09 May 2018 Bandung Mawardi Sosok

Ki Hadjar Dewantara, Pahlawan Nasional, tanggal lahirnya diabadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beberapa buku tentang sosok dan kiprahnya pernah terbit.

KI HADJAR DEWANTARA (1889-1959) tak cuma poster di dinding kelas atau nama untuk disebut dalam pidato pembinaan upacara saat peringatan Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara (KHD) adalah buku. Beliau berperan sebagai jurnalis dan penulis buku. Ide-ide diejawantahkan dalam pergerakan politik kebangsaan dan agenda pendidikan melalui Perguruan Nasional Taman Siswa (1922). Buku-buku jadi siasat literasi memenuhi misi nasionalisme dan peradaban. Kerja besar itu diapresiasi para penulis untuk menggarap buku-buku mengenai biografi dan pemikiran KHD. Buku jadi penghormatan literasi, bacaan bagi publik agar berkenan memberi apresiasi dan meneladani.

Buku kecil berjudul KHD ditulis oleh Soebekti terbit pada tahun 1952. Sampul buku berisi gambar KHD mengenakan jas, berkacamata, dan berpeci. Ukuran buku kecil dan tebal cuma 54 halaman. Seobekti mengingatkan: “… jang akan kami kemukakan ini bukan biografi KHD dalam arti jang sesungguhnja. Hanja sebuah djawaban atas pertanjaan: Siapa orang besar KHD itu?” Buku dimaksudkan menjadi “djawaban luas” agar publik turut mengenali secara mendalam ketokohan dan kontribusi KHD bagi Indonesia, dari masa ke masa. Sumber-sumber untuk membuat jawaban diperoleh dari tulisan-tulisan KHD di pelbagai majalah dan buku pada kisaran 1913-1950.

Buku itu rajin diiklankan di majalah Minggu Pagi. Kita memilih iklan berukuran besar dimuat di Minggu Pagi edisi 18 Mei 1952. Iklan memamerkan sampul buku garapan Soebekti. Isi buku pun dibocorkan: “Riwajat Ki Hadjar Dewantara. Perdjuangannja sedjak 1913. Dari pembuangan ke pembuangan, pandangan hidupnja, pendiriannja mengenai pendidikan, kemadjuan wanita, kebudajaan, dll.” Dulu, buku kecil berharga 4 rupiah. Harga terjangkau bagi pembaca.

Iklan digenapi komentar dan kritik dari Soendoro pada Soebekti. Kita membuka Minggu Pagi halaman 9-10. Soendoro mengingatkan: “Menurut ingatan saja, Ki Hadjar Dewantara tidak begitu setudju kalau orang hidup dibikin riwajatnja. Alasannja ialah dia masih bisa berobah-obah. Djadi kalau ada pudjian didalamnja, bisa merugikan dirinja sendiri.” Pemuatan tulisan Soendoro itu membuktikan redaksi Minggu Pagi memberi ruang polemik bagi pembaca, selain memuat iklan agar buku laris.

Deretan kritik dan anjuran diberikan Soendoro selaku pengamat dan penulis buku (pelajaran) sejarah. Ia pun memberi sanjungan: “Dan pada achirnja kau pinter memilih pelukis jang melukis KHD diomslag risalah. Orang melihat gambar tak ajal lagi pasti bilang: itu Ki Hadjar Dewantara! Pitjinja, raut mukanja semuanja tepat. Dan untukmu dengan besar hati saja mengharap semoga bukumu mengalami tjetak kedua, ketiha, dst. Dan tjoba pula untuk memperbaiki dan memperlengkapinja buat tokoh sebesar Ki Hadjar Dewantara.” Tulisan berbentuk surat itu menandai ada kerja literasi ketokohan di Indonesia menghendaki kritik dan sanjungan.

Pada tahun 1959, terbit buku berjudul Ki Hadjar Dewantara: Perintis Perdjuangan Kemerdekaan Indonesia garapan Pranata. Tebal 116 halaman. Pranata menjelaskan: “Buku ketjil ini bukanlah berisi sedjarah hidup Ki Hadjar Dewantara dalam arti jang selengkap-lengkapnja.” Keinginan menulis biografi lengkap mesti disokong referensi, narasumber, ongkos besar, dan kerja penelitian serius. Pranata memilih menulis buku kecil dan tipis berharapan ada pengantar mengenali dan mempelajari KHD. Pranata menulis: “Buku ini dimaksudkan sebagai pengantar pengetahuan tentang Ki Hadjar Dewantara sebagai seorang pemimpin nasional dan pengantar pengetahuan tentang dalil-dalil adjaran Ki Hadjar Dewantara.” Buku itu menjadi bagian sejarah penting dalam literasi KHD. Pranata tak sempat menghadiahkan buku pada KHD. Pada saat buku dalam proses dicetak, KHD wafat, 26 April 1959.

Buku biografi tipis garapan Sagimun MD terbit dengan judul Ki Hadjar Dewantara, 1974. Buku disusun dalam seri “mengenal pahlawan-pahlawan nasional kita” terbitan Bhratara. Isi buku sederhana dan ringkas untuk mengisahkan KHD. Buku cenderung dimaksudkan sebagai bacaan kaum muda bercap “penerus perjuangan bangsa” agar mau meneladani KHD dalam memberi arti Indonesia pada masa pembangunan. Penulis menempatkan KHD sebagai tokoh besar melalui pemberian 3 sebutan: (1) pahlawan perintis kemerdekaan nasional Indonesia; (2) tokoh perintis kebudayaan nasional Indonesia; (3) pendekar pendidikan nasional Indonesia. Isi buku ini bisa digunakan sebagai materi dalam pembuatan pidato pembinaan upacara oleh guru atau kepala sekolah.

Pada tahun 1985, buku garapan sejarawan Darsiti Soeratman terbit berjudul Ki Hajar Dewantara. Tebal 144 halaman. Penggarapan buku didanai dan diterbitkan oleh pemerintah melalui Depdikbud. Buku memiliki cap “Milik Depdikbud, Tidak Diperdagangkan”. Peredaran buku di perspustakaan, instansi pemerintah, para tokoh, dan pelbagai lembaga pendidikan. Buku mengejawantahkan kehendak pemerintah mengapresiasi KHD sebagai tokoh bangsa. Kebijakan itu dianggap terhormat dan sesuai misi pemerintah untuk menebar ide-ide kebangsaan agar para pembaca merenung dan beraksi demi Indonesia. Buku garapan Darsiti Soeratman memiliki kelengkapan ketimbang 3 buku terdahulu. Pelbagai sumber data diolah cermat dan dibahasakan secara lancar. Buku beraroma sejarah, menempatkan ketokohan KHD dalam pelbagai konteks sejarah, sejak awal abad XX.

Pada tahun 1989, terbit dua buku penting dalam ikhtiar mengenalkan KHD ke publik. Bambang Soekawati Dewantara menulis buku berjudul Ki Hadjar Dewantara: Ayahku, terbitan Sinar Harapan. Pengisahan KHD dilakukan oleh si anak. Buku bersifat kesaksian atau kenangan anak pada bapak. Pembaca disuguhi perspektif berbeda dengan cara penulisan umum. Abdurrachman Surjomihardjo selaku sejarawan memberi tanggapan: “Sebagai tulisan yang berdasar kenangan, memang dapat diamati beberapa kekosongan yang akan terlihat dan pembaca tentu ingin mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap.” Anjuran pun diberikan: “Buku ini berguna bagi pembaca umum, khususnya para pelajar dan para guru yang ingin mendalami nilai-nilai manusiawi dari seorang tokoh pergerakan nasional.” Buku itu memang terasa mendekatkan pembaca dengan KHD berperspektif kenangan. Buku dilengkapi foto-foto bersejarah.

Buku berjudul 100 Tahun Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan garapan Bambang Soekawati Dewantara diterbitkan oleh Pustaka Kartini. Buku ini agak berbeda dengan cara penulisan kesaksian atau kenangan. Buku sengaja terbit bertepatan peringatan seabad KHD.

Siapa KHD? Bambang Soekawati Dewantara sering mendapat jawaban beragam dari para tokoh. KHD memang manusia besar dan terhormat. Sang anak pun ingin turut memberi jawaban mengenai KHD. Usaha menjawab pernah disokong penjelasan dari ibu: “Ibarat planet-planet di langit yang sudah ditetapkan garis edarnya oleh Tuhan Semesta Alam, jalan hidup bapakmu sudah ditetapkan-Nya pula.” Penjelasan singkat itu ditambahi melalui pembacaan buku-buku dan kesaksian para tokoh. Hasil selama puluhan tahun dituliskan dalam wujud buku. Bakti anak pada bapak ditunaikan dengan buku sebagai pembuktian adab literasi seperti ajaran KHD. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara