Resensi buku dibutuhkan agar sebuah buku yang terbit terekspos. Bertolak dari niatan menggiatkan kembali aktivitas meresensi buku, diadakan kelas peresensi di Indonesia Boekoe pada 14-15 Oktober 2017.

GELIAT PENERBITAN independen (selanjutnya disebut indie) di Yogyakarta kian subur. Setidaknya itu bisa dilihat dari keikutsertaan penerbit indie pada event Kampung Buku Jogja (KBJ) yang semakin banyak setiap tahunnya. Penyelenggaraan KBJ pertama pada 2015 diikuti oleh 11 penerbit indie. Tahun berikutnya naik menjadi 23 penerbit dan meningkat dua kali lipat lebih di tahun 2017, menjadi 53 penerbit indie. Pertumbuhan ini tentu saja berbanding lurus dengan kuantitas produk yang dihasilkan masing-masing penerbit. Terbitan indie kian kaya dan memberi pilihan bacaan yang makin beragam pula bagi pembaca.

Akan tetapi ada satu masalah serius yang ikut tumbuh. Buku-buku indie yang berlimpah itu tidak diimbangi dengan pertumbuhan aktivitas meresensi di media massa, baik cetak maupu elektronik. Akibatnya, banyak buku yang tenggelam, tidak terdengar gaungnya. Buku-buku itu tidak sampai ke tangan pembaca untuk kemudian dilahap tuntas. Adalah Muhidin M. Dahlan yang mengemukakan masalah ini saat tampil sebagai salah satu pembahas pada Sidang Komisi Redaksi Musyawarah Buku 2017. Pada acara yang diselenggarakan 8 September 2017 di Dongeng Kopi itu, Muhidin mengingatkan kembali perihal eksistensi komunitas peresensi yang cukup produktif pada era awal 2000-an. Sayangnya usia komunitas itu tidak lama. Banyak anggotanya yang memilih menjadi sastrawan, esais, atau malah mendirikan penerbit sendiri.

Dari situlah ide untuk menghidupkan kembali komunitas presensi muncul. Safar Banggai yang sudah dua tahun terakhir menggawangi Warung Arsip lalu membicarakan dengan serius tentang hal ini bersama Muhidin M. Dahlan setelah sebelumnya banyak berdiskusi pula dengan beberapa pelaku penerbit indie di Yogya. Perkara sepinya resensi buku khususnya dari penerbit indie, sudah mengusik Safar sebelum Muhidin mengemukakannya di forum Musyawarah Buku. Dua pekan sebelumnya, tepatnya 23 Agustus 2017, Safar membaca postingan penulis Mahfud Ikhwan di akun Facebook-nya. Mahfud dalam postingannya itu mengutarakan keresahannya atas ketiadaan resensi buku teranyarnya, Dawuk, berbulan-bulan setelah diterbitkan.

Dalam postingan itu Mahfud menekankan betapa pentingnya koneksi bagi seorang penulis, agar karyanya tidak “mati” setelah terbit. Setelah postingan itu ramai dikomentari dan dibagikan di Facebook, ulasan buku Dawuk pun bermunculan semakin banyak. “Dari situ saya mikir, masa seorang penulis harus curhat dulu baru bukunya diresensi ramai-ramai,” ujar Safar saat ditemui di sela-sela Kelas Peresensi pada Minggu, (15/10) di Indonesia Boekoe. Dari banyak obrolannya dengan penggiat buku indie, Safar jadi tahu bahwa Mahfud bukan satu-satunya penulis yang resah bila bukunya tidak kunjung diresensi siapapun. Itulah kenapa saat Muhidin M. Dahlan dengan lantang merekomendasikan di Musyawarah Buku untuk menghidupkan kembali komunitas peresensi, Safar jadi bersemangat. Setelah membicarakan perencanaannya dengan Muhidin, ia lalu menghubungi kawan-kawannya yang pernah menjadi volunteer Radio Buku. Bertindak sebagai ketua penyelenggara, Safar bersama rekan-rekannya lalu merancang konsep, mencari donatur, dan menghimpun peserta kelas pertama dari lingkaran pertemanannya dalam berbagai aktivitas yang diselenggarakan Indonesia Boekoe.

Unsur-unsur Resensi Sampai Editing yang Interaktif

Kelas pertama diselenggarakan dua hari berturut-turut pada 14-15 Oktober 2017 di Indonesia Boekoe, Sewon, Bantul. Hadir 11 orang sebagai peserta dengan Muhidin M. Dahlan sebagai pemateri tunggal. Setiap peserta diwajibkan membawa satu buku terbitan indie yang hendak mereka resensi. Kelas dimulai pada pukul 09.00 pagi setiap harinya. Hari pertama, Muhidin memberi materi sebagai pembuka, yang dilanjutkan dengan praktik menulis resensi. Hari kedua diisi dengan proses pengeditan satu per satu naskah resensi tersebut di dalam forum. Ada pula moment diskusi singkat dengan Solahuddin, dari Marketing dan Komunikasi Bentang Pustaka, tentang pentingnya resensi buku terhadap penerbitan. Pada sesi inilah para peserta dikenalkan pada pola resensi yang beragam serta penghasilan materi yang bisa didapatkan seorang peresensi bila menggeluti profesi ini dengan serius.

Dari 11 peserta yang mengisi kelas peresensi, delapan di antaranya merupakan alumni volunteer Radio Buku. Untuk kelas pertama, memang dilaksanakan terbatas untuk para alumni volunteer dari batch 1 sampai batch 5. Adapun kapasitas yang disediakan sebanyak 15 tempat, tetapi hanya 8 alumni volunteer yang mengisi. Sementara tiga lainnya diisi oleh peserta yang bukan alumni volunteer Radio Buku. Elyvia Inayah dan Karim Ilham adalah dua dari alumni volunteer yang turut serta di kelas ini.

Karim sendiri sudah diajak rembuk oleh Safar tentang kelas peresensi sekitar dua minggu sebelum hari H. Kesamaan pandangan perihal pentingnya kelas ini membuat Karim tak berpikir panjang untuk turut serta. Senada dengan Karim, Elyvia yang merupakan alumni volunteer batch 4 pun bergabung dengan alasan yang sama. Seperti Karim dan enam teman volunteer yang lain, Elyvia ditawari Safar menjadi peserta tanpa proses komunikasi yang rumit. Sementara Arci Arfian sebagai peserta yang bukan alumni volunteer menempuh proses yang berbeda.  Arci aktif berkunjung ke Indonesia Boekoe, baik untuk membaca di perpustakaan maupun menghadiri acara-acara diskusi di sana. “Safar sempat posting sesuatu di Facebook tentang kelas ini. Trus aku tanya-tanya, apa boleh ikut. Dari situ proses terlibat di kelas ini berjalan,”ungkap Arci.

Sebelum kelas berlangsung, peserta diminta membawa resensi yang sudah mereka tulis sendiri beserta bukunya. Oleh Muhidin, peserta lalu diberi penjelasan tentang unsur-unsur penting dalam resensi, misalnya mencari kutipan-kutipan terbaik dari buku tersebut, atau menjelaskan alur dan penokohan bila buku yang diulas adalah karya sastra. Selain itu Muhidin juga menekankan pada para peserta untuk menulis paragraf pertama dengan sebaik-baiknya.

“Kalau kata Gus Muh paragraf pertama itu kayak pertaruhan, jadi harus ditulis dengan sebaik-baiknya. Resensiku tadi disuruh hapus dan buat baru dari awal lagi,” ujar Arci menceritakan proses kreatifnya. Selain soal konten, peserta juga diajarkan untuk disiplin soal tata bahasa.

Baik Karim, Elyvia, maupun Arci mengakui proses editing dalam kelas ini merupakan salah satu bagian yang penting. Saat pengeditan berlangsung, proses komunikasi di antara peresensi dan editor, Muhidin M. Dahlan, dapat berjalan cukup intens. Bahkan sesama peserta pun bisa saling memberi masukan. Elyvia menceritakan proses editing resensi buku Film, Ideologi, dan Militer karya Budi Irawanto yang ditulinya, yang cukup interaktif. “Soal isi, editor minta tambahkan mengapa penulis tidak memilih film Pengkhianatan G30S/PKI sebagai objek kajiannya. Lalu saya jelaskan ke editor kalau penulis buku itu memilih film-film seperti Janur Kuning, Enam Djam di Jogja, dan Serangan Fajar karena ketiganya melatari peristiwa penting militer yakni Serangan Umum 1 Maret 1949,” ungkap Elyvia.

Kembali Ke Buku

Salah satu kutipan tentang resensi yang selalu Safar ingat adalah yang diutarakan Zen R.S. “Jangan terlalu banyak main media sosial, kembaliah ke buku. Jika sudah mengulas sepuluh buku berarti kita sudah baca sepuluh buku pula,” demikian penulis buku Jalan Lain Ke Tulehu itu berujar. Kutipan ini kerap ia bagikan di media sosial dan menjadi semacam kutipan wajib yang selalu diingat peserta keleas peresensi dalam proses kreatif mereka.

Para peserta kelas peresensi ini pun menyepakati bahwa menerbitkan buku itu tindakan mulia. Namun mengulas buku tersebut adalah tindakan lain yang tak kalah mulia. Resensi adalah media untuk memeriahkan buku. Menjadi gelanggang utama sebuah buku bisa dinilai, didedah sedalam-dalamnya.

Meyakini resensi sebagai bentuk diskusi tertulis yang penting, kelas peresensi ini kemudian hendak dipelihara menjadi komunitas yang hidup. Hingga ke depannya bisa cukup produktif menghasilkan berbagai resensi di media cetak dan elektronik. “Ya, sudah saatnya kita kembali ke buku. Merayakan tindakan mulia seperti menerbitkan buku itu, tidak cukup cuma membaca, tapi juga mengajak orang berdiskusi lewat resensi,” ujar Muhidin mengakhiri kelas resensi ini.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara