Dalam narasi yang singkat tapi puitis, Sepulveda menggambarkan sebuah dunia yang diam-diam terabaikan. Sebuah dunia di mana keserakahan adalah sebab berubahnya hubungan harmonis manusia dan alam.

“BERTONGKATKAN RANTING itu ia berangkat menuju El Idilio, menuju gubuknya, menuju novel-novelnya yang membicarakan cinta dengan kata-kata yang demikian indah sampai kadang membuatnya lupa akan kebiadaban umat manusia,” tulis Luis Sepúlveda mengakhiri kisahnya.

Antonio Jose Bolivar Proano adalah pak tua yang tinggal di El Idilio, Ekuador. Di tepi sungai Amazon, dilingkung rimbun hutan hujan tropis yang mulai terserang hama: hasrat eksploitasi manusia modern. Ia berasal dari sebuah kampung nun jauh di sana, di mana masyarakatnya doyan bergosip, menyalakan bara desas-desus tentang istrinya yang tak kunjung mengandung.

Mereka akhirnya memutuskan untuk hijrah, dan sampai di tepi hutan yang sama sekali tak mereka kenali. Hujan datang hampir sepanjang tahun. Serangga buas. Tak becus berburu. Singkatnya: kehidupan mereka amat payah. Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo adalah istrinya. Perempuan yang nama lengkapnya amat menyusahkan itu tidak bertahan melewati tahun kedua, ia disergap demam tinggi. Malaria menyiksanya.

Orang-orang Shuar—Sepúlveda menulisnya: penduduk lokal dengan wujud setengah telanjang, wajah dicat sari buah achiote warna ungu dan dihiasi ornamen aneka warna di kepala dan tangannya, datang membantu para pendatang yang bermukim di tepian sungai, termasuk pak tua. Mereka mengajari berburu, memancing, membangun pondok yang kokoh, dll.

Setelah tinggal sendiri, pak tua banyak belajar pada orang-orang Shuar. Ia meski tidak termasuk orang Shuar, namun sikap dan kemampuannya dalam mengakrabi alam sama dengan orang Shuar. Sesudah mereka berpisah, pak tua akhirnya memilih tinggal di El Idilio, di sebuah gubuk yang agak jauh dari pemukim lainnya. Ia doyan menyuntuki buku-buku yang bercerita tentang cinta yang ia dapatkan dari seorang dokter gigi.

Meski sebuah kampung, El Idilio dipimpin oleh seseorang yang disebut walikota yang berwujud lelaki tambun, bodoh namun pongah, dan tak berhenti berkeringat. Ia satu-satunya pegawai negeri di kampung tersebut. Masyarakat menjulukinya sebagai la Babosa alias Siput Lendir.

Pendahulu Siput Lendir tewas mengenaskan. Pemimpin yang punya semboyan “Hidup dan teruslah hidup” itu ditemukan tak bernyawa dengan kepala terbelah parang dan separuhnya hancur dilalap semut setelah sebelumnya cekcok dengan para penambang emas.

El Idilio dan wilayah lain di Amazon memang tengah sakit. Manusia menembus hutan, merangsek apa saja yang mereka anggap menghalangi. Perburuan hewan, penambangan emas, dan ladang minyak menjadi obsesi manusia modern yang tak henti dihinggapi dahaga kekayaan.

Keserakahan itu kawin dengan pemegang tampuk kekuasaan yang korup dan brengsek. Siput Lendir kerap memberikan izin perburuan dan penebangan kayu di hutan-hutan yang usianya lebih tua dari negara manapun di dunia. Para pemukim, selain pak tua, setali tiga uang. Mereka membuka lahan tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam.

“Baik para pemukim itu maupun para pencari emas melakukan segala jenis ketololan di dalam hutan. Mereka menjarah hutan itu tak tanggung-tanggung, sehingga membuat beberapa binatang jadi luar biasa buas... Ada juga bule-bule yang datang dari kilang minyak. Mereka tiba dalam kelompok-kelompok gaduh sambil membawa senapan yang cukup untuk mempersenjatai satu batalion, memasuki hutan dan siap menghabisi apapun yang bergerak.” (38-39)  

Kondisi ini kemudian dibalas oleh alam lewat seekor macan kumbang yang murka dan menyerang manusia. Mula-mula seorang pemburu dungu diterkam dan mati. Kemudian pencari emas, lalu pemukim yang tinggal di dalam hutan beserta seorang kawannya. Mereka semuanya tewas di tangan macan kumbang betina yang sedih penuh dendam kesumat setelah anak-anaknya dihabisi.

Sial bagi pak tua. Ia yang tahu cara menghargai alam dari orang-orang Shuar menjadi satu-satunya orang yang mampu mengatasi kemarahan binatang buas itu. Dengan berat hati, ia terpaksa ikut dalam sebuah ekspedisi perburuan yang dipimpin oleh Siput Lendir. Ketika semua orang menyerah dan kembali pulang, ia ditugaskan oleh Siput Lendir untuk menghabisi macan kumbang, sendirian.

Dalam sebuah pertarungan penghabisan, pak tua akhirnya berhasil mengakhiri ancaman maut sang macan. Dada macan kumbang koyak ditembus peluru dan mati tak berkutik.

“Mengacuhkan nyeri di kakinya yang luka, pak tua itu membelainya, dan menangis tersedu oleh rasa malu, rasa tak berguna, nista, sama sekali bukan jawara dalam sebuah pertarungan.” (105)

Ketika menerima Hadiah Sastra Tigre Juan pada tahun 1988, Luis Sepúlveda—penulis kelahiran Chile yang sempat dipenjara dan diasingkan oleh rezim militer Augusto Pinochet karena mendukung pemerintahan presiden Salvador Allende itu menulis:

“Novel ini takkan sampai ke tanganmu, Chico Mendes, sobat terkasih yang irit ucapan dan banyak tindakan, tapi (Hadiah Sastra) Tigre Juan jadi milikmu juga dan milik mereka semua yang meneruskan langkahmu, langkah bersama kita dalam mempertahankan bumi satu-satunya yang kita miliki.”

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta diterbitkan oleh Marjin Kiri pada tahun 2005 dari judul aslinya Un viejo que leia historias de amor. Seperti paparan di atas, kisah seperti ini kiranya tak asing bagi negara manapun yang mengalami konflik dalam isu lingkungan hidup, akibat kehadiran orang-orang bebal yang punya kapital dan otaknya dipenuhi lanyau.

Buku yang hanya setebal 105 halaman ini menampilkan sebuah karya Luis Sepúlveda yang kuat dan puitis. Meski namanya tak sepopuler sastrawan Cile lainnya seperti Isabel Allende, Arief Dorfman, dan Marcela Serrano, namun hal ini justru memberikan wacana baru, khususnya di kalangan pembaca Indonesia yang kadung mengakrabi para penulis Amerika Latin populer seperti Gabriel Garcia Marques, Jorge Luis Borges, dan Mario Vargas Llosa.

Agustus 2017, Marjin Kiri rencananya akan menerbitkan ulang novel ini. Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta sudah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa dan pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Australia Rolf de Herr serta menyabet penghargaan dalam berbagai festival film di antaranya: Fort Lauderdale Internasional Film Festival dan Adelaide Internasional Film Festival.

Di balik kesuksesan tersebut, ada sebagian kalangan yang tidak percaya jika sastra bisa berkontribusi dalam berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia, termasuk isu lingkungan. Selain itu ada pula yang bertanya ihwal kepedulian ini yang kiranya mengalahkan komitmen politik yang selama ini menjadi ciri banyak penulis Amerika Latin. Menanggapi hal itu, Luis Sepúlveda menjawab:

“Sastra tidak bisa mengubah realitas, tapi sastra bisa mencerminkan—dan memberi cerminan—pada aspek yang sangat penting darinya. Membangun kembali martabat ekologis adalah perjuangan yang sangat politik,” ujarnya.


Irfan Teguh Pribadi
Menulis di beberapa media cetak dan daring. Bergiat di Komunitas Aleut. Blog: wangihujan.blogspot.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara