Dunia literasi membutuhkan tempat baca yang nyaman. Untuk itulah Bandung memiliki Kineruku: tempat membaca, menulis, menonton film, diskusi, menonton pertunjukan musik seperti di rumah sendiri.

“Dalam segala hal, aku sudah mencari ketenteraman dan aku tak menemukannya dimanapun kecuali di pojok bersama buku” –Umberto Eco

*

APABILA Jorge Luis Borges dan Umberto Eco mengibaratkan perpustakaan adalah surga, maka surga pustaka itu salah satunya bisa dijumpai Bandung dengan nama Kineruku.

Kineruku adalah transformasi antara rumah dan buku. Perpaduan antara atmosfer suasana rumah dan ruang kreatifitas, membaca buku, menulis, nonton film, diskusi, dan nonton pertunjukan musik benar-benar dihadirkan bagaikan serasa di rumah sendiri. Konsep-konsep itulah yang sejak awal diusung Ariani Darmawan atau biasa disapa mbak Rani, pemilik Kineruku yang awalnya menamai ‘surga’nya itu sebagai Rumah Buku.

Sungguh beruntung benar mbak Rani itu. Rumah yang berada di jalan Hegarmanah No.52 itu adalah rumah milik keluarga yang dijadikan perpustakaan dan toko buku pada kisaran Maret 2003. Tinggal di sebuah lingkungan kompleks perumahan yang adem karena dirindangi banyak pepohonan dan jauh dari suasana sumpek lalu lintas kota Bandung yang kian hari kian menguarkan suasana macet menjenuhkan, Kineruku mewujud serupa oase, rumah singgah yang pas untuk sekedar melepas penat sambil membaca buku.

Suasana hangat dan hommy di Kineruku benar-benar terasa dan jauh dari kesan monoton selayaknya ruang-ruang baca konvensional lainnya. Tak ada kejenuhan di sana. Sebelum masuk ke Kineruku, pengunjung akan disambut oleh hamparan sepetak halaman asri yang penuh rumput hijau dan aneka pohon hias yang menyejukkan mata. Ruang tamu keluarga yang dijadikan ruang kerja kasir itu dikelilingi aneka pernak-pernik, CD, tas, kaos dan aneka macam stationary. Sebuah meja kayu besar membujur di ruang keluarga yang disulap menjadi ruang pustaka, lengkap dengan kursi-kursi empuk yang siap diduduki.

Sesuai dengan tagline Kineruku; baca, dengar, tonton, dindingnya dipenuhi sekitar 5000 koleksi buku langka yang disusun di atas rak-rak terbuat dari kayu dan susunan batako. Koleksi buku yang terdiri dari buku arsitektur, sejarah, budaya, seni, sastra, filsafat dan buku-buku humaniora berbahasa Indonesia dan Inggris itu ada yang boleh dipinjam dan ada yang hanya boleh diakses di tempat.

Lalu bagaimana cara menjadi anggota perpustakaan Kineruku?

Ada dua jenis keanggotaan di Kineruku, yaitu kategori A dan kategori B. Maksudnya, keanggotaan kategori A untuk meminjam buku-buku berlabel kuning, sedangkan kategori B untuk buku-buku yang diberi label kuning dan biru. Biaya pendaftaran untuk menjadi anggota perpustakaan Kineruku kategori A sebesar Rp 45.000, sementara keanggotaan untuk kategori B dipungut sebesar Rp 95.000,00. Keanggotaan perpustakaan Kineruku berlaku seumur hidup. Semua buku yang dipinjam diberi waktu peminjaman selama 14 hari, kecuali peminjaman film hanya diberi waktu peminjaman selama 3 hari.

Atmosfer suasana rumah terasa lebih teduh karena diterangi cahaya lampu-lampu yang dibungkus kardus dan kertas koran. Jika suntuk membaca buku di ruang utama perpustakaan, pengunjung bisa rileks sejenak dengan duduk leyeh-leyeh di teras belakang menghadap taman.

Selain itu, di Kineruku juga ada kafe kecil yang menyediakan makanan, camilan dan minuman ringan yang bisa dipesan untuk dinikmati sambil baca buku. Sebuah bangunan yang didesain sebagai toko yang menjual barang-barang jadul berdiri di pojok halaman. Toko antik dan lawasan itu diberinya nama ‘Garasi Opa’. Banyak majalah lawas, mainan dan pernak-pernik antik dan piringan hitam dijual di sana.

Di halaman belakang yang dilambari oleh rumput hijau ini biasa digelar berbagai acara, seperti bedah buku, nonton film atau panggung kecil pertunjukan musik. Diantaranya, Seno Gumira Ajidarma pernah bedah buku di sini, begitu juga White Shoes and The Couple Company dan Efek Rumah Kaca juga pernah manggung di halaman belakang Kineruku. Benar-benar surga! Wahai para penggila buku Bandung, nikmat mana lagi yang engkau dustakan?


Andrenaline Katarsis
Andrenaline Katarsis, nama akun yang aslinya bernama Andrias ini nyemplung di dunia buku sejak tahun 2000. Tahun 2004-2006 pernah jadi penjaga perpustakaan - tokobuku 'Das Mutterland'. Kini sedang coba-coba menerbitkan buku secara "indie".
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara