Di Bojonegoro, sebuah zine diterbitkan oleh anak-anak muda dengan nama "Klandesteen". Ditujukan untuk menumbuhkan minat baca dan rasa ingin tahu dalam berbagai hal, juga sebagai upaya untuk tak hanya menggerutu.

MALAM HARI yang begitu gerah bukan nuansa bagi para penghuni Kota Bojonegoro. Kota kecil di Jawa Timur yang berada di perbatasan Jawa Tengah tersebut memang tak pernah lepas dari hawa panas. Namun, tak membuat para penghuninya menjadi beringas, sebaliknya penuh dengan kasih sayang dan ketenangan. Sehingga bisa dibilang, di Bojonegoro tidak terlalu banyak dinamika, polemik, maupun konflik.

Syukurnya para pemuda Bojonegoro memiliki banyak kelebihan yang bisa dibanggakan. Banyak sekali komunitas yang tetap militan di jalur mereka masing-masing. Walaupun memang tak mudah untuk membesarkan Kota Bojonegoro agar mampu menggelora namanya hingga menjadi bahan perbincangan di skala nasional. Karena kerap kali khalayak kurang mengenal kota yang berjuluk kota ledre tersebut. Namun satu dekade ke belakang, Bojonegoro mulai dikenal sebagai kota minyak karena mampu menyumbang jutaan barel minyak mentah tiap tahunnya.

Kendati demikian, tentu sorotan utamanya adalah pergerakan para pemuda Bojonegoro yang tidak bisa diremehkan. Mereka memiliki skena bawah tanah yang cukup kuat, usianya sudah lebih dari satu dekade. Mereka pun aktif menggelar gigs dan membuat karya-karya album musik yang boleh diadu dengan kugiran-kugiran kota besar.

Tetapi kerennya lagi, selain sibuk berkarya di bidang musik, skena bawah tanah yang memiliki nama Cah-Cah Kolektif tersebut juga merasa perlu untuk berkontribusi dalam bidang literasi. Sebab masih banyak anak-anak muda Bojonegoro yang salah kaprah mengartikan Punk, Anarkisme, Kesetaraan Gender, dan lain sebagainya. Sehingga akhirnya, Cah-cah Kolektif memproduksi sebuah Zine.

Cerita awal terbitnya Zine tersebut bisa dirunut ke penghujung tahun 2016 tepatnya di hari Jumat, 09 Desember 2016. Ada tiga remaja tanggung yang bernama Reisza Romadona, Gustomi, dan saya sedang berdebat tidak jelas serta mengeluh atas segala kedunguan para pemuda-pemuda yang kerap merusak kesucian underground.

Sambil melolos sebatang rokok, Gustomi berbicara hingga berasap-asap keluar dari mulut dan hidungnya. “Anak-anak muda masa kini mudah sekali menelan mentah-mentah segala informasi yang ada,” ujarnya menghempaskan latu rokoknya ke tanah.

Lalu, Reisza pun menyahut dengan santai seperti tanpa dosa, dia merasa anak-anak muda memang sedang di fase poseur, tak perlu disalahkan. “Iya, memang. Tapi mesakke, masak malas banget membaca, pada literatur juga mudah sekali ditemukan.

Saya pun tak mau tinggal diam untuk urun angan kepada mereka berdua yang sibuk mengeluh. “Daripada sibuk mengeluh, mari kita hidupkan Zine, media informasi di kalangan bawah tanah yang hampir punah tersebut,” jelas saya.

Lalu Gustomi menimpali dengan nada lirih,”Lha, terus siapa yang isi tulisan di Zine tersebut?”

“Saya siap mengisi segala tulisannya, paling tidak pembahasan di edisi pertama harus hal-hal yang mendasar,” jawab saya.

Reisza yang masih mengamati obrolan saya dan Gustomi pun angkat bicara. “Matoh. Ayo segera direalisasikan!” sahutnya dengan penuh semangat membara.

Selanjutnya, ketiga pemuda tadi tentu mendiskusikan dengan Cah-cah Kolektif, dan akhirnya memutuskan setuju untuk membuat sebuah Zine. Tentu alasan utama mereka membuat sebuah Zine adalah mencari kesibukan untuk memberi makan ego di sela-sela kesibukan mereka memberi makan jiwa dan raga. Sebab, mereka mulai lelah dengan terus-menerus menggerutu tanpa memberikan kontribusi serta solusi yang tepat atas keluh-kesah mereka selama ini, seperti yang diobrolkan ketiga pemuda lajang tadi.

Mereka pun memiliki lingkaran pertemanan yang memiliki selera musik berbeda-beda, visi pun tak sama, latar belakang yang beragam, namun mereka selalu merekatkan lingkaran ini dengan Do It Yourself (D.I.Y) Ethic dan kultur/attitude bawah tanah atau biasa disebut juga Underground. Rata-rata tentu mereka memiliki sebuah kugiran dan apabila menoleh satu dekade ke belakang, Cah-cah Kolektif telah banyak sekali menggelar gigs. Beberapa dari mereka tak hanya berkarya di dunia musik, ada juga yang berkarya dalam bentuk artwork. Selain itu, ada juga yang berkarya melalui sablon. Sisanya, mereka adalah buruh.

Nah, entah kenapa hasrat dalam dunia tulis-menulis tiba-tiba sangat menggairahkan mereka, seperti bunga matahari yang sedang merekah cantik. Dengan penuh harap, semoga api semangat tersebut tak pernah padam dan asa yang mereka genggam tak pernah patang arang. Lalu singkat cerita, mereka mulai memilih nama yang untuk Zine ini. Ada beberapa nama yang diusulkan, dari mulai Asal Nga-War (baca: ngawur), Asal Cetak, dan sebagainya. Namun, kalau melihat pergerakan membuat dan mencetak Zine ini, tiba-tiba mereka ingin memberi nama yang sesuai dengan gerakan sembunyi-sembunyi kami ketika kelak mendistribusikan Zine ini kepada khalayak yang memang tertarik dengan Zine kami.

Alhasil, muncullah kemudian nama KLANDESTIN (secara rahasia; secara gelap; secara diam-diam). Agar lebih terkesan semangat muda yang terus berkobar, mereka ganti sedikit di akhir suku kata “TIN” berubah menjadi “TEEN” (remaja).

Pendistribusian KLANDESTEEN ZINE akan dicetak menggunakan dana kolektif secara independen dari lingkaran pertemanan Cah-cah Kolektif. Sehingga Zine ini murni sebuah pergerakan nirlaba (non-profit). Nantinya juga, mereka tidak memiliki jadwal khusus untuk penerbitannya per edisi. Mereka menerbitkan sesuai kapasitas mereka yang mungkin masih jauh dari kata mumpuni, tapi mereka terus jaga semangat agar tak pernah berhenti berkarya.

Semoga KLANDESTEEN ZINE bisa memberikan kontribusi nyata untuk banyak orang, minimal anak-anak muda di Bojonegoro. Semoga juga bisa menumbuhkan minat membaca serta rasa ingin tahu yang tinggi dalam berbagai hal. Akhir kata, kami ingin ucapkan selamat membaca, menikmati, serta berpikir lebih luas.

KLANDESTEEN ZINE #1 berisi 16 halaman yang berisi tentang puisi Wiji Thukul dan artikel tentang stigma skena underground, pelecehan seksual, dan laporan penelitian bisnis militer perusahaan pengeboran minyak di Bojonegoro. Tak lupa ada juga karya artwork dari Cah-cah Kolektif yang memiliki kelihaian dalam dunia menggambar. Zine tersebut dicetak menggunakan art paper dan dijual seharga Rp 15 ribu, uang hasil penjualan juga digunakan untuk tumbuh kembangnya Cah-cah Kolektif.


Bhagas Dani Purwoko
Kurang ngaca, banyak baca. Inisiator situs guneman.co.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara