Seorang penulis memiliki potensi besar untuk menularkan keakraban dengan literasi pada orang lain. Itulah yang dilakukan oleh Dea Anugerah pada suatu hari, di Probolinggo.

KONTRADIKTIF dengan suasana di toko buku Toga Mas yang hanya terlihat satu-dua pembeli, sore itu terdengar keriuhan di sisi sebelah kanan-depan toko buku tersebut. Sesekali terdengar sorakan, pembacaan dan musikalisasi puisi, tebak-tebakan dan keseruan lain yang diselenggarakan oleh Komunitas Menulis (komunlis) bekerjasama dengan Toga Mas. Toko buku tersebut merupakan satu-satunya toko buku besar yang ada di Probolinggo di samping toko-toko buku bekas yang mencoba bertahan disaat kondisi literasi rendah. Kita bisa menebak bahwa kondisi sepinya pengunjung merepresentasikan minat baca rendah masyarakatnya.

*

Saya kaget mendapat info Dea Anugrah akan datang ke Probolinggo. Satu hal yang terpikir adalah 'kok mau ya Dea Anugrah ke Probolinggo'. Yang menjadi penyebab kekagetan saya adalah karena selama ini Probolinggo tak dikenal sebagai kota pelajar, juga tak dikenal sebagai kota yang menghasilkan penulis-penulis muda. Singkatnya, kota kelahiran saya ini tidak potensial untuk menghasilkan penulis muda. Namun, tak baik saya kira jika terus-menerus mengamini hal-hal yang berbau pesimistis seperti yang sebutkan sebelumnya.

Probolinggo rupanya masih punya keinginan untuk membuat perhatian sedikit dalam dunia literasi, agar tak sekadar hanya dilintasi Jember dan Situbondo yang lebih dulu melek dan sadar akan literasi. Dua kota tersebut sudah bisa dikenal karena terdapat beberapa orang yang lahir, besar, ataupun pernah belajar dan sekarang dikenal dalam dunia tulis-menulis. Sebut saja misal; Arman Dhani, Nuran Wibisono, yang keduanya pernah belajar di Jember. Ada alm. Rusdi Mathari yang notabene orang Situbondo.

Apakah Probolinggo bisa seperti Jember dan Situbondo?

Saya melihat Probolinggo sedang menuju ke arah itu, meskipun dalam hal literasi serta lingkungan yang mengarah kepada potensial untuk menumbuhkan penulis muda tak sebagus Jember dengan iklim akademisnya dan Situbondo dengan semangat anak mudanya yang punya kepedulian dan semangat untuk membangun daerahnya. Kedatangan Dea Anugrah saya kira menjadi sinyalemen awal dan sebagai pemacu semangat untuk memunculkan bibit penulis muda. Kedatangan Dea ini berkat Komunitas Menulis (komunlis) yang mengundangnya untuk memberikan motivasi bagi kaum muda di Probolinggo.

Dea seolah menjadi daya tarik tersendiri ketika dia dipanggil oleh MC untuk memulai acara. Wajah layaknya oppa-oppa Korea membuat para peserta pada sore tersebut teriak histeris. Saya pikir, 'Dea Anugrah kalaupun datang saja dan tak usah bahas kumpulan cerpennya, dia akan terus dapat sorakan'.

Betul saja, peserta yang rata-rata masih anak SMP dan sudah kenal pasangan lawan jenis bisa membedakan laki-laki mana yang pantas dikagumi. Ibu-ibu yang kebetulan menemani anaknya di acara yang bertempat di toko buku Toga Mas ini seakan menjadi anak ABG yang ingin mengulangi kisah kasih asmaranya. Ikut-ikutan histeris. Alamak, betapa senangnya saya kira menjadi seorang Dea Anugrah.

Akan tetapi terlihat wajah kikuk dan sedikit risih ketika Dea dikagumi hanya melulu pada persoalan wajah. Dia seakan enggan. Tersirat bahwa ada hal yang lebih penting penyebab dia datang ke Probolinggo. Bukan jumpa fans ataupun meet and greet. Tapi pada persoalan partisipasi dalam mengembangkan iklim literasi dan dinilai dari karyanya. Kesan itu tak dia dapat dari peserta.

Dea bercerita bagaimana awalnya bersinggungam dengan buku. Sebagai anak kampung yang jauh aksesnya dengan kota,membuatnya hanya bisa membaca buku-buku di perpustakan sekolah yang menjadikan sedikitnya pilihan untuk memilih buku yang disukai. Kalaupun ingin membeli buku harus ke kota yang jaraknya jauh dan itupun hanya ada satu toko buku. Dia baru bisa menyukai dan memutuskan untuk menulis ketika memutuskan kuliah di Jogja.

Hal yang tepat ketika Dea memberikan konteks dan latar belakang alasan mengapa dia akhirnya memutuskan untuk menjadi penulis. Bukankah selama ini banyak yang melepaskan seseorang yang sudah sukses dengan faktor-faktor determinan penyebab kesuksesannya? Dengan kata lain, kesulitan tak lagi dibaca sebagai bagian dari kesuksesan seseorang.

Kesederhanaan kisah dibalik kesuksesannya menghasilkan buku yang diceritakan oleh Dea, seakan menimbulkan kesan menulis cerita tak sesulit yang dibayangkan. Hal itu saya tangkap ketika dia bercerita bagaimana ide-ide dalam menulis ceritanya didapat dari peristiwa yang sifatnya keseharian.

Tak ada kisah heroik dan berdarah-darah dalam menciptakan kumpulan cerpen Bakat Menggonggong dan Kumpulan Puisi Misa Arwah menambah kesan seolah Dea ingin menyampaikan bahwa menulis tidak terlalu sulit.

Tapi ada justru yang hilang yang luput ataupun disengaja tidak disinggung Dea. Yakni, bagaimana dia menekuni dunia tulis-menulis beserta masalah yang kadang timbul yang sering dialami penulis. Kekurangan ide cerita sampai dalam kondisi writer`s block.

Akan menjadi kisah menarik ketika hal-hal sulit yang dialami selama menulis buku turut diceritakan. Peserta seakan tergugah. Ternyata tak ada jalan lurus dan mudah yang dialami penulis. Tak ada sisipan motivasi bagaimana menjadi seorang penulis menyelesaikan masalah dalam membuat cerita.

*

Sore itu, semua mata ditujukan pada Dea. Hari itu seperti miliknya. Panggung, buku, manusia-manusia yang datang semua seolah tersihir. Dea seperti penyebab kehisterisan, dan semoga saja akan berlanjut dengan kehisterisan-kehisterisan lain dalam hal menulis. Layaknya pengagum dan pecinta apa yang dikatakan, diceritakan, maupun disarankan akan dilakukan oleh pengagumnya. Itu yang dia dapat 10 Maret beberapa hari yang lalu itu. Dea punya semua apa yang patut dikagumi oleh para peserta. Penulis buku, masih muda, wartawan, maupun kemiripan wajahnya dengan artis Korea.


Muhammad Shidiq
Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember Sementara berdomisili di Jember, Jl. Jawa 4 no 35d. Tulisannya pernah dimuat di minumkopi.com,
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara