03 May 2017 Dodit Sulaksono Sosok

Mereka yang menyukai cerita pendek yang seram akan bahagia berkenalan dengan cerita-cerita Rijono Pratikto. HB Jassin menjulukinya "Pengarang Cerita Seram", mengingatkan kita pada Edgar Allan Poe.

Rijono mempunyai tempat tersendiri dan seakan-akan membuat dunia sendiri.

Pramoedya Ananta Toer

 

Pada kisaran tahun 1950-1965, perkembangan karya sastra di Indonesia, terutama yang berbentuk cerita pendek dan puisi mengalami peningkatan yang signifikan. Masa itu dikenal dengan julukan sastra majalah, dimana hampir semua media massa terutama majalah, baik itu majalah sastra dan kebudayaan maupun majalah populer menyediakan ruang khusus bagi pemuatan karya sastra, yang kebanyakan adalah cerita pendek dan puisi. Namun perkembangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari munculnya cerita-cerita pendek di masa sebelum kemerdekaan.

Menurut Bakrie Siregar, sejarah sastra Indonesia modern mulai dengan lahirnya kesadaran sosial dan politik nasion Indonesia. Mas Marco Kartohadikromo dianggap sebagai pelopor dalam penulisan sastra menggunakan bahasa Indonesia. Selain menulis novel roman berjudul Student Hidjo yang terbit tahun 1919,  beliau juga menulis cerpen berjudul Semarang Hitam dan Tjermin Buah Kerojolan di tahun 1924 dan Roesaknja Kehidoepan di Kota Besar di tahun 1925 dengan menggunakan nama samaran Synthema.

Angkatan sastrawan Pujangga Baru juga memunculkan cerita-cerita pendek yang kemudian menjadi pondasi awal bagi perkembangan cerita pendek pada angkatan sesudahnya. Pada tahun 1936, Balai Pustaka menerbitkan cerpen-cerpen karya Muhammad Kasim yang dikumpulkan dalam buku berjudul Teman Doedoek.  Tradisi menulis cerpen dengan gaya Muhammad Kasim yang sederhana dan penuh humor kemudian dilanjutkan oleh Soeman Hasibuan atau Soeman Hs yang karya-karyanya banyak diterbitkan di Majalah Pandji Poestaka dan kemudian dikumpulkan dalam satu buku berjudul Kawan Bergeloet yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1941. Sebelumnya pada 1940 Balai Pustaka juga menerbitkan buku kumpulan cerpen karya Hamka berjudul Didalam Lembah Kehidupan. Menurut Boejoeng Saleh, dari ketiga kumpulan cerpen tersebut mutunya lebih tinggi jika dibandingkan dengan novel-novel atau roman-roman yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Setelah masa kemerdekaan, seiring dengan munculnya banyak media massa, baik koran maupun majalah, yang menyediakan ruang khusus untuk memuat karya-karya sastra, baik itu puisi maupun cerita pendek, baik itu karya asli maupun terjemahan menumbuhkan antusiasme dalam tradisi menulis sastra di Indonesia. Muncullah kemudian istilah sastrawan Angkatan 45 yang menggantikan generasi sebelumnya yang lebih dikenal dengan nama sastrawan Pujangga Baru.

Idrus, menurut saya adalah salah satu peletak dasar cerpen modern Indonesia setelah kemerdekaan. Kumpulan cerpennya yang berjudul Dari Ave Maria Ke Djalan Lain Ke Roma diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1948. Salah satu cerpennya yang terkuat yakni Surabaja menunjukkan sisi sinis Idrus yang gelap ditampilkan dengan humor dan kata-kata yang sederhana seperti warisan cerpen-cerpen karya Muhammad Kasim dan Soeman HS.

Nama lain yang menurut saya memiliki karakteristik yang kuat dalam karya-karya cerpennya adalah Utuy Tatang Sontani juga Pramoedya Ananta Toer. Cerpen-cerpen karya Utuy menurut saya lebih humoris dan sederhana dibandingkan karya-karya Pramoedya yang berat dengan kata-kata dan sangat gelap. Buku kumpulan cerpen karya Utuy Tatang Sontani yang pertama kali terbit berjudul Orang-orang Sial dan diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1951. Salah satu cerpennya yang dimuat dalam buku tersebut yang berjudul Bendera menurut saya adalah cerpen sinis yang humoris namun sederhana dalam penggunaan kata-kata.

Pramoedya, sementara itu, banyak menulis cerpen yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dalam beberapa buku yakni Subuh, Pertjikan Revolusi, Tjerita dari Djakarta dan Tjerita Dari Blora. Salah satu cerpen Pramoedya yang menurut saya kuat adalah Sunji Senjap Di Siang Hidup yang terbit di majalah Indonesia edisi Juni 1956. Cerpen ini sangat gelap dan berat dalam penggunaan kata-katanya. Cerpen ini menurut saya adalah pijakan baru Pram dalam menulis prosa dan menunjukkan usaha Pram untuk melepas semua bebannya dalam menulis akibat guncangan kehidupan personalnya yang tragis.

Pada generasi di bawahnya, nama-nama seperti S.M. Ardan, Soekanto S.A, Ajip Rosidi dan Rijono Pratikto muncul menyeruak dengan karya-karya cerita pendek yang lebih segar. Dari beberapa nama tersebut, Rijono Pratikto menjadi salah satu yang terkemuka dan jenuin, karena beliau tidak menerbitkan karya-karya selain yang berbentuk prosa.

Menurut Ajip Rosidi, cerpen-cerpen awal Rijono ditulis ketika masih duduk di bangku SMP di tahun 1949 dan buku pertamanya terbit ketika beliau masih duduk di bangku SMA di tahun 1951. Ketika Rijono tinggal di Bandung, beliau sering ke Jakarta untuk berkumpul dengan kawan sastrawan seangkatannya dan dari pergumulan itulah karya-karya Rijono semakin terasah. Kawan seangkatan Rijono lainnya, yakni S.M. Ardan pernah menuliskan bahwa Rijono menulis untuk menghilangkan kesunyian karena semasa beliau tinggal di Bandung, kawan-kawannya kebanyakan adalah mahasiswa Teknik yang kurang paham dengan sastra.

Kesepianlah pendorongnja menulis. Kesunjianlah jang memberinja kemahiran bertjerita. Bukan mengedjar materi. Kemahiran itu akibat, bukan sebab dia menulis, menulis dan menulis.”

Karya-karyanya punya kekhasan tersendiri dan memberikan kontribusi yang tidak sedikit pada perkembangan sastra modern Indonesia. Kekhasannya dalam mengelola ketegangan dalam kisah-kisahnya sudah nampak sejak karya-karya awalnya. Walaupun masih mentah tapi daya tarik Rijono sebagai penulis cerpen sudah terwujud sejak dari penulisan judul hingga pemilihan kata-kata dalam setiap kalimat. Karya-karya awalnya yang terkumpul dalam buku Api dan Beberapa Tjerita Pendek Lain terbitan Balai Pustaka tahun 1951 menurut A. Teeuw mengingatkannya pada karya-karya Idrus. Terutama cerpennya yang agak panjang berjudul Isak Kawin yang sangat mirip dengan kisah Idrus yang berjudul AKI.

Namun nampaknya Teeuw melewatkan satu cerpen awal Rijono yang berjudul “Dengan Maut”. Cerpen ini pernah dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia, berkisah tentang seorang Guru yang juga seorang penulis. Pada suatu ketika sang Guru diculik oleh sebuah gerombolan dan dibawa ke sebuah tempat untuk dieksekusi. Namun sebelum eksekusi dilangsungkan, sang guru diberi kesempatan menulis.

Ini ada sebuah buku tulis. Dan Kau boleh menulis. Tulislah perasaanmu! Dan anggap ini adalah penghargaanku, sebelum djam 8 pagi.”

Waktu terus berlalu, tapi eksekusi selalu dibatalkan dan perintah untuk terus diberikan.

Untuk kali ini, akan kuhargai pula. Kau boleh menulis kembali, diatas buku baru ini. Dan waktu, adalah tjukup pandjang. Sampai besok pagi djam 8 pula.”

Demikian terus diulang-ulang hingga akhirnya eksekusi dibatalkan dan sang guru dibebaskan. Sang Guru kemudian pulang dengan pikiran yang beku dan tak mampu menulis. Namun gairah menulis meluap kembali ketika karyanya yang ditulis dalam masa sekapan itu menjadi karya yang terkenal.

Karena keunikan dalam  menulis cerpen tersebut, H. B. Jassin dengan sedikit sinis menjulukinya “Pengarang Tjerita Serem”. Julukan ini muncul ketika buku kumpulan cerpen Si Rangka dan Beberapa Cerita Pendek Lainnja diterbitkan oleh penerbit Pembangunan di tahun 1958.  

Menurut Eka Kurniawan, karya-karya Rijono terutama yang dimuat dalam Si Rangka, “tidak bermain di hantu-hantu “kultural” yang diakrabi pembacanya. Ia tampaknya tak tertarik bermain di wilayah “tahu”, dan justru di sinilah kenapa cerita-cerita seramnya tampak istimewa sekaligus modern di waktu bersamaan.”

Si Rangka, cerpen yang melambungkan nama Rijono terbit pertama kali di majalah Zenith No. 7 tahun 1951, ditulis ketika beliau tinggal di Tegal. Si Rangka bercerita mengenai sebuah rumah yang dihantui sosok pemain biola yang hanya bisa dirasakan oleh sang Istri.

Engkau tiada mendengar mas?

Dengar apa?

Suara Viool jang meraju.

Aku tak dengar apa2.

Aku dengar terang benderang.

Dari mana?

Dari Tembok, dari arah tembok sebelahku ini.

Kengerian sang Istri dan berakibat pada tuntutan untuk pindah rumah, sementara rumah baru saja selesai dibangun, membuat sang Suami gundah. Tapi tak segera ia tersadar dengan adanya teror tersebut. Hingga kemudian sang Istri akhirnya meninggal karena kengerian yang tak tertahankan.

Dan Suriah makin tak ingatkan diri. Dan keesokan harinja seluruh rumah digantungi perasaan suram. Sinar matahari tidak bersinar masuk. Semuanja suram. Benjamin ribut membuat surat2 telgram kesemua familinja dengan perasaan jang gelap dan menangis: diharap kedatangan mereka semua, karena Suriah telah meninggal dunia tengah malam tadi.”

Bagi saya, karya-karya Rijono tidak melulu berkutat di masalah cerita seram. Saya lebih condong mengatakan karya beliau cenderung gelap dan tidak berunsur ideologis sama sekali. Inilah yang menurut saya membuat karya beliau sangat menarik, tema-temanya sederhana dan tidak berusaha menjadi superior di hadapan pembacanya. Nyaris tidak ada usaha Rijono untuk menampilkan tokoh yang heroik dalam kisah-kisahnya, walaupun ada beberapa cerpennya yang berlatarbelakang masa revolusi.

Ada beberapa cerpennya yang sedikit membingungkan, misalnya karena alurnya yang kacau, tapi hal itu tidak menghilangkan mutu cerita yang ingin beliau sampaikan. Cerpennya selalu mengagetkan, karena susah ditebak akhir ceritanya. Cerpen-cerpen lainnya yang ditulis beliau seperti Tjitjit Tikus Diatas Reruntuhan, Pada Sebuah Lukisan, Wadjah, Mabok Dinihari, Haus, Kepandjangannja, Semalam Bersama Ayahku Almarhum, Setia Seekor Andjing, Andjing Pendjaga dan Pembalasan pada Manusia, menurut saya merupakan cerpen yang sukses memantapkan nama Rijono sebagai penulis kisah-kisah gelap, mistis namun tidak murahan ataupun cabul.

Sayang, kedekatannya dengan para penulis Lekra berakibat buruk pada karya-karya yang telah dihasilkannya. Pada tanggal 30 November 1965, dikeluarkan larangan yang dikeluarkan oleh Pembantu Menteri P. D. dan K Bidang Teknis Pendidikan terhadap 64 buku karya para penulis yang terkait dengan peristiwa Oktober 1965, yang dua diantaranya adalah 2 buku karya Rijono, yakni Api dan Si Rangka. Putusan ini belum membuat nama Rijono terkubur dari dunia sastra Indonesia, karena setelah proses penyelidikan di tahun 1966 yang dilakukan oleh pihak intelijen tidak ditemukan keterkaitan beliau dengan PKI ataupun Lekra.

Pada tahun 1969 terbit buku Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia karya Ajip Rosidi, yang berisi kronologis sejarah sastra Indonesia mulai tahun 1900-1968. Dalam buku tersebut tercantum nama Rijono Pratikto “bersama-sama dengan beberapa pengarang lainnya yang sebelumnya sudah terkenal kemudian menulis dalam publikasi milik pihak kiri.” Kalimat ini yang kemudian dijadikan alasan beberapa pihak untuk mendiskreditkan Rijono Pratikto sebagai bagian dari Lekra. Hal ini kemudian berujung pada pemecatan tanpa uang pensiun terhadap beliau sebagai Dosen di Fakultas Publisistik UNPAD di tahun 1987.

Ajip Rosidi sebagai pihak yang merasa bertanggung jawab dengan pencantuman nama Rijono dalam buku Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia kemudian menulis surat terbuka yang mengkritik pemuatan sebuah artikel berjudul “Namanya Tercatat di Kamar Nakoda” yang dimuat di majalah Tempo 16 Juli 1988. Beliau juga meminta agar nama Rijono direhabilitisir dengan mengirim surat kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang saat itu dijabat oleh Fuad Hasan, namun ternyata hingga Rijono Pratikto meninggal di tahun 2005, tidak ada tanggapan dari pihak yang berwenang untuk mengembalikan nama baiknya.

Karya-karya Rijono Pratikto yang sangat banyak kini telah diterbitkan ulang sang putra. Ada 2 buku yang telah diterbitkan, yakni Ba dan Ca. Kedua buku tersebut belum menampilkan semua karya Rijono Pratikto, tapi usaha menerbitkannya perlu diapresiasi agar nama beliau tidak semakin tenggelam dari jagad sastra Indonesia. Saya jadi teringat paragraf penutup cerpen Tjitjit Tikus Diatas Reruntuhan:

“Dan...badannja tertjium truck berat. Roda2 menggilasnja, hingga usus serta otak keluar dari tempatnja masing2. Truck itu nomor 3 dari belakang. Karena sopirnja terkedjut dan tidak melihat menggilas andjing, diberhentikannja trucknja.

God verdom! Andjing!.“

Sebuah paragraf penutup yang mencengangkan. Itulah Rijono Pratikto.


Dodit Sulaksono
Dodit Sulaksono adalah seorang pedagang buku sekaligus seorang ayah. Sosok penyayang sekaligus pemarah.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara