"Orang-orang Malang" mengantarkan Fyodor Dostoevsky menjadi sastrawan besar dunia. Novel epistolari ini mengukuhkan posisinya dalam dunia sastra sampai-sampai dia disebut sebagai "Gogol yang baru".

SELALU MENARIK jika membaca novel-novel klasik dari sastrawan besar dunia. Isinya yang bisa dibilang cukup ‘berat’ menantang para pembaca untuk lebih khidmat membacanya. Ragam cerita yang ditawarkan lebih sering mengkritik pemerintahan, menyindir kaum-kaum borjuis, membuka kehidupan orang-orang miskin, ataupun kisah-kisah lain dalam kehidupan yang patut direnungkan.

Salah satu karya novel klasik terbaik lahir dari tangan Fyodor Dostoevsky salah satu penulis asal Rusia pada abad ke-19, salah satu penulis yang banyak menginspirasi penulis-penulis generasi setelahnya. Ia dikenal sebagai seorang tokoh yang gemar menggerutu dalam pikirannya (yang kemudian dikenal dengan istilah Stream of Consciusness). Tokoh yang terkenal juga dengan cerita yang mengolok-olok sistem masyarakat, dari moral, politik, sampai budaya tapi pada akhirnya, di usia tuanya, ia menyesal atas hidup yang telah ia jalani. Ia merasa terpental dari masyarakat.

Cerita seperti itu tercermin dari novel pertamanya yang berjudul Poor People. Memang selalu menarik untuk membaca novel perdana seorang penulis besar, karena hal itu memungkinkan kita melihat gaya atau pakem awal penulisan dari penulis tersebut. Pembuatan novel ini memakan waktu sembilan bulan dari tahun 1844 sampai 1845, karya debutnya banyak terinspirasi dari penulis besar Rusia sebelum dia: Gogol, Pushkin dan Karamzin.

Poor People, novelnya yang pertama langsung menjadi pembicaraan masyarakat St. Petersburg mengenai bakat sastra yang ia miliki. Ia bahkan disebut-sebut sebagai “Gogol yang baru”. Saat menulis buku ini, ia masih berusia 24 tahun tetapi sudah mampu menghasilkan sebuah karya yang menuai banyak pujian dari para kritikus sastra Rusia, misalnya Vissarion Belinsky kritikus sastra yang paling berpengaruh pada masa itu.

Novel ini bisa dinikmati oleh pembaca bahasa Indonesia karena terjemahannya sudah diterbitkan penerbit Oak dengan judul “Orang-orang Malang”. Terjemahannya cukup apik dari Hartono Hadikusumo, sedangkan penerbit Oak sendiri adalah salah satu penerbit indie asal Yogyakarta yang rajin menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya sastrawan besar seperti George Orwell, Kafka, dan Mario Valgas Llosa.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, novel ini menggambarkan kehidupan orang-orang miskin di tengah kehidupan kota besar yang keras di abad kesembilan belas. Kisah itu sendiri direka dalam bentuk korespondensi surat antara dua karaktek utama, Makar Devushkin dan Varvara Dobroselova. Makar Devuskhin merupakan seorang juru tulis paruh baya yang bekerja di instansi pemerintahan, sedangkan Varvara Dobroselova adalah seorang gadis muda yatim yang miskin berusia akhir belasan tahun, yang kehormatannya telah dinodai dengan jahat sekali tanpa disebutkan bagaimana caranya, oleh  Tn. Bykov yang kaya.

Selain kehormatannya yang telah direbut, kemiskinan pun hinggap dan merenggut minat sastra yang Varvara miliki. Padahal dari beberapa surat yang ia kirim kepada Devuskhin terlihat gaya penulisannya yang relatif berpendidikan dan berpotensi menjadi seorang penulis yang lebih baik dibanding Devuskhin. Melalui surat-menyurat mereka menceritakan kemalangan yang mereka temui setiap harinya. Dan kemalangan yang dihadapi oleh Varvara selalu ingin dibantu oleh Devuskhin walau ia sendiri tak pernah lepas dari bayang-bayang kemalangan juga.    

Devushkin dan Varenka, keduanya mengalami sakit-sakitan dan nyaris terjebak ke dalam jurang kemelaratan yang paling dalam dan dihadapkan dengan penindasan yang dilakukan manusia-manusia kaya dan pemangsa. Ini disebabkan karena dorongan-dorongan nafsu mereka sendiri yang merusakkan diri, yang tidak bisa mereka cegah. Seperti yang dikatakan oleh Devuskhin, dengan kata-kata yang mungkin bisa dianggap sebagai asas pembimbing dari kisah ini: “Orang-orang miskin itu banyak tingkah . . . itu sudah alami.”

Namun tak perlu diragukan, Devuskhin adalah orang yang baik, suka berkorban dan dermawan. Ini terlihat dari surat-surat yang ia kirim untuk Varvara. Ia selalu ingin memperlakukan Varvara sebagai wanita terhormat, membanjirinya hadiah-hadiah dan membawanya ke teater dengan menggunakan sebagian besar gajinya untuk menghibur Varvara. Kejadian-kejadian itu bahkan hampir saja membawa mereka berdua ke dalam jurang kelaparan.

Devuskhin memang orang baik, tetapi  ia bukan seorang pahlawan. Devuskhin bisa menjadi muram, tidak bisa diandalkan, curang, sombong dan merasa malu akibat kemiskinannya. Terkadang ia juga menghabiskan sebagian uangnya untuk membeli berbotol-botol minuman hingga ia mabuk berat agar sementara waktu ia bisa melupakan dukanya. Kadang-kadang kemiskinannya tampak nyaris mendorongnya menjadi gila.

Devuskhin yang menyerahkan seluruh perhatian dan sebagian penghasilannya demi memenuhi kebutuhan Varvara agar dapat hidup bahagia, memaksa ia harus tinggal di kamar kos yang sempit dan menyiksa agar dapat menghemat uangnya yang pada akhirnya menimbulkan masalah baginya. Lambat laun Makar Devuskhin menyadari bahwa ia tak bisa hidup begini bersama Varvara. Varvara pun memang tak bisa menikah dengan Devuskhin karena ada beberapa masalah yang ia hadapi. Ia akhirnya menikah dengan seorang pria yang lebih kaya daripada Devuskhin; namun itu semua tidak menyurutkan pengorbanan dan menimbulkan penyesalan untuk dapat membahagiakan Varvara.

Selain kedua tokoh yang menjadi  bagian besar dari novel ini, ada beberapa tokoh lainnya semisal Gorshkov dan Pokrovsky, yang kisah-kisahnya sedikit banyak mirip dengan kisah tokoh-tokoh sentralnya. Tentu setelah membaca novel ini akan terbayang betapa susahnya perjuangan hidup orang-orang miskin pada masa itu untuk sekadar bertahan hidup dari hari ke harinya.

Orang-orang Malang telah menghidupkan kembali novel surat-menyurat yang dalam istilah sastra dikenal sebagai novel epistolari (epistolary novel).

Dostoevsky memberikan penyegaran terhadap genre yang sudah kuno itu dengan menggunakan penghuni-penghuni rumah sewa yang miskin sebagai penulis suratnya, bukan para aristokrat berpendidikan sebagaimana biasanya.

Bentuk surat-menyurat ini juga sangat erat kaitannya dengan upaya pada abad kedelapan belas untuk menyamarkan keprihatinan dan kritik-kritik yang ingin disampaikan penulis dalam sebuah novel. Dan bermula dari novel inilah kita kini mengenal Fyodor Dostoevsky sebagai salah satu sastrawan besar di muka bumi.


Rulfhi Alimudin Pratama
Sekarang masih tinggal di Bandung, bergiat, belajar di Komunitas Aleut dan dapat ditemui juga lewat tulisan di upitea.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara