Kisah-kisah yang bersumber dari kitab suci adalah jalur bagus pengenalan agama untuk anak-anak. Ia menggurui tanpa terasa, menanamkan perintah tanpa berkhotbah.

SABDA yang tersampaikan adalah cerita. Kata-kata memasuki relung batin kanak-kanak memasuki alam spiritualitas tanpa ancaman. Kitab suci yang menemani laku sembahyang usai menjadi kata-kata yang bercerita. Ada kejadian dan kisah tentang orang-orang suci tanpa harus awalan pesan wajib diteladan. Pesan meneladan hadir perlahan dengan didahului oleh hati dan perasaan yang ingin mengenal, merasa dekat oleh peristiwa kudus di masa lampau.

Kehadiran buku-buku kisah atau cerita untuk anak-anak yang terlahir dari kitab suci pernah menambah koleksi bacaan keluarga selain buku-buku doa, tuntutan beribadah, atau dengan sendirinya sang kitab suci. Ada semacam pengingat bahwa buku-buku kisah memasuki keluarga sebagai ejawantah pendidikan beragama. Buku cerita dikemas menarik, penuh warna, dan bergambar, menjauh dari kesan buku-buku agama terbitan sekolah yang biasanya sulit dibuat dengan gaya banyak bercerita.

Kta dapati beberapa buku mutakhir terjemahan dan bukan terjemahan yang membuat pengajaran kitab suci; Seribu Bulan: 360 Kisah Keajaiban Al-Qur’an (Kalil, 2013) garapan Nurul Asmayani, The Toddlers, Cerita Alkitab Bergambar (Alice Saputra Communications Co., 1996) garapan V. Gilberts Beers, Kisah Binatang dalam Al Qur’an (Daffa Media Jakarta, dieditori Iin Indarti), Cerita Hikmah Jelang Malam, Kisah-kisah dari Al-Quran untuk Anak-anak (Dian Rakyat, 2007) garapan Saad Ismail Salabiy, dan Perempuan dalam Kitab Suci (Genta, 2013) Margaret McAllister, Buku Cerita Alkitab (Saksi-saksi Yehuwa Indonesia, 2013), Muslim Kids Love Al-Qur’an (Qibla, 2016) oleh Ayunin, The Best of Fabel Al-Qur’an (Wahyumedia, 2016) garapan Adji Annisa Zakiandini, Seri Cinta Nabi oleh penerbit Qibla yang diterjemahkan dari penulis Turki, The Christening Bible, Alkitab untuk Anak Baptis (Genta, 2012) garapan Lizzie Ribbons dengan ilustrasi oleh Paola Bertolini Grudina, dan Journey inti the Bible, Perjalanan Seru di Masa Alkitab (Genta, 2010) oleh Lois Rock dan Andrew Rowland.

Masih ada banyak cerita kitab suci dikemas dalam bentuk komik untuk anak-anak. Buku-buku jadi berkah era cetak saat anak-anak tidak hanya menerima kisah religius dari lisan. Sering kita dihadapkan bahwa karya terjemahan cerita kitab suci memiliki corak teks dan ilustrasi lebih memukau.   

Kita cerap pengantar yang sungguh apik dari Cerita Alkitab Bergambar dialihbahasakan oleh Eunice Santoso:

“…tujuan kami dalam Cerita Alkitab Bergambar adalah membantu anak Anda jatuh cinta kepada Sabda Tuhan. Ini bukan seluruh Alkitab, karena anak Anda belum siap untuk seluruh Alkitab. Itu akan datang kemudian. Tetapi anak Anda sudah siap mulai membina rasa sukacita kepada Sabda Tuhan, dahaga untuk mempelajarinya, nafsu untuk membacanya.”

Dalam pengantar tersebut tidak ada pernyataan dengan kesan mendokrin atau mengharuskan diri langsung melakukan penyerahan penuh menuju keimanan. Beragama juga berjeda dan terkadang dibutuhkan keragu-raguan sebagai jalan terus mencari. Pertama adalah rasa cinta untuk dekat dan akrab ke Tuhan.

Kisah Binatang dalam Al Qur’an menampilkan kalam pembuka yang agak lebih serius. Namun, kemasan tetap bergambar, berwarna, dan berkertas yang halus. Pengharapan tampil dari para penggarap seperti ini:

“Semoga buku Binatang dalam Al Qur’an jilid 2 ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita semua tentang keistimewaan binatang di hadapan Allah. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang selalu dilindungi Allah. Amin.”

Secara naluriah, binatang memang dekat dengan anak-anak. Mereka bukan sekadar makhluk yang biasa, tapi sanggup bercerita lewat kitab suci.

Beban Membaca

Cerita, gambar, syair, dan musik mencipta emosionalitas awal. Cara ini melipat jarak ke masa lalu atas kejadian dan membuat orang-orang suci atau saleh dalam cerita seolah begitu dekat. Dengan gambar dan pengemasan bahasa cenderung bersahaja, anak-anak tidak menganggap kejadian dan tokohnya terlampau agung yang bisa menimbulkan rasa takut dan sungkan. Menyimak cerita kitab suci berarti menyimak dengan menyetarakan segala kisah seolah kejadian sehari-hari.

Christantiowati dalam Bacaan Anak Indonesia Tempo Doeloe (1996) mencatat peran penting penerbitan misionaris, sebagai penerbit awal, dalam menyediakan asupan bacaan religius dan umum bagi anak-anak. Sepanjang 1815-1942 tercatat ada 10 penerbitan menghidupi. Bukan hanya risalah keagamaan atau kitab suci, tapi juga terbit bacaan (cerita) suci untuk anak seperti; Penghidoepan Toehan Isa bagi Anak-anak: Diceritakan di dalam 52 Pasal garapan Mill Duff oleh Balatentara Keslamatan Leger des Heils di Bandung (1923). Ada juga Menadosche Drukkerij Gbr. Que di Manado (1912) menerbitkan Tjeritera Peri Kehidoepan Santoo Tarcisioes Pelindoeng Anak-anak, jang Soedah Menjamboet Sacramen Mahakoedoes dan Soerat Santoo Bapa Pios X, ja’ni Pemerintah dari hal ‘oemoer jang Patoet kepada Anak-anak jang Menjamboet Sacramen Mahakoedoes pada Pertama Kalinja garapan A. Kimeleng.

Kita membayangkan, buku-buku memasuki keluarga dengan cepat dan membuat kesadaran pertama ber-Tuhan dibentuk tanpa ketegangan. Secara psikologis, jelma cerita-cerita kitab suci dalam buku bacaan harian meringankan beban membaca. Bukan kitab nan sangat perlu diperlakukan dengan agung yang dihadapi, tapi buku cerita yang mudah memasuki masa keriangan anak-anak. Mereka ingin selalu memasuki pintu imajinasi yang diberikan oleh pendar kata dan ilustrasi tanpa harus ada pesan atau hikmah disimpulkan dengan mutlak.

Sekarang, penerbitan buku-buku anak bercap agama semakin bersebaran dan bahkan berkesan gencar. Kita bisa menandai penerbit apa saja yang cenderung mendominasi terbitan. Namun, cerita-cerita tidak lantas mengubah cara orang-orang yang mengaku sebagai ustaz atau pendakwah mampu berkoar dalam kubangan cerita religius yang memukau. Mereka tentu sulit bereferensi cerita kitab suci anak-anak untuk membuat beragama tidak berkesan menyeramkan.

Menyedihkan bahwa sepertinya, sejak para penyeru agama terlalu berotoritas memberi penjelasan tatacara beragama, kitab suci mulai kehilangan magis atas cerita-cerita. Kitab suci cukup diserukan sebagai kepastian-kepastian yang langsung menentukan seseorang masuk surga atau neraka, mendapat pahala atau malah meraup dosa dengan bahasa tidak kanak-kanak.

Seolah, seruan sabda hanya ditujukan ke orang-orang tua. Kita tentu begitu jarang mendapati suara di atas mimbar yang hanya memberikan cerita  tanpa kesimpulan-kesimpulan seolah beragama bukan sekadar penyusunan pernyataan-pernyataan hikmah berisi satu kalimat saja oleh otoritas satu orang saja.

Padahal, kitab suci adalah kitab cerita. Kita mengembalikan kesadaran cerita lewat bacaan anak berwarna-bergambar yang membentuk biografi pertama pengenalan atas Tuhan dan semesta alam. Kitab cerita tidak hanya diperuntukkan bagi anak, tapi juga orangtua yang menjadi jembatan pertama untuk menyampaikannya.


Setyaningsih
Penghayat dan pengoleksi pustaka anak. Mengelola blog maosbocah.wordpress.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara