Pernah ada zamannya di negeri ini buku-buku cerita silat berjaya. Pernah ada zamannya pula tempat persewaan buku ramai dikunjungi orang. Kini, dua hal itu nampaknya tinggal kenangan.

IBU saya, Subaijah, sangat menggemari buku cerita silat. Sejauh ingatan yang dapat saya jangkau, siang terik di luar, ia duduk santai di dalam ruang keluarga. Dua matanya suntuk membaca karya-karya Asmaraman S Kho Ping Ho. Sampul buku itu bergambar sosok pendekar dengan garis warna merah dan biru atau merah dan hijau, tertera stempel persewaan buku di  lembar halaman pertama. Kala itu awal tahun 90-an, usia saya belum genap 10 tahun, sedang Ibu berumur 40 tahun lebih.

Almarhum kakak saya, Agus Hariyanto, juga menggemari cerita silat. Dia suka mendongeng petualangan seorang pendekar sakti yang telah ia khatamkan dari tumpukan buku silat karangan Bastian Tito. Wiro Sableng ia tuturkan berlari cepat dari satu hutan ke hutan lain menenteng kapak maut naga geni 212, memburu seorang pendekar buruk rupa yang dengan pukulan tangan kosong sanggup membuat rengkah kepala orang. Perkelahian dua pendekar itu, akan membuat telinga akrab pada bunyi “kreek” yang menandakan tulang remuk atau “dessss…!” yang menandakan bunyi bertemunya dua pukulan tenaga dalam.

Dua kenangan itu sangat berkesan bagi saya semasa kecil. Sebagai seorang bocah yang lebih banyak mendengar: jerit-jerit ketakutan, air mata, kekalutan yang dialami oleh tokoh-tokoh tak bernama dalam kerumunan di suatu kampung adalah peristiwa yang tak pernah saya lihat di lingkungan tempat saya tinggal. Dunia fiksi secara perlahan mulai mengakrabi saya, lewat cerita dari bibir kakak saya, keberanian untuk melawan kejahatan mulai merasuk benihnya di dalam benak.

Saya pun membayangkan bakal menemukan kitab silat peninggalan seorang datuk persilatan di suatu tempat tersembunyi. Saya akan berlatih jurus-jurus langka nan sakti mandraguna di hutan, sungai, ngarai atau dalam gua. Katakanlah tempat terpencil jauh dari khalayak ramai yang sunyi dan hening. Baru saya sadari kemudian, khayalan di masa kanak itu sekaligus episode bersifat repetitif yang juga dialami para tokoh-tokoh utama dalam cerita-cerita silat.

*

Kisah-kisah silat, memang selalu berkait-kelindan dengan tragedi manusia yang terbuang. Melalui sang tokoh utama, trajektori nasib acapkali dimulai dari kesebatangkaraan. Misalnya, kisah berawal dari pembunuhan sadis orang tua akibat perebutan kekuasaan atau bermula dari pembantaian sebuah kampung oleh segerombolan bandit. Kesebatangkaraan lalu menjadi tanda terbuangnya sang tokoh dari riwayat keluarga atau dari identitas etnik maupun ras: ia pun menjadi subjek yang anonim. Kelak, keterbuangan itu, dalam alur cerita lalu menjadi pangkal dari suara keras untuk menyatakan subversi.

Keterbuangan manusia dalam kisah-kisah silat acapkali pula bersifat repetitif. Terjatuh di sebuah jurang, tersesat di dalam gua atau rimba, mengasingkan diri dalam sebuah ruang yang memisahkan sang tokoh dengan khalayak ramai, menjadi episode penting muasal kehadiran seorang jagoan yang menemukan jurus-jurus sakti dari peninggalan atau gemblengan seorang datuk persilatan. Uniknya, sang datuk juga sengaja membuang diri lewat pengasingan diri. Pertemuan tersebut, adalah perjumpaan sekaligus perpisahan sunyi tanpa perantara.

Seno Gumira Ajidarma (SGA) dalam novel Nagabumi I Jurus Tanpa Bentuk (Gramedia. 2009) semisal, masih meramu nasib seorang pendekar dalam corak keterbuangan dan kesunyian semacam itu. Sejak awal cerita dibuka, kita langsung menemui pengasingan diri pendekar tanpa tanding yang secara identitas disumirkan oleh SGA mulai dari nama, keluarga, bahkan golongan.

Aku sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan—tapi mereka masih terus memburuku bahkan sampai ke dalam mimpi. Apakah yang belum kulakukan untuk menghukum diriku sendiri, atas nama masa laluku yang jumawa, dan penuh semangat penaklukan, setelah mengasingkan diri begitu lama, dan memang begitu lama sehingga sepantasnyalah kini tiada seorang pun mengenal diriku lagi?” (Nagabumi I, h 5)

Kita hanya mendapat sedikit riwayat, Pendekar Tanpa Nama —begitulah SGA menyebut tokoh rekaannya, adalah pendekar lapisan teratas dunia persilatan yang bertempur sekaligus membantai seratus pendekar baik dari golongan hitam, putih dan merdeka di atas bukit karang. Usai pertempuran yang dramatis tersebut, ia lalu mengundurkan diri dalam gua yang sunyi.

Tapi kesunyian dalam arti suasana eksternal yang sepi ataupun suasana batin yang teduh dan tenang bukanlah masa depan yang mudah dijelang oleh Pendekar Tanpa Nama. Di dalam gua tempat ia mendirikan rumah sunya dalam samadhi, ia tetap diburu oleh pendekar-pendekar lain. Bahkan setelah ia mengasingkan diri selama 25 tahun.

*

Kesunyian pulalah yang saya dapati ketika mengunjungi persewaan buku Lucky tak jauh dari Kelenteng Hok Tek Bio kota Purwokerto Kabupaten Banyumas. Di dalam ruang berukuran 3 x 4 itu, berjilid-jilid buku cerita silat ditata berjejer dalam satu rak kayu besar. Lanny Purwono atau Oma Lanny berusia 67 tahun tengah duduk sendirian. Hari itu, Jum'at 5 Januari 2018, tak ada satu penyewa buku pun yang datang ke tempat persewaan buku miliknya.

Berlokasi di area Pasar Wage Purwokerto, sepinya persewan buku itu berbanding terbalik dengan riuhnya pembeli dan para pedagang. Sepinya penyewa buku sejak akhir tahun 1990-an, tak membuat Oma Lanny putus asa. Ia justru jadi saksi yang tegar, menyaksikan toko-toko buku di Purwokerto tempat ia dahulu memesan berjilid-jilid cersil tumbang satu demi satu. Toko buku Aneka dan Ganesa semisal, tinggal kenangan jadi lembar catatan nomor telepon yang tertempel di dinding kusam..

Di tahun 1980-an, Oma Lanny bercerita, buku cerita silat pernah berjaya digandrungi remaja sampai orang dewasa. Persewaan buku cersil mudah ditemukan dan ramai seperti halnya kedai-kedai kopi yang menjamur saat ini. Tapi, selera dan minat banyak orang sudah berubah. "Sekarang, dalam sebulan penyewa buku kurang dari 10 orang," kata Oma Lanny.

Oma Lanny mulai membuka persewaan buku di awal tahun 1980, setelah ia berhenti bekerja sebagai pelayan teknis perpustakaan di salah satu universitas swasta di Salatiga. Ia merupakan sarjana ilmu perpustakaan. Pulang ke kampung halaman, ratusan jilid koleksi buku silat miliknya ia keluarkan dari kamar untuk disewakan. "Hanya beberapa yang saya simpan untuk koleksi pribadi. Seperti cersil Sia Tiauw Eng Hong," tuturnya.

Di persewaan buku tersebut, cerita silat memang paling lengkap dibanding koleksi novel maupun komik. Berjilid-jilid cersil berbagai judul karya Gan KL, Asmaraman S Kho Ping Ho, Kim Loa Kiam juga Bastian Tito ditata berurutan. Beberapa kondisi buku kusam dan rusak, kertasnya kecoklatan dan berdebu. Harga sewa satu buku Rp 1000 untuk sepekan.

Ia mengakui, persewaan bukunya tak lagi bisa jadi sandaran pendapatan. Koran bekas lebih laku terjual dimanfaatkan para pedagang pasar untuk membungkus dagangan. Tapi ia terlanjur cinta dengan cerita silat dan tak tega menelantarkannya teronggok dalam gudang. 

"Beberapa memang sudah hilang tak dikembalikan penyewa nakal. Saya ikhlaskan. Itung-itung beramal buku," ujarnya, lalu tercenung.

Mengingat dirinya sudah lanjut usia, ia tak tahu bagaimana nantinya nasib buku-buku cersil koleksinya. Ia juga tak memiliki anak yang bakal ia warisi buku-buku miliknya. Sebagaimana buku-buku cersilnya yang kesepian menunggu pembaca, Lanny juga telah terbiasa dengan situasi sepi. Kesepian telah jadi bagian sehari-harinya selama 20 tahun terakhir.

*

Bagi saya, baik Ibu, Kakak dan Oma Lanny sebagai pembaca juga SGA sebagai penulis, adalah kesatuan pengalaman sepanjang baris-baris yang sama, yakni cerita silat. Para pendekar seperti Bu Kek Siansu, Wiro Sableng, Panji Tengkorak merefleksikan pengalaman pada suatu masa bahwa cerita silat pernah dimiliki setiap orang. Kisah-kisah itu setidaknya, dalam pesan yang amat sederhana, membangkitkan “ilusi” bahwa dimanapun kejahatan muncul pasti dienyahkan oleh kebaikan. Suatu kepastian narasi dimana ketakpastian realitas yang melingkungi Indonesia di tahun 1980-1990 terlihat aman namum diam-diam menggurita berbagai kejahatan dalam satu jalinan kolusi, korupsi dan nepotisme.

Dalam narasi cerita silat, kita memang berhadapan dengan seorang pendekar sakti sebagai makhluk yang diceritakan punya tekad keras mengenyahkan angkara murka. Tapi berhadapan dengan teks Nagabumi, justru sebaliknya, kita berhadapan dengan sosok pendekar yang memilih menulis di atas lontar. Pendekar Tanpa Nama sebagai tokoh utama hadir di luar pagar kekuasaan, membedakan diri dengan para pujangga yang hanya bisa memuji-muji, membesarkan-besarkan citra dan peran raja.

Berhadapan dengan tantangan konkret di tengah situasi politik tingkat tinggi antara oknum-oknum istana yang beraliansi dengan perkumpulan persilatan bersifat bromocorah, Pendekar Tanpa Nama menegaskan lewat kata bahwa siapapun memiliki kemungkinan melakukan penyingkapan kebenaran. Ia dalam pengembaraannya seorang diri mendeskripsikan desawarnana, penyingkapan hidup rakyat di desa-desa yang diminta raja meninggalkan pekerjaan lalu dipekerjakan secara paksa sebagi ulun (budak) dan menyerahkan tanah garapan untuk digantikan oleh simbol-simbol kekuasaan berupa candi persembahan.

Nagabumi merupakan wacana perlawanan terhadap versi tunggal yang disebarluaskan demi kepentingan kekuasaan untuk mengontrol informasi.

Sebagaimana Pendekar Tanpa Nama dalam riwayat kesunyiannya yang panjang adalah kisah sebuah tindakan yang menolak takluk, Oma Lanny saya kira juga bersikap sama lewat persewaan bukunya. “Masa Keemasan” cerita silat mungkin telah berlalu, tapi Oma Lanny memilih bertahan sebab ia percaya dalam cerita silat ada “kesadaran moral” yang berlaku universal: kebaikan dimanapun berada harus lebih tangguh dari kejahatan. Pesan itu ia lontarkan dari ruang sunyi merambat dari buku ke buku terhempaskan hingar-bingar pasar, suara lirih yang mungkin terdengar begitu klise dan beruntung tak pernah punya kesempatan didengar oleh khalayak ramai. (aar)


Abdul Aziz Rasjid
Esais & Wartawan. Bergiat di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto. Penulis Emerging Indonesia Terpilih Ubud Writers & Readers Festival (UWRF).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara