Lahir pada pertengahan 2015, penerbit Kendi adalah penerbit yang bengal sejak dalam rahim. Berbagai hambatan menghadang, tapi penerbit indie yang satu ini tetap kukuh menerbitkan buku-buku kiri, sampai kini.

“lingkungan kita si mulut besar
raksasa yang membisu”

Wiji Thukul

DUNIA BERGERAK memukul-mukul puluhan tahun usia kesunyian sejarah. Dokumen-dokumen kolonial yang tersimpan rapi dalam kotak kaca Orde Baru terpaksa raib. Seseorang diam-diam merampas untuk mewartakan pada kita riwayat panjang pemberontakan dalam usaha merebut dan menegaskan hal yang paling hakiki: kemerdekaan.

*

Pada usia yang belum genap benar menginjak tahun kedua, Kendi sudah mempersiapkan terbitan kedelapannya. Dalih Pembunuhan Massal, karya agung dari John Roosa sedang bersiap menuju gerbong pemberontakan yang sudah dimulai sedari Menjadi Merah, Haji Misbach, Surat Untuk Ben Anderson, Petani Klaten Bergerak, Untung dan Cakrabirawa dalam G30S, Doenia Bergerak, hingga Semaoen.

Ada yang hadir dan tak terelakkan dari Kendi. Bahwasanya Kendi harus rela berhimpitan dengan dua gerak industri.

Pertama adalah industri sejarah Indonesia yang pekat oleh gagasan penjinakan dan pembangunan dalam narasi sejarah resmi. Industri sejarah kolonial berusaha menjinakkan Hindia Belanda lewat peran Indolog seperti Snouck Hurgronje yang mendefinisikan rupa Islam di Sumatera dan Jawa. Bersama juga J.H Boeke yang menyatakan ke-primitif-an hidup di Hindia Belanda lewat ramuan Dualisme Ekonomi.

Industri sejarah Orde Baru adalah tuan selanjutnya dari usaha merumahkan gagasan seputar pembangunan. Pakem Orde Baru mengabadi melalui gagasan sejarah yang berseragam, benturan moral pemberontakan, hingga sesederhana pelarangan rambut gondrong sedari media cetak.

Hal demikian disertai pula dengan penyebaran buku-buku pelajaran dan terbitan pemerintah yang masyur lewat figur Nugroho Notosusanto dalam enam volume Sejarah Nasional Indonesia. Tak ketinggalan empat jilid 30 Tahun Indonesia Merdeka, Album Pahlawan Indonesia, dan lima jilid Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional yang diproyeksikan para cendekiawan Orde Baru.

Kendi tak sekadar hadir dalam monopoli gerak indrustri sejarah Orde Baru. Melainkan ia juga berusaha untuk membongkar dan temu-ciptakan setiap suara yang redup dan yang tersisih melalui setiap terbitannya hingga mencapai tapal batas di sisi kiri peradaban. Monopoli gagasan dan stigma khas Hindia Belanda dan Orde Baru sedikit demi sedikit digerogotinya sedari halaman pertama. Terlebih kemerdekaan memang bukanlah milik Jakarta semata. Maka, usaha merebut dan memelihara kemerdekaan dari Semarang, Solo, Klaten hingga Madiun adalah mata angin bagi Kendi untuk menentukan arah gerak, arah perlawanan.

Jikalau ada satu rongga menganga yang belum tuntas digarap Kendi adalah kritik  pada bias sudut pandang gengster Indonesianis Amerika dalam mendefinisikan sejarah Indonesia modern sedari awal kemerdekaan. George McTurnan Kahin memimpin rombongan Cornell lewat Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia dan The Introduction of Guided Democracy (1957-1963). Juga Ruth McVey yang memimpin rombongan Yale untuk melakukan proyek pendefinisian sejarah Dunia Ketiga lewat volume keempatbelasnya yang merupakan kumpulan tulisan berjudul Indonesia.

Himpitan kedua adalah industri perbukuan yang hadir sebagai konsekuensi dari pemberontakan terhadap industri sejarah. Industri besar perbukuan Indonesia dalam perihal distribusi dan penjualan memiliki sejarah yang tak pernah ramah dengan narasi kritik, terutama sekali kritik yang diusung oleh gerakan Kiri. Sebagaimana logika transaksional dalam rekam jejak industri besar, legitimasi rezim atas librisida untuk membumihanguskan narasi kritik adalah hitungan yang tabu dan tak boleh terulang.

Deretan karya mulai dari Student Hidjo, Hoa Kiau di Indonesia, Demokrasi Kita, Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Lekra Tak Membakar Buku, hingga terbitan terbaru dari Kendi sendiri, Dalih Pembunuhan Massal pernah merasakan vonis industri besar distribusi buku di Indonesia. Karenanya industri besar perbukuan Indonesia hanyalah raksasa bisu yang bermulut besar.

Setidaknya semenjak Batjaan Liar kita selalu punya cara untuk bengal dan tak taat aturan. Begitupun Kendi yang dimotori oleh Reko Pambudi yang menolak untuk terkekang pada industri sejarah dan perbukuan Indonesia sejak awal. Kecintaan yang bertumpuk pada buku setelah kelulusan membawanya masuk dunia bawah tanah perbukuan Jogja di awal tahun 2014, tempat judul-judul langka beradu dan naskah lawas disemai.

Berbekal kemampuan mendaras teks-teks kritis dan dunia bawah tanah perbukuan Jogja yang begitu hidup dan bebas, Reko Pambudi bersama Iqbal dan Bayu Nugraha mendirikan Kendi di pertengahan 2015 dan memilih untuk tetap bengal di jalur alternatif.

Kendi langsung mewartakan dentum pertamanya lewat Menjadi Merah yang merupakan karya dari Yus Pramudya sebagai usahanya menelusuri riwayat Sarekat Islam di Semarang. Sekaligus komitmen Kendi dalam menuntut tanggung jawab penulis generasi muda untuk tak selalu membebek yang lampau.

Kendi semakin menegaskan kebengalannya dari industri besar perbukuan Indonesia. Kerja sama dengan Octopus membuahkan dentum besar dari Haji Misbach yang mengudara hingga hitungan keseribu. Meski dalam persiapan terbit harus memutar otak untuk bongkar pasang tim dan merapikan ulang tata finansial setelahnya. Haji Misbach pada akhirnya tak sekadar berbicara angka, namun juga kecerdikannya bermain siasat dengan rezim yang mendeklarasikan kembali usaha librisida bagi buku-buku Kiri pada medio 2016 di Jogja.

Daulat Kendi pada kebangkitan perbukuan alternatif Jogja yang kedua setahun belakangan adalah cermin dirinya pada tiga penerbit lain.

Komunitas Bambu adalah kiblat bagi Kendi untuk menata visi sejarah yang terlanjur beku agar tak sewenang-wenang menjadi milik kekuasaan.

Bentang Budaya yang melegenda adalah kiblat utama dalam gerak perbukuan Jogja untuk selalu taat pada detail proses penerbitan sedari pemilihan naskah hingga kover buku. Bentang Budaya jugalah pedoman Kendi untuk selalu taat pada konsep temaram dan realis di muka sebagaimana ketika sejarah yang menyakitkan datang pada kita.

Terakhir, penerbit Syarikat yang menjadi domain kedekatan Kendi melalui tiga bukunya Menyintas dan Menyeberang, Ketika Sejarah Berseragam, dan Kudeta 1 Oktober 1965.

Begitulah Kendi memantaskan dirinya dalam gerak kreatif perbukuan alternatif Jogja yang terus berusaha untuk menjungkalkan industri besar perbukuan Indonesia. Setidaknya untuk membuktikan bahwa narasi kritik adalah pilihan tepat bagi wacana politik masa lalu: sejarah. Bahwa oplah yang terbatas, peredaran buku yang tersendat, hingga keuangan yang tersumbat, hanyalah konsekuensi-konsekuensi kecil bagi Kendi untuk lebih berani bersiasat.

*

Reko Pambudi yang keras dan Yus Pramudya yang cerdik adalah Kendi yang bengal untuk tak akan pernah patuh pada omong kosong industri besar perbukuan Indonesia.

 

*Tulisan ini disarikan dari wawancara dengan tim Kendi pada Senin, 17 Juli 2017


Hartmantyo Pradigto Utomo
Berdomisili Semarang. Menetap di Jogjakarta untuk menyelesaikan pendidikan strata satunya sambil menekuni filsafat kuliner.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara