. Ketika saya mulai bisa mengingat dan berpikir, situasinya memang sudah seperti itu.

Perihal Kakek, mbak Linda pernah menyebut kematiannya sebagai moment paling berat dalam hidup. Mengapa?

Kakek dari sebelah Ibu menjadi sosok yang paling dekat dengan saya sejak saya lahir hingga remaja. Karena orangtua sibuk bekerja, saya dan adik-adik saya menghabiskan lebih banyak waktu dengan Kakek dan Nenek, juga para pengasuh kami.

Pengetahuan pertama saya tentang politik dan sejarah juga berasal dari Kakek. Kami, kakek dan cucu, pernah memprotes pemerintah Inggris yang menyebabkan Bobby Sands, seorang aktivis Irlandia Utara, mogok makan sampai mati di penjara. Aksi protes itu berlangsung dalam rumah orangtua saya, di muka pesawat televisi dan radio, bukan di depan gedung kedutaan, gedung parlemen ataupun tanah lapang. Kami juga sedih mengetahui Perdana Menteri Italia Aldo Moro diculik lalu dibunuh Brigadir Merah di Italia. Kesedihan itu terbawa sampai ke meja makan keluarga.  Pendudukan Israel di Palestina memenuhi kesadaran saya sejak masih kanak-kanak. Teman-teman seusia Kakek datang ke rumah kami untuk berdiskusi ketika orangtua saya sedang berada di kantor atau bepergian. Mereka bersikap kritis terhadap Orde Baru. Saya duduk di dekat mereka, mendengarkan diskusi itu.

Kakek  bisa memasak, menjahit, memperbaiki mobil Ayah yang mogok, memperbaiki kulkas kami yang rusak, berkebun, menanam bunga, membuat kursi-meja-lemari dari kayu, dan mencipta kompor gas yang membuat masakan cepat matang  dengan kebisingan. Saya bahkan belum pernah melihat Nenek memasak. Kepada Kakek pula kami selalu meminta uang jajan. Ayah dan Ibu tidak pernah memberi uang jajan sebagai bekal sekolah anak-anaknya. Kami harus membawa kotak berisi makanan dari rumah. Kematian Kakek membuat kami cucu-cucunya merasa tidak hanya kehilangan seorang kakek, tapi juga kehilangan seorang sahabat dan pemimpin.

Masih ingat buku pertama yang dibaca? Apa judul dan isinya?

Waktu umur empat tahun saya memperoleh buku-buku pertama dari Kakek, yaitu buku-buku tentang unggas dan reptil, yang dipenuhi gambar berwarna dan glossy. Gambar-gambar ini membuat saya antusias membuka halaman-halamannya. Kata Nenek, buku-buku itu diimpor dari Tiongkok. Kakeklah orang pertama yang mengenalkan saya kepada buku. Menurut Nenek, buku Kakek banyak sekali sebelum saya lahir, sehingga sebagian terpaksa dihibahkan kepada orang lain yang bersedia menerimanya agar rumah mereka tidak terlalu sesak dengan lemari-lemari buku.

Waktu kecil dan belum bisa membaca, saya juga ingat Ayah dan Ibu sering membacakan buku-buku cerita untuk anak-anaknya menjelang tidur malam. Kami berkumpul di kamar mereka, di tempat tidur orangtua saya yang besar itu. Cerita yang paling saya ingat adalah Tom Si Jempol atau Tom Thumb. Tentang anak kecil yang melawan raksasa. Tiap kali mendongeng, Ayah pasti memulainya dengan cerita ini. Sebenarnya Tom Si Jempol dongeng dari Inggris. Banyak dongeng lain diceritakan Ayah dan Ibu, tapi dongeng ini yang paling berkesan.  Ketika semua buku sudah dibacakan, mereka terpaksa mengarang cerita sendiri.

Nenek juga suka bercerita, begitu pula bibi-bibi saya yang sering bertandang ke rumah kami. Mereka berbagi kisah-kisah nyata maupun cerita-cerita hantu yang membuat saya hapal nama-nama hantu. Banyak sekali cerita rakyat yang saya dengar di masa kecil, terutama hubungan antara manusia dan buaya atau burung atau ular. Dalam kosmologi orang Melayu, manusia dan buaya dianggap memiliki pertalian darah atau berkerabat.

Ada satu kisah nyata yang sering dituturkan Nenek dan saya mengingatnya sampai dewasa. Tentang Kek Nungan. Kek Nungan ini seorang kakek yang ditelantarkan anak dan cucunya. Dia berjalan dibantu sebuah tongkat, sehingga suara tongkat itu yang terdengar di hari atau di malam yang sepi. Mendengar kisah itu, saya menangis. Adik-adik saya juga menangis mendengar cerita ini. Nenek biasa bercerita di ruang makan, di sore hari.  Kehidupan saya di dunia ini dimulai dengan cerita. Kesadaran saya dibentuk oleh cerita.

Banyak anak kecil di Indonesia yang bercita-cita jadi dokter, insinyur atau polisi. Kalau mbak Linda sendiri bagaimana?

Cita-cita saya banyak. Saya pernah ingin menjadi pelukis, ahli matematika dan penulis. Saya pikir, semua cita-cita itu muncul akibat situasi dalam keluarga. Ayah mengajari saya melukis dengan cat air dan pensil. Dulu dia belajar melukis dari seorang pamannya. Sebelum anak-anaknya lahir, di waktu senggang, ayah saya melukis. Karena senang melukis, saya ingin jadi pelukis.

Saya pernah ingin menjadi ahli matematika. Seorang ilmuwan yang dapat menciptakan rumus-rumus penting dalam membangun sebuah peradaban itu luar biasa, menurut saya. Sebenarnya matematika diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan ini, mulai dari pembangunan candi atau piramid di masa lalu, penemuan teknologi pesawat terbang atau pesawat luar angkasa atau persenjataan hingga penerapan aristektur atau desain yang membuat orang tetap nyaman dalam bak rendam yang ukurannya begitu mini di sebuah hotel di Jepang, misalnya. Matematika diterapkan dalam keseharian kita, seperti kegiatan jual-beli di pasar, sampai berguna untuk menyelesaikan hal-hal yang rumit, seperti memperkirakan jumlah galaksi yang tidak pernah kita lihat, yang tidak dapat ditangkap teleskop Hubble.

Saat menjalani pendidikan dari SD-SMA mbak Linda tergolong siswa yang unggulkah dalam bidang akademik atau bagaimana?

Sebenarnya saya sangat baik dalam matematika, tapi saya tidak melanjutkan studi di bidang tersebut. Saya memilih menjadi penulis. Di masa SD dan SMP, saya tergolong murid yang pintar dan kritis. Ibu saya harus berurusan dengan guru, karena sikap kritis saya. Guru-guru di masa itu menganggap murid yang kritis sebagai masalah dan murid yang terlalu pintar sebagai gangguan dalam suasana kelas yang tertib. Beberapa pelajaran di sekolah terasa membosankan, tapi ada masa yang saya justru menunggu hari pelajaran itu tiba. Ketika saya belajar di kelas dua di SMA di Bandung, ada seorang guru pelajaran sejarah yang sangat inspiratif. Kami memanggilnya Pak Yadi. Kadang-kadang dia datang menggendong kerangka manusia, tentunya dari bahan sintetik, menuju kelas.

Kadang-kadang dia menenteng bola dunia yang besar atau sebuah tengkorak manusia purba yang terbuat dari gypsum. Terlihat heroik sekaligus berdedikasi. Dia meminta kami menganalisis secara ekonomi, politik maupun budaya bermacam peristiwa di dunia. Salah satu pengalaman yang paling saya ingat, yaitu kami diminta menganalisis konflik dan perang di Kamboja yang cukup rumit. Semua murid harus menulis analisis berdasarkan pengetahuan masing-masing, lalu kami berargumentasi di kelas. Pengalaman belajar seperti itu sangat menyenangkan. Sewaktu saya pergi ke Kamboja, saya merasa apa yang saya ketahui di masa itu amat berguna.

Kapan pertama kali menulis dan apa karya pertama yang berhasil dipublikasikan?

Saya menulis puisi pertama waktu masih di SD, di umur 8 tahun. Cerita pendek pertama saya memperoleh penghargaan dari suratkabar Kompas pada 1989 dan menjadi cerita pendek saya yang pertama kali dimuat media.

Kapan persisnya merasa menulis adalah passion yang akan ditekuni sejauh ini, dan mengapa menulis?

Waktu kecil saya sudah membayangkan diri saya menjadi penulis dan meyakini hal itu pasti terwujud, meskipun dalam prosesnya saya juga tergoda untuk bercita-cita yang lain.

Alasan saya menulis bermacam-macam. Saya menulis karya-karya nonfiksi untuk menyampaikan kebenaran yang mungkin tidak selalu enak didengar dan tidak menyenangkan diketahui, tapi membuat kita sebenarnya akan merasa lebih siap menghadapi keadaan atau masalah tertentu, lalu menemukan solusinya jika mungkin. Sementara itu karya-karya fiksi dapat menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan atau perspektif kita tentang berbagai hal, yang uniknya memberi keleluasaan kepada pembaca untuk menginterpretasikannya sesuai pengalaman, wawasan, pengetahuan, dan zaman mereka. Karya-karya itu merupakan cara lain untuk berkomunikasi dengan sesama.

Bagaimana prosesnya terjun ke dunia jurnalistik?

Dimulai setelah reformasi. Saya dan sejumlah teman membuat sebuah majalah politik dan budaya yang umurnya hanya setahun, lalu saya bekerja sebentar di sebuah tabloid ekonomi dan politik. Setelah itu, saya pindah ke majalah periklanan dan kehumasan. Sebentar di situ, saya pindah lagi ke majalah pemantauan media dan jurnalisme. Kemudian saya mendirikan kantor berita di Aceh yang mempublikasikan tulisan-tulisan tentang Aceh pascaperang dan pascatsunami. Dari sana, saya kembali ke Jakarta dan bekerja di majalah mode dan gaya hidup.

Mbak Linda pernah aktif dalam PRD. Bisa ceritakan awal mulanya  bergabung ke sana dan posisi struktural apa yang ditempati serta apa saja aktivitas-aktivitasnya?

Dulu saya ikut mendirikan Partai Rakyat Demokratik atau PRD, bukan bergabung. Bergabung artinya ikut serta. Mendirikan artinya membangun dari yang sebelumnya tidak ada.  Saya dan teman-teman saya melawan pemerintah yang sudah terlalu lama menindas rakyatnya, yaitu pemerintah Orde Baru. Awalnya saya bekerja di sektor kebudayaan dalam organisasi kami, kemudian beralih ke sektor mahasiswa dan paling lama di sektor buruh. Saya bekerja untuk struktur tertutup dalam organisasi dan bersama teman-teman lain juga membangun struktur semi-tertutup untuk kebutuhan-kebutuhan organisasi perlawanan.

Teman-teman saya dulu yang kini ada dalam pemerintahan atau masih terlibat aktif dalam politik atau yang sudah tidak aktif lagi dalam politik adalah Budiman Sudjatmiko, Dita Indah Sari, Hanif Dhakiri, Margiyono Darsasumaria, Andi Arief, Raharja Waluya Jati, Danial Indrakusuma, Mugiyanto Sipin, Wilson, dan Nezar Patria.

Setahun menjelang kejatuhan Orde Baru, struktur perjuangan kami berubah untuk kebutuhan taktik dan strategi. Tidak lagi bersifat sektoral, tapi teritorial. Artinya, pekerjaan kami lebih berat. Posisi terakhir saya adalah bertanggung jawab terhadap tiga wilayah lingkar luar atau basis-basis penyangga, yang meliputi Bogor, Tangerang dan Bekasi. Aktivitas saya waktu itu adalah memberikan pendidikan politik, ekonomi dan sejarah kepada masyarakat untuk membangkitkan kesadaran mereka agar berjuang bersama-sama mengakhiri kekuasaan Orde Baru.

Teman-teman lain juga melakukan hal yang sama di wilayah-wilayah tanggung jawab mereka. Aksi atau pemogokan harus terorganisasi dengan baik, rapi, dan bersifat antikekerasan. Kami juga memberikan pembelajaran dan pendampingan kepada masyarakat dengan cara mendistribusikan bacaan-bacaan yang berguna, termasuk karya-karya sastra, dan mendiskusikannya dengan mereka.

Tapi hampir 20 tahun setelah reformasi, negara ini mengalami situasi yang mengerikan akibat pertarungan politik untuk kekuasaan yang berlangsung secara membabi-buta. Dampaknya juga luar biasa. Di masa Orde Baru, rakyat disiagakan melawan komunisme dan stigma komunis dilekatkan kepada siapa pun yang mengkritik pemerintah. Tapi pemerintah sekarang menciptakan stigma terorisme dan stigma radikalisme untuk membungkam siapapun yang mengkritik dan berseberangan dengan kekuasaannya.

Jika undang-undang anti terorisme yang baru disetujui parlemen dan diberlakukan, saya khawatir orang yang dianggap atau dituduh teroris ataupun radikal bisa ditangkap dan bahkan, dimusnahkan tanpa harus dibuktikan kesalahannya secara hukum di pengadilan.

Dari wawancara yang pernah saya baca, Mbak Linda biasa membacakan cerpen kepada teman sebelum mengirimnya ke media. Salah seorang yang pernah dibacakan cerpen adalah Mas Bimo Petrus. Saat itu Mbak Linda dan teman-teman sedang dalam persembunyian, bahkan beberapa hari setelahnya, Mas Bimo diculik. Bisa menceritakan kembali situasi itu? Jika tidak keberatan, di mana tempat persembunyian Mbak Linda dan teman-teman waktu itu.

Ada seorang ibu yang sangat baik di masa itu. Dia sama sekali tidak terlibat dalam aktivitas politik apa pun, tapi bersimpati terhadap anak-anak muda yang dianggapnya berani mengkritik dan berjuang melawan kekuasaan yang otoriter.  Kekuasaan ini juga menjalankan politik adu domba terhadap rakyatnya. Para aktivis dituduh sebagai musuh negara dan pemerintah, sehingga siapa pun yang mendukung negara dan pemerintah terlarang untuk mendukung mereka. Ibu ini mengambil risiko dengan merelakan rumahnya menjadi tempat kami berlindung di saat genting, yang artinya dia melawan negara dan pemerintah juga. Dia sangat berjasa. Rumahnya menjadi salah satu rumah aman atau safe house untuk kami di Jakarta. Hanya saya dan beberapa teman yang berada dalam struktur koordinasi yang sama dapat bertemu di sana.

Bimo Petrus Anugrah adalah kurir gerakan perjuangan pada waktu itu. Dia datang untuk mengambil laporan-laporan pengorganisasian, lalu istirahat sejenak dengan main PlayStation. Di saat itu saya juga baru menyelesaikan sebuah cerita pendek. Judulnya, Ketika Melihat Langit. Tentang penculikan seorang santri di sebuah pesantren. Para penculiknya dari sebuah lembaga intelijen. Dia kemudian dibunuh. Mayatnya dibuang ke jurang. Dalam cerita pendek ini, santri tersebut memiliki seorang kakek yang sangat baik dan mungkin saya menulisnya karena ingatan kepada kakek saya dari pihak ibu, yang kenangan dengannya sangat membekas. Tidak ada orang untuk saya ajak berdiskusi tentang cerita pendek waktu itu. Saya kemudian menawari Bimo untuk mendengar saya membacakannya. Setelah itu dia memberi komentar. Kata dia, cerpen saya seram, mengerikan.  Itulah terakhir kali saya bertemu Bimo.

Saya dan Bimo berjanji untuk bertemu lagi pada hari Rabu minggu berikutnya atau dua minggu kemudian saya lupa. Tapi yang saya paling ingat sampai sekarang adalah hari Rabu. Dia akan menemui saya di Bogor untuk mengambil laporan dan menyampaikan surat. Semua ini bersifat rutin dan teratur. Bimo seorang kurir khusus yang bekerja dalam struktur tertutup organisasi. Saya menunggunya selama 15 menit di tempat yang ditentukan, tapi dia tidak muncul. Kelak seorang teman menghubungi kami untuk bertemu. Dia menyampaikan bahwa Bimo hilang.

Peristiwa itu sangat memukul saya. Bimo yang saya ingat adalah teman yang periang, ramah, baik hati, tabah, energik dan menyukai musik. Dalam sebuah perjalanan kami dengan kereta, Bimo berdiri di lorong kereta sambil menyanyi-nyanyi kecil dengan earphone di telinganya, sementara saya duduk diam di kursi. Kereta kosong dan kami sedang menuju Bogor. Dia ingin tahu salah satu tempat saya tinggal, di permukiman buruh. Dia mengenakan kaos oblong dan celana pendek waktu itu, sangat santai penampilannya. Saya ingin tahu di mana dia sekarang kalau masih hidup. Kalau dia sudah meninggal, saya ingin tahu di mana dia dikuburkan. Saya juga ingin tahu di mana Herman Hendrawan, Wiji Thukul dan Suyat, teman-teman perjuangan saya berada. Mereka juga masih hilang sampai sekarang. Saya ingin tahu bagaimana dan di mana mereka berakhir kalau mereka sudah tidak ada lagi.

Sejumlah teman saya diculik oleh Tim Mawar, Kopassus, TNI Angkatan Darat. Tim ini sudah diadili dan dijatuhi hukuman. Prabowo Subianto Djojohadikusumo, selaku komandan tertinggi Kopassus waktu itu, sudah diberi sanksi. Selain mereka, para pelaku yang sudah dijatuhi hukuman dan sanksi berkenaan dengan peristiwa menjelang kejatuhan presiden Soeharto adalah yang terlibat kasus penembakan Trisakti. Para pelakunya dari Brimob, Kepolisian Republik Indonesia atau POLRI. Sekarang yang harus dijatuhi hukuman adalah penculik yang lain, yang belum diungkap berikut korban-korbannya sampai hari ini.

Mengapa tidak tertarik terjun ke politik pasca Orba tumbang dan memilih tetap menjadi penulis?

Menjadi penulis adalah pilihan terbaik. Saya tidak berminat menjadi politikus. Kekuasaan itu candu dan bisa membuat orang menjadi gila. Ketika pertama kali melangkah ke sana, kamu akan ragu dan bimbang, tapi begitu berkuasa dan merasakan enaknya berkuasa, kamu tidak ingin berhenti. Ini bahaya. Hanya sedikit orang yang bisa lolos dari sindrom ini.

Banyak penulis yang mendapatkan energi besar dari kampung halamannya untuk berkarya. Bagaimana pengaruh kampung halaman mbak Linda sendiri dalam perjalanan karir menulis selama ini?

Tentu saja, kampung halaman berpengaruh terhadap kelahiran karya saya. Namun saya tidak menulis tentang kampung halaman untuk bernostalgia. Kampung halaman dalam sejumlah cerita, puisi dan esai saya tidak hanya bersifat geografis dan historis, melainkan berperan untuk menjelaskan situasi, sikap, pemikiran dan tujuan lain yang lebih luas. Seiring perubahan waktu dan jarak, seiring bertambahnya perjalanan dan pengalaman, kampung halaman yang berada di satu pulau atau berupa sebuah noktah pada peta itu justru berkembang dan tumbuh menjadi lanskap baru dalam pikiran. Sementara itu kampung halaman juga mengalami perubahan pada dirinya sendiri, sehingga tidak mungkin ruang nostalgia untuk kita tersedia utuh dan penuh. Perubahannya bisa terjadi akibat pengrusakan ekosistem, bencana alam, wabah, perang, pembangunan infrastruktur dan migrasi.

Perjalanan hidup membuat saya juga beranjak dari kampung halaman menuju kampung-kampung halaman orang lain. Kampung halaman bagi sebagian pendatang adalah kampung-kampung urban yang tumbuh di kota. Dalam kampung urban, ada hal yang tak kalah menarik dibanding kampung halaman. Di kampung-kampung urban ini bermacam orang hidup dan berinteraksi. Awalnya mungkin dibentuk suku atau bangsa tertentu yang datang lebih awal, tapi kemudian penghuninya bertambah dan berasal dari berbagai suku atau bangsa dan di sini pula orang-orang dilatih menghadapi perbedaan untuk membangun sikap toleran.

Hidup dalam perbedaan itu tidak mudah dan tidak bisa dipaksakan untuk harmonis seketika, melainkan sebuah proses yang dinamis dan harus diperjuangkan.

Merawat kampung-kampung di perkotaan secara fisik dan psikis pun tak kalah pentingnya dengan menjaga kampung halaman kita sendiri dari kehancuran atau penghancuran. Kampung-kampung urban kita adalah bagian dari sejarah kota itu sendiri.

Banyak penghargaan Mbak Linda dapatkan sebagai penulis. Apa maknanya penghargaan-penghargaan ini?

Saya berterima kasih memperoleh penghargaan. Artinya, orang-orang membaca karya saya dan menganggapnya karya yang baik.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara