Pembahasan tentang hak cipta di dunia penerbitan selalu menjadi perbincangan yang menarik. Tema itu selalu hangat untuk disuguhkan baik dalam kaitannya dengan Balai Pustaka ataupun penerbit-penerbit kiwari.

DALAM SEBUAH GUYONAN di masa awal ketika saya ingin memiliki penerbit, Adhe sebagai salah seorang mentor bagi generasi kami, melempar satu kalimat yang membekas kuat sampai kini: "belum (resmi) jadi penerbit kalau belum menghasilkan sepuluh buku."

Dua tahun yang lalu, saya memilih untuk tidak berkomentar apapun tentang penerbitan atau berani mengaku sebagai penerbit. Namun sekarang, saat buku kedua belas hendak kami luncurkan, saya sudah cukup percaya diri untuk mendaku sebagai penerbit dengan awalan huruf 'p' kecil. Oleh karenanya, saya hendak ikut rembuk terkait apa yang menjadi perbincangan beberapa hari ini.

Copyright. Hak cipta.

Asal mulanya adalah ketika Kun menyampaikan kabar lewat jalur pribadi bahwa Gambang sedang 'ditegur'. Saya kira itu hanya akan jadi kabar antar kami atau penerbit, tapi kemudian Dea lewat akun media sosial mengunggah screenshot surel tentang hal itu. Yang artinya, publik pun menyimak.

Perbincangan semakin bergerak jauh ketika Ronny Agustinus, Hetih Rusli, Mas Buldan dan rekan dari akun Daun Malam turut mengetengahkan pendapat mereka. Pro dan kontra. Sampai akhirnya, Indrian Koto melakukan hal yang sama dengan maksud membuka perbincangan.

Sebagai penerbit, saya yakin semua tahu setiap konsekuensi yang diperoleh dari apa yang dipilih, direncanakan, dan dilakukan. Kita sudah cukup punya bekal pemahaman bahwa hak cipta bukan sesuatu yang bisa begitu saja dikesampingkan, tapi juga tidak soal jika hendak dilanggar. Masalahnya adalah, sadar dan siapkah kita akan setiap konsekuensi dari dua pilihan itu?

Pembahasan hak cipta di dunia penerbitan buku selalu menarik sejak dulu. Penerbit kecil berpikir bahwa menerbitkan buku dalam skala mikro bukanlah masalah besar. Apalagi kita berniat mengenalkan, memopulerkan nama baru. Sedang penerbit besar akan menganggap hal-hal demikian sebagai gangguan yang merusak gerak pasarnya. Mereka (konon) pada akhirnya melakukan beberapa cara untuk mencegah itu terjadi, dengan membeli hak cipta hanya untuk membatasi gerak penerbit tertentu misalnya, atau supaya berkesempatan memiliki kuasa melakukan teguran.

Sebagian dari kita (penerbit) tahu, atau minimal pernah mendengar, istilah domain publik. Satu solusi di mana penerbit berkesempatan menerbitkan naskah tertentu tanpa mengurus hak cipta. 

Telah diatur dalam UU No.28 Tahun 2014, Bab IX tentang Masa Berlaku Hak Cipta dan Hak Terkait, bahwa suatu karya lepas apabila telah berumur tujuh puluh tahun setelah Pencipta Meninggal Dunia.

Penerbit-penerbit alternatif, termasuk kami di OAK, memilih terjemahan naskah domain publik karena alasan finansial. Kami mengakui itu. Dari sanalah rencana kerja dimulai: menerbitkan empat sampai lima naskah domain publik, untuk kemudian mengatur tabungan dari penjualan agar kelak bisa mengurus hak cipta, jika diperlukan, atau minimal membayar royalti pada penulis.

Kemajuan teknologi yang berimbas pada kemudahan akses, mestinya turut menjembatani masalah ini. Sampai saat ini saya masih belum mendapatkan jawaban rasa penasaran seputar bagaimana dahulu Balai Pustaka atau Pustaka Jaya mengurus hak cipta. Apakah melalui surat-menyurat yang artinya memakan waktu yang lama? Atau menemui penulisnya? Misal Sartre. Terjemahan Pintu Tertutup yang merupakan kerja Asrul Sani terbit pada 1979, sedangkan Sartre meninggal pada 1980.

Seandainya kita memang tidak bisa menemukan agen pengarang luar yang memegang hak cipta naskah yang kebetulan kita inginkan, alih-alih korespondensi langsung dengan penulisnya, maka tidak ada salahnya saya kira mencoba lewat agen Indonesia.

Dalam satu kesempatan, saya dan Dewi Kharisma Michellia menemui Pak Santo dari Maxima Agency di Depok yang biasa mengurus hak cipta. Setelah berbincang ringan, ia sempat berpikir sejenak. Nampak betapa bingungnya ia menghadapi situasi yang kami paparkan: mengurus sebuah naskah 'tua', ditambah oplah yang juga kecil. Saat itu ia hanya berkata akan mencoba mencari info, sembari sebenarnya memberi kode agar kami maju terus saja asal memang dalam oplah yang minim. Sampai saat ini, saya belum memperoleh kabar lanjutan.

Hal-hal seperti itu sebenarnya bisa kita lakukan. Sekadar mencari tahu. Bahwa kemudian langkah itu misalnya membawa kita ke jalan buntu, maka itu adalah perkara lain. Setidaknya kita sudah mencoba.

Dalam kasus Gambang, saya tidak bilang mereka salah. Saya beruntung karena mengenal Juan Rulfo lewat terjemahan Pedro Paramo. Nama itu adalah nama yang asing di telinga saya sebelumnya. Upaya memperkenalkan nama baru adalah hal baik yang bisa dikerjakan penerbit alternatif, sebagai pembeda atas hasil kerja penerbit lain. 

Namun saya kira tak ada salahnya juga ketika kita tahu ada penerbit lain yang akhirnya memiliki hak cipta buku yang bersangkutan, kita mengalah. Kecuali kalau kita memang mau bermuka-muka dengan segala konsekuensinya, dan dengan diksi “bermuka-muka” saya lantas teringat satu sajak Chairil Anwar yang memuatnya, dan menyodorkan satu adegan akhir: binasa-membinasa, (yang) satu menista, (yang) lain gila.

Kun, bagi saya, telah melakukan keputusan yang baik. Kami berkirim pesan, dan keputusan untuk menarik buku dari peredaran, sudah cukup tepat. Setidaknya hal itu membantu menghindari bola liar. Selanjutnya, saya percaya Kun akan melakukan pembicaraan privat antara Gambang dan agen untuk beberapa hal yang mungkin diperlukan.

Kami di OAK pun tidak benar-benar bersih. Kami memang tidak ditegur, atau mungkin belum. Kami menerbitkan naskah Llosa, Sang Pengoceh, karena saya sangat kagum padanya saat pertama membaca Siapa Pembunuh Palomino Molero?. Baru belakangan kami tahu hak ciptanya telah resmi dimiliki penerbit lain. Saya belum mencari tahu judul apa saja yang telah dipunyai, tapi saya percaya bahwa jika kita ingin dihormati sebagai penerbit terkait hak, maka kita perlu melakukan hal yang sama: menghormati sesuatu yang telah menjadi hak mereka. Pun bila tindakan itu pada akhirnya tidak menguntungkan kita.

Benar bahwa penerbit besar perlu proaktif mengunggah informasi terkait hak cipta yang mereka peroleh, akan tetapi sebagai penerbit kecil, tak ada salahnya kita melakukan verifikasi yang sama.

Banyak jalan menuju Roma. Maka banyak pula cara bagi penerbit untuk bergerak pada tujuannya. Dan kita bisa memilih, mau mengikuti jalan yang lurus, jalan pintas, atau tidak menempuh jalan mana pun sama sekali.

Saya pribadi suka yang zig-zag.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara