Kover buku adalah bagian visual yang pertama kali menimbulkan kesan. Bagi sebagian pembaca ia juga menyimpan kenangan.

/1/

Pernah, sebagai taruhan atas kekalahan dan perjanjian, saya harus mencari buku Dewi Lestari, Akar, dengan kover yang edisi pertama. Teman saya hanya mau buku Akar dengan kover yang edisi perdana, sesuai dengan perjanjian, bukan kover untuk edisi-edisi berikutnya yang beredar di toko buku. Novel Akar dengan sampul edisi perdana memiliki kenangan yang sangat berarti dalam hidupnya, tapi buku itu kemudian dipinjam, berpindah tangan lalu beralih ke tangan berikutnya, dan akhirnya tidak pernah kembali.

Dalam kover Akar yang edisi pertama itu, teman saya memiliki memori visual yang tidak mungkin dimiliki dan dibangkitkan dari kover novel Akar edisi terbaru yang sudah berganti. Nostalgia membutuhkan rasa imajinasi visual yang tidak boleh dikhianati. Kover baru tentu saja tidak mungkin memenuhi memori nostalgia lawas. Sampai sekarang saya belum juga berhasil mendapatkan novel Akar dengan kover seperti edisi perdana, meski sudah setahun lebih berkali-kali mengunjungi toko buku loak di berbagai kota dan lapak online.  

Pada kesempatan yang lain, saya mengurungkan niat membeli buku Sokola Rimba. Padahal saya sudah mempersiapkan uang, pergi dengan semangat ke toko buku, bertekad untuk membeli, membaca, dan membuat esai apresiasi. Alasannya sederhana: kover buku itu sudah diganti dengan poster film. Tentu saja bukan Butet Manurung yang sedang mengajarkan aksara di hutan rimba, tapi berganti foto adegan seorang artis. Saya hanya tidak ingin kover buku mengganggu bahkan mengelabui imajinasiku saat membaca. Apalagi, membaca adalah tindakan imajinatif individual yang harus dilakukan dengan modal uang, pengalokasian waktu luang, pengoperasian imajinasi privat.

Sekarang mulai marak bahwa kover buku edisi perdana, setelah difilmkan, tiba-tiba diganti dengan poster filmnya, seperti buku Catatan Seorang Demonstran yang kovernya pernah tiba-tiba berubah, dari Gie ke Nicholas Saputra, atau beberapa novel laris seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Laskar Pelangi, Perahu Kertas, dan seterusnya. Barangkali foto film masuk dalam buku dimulai sejak tahun 1977, dengan kehadiran foto Saijah dan Adinda dalam novel Max Havelaar (mulai cet.4).

Bagi penerbit, kover baru mungkin dianggap membawa keberuntungan yang menjanjikan, dengan menghadirkan popularitas visual sinematografis untuk menggugah calon pembeli. Kover buku dengan mengambil poster film dianggap bakal mendongkrak angka penjualan. Buku atau novel yang difilmkan, apalagi laris, berarti peluang tambah agar masyarakat tergoda membeli atau mengoleksi kover edisi poster film. Masyarakat pemirsa ini mungkin tidak cukup sekadar menonton filmnya. Mereka, yang belum pernah membaca buku aslinya, juga bisa jadi bakal tertarik untuk membeli bukunya yang jadi sumber awal film. Atau, bisa jadi bagi sebagian orang kover baru dengan poster filmnya mungkin dianggap lebih bagus daripada kover buku lama.

/2/

Tiap tampilan kover buku tidak pernah sesederhana sekadar menampilkan huruf judul buku atau visualitas isi. Kover buku memang membutuhkan pertimbangan yang kompleks: melibatkan kepentingan pemasaran, pertimbangan daya persuasif pada calon pembaca, pengenalan dan penguatan identitas kelas buku, penjaga identitas kelas penerbit, selain tentu saja sebagai pengantar dan pelindung material isi buku.

Seperti dikatakan perupa kover buku Ong Harry Wahyu bahwa merancang kover buku itu ibarat “seorang yang menulis kata pengantar sebuah buku dalam kaidah-kaidah bahasa rupa” (Koskow, 2009: 28). Kover buku, sebagai pengantar yang sangat penting dan yang langsung dihadapi pembaca, tentu tidak ingin menyesatkan calon pembacanya, termasuk dengan mengganti kover buku, dari tokoh realis faktual ke tokoh fiktif sinematografis. Nicholas Saputra tentu saja tidak mungkin bisa menggantikan Soe Hok Gie, Butet Manurung tidak bisa tergantikan oleh Prisia Nasution, dan seterusnya. Dalam hal ini, kover buku kalah dan inferior di hadapan poster film.

Dan satu fungsi kover buku yang sering diabaikan, seperti dikatakan A.D. Pirous, adalah sebagai “media kenang-kenangan” bagi pembaca (Koskow, 2009: 114). Penggantian kover buku dengan poster, penerbit sering tidak memperhatikan memori para pembaca. Kover buku sebagai penampung kenang-kenangan bagi pembaca dan sekaligus sebagai identitas otentik buku seharusnya tidak begitu saja dikhianati dengan menampilkan kover baru. Para pembaca di Indonesia memang tidak pernah memprotes apalagi sampai melakukan demonstrasi akibat memori imajinatifnya diganti bahkan dikhianati.

Barangkali karena para pembaca Indonesia sering manut saja dan para perancang kover buku sering tidak begitu memperhatikan rasa historis kover buku. Kover buku adalah ruang sosial-imajinatif yang bertaut dengan rasa memori imajinatif-historis buku dan pembacanya. Banyak buku klasik khususnya novel-novel klasik Indonesia modern yang dicetak ulang dengan pergantian kover tanpa henti bahkan mengkhianati rasa imajinasi klasiknya.

/3/

Sejak tahun 2000 sampai 2005, Balai Pustaka telah mengganti 47 kover buku, termasuk karya sastra klasik Indonesia yang diterbitkannya (TEMPO, 17 Juli 2005). Yang menarik, tapi bagiku malah agak ironis, karya sastra klasik para sastrawan Indonesia berganti sampul yang bernuansa keremaja-remajaan. Sebagian besar perpaduan menggunakan lukisan kasar berupa wajah seseorang dan pilihan warna yang lebih cerah. Sasaran kover baru ini adalah para remaja Indonesia.

Saya tidak tahu apakah pilihan kover itu sudah sesuai dengan sasaran pembacanya. Saat memegang sampul buku karya sastra klasik terbitan Balai Pustaka, lalu membandingkan dengan beberapa kover bernuansa klasik (lawasan) dari Jogja, saya langsung merasa kasihan pada para sastrawan kita. Kover-kover baru itu seperti tidak memiliki dan mengandung estetika seni rupa yang agung. Saya tak begitu yakin akan mengoleksi buku-buku klasik dengan sampul baru yang, bagiku, gagal memenuhi harapan visual untuk nuansa klasik dan mewah.   

Dan, dari perubahan pilihan sampul ini, kita tahu bahwa penerbit yang sudah berusia 100 tahun pada 2017 ini itu tidak pernah merasa perlu membuat tradisi kover yang khas dan berakar dalam tradisi budaya visual yang ada dalam berbagai kebudayaan (etnik/agama) di Indonesia. Kita memiliki tradisi visual yang sangat panjang, baik dalam arsitektur, kain, ritual, dan sebagainya, yang bisa menjadi inspirasi kover buku untuk edisi khusus. Semua itu bisa menjadi tradisi kover sebagai ciri khas kover Indonesia.

Saya pikir, tidak ada salahnya penerbit yang sudah berusia sangat tua, seperti Balai Pustaka, membuat kover bernuansa klasik kultural (come back to classic, come back to indigienous visual).

Memang, pada buku yang hendak ditampilkan dalam kesempatan tertentu, katakanlah pameran buku kenegaraan seperti saat menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair, sampul buku sewajarnya menampilkan visualitas kover yang berakar pada budaya masyarakat. Cuma, semua buku itu susah sekali ditemukan di toko buku atau lapak buku daring.  

Balai Pustaka sampai sekarang juga belum pernah menerbitkan buku dengan sampul edisi khusus, kover persis cetakan pertama atau kover klasik khusus katakanlah, untuk dikoleksi masyarakat pembaca Indonesia. Kita tampaknya tidak hendak membangun tradisi kover buku yang memang bernuansa lawas untuk buku-buku klasik. Padahal, dalam tradisi perkoveran di Eropa, buku klasik selalu dicetak ulang tapi dengan sampul yang tetap bernuansa klasik bahkan sangat mewah.

/3/

Sejak tahun 1990-an, yang dimotori penerbit rumahan di Yogyakarta, ada greget kuat untuk merancang sampul lawasan, khususnya yang digarap Ong Harry Wahyu atau Buldanul Khuri, untuk menyebut dua tokoh perkoveran. Namun, kover lawasan ini tidak diterapkan pada novel-novel klasik Indonesia atau Nusantara yang diterbitkan ulang, bahkan kita seakan disuguhi dengan kover bernuansa teenlit mutakhir—kecuali, untuk menyebut beberapa, novel Hikayat Kadiroen, Student Hidjo, Nyai Dasima. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer edisi luar negeri jauh lebih berhasil menampilkan ciri khas budaya visual Indonesia, saya kira.

Tradisi kover buku yang memiliki nuansa grafis/visual yang khas Indonesia, sejalan dengan tradisi membaca buku, masih kabur dan belum terbentuk yang menjadi konsensus bersama. Buku-buku yang sudah dianggap klasik pun masih tidak jelas harus diberi nauansa kover seperti apa. Daftar pustaka visual pembaca pada kover buku masih terus dihancurkan. Dan para pembaca buku Indonesia masih belum memprotes dan rasa memori visual imajinatifnya masih diabaikan penerbit dan perancang kover.


Mohamad Fauzi Sukri
Selain bergiat Pengajian Malem Senin Solo, jadi peneliti di Bilik Literasi Solo, sekaligus menjadi redaktur Ora Weruh dan perancang kaver buku terbitan Jagat Abjad.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara