Di Pangkep, kota kecil berjarak 50 km dari kota Makassar, komunitas Lentera didirikan. Darinya lahir majalah Lentera, buku puisi, dan harapan: kota kecil itu akan menjadi kiblat geliat penerbitan baru di Makassar.

Seumpama di Yogyakarta

Buku bisa diterbitkan kurang dari 24 jam

dan esoknya sudah bisa dipesan

Seumpama di Jakarta

Buku terbaru sudah bisa dilihat di depan layar hape

tak lama setelah kovernya beredar di media sosial

 

*

RIMA PUISI DI atas, jika bisa dikatakan demikian, berutang pada puisi Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul. Sedikit berlebihan memang, tetapi itulah yang dirasakan bagi pembaca buku di luar kota Jawa.

Meski tanpa penelitian yang detail, bisa disepakati kalau buku yang beredar di Makassar, 98 persen terbitan Jawa. Dua persen sisanya dinisbahkan pada penerbit lokal yang coba tumbuh dengan asupan gizi ketar-ketir. Relasinya pun bermuara pada dua kota di atas: Yogyakarta dan Jakarta dalam urusan percetakan.

Nah, itu di Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Lalu bagaimana dengan geliat penerbit di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan? Sulit untuk mengatakan tidak ada sebagaimana juga sukar untuk menyebutkan ada. Merancang usaha penerbitan sebagai karya kreatif di kota kecil di Sulawesi Selatan bukanlah jalan terjal, sebab memang belum bisa disebut demikian. Tidak ada rancangan proses sehingga pantas disebut sebagai jalan terjal.

Di Pangkep, salah satu kota kecil itu, berjarak sekitar 50 km di sisi utara kota Makassar, pernah ada komunitas Lentera yang pernah melakukan rintisan penerbitan. Memulainya dengan menerbitkan majalah dengan nama yang sama, mengambil ceruk pasar yang terbilang brengsek: sastra. Hasilnya, harus mati setelah menerbitkan tiga edisi.

Proses pengurusan ISSN dilakukan sebagai upaya melegalkan penerbitan majalah, distribusi ke sejumlah teman pengelola toko buku di Makassar pun dimaksimalkan. Niatnya, tentu saja memulai gerakan literasi di pinggiran kota besar: patokannya di sini, Makassar.

Sekelompok orang di komunitas Lentera memendam impian kalau Pangkep akan menjadi kiblat (agak megak memang) geliat penerbitan baru setelah Makassar, mengingat gerakan serupa di kota kabupaten yang lain di Sulawesi Selatan masihlah bisa dihitung jari. Dan, pelakunya, adalah mereka yang berjejak di Makassar kemudian pulang ke kampungnya.

Meminjam tesis Benedict Anderson di buku Di Bawah Tiga Bendera, semangat anarkisme di Eropa telah menyuntikkan gerakan lokal di koloni negara Eropa. Ben merujuk pada Filipina, bapak bangsa negeri jajahan Spanyol, Jose Rizal, banyak mengadopsi gerakan anarkisme di Eropa.

Kira-kira, semangat serupa pula, hasil interaksi pembacaan buku terbitan Yogyakarta di awal tahun 2000-an, telah memberi ruang berbuat sama. Ditambah pula sekarang dimudahkan akses internet. Jualan online sejumlah penerbit indie menambah referensi baru mengenai medan lain dari distribusi. Semangat literasi itu merupakan relasi dari upaya bertahun-tahun yang dilakukan di Yogyakarta dan Jakarta, utamanya dari kota yang dikenal kota pendidikan itu.

Namun sejumlah tantangan kemudian berdatangan, mulai dari pengurusan ISBN dan percetakan. Di Makassar, percetakan buku memang ada, tetapi hasilnya tentulah tak sesuai yang diharapkan. Maklum, percetakan di Makassar lebih dekat pada percetakan spanduk daripada buku. Beberapa upaya yang pernah dilakukan, pihak percetakan menerima tawaran cetak bukan karena terbiasa mencetak buku melainkan karena tawaran itu adalah orderan. Selesai.

Hal itu pernah dialami misalnya ketika mencetak edisi pertama Majalah Lentera. Cetakan ketiga edisi dilakukan di percetakan berbeda, itu pun masih terkesan amatir. Kami rikuh sendiri jika memaksakan majalah itu dititipkan untuk dijual di toko buku teman. Pilihan bijaknya, proyek itu dihentikan. Tepatnya berhenti sendiri setelah modal lembaga habis.

Padahal, bisa dikatakan upaya penerbitan majalah itu baru semacam pengantar, semacam uji coba yang dilakukan Lentera untuk melangkah menerbitkan buku yang, sesungguhnya, lebih pada usaha bunuh diri di usia muda. Bagaimana mungkin menerbitkan buku di kota yang tidak memiliki toko buku. Ada sih, tetapi toko buku tersebut hanyalah menjual buku tulis pelajar, ATK, buku paket pelajaran. Jikapun ada buku umum yang terpajang di rak, itu tak lebih buruk dari buku motivasi cepat kaya atau cara cepat menuju surga

Pada akhirnya, sebelum lembaga ini benar-benar tertidur dalam waktu lama, komunitas binaan Lentera yang diisi pelajar tingkat atas (SMA) berhasil mengupayakan penerbitan buku kumpulan puisi. Ada dua kekuatan sehingga segala sebab terbitnya buku terpenuhi:

Pertama, Lentera tak ingin pulas sebelum niat awalnya terpenuhi: tercatat sebagai satu-satunya penerbit di kota kecil Pangkep yang telah menerbitkan buku.

Kedua, para pelajar yang tergabung di Komunitas Pelajar Lentera Pangkep (KPLP) itu tak ingin ikut-ikutan dengan lembaga pembinanya dan, utamanya, mereka tak ingin melepas label pelajar sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi bersama. Saat itu tahun 2013, beberapa di antaranya sudah menginjak kelas tiga. 

Tak ingin dikutuk pepatah sebagai keledai bodoh yang jatuh kembali di lubang yang sama. Begitu naskah dan dana siap, gerilya dilakukan di dunia maya mencari penerbit yang dapat membantu membuatkan “nisan” bagi lembaga yang sudah memprediksi kematiannya sendiri. Buku itu akan dikenang sebagai satu-satunya perwujudan impian, akan diziarahi selaku titik ratapan.

Pilihan kemudian jatuh pada Leutika Prio. Penerbitan berbasis print on demand (POD), dengan dana secukupnya, berhasil melahirkan buku itu yang kemudian disambut gegap gempita. Ingin rasanya memasang iklan di Fajar dan Tribun Timur, dua koran harian berpengaruh di Sulawesi Selatan sebagai puji syukur. Untunglah hal itu tidak dilakukan mengingat lembaga memang sudah berjalan menuju ke tempat peristirahatannya. Dan, utamanya, biaya beriklan memang tidak ada.

Empat tahun berselang sejak buku Suara Pelajar, Sehimpun Puisi Pelajar Pangkep*  itu terbit. Semangkuk semangat yang tersisa dari beberapa orang yang pernah mendeklarasikan Lentera kembali mendidih. Usaha mendirikan penerbit indie kembali menganggu tidur siang mereka. Kali ini dengan strategi yang lebih moderat. Katakanlah demikian, sebagai bagian menjaga nyala api agar tidak padam disiram hujan.

Kemudahan mengurus ISBN di Perpustakaan Nasional menjadi salah satu dukungan, prosesnya sudah bisa dilakukan secara online. Beberapa kawan mulai mahir membuat desain kover yang mengagumkan. Kemampuan menulis teman-teman blogger di Pangkep perlahan menjanjikan. Jalan distribusi sudah dipelajari. Sekarang, sisa menyiapkan naskah dan mewujudkannya, meski di kota kecil kami toko buku sedang berjuang tidak mengikuti jejak Lentera.

*

Pangkep, 23 Januari 2017

 

Catatan Tambahan:

*http://www.leutikaprio.com/produk/11028/kumpulan_puisi/1308885/suara_pelajar_sehimpunan_puisi_pelajar_pangkep/13075441/ayu_lestaridkk


Kredit Gambar : Eka pocer
F Daus AR
F Daus AR, saat ini terlibat kerja apa saja. Menerbitkan catatan di sejumlah media daring dan harian lokal di Sulawesi Selatan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara