“Malam minggu terbuat dari rindu,” demikian suara penyair Usman Arrumy terdengar jelas dari depan. Hampir pukul 8 malam ketika itu, di luar cuaca cerah. Jalan di depan kafe tampak ramai lalu-lalang kendaraan.

MALAM ITU malam Minggu, 8 Oktober 2017. Tak heran jika jalanan di Jogja lebih ramai dari biasanya. Area kafe di mana penyair Usman sedang membaca puisinya adalah area yang dipenuhi banyak kos-kosan mahasiswa, sebagian besar dari mereka jugalah yang nampaknya menjadi pengunjung kafe.

Usman Arrumy bukan menjadi penyair satu-satunya yang membacakan puisi. Ada juga Faisal Oddang dan Joko Pinurbo. Setelahnya cerpenis Joni Ariadinata juga maju membacakan fragmen novel karangan Pak Edi Mulyono.

Malam itu malam minggu, tak terhitung ada berapa banyak pengunjung memadati Kafe Basa-basi, untuk mendengarkan pembacaan puisi, untuk mendengarkan sepatah-dua patah kata dari penyair Sapardi, dan terutama pula untuk ini: syukuran menyambut dibukanya satu kafe baru yang dimiliki oleh Pak Edi, Kafe Basabasi.

*

Kafe Basabasi, terletak di gang Sorowajan Baru, Bantul, di antara dua warung kopi yang sudah lebih dahulu terkenal: Warkop Blandongan dan Kebun Laras. Basabasi sendiri merujuk pada nama yang sudah lebih dahulu akrab: wahana publikasi karya sastra daring beralamat basabasi.co, dan penerbit indie.

Kafe ini baru dibuka, dan belum sepenuhnya sempurna. Ia malam itu adalah sebuah ruang luas yang sangat luas berbentuk persegi panjang dengan sisi panjang yang sangat panjang. Di pojok depan, background yang bagian atasnya bertuliskan Gebyar Festival Sastra 2017 terletak dengan warna gelap dominan.

Hanya beberapa neon panjang menerangi ruang itu, sederhana, tapi seperti kata Pak Edi Mulyono dalam sambutannya, tubuh-tubuh yang duduk berdempetan tak terhitung, memadati hampir seluruh titik lantai yang tertutupi tikar dan karpet membuktikan bahwa sastra masih menimbulkan rasa rindu, pun di kalangan anak-anak muda.

Sisi kanan ruang tersusun dari tembok setengah tubuh bersambung dengan kerai bambu berderet, sebagian digulung ke atas memungkinkan angin menelusup masuk: ruangan sesak tapi tak pengap. Sisi kiri deret buku penerbit Basabasi dan Diva Press pada meja, termasuk buku Kasmaran Usman Arrumy, Perkabungan untuk Cinta Faisal Oddang, dan Tahilalat Joko Pinurbo. Masih di sisi yang sama, agak ke belakang, ada meja registrasi dan minuman gratis, aqua gelas atau kopi panas.

Saat Jokpin membacakan puisi, hampir pukul delapan malam ketika itu, pengunjung terus bertambah. Tempat duduk sudah terisi semua bahkan sejak acara belum dibuka, di sisi kiri ruang nampak mereka yang datang belakangan tak segan mengikuti acara sambil berdiri.

Lampu-lampu gantung kecil dan bundar terlihat pada beberapa titik atap, tak dinyalakan memang, tapi dari sana kita bisa membayangkan seperti apa kelak Kafe Basa-basi ini dalam tampilannya yang sudah sepenuhnya sempurna.

Acara Gebyar Festival Sastra 2017 itu dimulai sesuai dengan jadwal yang tertera pada poster yang sudah beredar lama di media sosial dan dalam bentuk spanduk besar nampak di pinggir jalan depan kafe: pukul setengah delapan. Semua tempat duduk penuh, termasuk sedikit deret kursi di bagian paling belakang.

Dalam sambutannya sebagai pembuka, Pak Edi Mulyono menyebut beberapa nama yang sudah populer: Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Faisal Oddang, Tia Setiadi, Usman Arrumy, dan Joni Ariadinata. Semua sudah datang, semua punya peran.

Bersama mereka semua, malam minggu menjadi sangat meriah di kafe itu. Kerinduan akan sastra tumpah ruah tanpa membedakan yang datang sendirian ataupun bersama pasangan: rindu tak membeda-bedakan manusia.

*

Pak Edi Mulyono adalah CEO Divapress dan dia menulis novel yang fragmennya dibacakan cerpenis kondang Joni Ariadinata pada malam itu. Tak aneh memang, Pak Edi adalah seorang sastrawan dan penulis, cerpen-cerpennya sudah banyak yang dipublikasikan, tulisan-tulisannya bisa diakses dalam bentuk cetak ataupun daring.

Tapi novel yang ditulis Pak Edi kali ini adalah sebuah novel yang unik. Judulnya Sunan Ngloco. Sebuah novel yang dikatakan oleh Joni Ariadinata sebagai “suatu upaya menertawakan kelamin, supaya tak menjadi penyembahnya.”

Maka riuhlah para pendengar ketika cerpenis Joni Ariadinata membacakan fragmennya, Bab 13. Teks yang menerabas tabu tanpa jatuh menjadi pornografi karena teks itu sendiri bukanlah tujuan utama. Ada sederet kata yang berpotensi membuat seorang moralis meringis, dari mulai “ngaceng”, “selangkangan”, sampai “ngloco” dan “jembut”, bercampur dengan diksi “serban”, “ilahi”, dan “alhamdulillah”.

Hampir pukul setengah sembilan malam ketika pembacaan fragmen novel itu usai, apa yang terjadi selanjutnya adalah penampilan tarian sufi oleh para santri pesantren Maulana Rumi dengan dipimpin oleh pengasuhnya yang juga seorang penyair: Kuswaidi Syafii.

Di ruang yang tersedia di depan, tak luas, lima orang memakai sikke cokelat, dua berjubah putih, dua biru, dan satu pink memutarkan tubuh ke arah kiri, sementara Cak Kus membacakan puisi doa dengan langgam yang unik dilanjutkan dengan sholawat nabi. Hadirin spontan berdiri, sementara ya nabi salam alaika terdengar memenuhi ruang di luar dan dalam diri, di depan sana para penari maulawi tetap berputar seolah ingin menghisap semesta...

*

“Apa penghargaan tertinggi pembaca untuk seorang penulis?” Demikian penyair Jokpin bertanya. Saat itu acara inti. Dia baru saja selesai mengisahkan bahwa dia suka mengoleksi ragam terbitan untuk satu judul buku sastra yang sama: Duka-Mu Abadi misalnya, dia memiliki empat edisi dari ragam penerbit.

“Selfi dengan penulisnya?” sambungnya disambut tawa hadirin. “Bukan, itu menurut saya adalah penghargaan paling rendah. Penghargaan tertinggi untuk seorang penulis adalah membeli buku-bukunya.”

Acara inti Gebyar Festival Sastra 2017 sendiri baru dimulai pada pukul sembilan kurang sepuluh. Empat sastrawan kemudian duduk di panggung: Sapardi Djoko Damono yang oleh pemandu acara, penyair Tia Setiadi, diminta untuk membahas tentang kondisi kesusasteraan dewasa ini di mana majalah sastra tiada dan ruang-ruang sastra di koran kian terpojokkan. Sementara tiga sastrawan lain, Joko Pinurbo, Faisal Oddang, dan Usman Arrumy diminta membahas seputar penerbitan buku mereka di penerbit Basa-basi.

Yang menakjubkan, acara itu dirancang tanpa batas waktu.

Maka dimulailah secara bergiliran mereka berbicara dalam waktu yang singkat, Jokpin dan Faisal masing-masing hanya enam menit, Usman bahkan hanya empat menit. Jokpin menyinggung betapa susahnya dulu membeli buku sampai kadang harus mencuri baca, Faisal menyinggung pertemuannya dengan sastra dan dia ada menyebut I La Galigo, sedangkan Usman menceritakan keterkejutannya ketika ditawari penerbit Diva Press untuk menerbitkan puisi:

“Ini kali pertama saya sebagai penulis ditawari penerbit untuk mempublikasikan buku.”

Dunia penerbitan buku—termasuk buku sastra—di Jogja memang sedang gemuruh. Pada malam ketika Kafe Basabasi dibuka, misalnya, di Food Park Taman Kearifan kawasan lembah UGM sedang berlangsung malam terakhir Kampung Buku Jogja #3, pesta tahunan penerbit buku indie dan lawasan yang berlangsung sangat meriah dari tanggal 4. Divapress dan Basabasi adalah penerbit yang juga sudah lama ikut memeriahkan dunia buku.

Itu pulalah salah satunya yang dibahas Sapardi kemudian. Penyair yang sebagaimana biasa suka mengemukakan gagasannya sambil berdiri ini, menyinggung perbedaan generasi lama dengan generasi kini. Pada zaman sekarang mempublikasikan buku menjadi mudah, tak ada lagi ketakutan bahwa kita tak bisa menerbitkan buku.

“Jika ada yang mengatakan bahwa sastra kini mati, jangan percaya, itu gombal.”

Demikian kata penyair yang sudah sepuh tapi tetap nampak segar dan sehat ini yang dia ucapkan sambil merapikan jaketnya. Ucapannya itu disambut dengan tawa dan tepuk tangan hadirin.

Terdengar suara gemuruh pesawat terbang melintas di atas. Sesi pertanyaan dimulai setelah suasana kembali hening. Kopi di gelas-gelas hadirin makin berkurang. Pada sesi pertama yang dibatasi hanya 3 peserta, seorang menanyakan latar belakang Sapardi menulis Hujan Bulan Juni. Ini tipikal pertanyaan yang sering diajukan sebenarnya, dan jawaban Sapardi selalu sama:

“Jangan pernah bertanya tentang arti sebuah sajak pada penyairnya, karena Anda pasti dibohongi.”

Lalu dia melanjutkan bahwa dia bisa saja menjawab jika ditanya seperti itu, tapi esok hari ketika dia ditanya lagi, jawabannya akan berbeda. Jawaban Sapardi ini mengingatkan pada konsep kritik sastra objektif dan pragmatik bahwa pemegang makna sebuah teks bukanlah penulisnya, melainkan teks itu sendiri, dan pembaca. Penyair, menurut konsep ini, bukanlah poros yang mengendalikan makna sajak yang dia buat, penyair hanyalah ibu yang melahirkan anak berupa sajak kemudian dia hanya diam melihat sang anak pada akhirnya meninggalkannya ke dunia yang bahkan mungkin tak pernah terpikirkan oleh sang ibu.

Malam makin larut, pukul sepuluh belum lama berlalu. Di luar kafe sepeda motor berderet rapi memenuhi parkiran yang sangat luas. Di dalam Kafe Basabasi sesi kedua pertanyaan baru saja dimulai, sementara suara penyair Tia Setiadi yang memandu acara masih terdengar jelas: seseorang membaca sajak seorang penyair bukan untuk menjadi epigon...


Kredit Gambar : instagram Usman Arrumy
Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara