Pasar buku di Semarang tak akan pernah melupakan Pak Edi. Dari koleksi buku dan majalah-majalah lawasnya orang bisa memetik banyak referensi yang kemudian kembali muncul dalam buku baru.

SAYA BERKENDARA menuju rumahnya pada jam pulang kerja pegawai. Bersama Bung Wid—pentolan Kelab Buku Semarang—saya menuju ke kediaman saudagar buku bekas terkondang di Semarang, Pak Edi. Sore belum tenggelam. Bocah-bocah masih asyik bermain sepakbola saat motor bebek yang saya kendarai menyusuri jalan-jalan sempit menuju rumah beliau. Tepat berhadapan dengan masjid, motor segera berhenti dan diparkir rapi. Sampailah saya di depan rumah Pak Edi.

Sudah ada seorang perempuan paruh baya yang tampaknya sudah tahu kalau orang memarkirkan motornya di depan masjid bakal menuju ke rumah Pak Edi. Ia bersiap di depan pintu sembari memberi senyum kepada kami, “Monggo Mas”, sapanya.

Bung Wid langsung menyalami beliau dan mengucapkan belasungkawa atas kepergian Pak Edi pada awal lebaran lalu. Saya yang berdiri di belakang Bung Wid juga melakukan hal yang sama. Kami berdua mendatangi rumah Pak Edi kira-kira tiga minggu setelah kepergian Pak Edi. Meninggalnya mendadak. Kata istrinya, Pak Edi masih bersantai di sore hari dan mengobrol seperti biasanya dengan anak dan istrinya, tapi menjelang Ashar, ia tidur dan tidak bangun lagi.

“Mas tahu kabarnya dari siapa?” tanya istrinya.

“Mas Rukardi yang mengabarkan lewat facebook beberapa hari kemarin,” jawab Bung Wid.

“Masih banyak yang belum tahu soalnya,” katanya lagi.

Rukardi Achmadi-lah yang pertama kali mengabarkan ke publik kabar meninggalnya Pak Edi. Meski ia sendiri mengaku telat mengetahuinya, tapi tanpa kabar dari Rukardi pasti banyak orang yang tidak tahu. Rukardi adalah sejarawan Semarang cum pelanggan Pak Edi. Bisa jadi esai-esai sejarah yang ditulis Rukardi menggunakan referensi dari buku-buku yang dibeli dari Pak Edi. Stok buku kuno yang banyak di sana membuat para kolektor dan sejarawan sering mendatangi kiosnya. Rukardi adalah salah satunya.

Kami berdua ngobrol agak panjang dengan istrinya di depan rumahnya. Kami masih berdiri di depan pintu dan istrinya berdiri dengan posisi menyamping bersandar di pintu. Kira-kira sampai 45 menit lewat, kami tetap berada di posisi yang sama hingga kuda-kuda tak kuat lagi menahan pegal dan kesemutan, kami pamit pulang.

Kami sangat maklum dan tidak sedikit pun berprasangka buruk saat hanya dipersilakan berdiri di depan rumah. Di dalam rumah Pak Edi, tidak ada perabotan lain selain buku-buku yang sudah tertata rapi. Ruang tengah yang berhadapan langsung dengan pintu masuk sudah disesaki tumpukan buku. Tembok rumah sudah tertancap paku bumi yang sudah menggantung majalah-majalah lawas. Rak lemari buku sudah terisi penuh dagangannya. Semua buku berada dalam posisi yang sangat rapi. Konon letak-letak buku itulah sentuhan tangan terakhir Pak Edi kepada buku-buku dagangannya. Semua sudah dipilah, dijejer, dan ditumpuk beraturan. Seperti ia sudah menyiapkan perpisahan baik-baik dengan bukunya.

Semua orang mengakui Pak Edi-lah yang paling kondang di antara para penjual buku di Pasar Johar. Saat penggarapan buku Kepada Buku-buku yang Terbakar Memori Berbuku di Pasar Johar. Pak Edi yang paling banyak mendapat tulisan khusus dari pelanggannya. Ada yang menitipkan doa, ada juga yang menyemangatinya. Seperti yang ditulis Nabiel A. Karim Hayaze’:

”Jangan patah semangat Mas Edi… Kami selalu mendukung! Satu dua kios terbakar, seratus dua ratus buku terbakar, 1000 kios akan buka lagi dan 1000.000 buku bekas akan muncul lagi!”

Keramaian kiosnya dan keseringan orang-orang bertanya di mana letak kios Pak Edi kepada pedagang buku yang lain di Pasar Johar menimbulkan reaksi yang beragam. Bagi pedagang buku yang berkawan baik dengan Pak Edi, pertanyaan itu akan dijawab dengan baik tanpa menyisakan jengkel. Tetapi bagi pedagang buku yang merasa “iri”, mungkin pertanyaan itu dijawab dengan seenaknya. Di antara sesama para pedagang buku, sosok Pak Edi bisa dipandang sebagai kawan mencari nafkah yang baik, atau “lawan” berbisnis yang tidak “fair.”

“Ia sering menyuruh pelanggannya datang langsung di rumahnya. Biar transaksi jual beli buku tidak diketahui pedagang lain,” kata pedagang yang “tersakiti” hatinya karena kiosnya tidak seramai kios Pak Edi.

“Ia tidak mau berbagi ilmu tentang bagaimana menjual buku-buku tua,” kata pedagang lain yang kurang lebar hatinya melihat keramaian kios Pak Edi.

Persaingan di pasar memang tampak terlihat sehat tapi tetap menyisakan rasa ndongkol di hati. Tetangga-tetangga kios Pak Edi barangkali memang ada yang ikut sumringah saat melihat kios Pak Edi ramai, tapi ada juga yang menyimpan rasa muak melihat keramaian itu.

Keramaian di kios Pak Edi tidak luput menyisakan rasa benci di antara para pesaingnya. Semua dinamika itu barangkali sudah dihafal betul oleh Pak Edi. Ia bersikap santai dan kalem saat menanggapi para pesaing yang menaruh benci padanya. Toh, itu perasaan yang wajar dan sah yang dirasakan oleh pesaing yang “kalah.”

Mewarisi Bapak

Mewarisi ilmu berdagang buku dari bapaknya. Pak Edi sangat paham model para penjual atau pembeli buku. Ia barangkali tidak mau mengobral ilmu secara sembarangan kepada semua orang bagaimana cara mengalirkan buku-buku tua kepada para pencarinya. Ia tentu paham mana orang yang pantas diberi ilmu berjualan buku-buku tua. Maka wajar, tidak semua pedagang buku di Pasar Johar memiliki koleksi dagangan yang sebagus koleksinya. Hanya ia yang tahu bagaimana cara mengumpulkan dagangan seperti itu dan tahu cara menjualnya.

Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Pak Edi mulai berjualan buku secara mandiri. Ada yang memperkirakan sekitar tahun 1980-an. Tapi Pak Edi selalu menjawabnya,”Pokoke kawet aku isih bujang.” Kisah Pak Edi berjualan buku bermula dari bapaknya. Ia dibesarkan dari seorang bapak membesarkan anak-anaknya dengan berjualan buku di Pasar Johar. Kios yang ditempati Pak Edi itu adalah warisan dari bapaknya. Ia melanjutkan usaha bapaknya dari bujang sampai bisa menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi. Ia dibesarkan oleh orang tua yang berjualan buku. Dan melakukan hal yang sama ketika menjadi kepala rumah tangga.

Ketika pada 9 Mei 2015 kobaran api meluluh-lantakkan Pasar Johar. Banyak para pelanggan yang mengirim pesan pendek ke Pak Edi. Saat ditanya bagaimana kondisi kiosnya, dengan enteng ia menjawab, “Orak usah diitung, marai rugi.” Saat orang-orang datang ke rumahnya menujukkan rasa simpati, ia dengan senyum yang agak lebar menyapa tamunya sembari mengepalkan tangan kirinya dan berkata “Aku rak popo.”

Kepalan tangan kiri dan sunggingan senyum di mulutnya adalah bukti Pak Edi masih sumringah meski kios ludes dilalap api. Peristiwa itu memang sudah lewat dua tahun yang lalu. Dan kini saat kita akan berkunjung kembali ke kios buku Pasar Johar. Suara canda Pak Edi tak kedengaran lagi.

Keluarganya bercerita Pak Edi meninggal saat keadaan tubuh masih segar dan tidak sedang mengidap penyakit. Tapi gosip sesama teman para penjual buku, konon, Pak Edi meninggal karena tabungan debu buku sudah menyesaki dadanya. Debu buku-buku lawas yang amat lembut dan tipis terus merasuki rongga dadanya. Ia selalu menghirup debu itu, setiap hari, setiap melakoni sebagai penjual buku. Buku telah menghidupinya sekaligus merenggut kesehatannya.

Pak Edi adalah sosok yang pantas kita kenang sebagai seorang yang hidup dan mati bersama buku. Ia menjadi ikon penjual buku di Semarang. Berpuluh-puluh tahun menjadi penjual buku. Semua asam manis dunia niaga buku sudah dilahap dengan nikmat dan hikmat.

“Saya akui, tidak sedikit pelangganku adalah orang yang semula mencari kios Pak Edi tapi nyasar ke kiosku,” kata pedagang yang tadi merasa “iri” dengan kondisi kios Pak Edi.

“Terlepas baik-buruknya Pak Edi. Sosok beliau-lah yang membuat kios-kios buku ramai dikunjungi orang. Semula mereka akan berniat mengunjungi kios Pak Edi. Tapi tidak menutup kemungkinan akan merembet lihat-lihat buku yang ada di kios yang bersebelahan, berhadapan, dan berseberangan dari Pak Edi,” kata pedagang yang semula kurang lebar hatinya kini secara malu-malu mengaku jasa Pak Edi.

Kini, setelah Pak Edi tiada lagi, dan belanja buku di Pasar Johar tak bisa lagi seromantik dulu. Kepergian Pak Edi tentu sebuah kehilangan.

Selamat jalan Pak Edi. Aku masih ingat saat kau mengepalkan tangan kirimu sembari berkata, “aku rak popo.”


Muhammad Yunan Setiawan
Bergiat di Kelab Buku Semarang. Selain aktif di komunitas itu, aktivitas lainnya adalah menjadi muazin “part time” di musala Alharomain
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara