Membaca dimulai pada masa kanak-kanak, dilanjutkan sebagai kebiasaan. Di rumahlah biasanya asal-mulanya.

NOVEL serial garapan Edith Unnerstad pernah mengabarkan diri lewat majalah. Penerbit tidak ingin sekadar menampilkan gelagat menjual. Sinopsis kecil yang mengawali promosi buku dijadikan niatan menyemai bacaan di usia belia. Seperti yang tampil di majalah Bobo 24 Juni 1989, buku Si Bandel tampil bandel: “Si BANDEL membuat kalang kabut seisi rumah!”

Selain sinopsis pemantik petualangan, dipasang pula sampul Si Bandel. Buku pendahulu garapan Edith Unnerstad juga ada; Tamasya Panci Ajaib dan Tamasya Laut. Lembaran pengabaran bacaan anak mengingatkan para belia pengudap majalah jangan sampai melewatkan rentetan buku. Anak dan keluarga diajak, “Milikilah seri ini selengkapnya.”

Edith Unnerstad hanya satu dari sekian penulis yang mengabarkan diri. Kita masih akan menemukan nama-nama pengarang bacaan serial anak dan remaja yang digandrungi seperti, Roald Dahl, Enid Blyton, Astrid Lindgren, Alfred Hitchcock, Franklin W. Dixon, Carolyn Kenne. Sebagian dari mereka telah menjadi legenda dalam penciptaan bacaan.

Memang, sejak tahun 80-an, lembaran majalah anak dan keluarga di Indonesia potensial mengabarkan asupan gizi buku bagi anak. Media turut berperan dalam pola pengasuhan dan mengantarkan keluarga-keluarga Indonesia bertemu para buku. Jika sekolah lebih mengajarkan cara memiliki kartu perpustakaan atau tata aturan meminjam buku, keluargalah yang berotoritas menumbuhkan keinginan memiliki sendiri buku-bukunya.

Seorang bapak, praktisi pendidikan, sekaligus penekun literasi dan anak, Jim Trelease (The Read-Aloud Handbook, 2017), pernah menyinggung kekhawatiran para orangtua di Amerika yang anak-anaknya menyandu buku serial daripada buku-buku klasik. Terlalu banyak fiksi mengkhawatirkan. Namun, Jim mengakui novel serial ibarat lem yang merekatkan anak pada buku. Jim mengatakan bahwa

“…jika anak anda atau murid Anda membaca buku serial, entah itu tentang anak usil, vampir, atau  seorang penyihir bernama Harry, bersyukurlah dan pupuk kebiasaan tersebut. Anak Anda tidak akan masuk penjara. Dia berada di jalan menuju pembaca yang luar biasa yang dengan sendirinya akan siap membaca buku-buku klasik.”

Penyetak biografi bacaan berseri bukan hanya anak atau remaja di Amerika. Kuasa alih bahasa membuat anak-anak Indonesia pun menikmati serial terjemahan. Penerbit-penerbit bersaing menyampaikan bacaan ke publik anak. Majalah anak Kawanku oleh pimpinan redaksi Toha Mohtar malah memiliki rubrik ulasan buku “Laporan Buku” yang ditulis anak. Rubrik berpotensi mengabarkan buku-buku yang terbukti telah dibaca oleh anak-anak.

Sebagai contoh, Laporan Buku Kawanku edisi 8-14 Janurai 1982, menyajikan laporan kumpulan cerpen Leila. S. Chudori berjudul Sebuah Kejutan (PT. Sumbangsih Kawanku dan Sinar Harapan) oleh Eisel. Eisel tidak hanya menyajikan potongan-potongan cerita di buku, tapi juga memberikan pertimbangan, “Kelebihan Leila adalah pada gaya berceritanya yang lincah dan seringkali konyol. Ya, karenanya setelah membaca buku ini kita akan membayangkan alangkah enaknya jika Peter adalah teman sekelas kita.” Di akhir, Eisel malah semacam memberikan usul berbuku bagi teman-teman pembaca Kawanku, “Bukannya ngecap belaka jika dikatakan tak rugi menyisihkan uang jajan untuk membeli buku ini.” 

Daya Baca dan Kepekaan

Bertaut dengan penamaan “laporan buku” tulisan memang lebih melaporkan untuk melatih kepekaan, daya baca, uji menimang buku, dan secara tidak langsung ada pembentukan etos membaca-menulis. Daripada buku terjemahan, halaman laporan buku memang lebih banyak diisi buku-buku garapan penulis Indonesia. Di Kawanku edisi 21-27 September 1979, malah memuat laporan buku Cecilia Cyntia, pemenang utama Sayembara Menulis (Menilai) Buku oleh PT. Dunia Pustaka Jaya yang diadakan bulan Juni 1979. Buku yang dinilai Cecilia adalah Anak-anak Laut garapan Julius R. Siyaranamual. Tulisan Cecilia menampilkan dua bagian: ringkasan dan catatan komentar.

Masih di edisi sama, kita juga bisa menikmati profil Cecilia yang masih duduk di kelas I SMP Pangudi Luhur Jakarta Selatan. Ibu Cecilia, Toety Maklis, memang seorang penlis cerita anak. Hal ini tentu mempengaruhi perselancaran Cecilia ke dunia buku. Sejak belia, Cecilia sudah diasuh oleh buku. Ia bercerita buku kesukaan, “Semua buku-buku yang mengandung cerita-cerita yang menarik. Terutama cerita-cerita petualangan. Saya juga senang membaca buku-buku teknologi, koran dan majalah.”

Dibandingkan sekolah, rumah lebih berperan dalam pembentukan etos berliterasi. Rumah Cecilia memungkinkan berekologi media baca daripada media tontonan televisi apalagi gawai.

Namun, Kawanku tidak ketinggalan mengiklankan bacaan dari pengarang dunia. Kawanku edisi 12-18 Februari 1982 menulis, “SEBENTAR LAGI DAPAT ANDA BELI ALBUM CERITA KAWANKU 43.” Ada Moby Dick garapan Herman Melville, Kouassi milik Jacques Danois, dan Mowgli garapan Rudyard Kipling. Kawanku sekalian memberi petunjuk buku bisa dibeli di toko buku atau bagian tata usaha Kawanku. Daripada kisah bernilai moralis tinggi, muatan petualangan mendebarkan dan menakjubkan lebih memilki kedekatan psikologis dan motorik-imajinatif anak.

Dari lembaran bernuansa anak, pengabaran berlanjut ke majalah perempuan Femina meski tidak lagi soal mengabarkan atau mengiklankan buku. Majalah Femina menjadi perpanjangan peristiwa berliterasi keluarga dengan majalah karena pembaca Femina bukan hanya wanita lajang, tapi juga ibu rumah tangga. Kita tahu bahwa Femina memiliki lebaran anak, Bimba. Femina edisi 18 November 1980 pernah mempromosikan Bimba sebagai media belajar bersama anak dan orangtua, “Bimba menghidangkan aneka permainan, 1001 jenis dongeng untuk dibacakan atau dimainkan bersama antara orang tua dan anak. Karena itu Bimba adalah sarana komunikasi yang aktif dan menyenangkan bagi anak maupun orang tua.”

Di sinilah, tampak bahwa halaman-halaman tercetak Bimba wajib memberdayakan mulut orangtua bercerita atau membacakan nyaring. Satu cerita yang disuarakan dengan tepat, pasti menumbuhkan penasaran baca di diri anak. “20 menit yang membahagiakan” begitu jargon tulisan iklan majalah Bobo di Femina edisi 11 Mei 1982. Tampak ibu, anak perempuan, dan anak laki-laki melihat (membaca) majalah Bobo bersama. Bobo tidak mau luput mewartakan kehangatan keluarga bersama kata-kata.

Yang sepertinya sulit dilakukan oleh beberapa media sekarang adalah memberi kadar tampil resensi buku anak di rubrik resensi (umum) setara dengan resensi buku dewasa-umum. Krisis resensi buku anak juga bisa disebabkan kurang pengirim-pembaca-pengulas buku anak. Buku anak dinilai kurang bergengsi secara intelektual. Di koran, majalah, atau media daring, resensi buku anak masih belum sepenuhnya menjadi sajian pembaca publik. Seperti yang pernah diputuskan oleh rubrik “Resensi Buku” majalah Femina. Edisi 9 Oktober 1979 pernah menampilkan resensi Ediati Kamil untuk buku anak garapan tiga penulis; Gemar Menggambar jilid 1-5 (Tino Sidin), Puisiku Duniaku (Eka Budianta), serta Bingo, Anak Singa yang Penakut dan Bang Samson (Kak Marya). Meski kadarnya masih tetap tidak sebanding dengan buku umum-dewasa, rubrik berusaha tidak mendiskriminasi buku anak masuk dalam deretan koleksi bacaan. Femina sadar para pembacanya adalah juga orangtua.          

Lembar pengabaran literasi anak mewartakan bahwa buku sama penting dengan susu, makanan, vitamin, atau liburan sekalipun asupan intelektual berupa buku dan bacaan lain tidak sesering asupan biologis.

Gerakan Literasi Sekolah yang mulai mewabah di sekolah beberapa tahun terakhir ini, melengkapi pertanggungjawaban moral agar anak tidak hanya membaca selama sekolah tapi juga sepanjang hayat. Meski, bacaan anak berupa buku cerita tidak mungkin dikabarkan ala buku pelajaran yang wajib setiap tahun dibeli dan dimiliki.


Setyaningsih
Esais, Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Kontributor penulis buku Jassin yang Kemarin (2017)
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara