05 Nov 2017 IR Rabbani Bicara Buku

"Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari" adalah buku puisi Kiki Sulistyo, diterbitkan Basabasi pada Mei 2017. Buku setebal 92 halaman ini kemudian menjadi pemenang The 17th Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017 kategori Puisi.

“Memanglah, sebuah panggilan membutuhkan jarak.”

(Kiki Sulistyo)

*

Lebih kurang dua tahun sebelum buku Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? ini diterbitkan oleh Basabasi dan selanjutnya resmi menjadi pemenang The 17th Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017 (Kategori Puisi) bersama novel Dawuk karya Mahfud Ikhwan (Kategori Prosa) dan Lengking Burung Kasuari karya Nunuk Y. Kusmiana (Kategori Karya Perdana atau Kedua), saya secara diam-diam telah mulai khidmat menikmati puisi-puisi Kiki Sulistyo yang dimuat pada rubrik Akhir Pekan koran Kompas. Itu tidak terlepas oleh alasan bahwa dia adalah orang Lombok, orang Sasak yang sama dengan saya.

Saya lalu mengibaratkan buku ini semacam jendela untuk menengok kondisi tanah kelahiran dari dalam rumah bernama Yogyakarta dengan sudut pandang Kota Ampenan. Ampenan, dengan julukan “Kota Tua”, keberadaannya selalu identik dengan sate, pasar, simpang lima, Malomba, dan bekas pelabuhan (kini sudah dihias sedemikian rupa). Namun, ada seserpih hal yang lepas dari keidentikan tersebut: Ampenan sebagai artefak sejarah.

*

Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari?, pemilihan judul tersebut memberi kemungkinan bagi dua tafsiran sekaligus: pertama, tentang beragam hal yang dapat kita temukan di Ampenan sehingga memunculkan pertanyaan “apa lagi yang kau cari?”; kedua, “apa lagi yang kau cari?” sebagai isyarat pencarian masa lalu yang hilang di sebuah kota bernama Ampenan. Tafsiran kedualah yang bagi saya lebih mendekati hasrat Kiki, hasrat untuk kembali kepada kota yang tiang(nya telah) dikaratkan kenangan.

Sebagaimana pengakuannya dalam “Pengantar Penyair”, ia menolak menikung ke jalan sejarawan untuk mendekati Ampenan: Kiki kembali kepada kotanya melalui jalan bernama puisi. Caranya, dengan mengumpulkan dan menyatupadukan kembali ingatan-ingatan masa kecil, ingatan-ingatan yang membekas tentang Ampenan, yang kini barangkali begitu jauh dari kondisi ideal dalam pandangan Kiki.

Pembicaraannya tidak sebatas dimulai dari ingatan dan pengalaman, melainkan penggalian dan pemaparan sejarah juga lewat “Variasi Hikayat Ampenan” (dua judul) dan “pantai ampenan”: pasukan-pasukan dari arah barat (Bali), yang konon selanjutnya menaklukkan dan menjajah Lombok tersebut pertama-tama membangun pemukiman dan kekuatan di sekitar Ampenan, Pagutan, Pagesangan, dan daerah-daerah sekitarnya (lihat Sejarah Lombok karangan Lalu Djelenga dan referensi lain). Pemaparan sejarah Ampenan dari sudut pandang waran Raden Satria Nata rupanya tidak dipilih.

Lebih jauh menyelami puisi-puisi Kiki, dalam “kubur dende” dan “baju pemberian paman” dihadirkan pula konflik-konflik perebutan warisan–sejauh penemuan saya di tanah kelahiran, terutama Lombok Tengah–sangat rawan terjadi, dan tidak tanggung-tanggung hubungan keluarga menjadi pecah tidak tersatukan lagi. Yang sampai kebablasan dan barangkali kedengaran aneh adalah sumpah karena perebutan warisan yang berujung tidak saling mengunjungi, walaupun satu di antara mereka kelak mati duluan.

Hemat saya, ada dua tema dominan yang akan kita temukan dalam sepilihan puisi ini adalah “sesuatu hal tidak terungkapkan” yang hilang di tubuh Ampenan dan kekalahan orang-orang kecil (miskin).

“Sesuatu hal tidak terungkapkan” yang hilang barangkali dapat kita raba-raba begini:

Kiki kecil dengan Ampenan masanya tidak “berjalan” ke hari ini sebagaimana harapan, malah berada pada posisi digilas laju modernitas yang sedemikian deras, para generasi kekinian yang buta dan cenderung abai dalam memandang artefak-artefak sejarah semacam Kota Tua Ampenan, ditambah lagi–sebagaimana diungkapkan Afrizal Malna dalam “Epilog”–ada permainan politik usang yang membiarkan putusnya mata rantai sejarah sebagai bandul konflik untuk setiap terjadinya pergeseran kekuasaan politik, modal, maupun penguasaan pasar. Yang terjadi selanjutnya, menyedihkannya penghayatan dan penghargaan terhadap nilai-nilai sejarah yang dikandung dan seharusnya dirawat sedemikian rupa: ia lantas pupus dan hilang begitu saja.

Tema kehilangan “sesuatu hal tidak terungkap” ini diwakili oleh puisi-puisi semacam “Peta Kecil: simpang lima”, “sekolah dasar nomor lima”, “Beberapa Kenangan Tentang Beberapa Orang: rumah ladang paman kami”, “pancing jero kepek”, “siau lim”, “Januari”, “lonceng makan siang”, “Pegadaian”, “Kristik”, “pulang ke ampenan”, “enam kwatrin”, “ajarkan aku bagaimana memasuki sebuah kota”, “hari kepulangan”, “laut menatapku”, “lubang malam ampenan”, “angin berjalan dari selatan”, “ampenan, kemana aku akan menjelang”, “di ampenan, apa lagi yang kau cari?”, dan “hari tua ampenan kita”.

Tema kekalahan orang-orang kecil (miskin) menuntun kita untuk lebih mendekatkan wajah, menerawang makin dalam Ampenan lewat persoalan orang-orangnya, tidak hanya lewat fisik berupa artefak sejarah. Tentu hal ini juga tidak bisa kita lepaskan dari persoalan tema dominan pertama, terutama persoalan gilasan modernitas, sebab korban yang pertama kali akan berserakan adalah dari kalangan “kaum kecil”.

Ampenan adalah bagian dari Mataram, Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), lantaran itu orang-orang kecil yang sedari awal memang sudah tidak siap untuk bersaing di sentra pekerjaan atau pasar tentu akan tumbang satu demi satu. Di Ampenan, penguasa nomor satu dari pasar barangkali adalah orang-orang Tionghoa, di samping yang lainnya yang juga tidak kalah mumpuni.

Kekalahan orang-orang kecil ini ternyata tidak berhenti sebatas pada lingkup Ampenan, melainkan kini–sebagai salah satu contoh nyata, saya paparkan keadaan daerah saya–bagian selatan pulau ini (terutama Praya Barat Daya, Praya Barat, dan Pujut) pun mulai “berlari” sedemikian lesat, seiring pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) di Tanaq Awu yang sempat menjadi sengketa berkepanjangan, pembuatan sirkuit di Seger Kuta beberapa tahun terakhir, juga pembangunan hotel yang berlanjut tanpa henti lantaran alasan baik turis lokal maupun mancanegara terus berjubel berdatangan. Kedatangan turis itupun pastinya bukan sekadar untuk menginap dan celingah-celingah (lihat sana lihat sini), tetapi mereka secara “sembunyi-sembunyi” mencium potensi lapangan bisnis baru yang berdampak pada ruang untuk orang-orang semacam Kiki kecil pun makin sempit: sesak terhimpit.

Kondisi minimarket semacam Indomaret, Alfamart, dan sejenisnya terus menjamur di atas perekonomian masyarakat kecil yang lembap: mereka dipaksa, ditutupi, dan ditindih kehadirannya seiring yang menjadi barometer berbelanja masyarakat (terutama generasi kekinian) adalah gengsi. Bacalah puisi-puisi berjudul “kampung nelayan, pondok perasi”, “bioskop ramayana”, “kawasan makelar”, “Layar Tancap, Ampenan, 1987”, “papuq kebon”, “paman bun”, “anjing merah”, “mata gunting”, “parang paman”, “tuak tiga kopek”, dan “baju pemberian paman”, niscaya Anda menemukan persoalan-persoalan itu.

Ampenan kini, di dalam sepilihan puisi ini, adalah tempat pisau tajam menumpul, adalah kolase-kolase yang pecah, adalah tempat menunggu berkali-kali kelahiran baru, adalah sisa-sisa tiang dikaratkan kenangan yang sudah masanya untuk menyerah, dan Ampenan adalah yang pada akhirnya memberikan jarak sedemikian menganga, sebuah jarak yang memberikan ruang untuk panggilan: dengking yang makin nyaring dan makin nyaring.

*

Di luar beberapa hal itu, pengangkatan Ampenan dalam puisi-puisi Kiki barangkali memang tidak bisa dilepaskan dengan penggunaan diksi-diksi yang mewakili spirit kedaerahan sekaligus tidak terwakili dalam bahasa Indonesia (perakat, penendak, dan lain-lain). Namun, yang bakal rawan terjadi paling tidak adalah ketidakmengertian pembaca di luar Sasak, toh itu juga tidak menjadi “halangan berarti” bagi sepilihan puisi ini menyabet gelar pemenang dalam The 17th Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017.


IR Rabbani
Menulis di komunitas sastra Jejak Imaji dan Forum Apresiasi Sastra Universitas Ahmad Dahlan (FAS UAD). Alumnus Sekolah Menulis Balai Bahasa DIY angkatan I (2016).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara