Kadangkala ada masanya seorang penyair berhenti menulis puisi. Tapi andai dia benar-benar seorang penyair, seperti Iman Budhi Santosa, maka selalu ada masanya ia akan kembali, menulis puisi.

IMAN BUDHI SANTOSA adalah kesendirian, adalah kemandirian, adalah soliter, adalah individu, adalah sosok pribadi. Dari situ kita bisa memahami jika saat Persada Studi Klub (PSK) yang didirikannya bersama Umbu landu Paranggi Cs. dipenuhsesaki oleh puluhan mendekati ratusan penyair (dan calon penyair), ia menjadi orang pertama yang minggat dari Malioboro. Tampaknya lipatan kertas di saku bajunya telah menebal berisi nilai-nilai, renungan-renungan yang dicatatnya dari perjumpaan demi perjumpaan dengan situasi dan orang-orang di sekitarnya telah menjadi berkah (sekaligus malapetaka).

Dari pemikiran dan perasaan paling subtil hasil renungan dan penggalian pribadi, Iman Budhi Santosa memahami bahwa proses belajar mencipta puisi (bersastra) yang waktu itu dikerjakan di Malioboro ialah untuk melahirkan karya dari rahim individu dan lahir menjadi individu. Akibatnya, puisi sebagai hasil renungan demi renungan diwujudkannya dengan pergi dan menyendiri: membersihkan ambisi-ambisi dalam diri. Ia tinggalkan Malioboro. Namun, percayalah bahwa kelak ia akan kembali lagi!

Tahun  1971, pada usia 23, Iman Budhi Santosa menikahi gadis pujaan hatinya, Sri Maryati yang berasal dari Desa Kalipakis, Sukorejo, Kendal. Sahabat-sahabat kinasih di PSK mengejeknya yang dinilai epigon dengan menghadiahi sebuah buku kumpulan puisi DukaMu Abadi karya Sapardi Djoko Damono dan sebuah pengilon besar. Hadiah yang seakan hanya akal pokal candaan, namun barangkali itu doa baik (sekaligus buruk) dari rekan-rekannya.

Selepas menikah, karena enggan menerima warisan sebagai lurah, Iman Budhi Santosa pun memilih bekerja dengan menggadaikan ijazah SPbMA miliknya ke PT. Rumpun di pinggang Gunung Ungaran. Tepat tumbuk weton, pada tanggal 28 Maret 1971, hari Ahad Kliwon, ia berangkat seorang diri dari rumah mertuanya menuju kebun teh Medini. Lima tahun menjadi sinder perkebunan teh Medini, tahun 1975 memilih mengundurkan diri. Untuk sekian waktu tinggal di Solo dan menganggur. Sembari menunggu jawaban surat lamaran bekerja, ia memiliki waktu luang yang cukup panjang untuk menulis dan menghasilkan novel silat, Barong Kertapati (1976).

Kabar gembira akhirnya datang juga. Ia diterima bekerja di pabrik gula Cepiring, Kendal. Baru satu bulan, ia tinggalkan bekerjaan barunya itu karena lamarannya ke Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah juga diterima. Meski nilai teh semasa sekolah di SPbMA hanya 6, tapi entah karena faktor x apa ia kembali mengurusi teh dan ditempatkan di Gunung Merbabu, Boyolali. Selama empat belas tahun mengabdi sebagai pegawai negeri, ia pun telah mendapat berbagai tugas dan tanggung jawab. Dari menangani supervisi pembibitan teh di Brebes, Pemalang, Tegal, dan Batang (1980-1981), hingga menjabat sebagai Pembantu Pimpinan Proyek Peremajaan, Rehabilitasi, dan Perluasan Tanaman Ekspor Disbun Provinsi Jawa Tengah di Ungaran (1982). Tahun 1986 pindah ke Subdin Penyuluhan. Tahun 1987 ditugaskan menjadi staf khusus Kadisbun Provinsi Jawa Tengah di Bidang Kehumasan.

Di situlah terjadi malapetaka yang lantas mengakhiri kariernya sebagai pegawai negeri.

Setelah sembilan belas tahun berlalu, tahun 1989, ia tinggalkan begitu saja NIP Departemen Pertanian: 080 040 347 yang dikantonginya, seperti ketika ia ‘tinggalkan’ keluarganya, istri dan ketiga anaknya —Pawang Surya Kencana, Risang Rahjati Prabowo, dan Ratnasari Devi Kundalini, lantas kembali menempuh jalan sunyi yang melintas di kedua telapak tangannya. Inilah salah satu fase titik balik kehidupan Iman Budhi Santosa yang menurut Ragil Suwarna Pragolapati, berdasar ilmu grafologi, ia akan mengalami tiga fase dalam hidupnya.

Iman Budhi Santosa pun pulang ke Yogyakarta. Jelas, semua itu karena ulah sahabat-sahabatnya, seperti Umbu Landu Paranggi, Ragil Suwarna Pragolapati, Linus Suryadi Ag. yang mengganggu dengan datang ke perkebunan, tempat sang penyair bekerja. ‘Kunjungan kebudayaan’ sahabat-sahabatnya itu tentu saja menghantui dengan kalimat-kalimat sakti yang membujuk, mengajak, memikatnya untuk kembali ke “tanah kelahiran kedua bernama Yogyakarta.”

Pada suatu hari Umbu Landu Paranggi datang ke perkebunan teh PT. Rumpun, Medini. Umbu datang tidak dengan tangan kosong, ia membawa satu kardus koran bekas dari Yogyakarta. "Di koran-koran yang saya bawa ini, tidak ada satu pun yang memuat puisi-puisi Anda," demikianlah Umbu berkata.

Pada suatu hari Linus Suryadi Ag. datang ke Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah. "Saya tengah menyusun antologi puisi Tugu dan Tonggak. Puisi-puisimu akan saya masukkan. Di mana pun kamu berada, kamu tetap penyair, kamu tetap Yogya," demikian Linus berkata.

Adalah acara peluncuran Antologi Puisi 32 Penyair Yogya, Tugu di Senisono yang mengundang Iman Budhi Santosa dari Boyolali ke Yogyakarta tahun 1986 tampaknya merupakan salah satu yang membuatnya kian gelisah untuk benar-benar kembali ke Yogyakarta. Dengan penampilan rapi dan formal laiknya seorang pegawai negeri ia memenuhi undangan spekulatif dari rekan-rekannya. Seperti orang yang telah lama dicari dan diketemukan, Iman Budhi Santosa ‘kembali jadi penyair’ pada momentum tersebut. Kisah kehebatannya telah lama jadi cerita bahkan mitos yang beredar di kalangan komunitas sastra Yogyakarta. Ia kembali. Kembali naik ke panggung, membacakan puisi-puisinya dengan tenang, mantap, dan bersahaja persis sebagaimana puisi yang ia cipta. Ia seperti tengah menebus seluruh kerinduannya kepada Yogyakarta yang telah ditinggalkannya.

Beberapa waktu setelah acara tersebut, diam-diam tanpa sepengetahuan atasannya di Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, ia sempat melobi Dinas Perkebunan DIY, dan ke Gunungkidul beberapa waktu. Ia benar-benar ingin kembali ke Yogyakarta. Namun, sayang seribu sayang, itulah api kecil yang membakar hangus kariernya sebagai pegawai negeri.

Dan akhirnya ia datang kembali ke Yogyakarta, tidak lagi sebagai pegawai negeri, ia datang sebagai penyair yang bohemian dan memilih hidup menggelandang. Ia singgah dan tinggal dari masjid ke masjid dan memahami hal tersebut sebagai sebuah proses kembali menjadi orang kecil yang papa. Pada situasi itu ia bahkan sempat diangkut mobil patroli dan dibawa ke dinas sosial. Di situlah ia sungguh-sungguh menjadikan dirinya orang kecil yang benar atau salah tetap dipandang salah. Tak ada usaha untuk menunjukkan jati diri, karena hal tersebut memang tidak diperlukan. Untunglah Kepala Dinas Sosial waktu itu (kalau tidak keliru) adalah anak induk semang tempat istri Iman Budhi Santosa semasa sekolah di Yogyakarya indekos, dan ia pun malah diantarkan pulang meski tidak tahu ke mana tujuannya pulang.

Di masa-masa itu, ia juga cukup lama ‘ditampung’ di sanggar Teater ESKA, IAIN Sunan Kalijaga. Konon sedari pagi hingga sore hari, dengan “mematut tubuh, kenakan baju celana warna cokelat” ia pergi entah ke mana —mungkin “mencari alamat rumah tinggal sanak kerabat,” dan baru kelihatan di sanggar malam harinya. Ia seperti tengah menebus hutang-hutang kebudayaannya, “kembali jadi pengembara merentang sesak semak kata-kata.”

Kebun Ilmu, barangkali demikianlah sebutan yang pas dan pantas baginya. Betapa kisah pengalamannya selama lima tahun di Medini, dan empat belas tahun menjadi pegawai negeri (tentu ini berlainan dengan kisah Rangga meninggalkan Cinta ke New York selama empat belas tahun, yang menurut Rangga hanya satu purnama) teramat sangat membakas di pikiran dan hati sehingga benar-benar memengaruhi kehidupan Iman Budhi Santosa hingga saat ini. 

Sebagai misal ada kisah momen puitis ketiga anaknya bertalian erat dengan tumbuhan. Pada suatu hari, ketika Iman Budhi Santosa pulang kerja, ia melihat gelagat aneh ketiga anaknya, pating tlusup di bawah ranjang besi kamar tamu. Apa yang terjadi? Ketiga anak pegawai Disbun Provinsi Jawa Tengah itu tengah menyaksikan proses pohon pisang tumbuh di lantai tanah rumah mereka. Pohon pisang itu tumbuh di dalam rumah, di dalam kamar, di bawah ranjang besi yang dingin dan sunyi.

“Bukankah peristiwa anak-anak belajar dengan menyaksikan tumbuhnya pohon pisang di dalam rumah itu amat sangat puitis? Namun, sayangnya hal tersebut ketahuan istri saya yang agak bertolak punggung dengan hal-hal demikian. Lantai tanah rumah kami pun sekian hari kemudian diplester dengan semen,” terang Iman Budhi Santosa menegaskan betapa peristiwa sekecil apa pun bisa jadi sangat puitis di pikirannya, menjadi catatan tersendiri, juga bagi ketiga anaknya.

Kelak, kisah-kisah yang bertumbuhan di perkebunan semacam itu akan menjadi buku tebal yang dibawanya ke mana saja.

Dalam catatan saya, ada beberapa identitas-spiritualitas yang tak terpisahkan dari Iman Budhi Santosa.

Pertama, puisi dan peribahasa —pitutur luhur nenek moyang. Kedua, kebudayaan dan masyarakat Jawa (pidak pedarakan) juga kampung halaman. Ketiga, tumbuhan.

Namun demikian, puisi tetaplah menjadi pokok dan sosok Iman Budhi Santosa. Puisi adalah cara menampaikan ide. Inti yang disampaikan bisa berwujud apa saja. Tetapi pemikiran puisi itulah yang muncul dalam peribahasa, falsafah manusia Jawa, nama-nama desa, sebagai wujud pemuliaan. Baginya, ketika membuat puisi, sesungguhnya ia tengah memuliakan ide. Bahkan, peribahasa (Jawa) telah menjadi perilaku Iman Budhi Santosa.

Maka, tercatatlah kisah seorang lelaki tampan berpostur bambangan bernama Glumut yang pekerjaannya adalah tukang penggergaji kayu. Tercatatlah kisah seorang pemikat perkutut, dukun bayi, pemetik teh, juru kunci, pemanjat kelapa, dan kisah-kisah spiritualisme pekerja tradisional di Jawa, dalam buku Profesi Wong Cilik (1999). Tercatatlah kisah Mbah Triyo, seorang perokok berat berusia tujuh puluhan tahun yang dengan rokok tingwe jadi betah melek wira-wiri sampai subuh tatkala harus ngeleb petak sawah garapannya, dalam buku Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup (2012). Dan masih banyak kisah-kisah lainnya yang puitis dan dihadirkan benar-benar sebagai puisi juga catatan budaya lainnya.

Memahami bahwa kegiatan catat-mencatat yang dikerjakan Iman Budhi Santosa  bukan sekadar sebagai usaha merawat ingatan tetapi telah menyatu dengan kesadaran pribadi, tentu ada banyak sekali catatan yang telah ia kumpulkan dan simpan. Banyak yang telah jadi karya sastra-kebahasaan, ada pula yang sampai hari ini masih tetap berupa embrio meski sudah bertahun-tahun dalam kandungan, tetapi tak kunjung dilahirkan.

Yang paling mutakhir adalah buku Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017) sebagai perwujudan “ziarah tanah Jawa.” Bagi saya, buku Suta Naya Dhadhap Waru adalah buku sastra. Hal tersebut merupakan bukti kecerdasan intelektualitas nenek moyang manusia Jawa di masa lalu yang mewujud sebagai sebuah kebudayaan bernama bahasa. Bahasa ciptaan leluhur inilah yang hingga kini kekal menjadi nama-nama pohon, diabadikan dan dimuliakan sebagai nama dusun-dusun dan desa-desa, khususnya di Jawa. Bukankah hal tersebut adalah perwujudan dari apa yang dinamakan sastra?

Iman Budhi Santosa di usia 69 tahun berhasil mencatatnya dengan penuh keyakinan, bahwa sastra (puisi) bukan sekadar buah permainan kata yang diindah-indahkan belaka! Sebab, karya sastra merupakan ide yang sublim dan menjadi bahan permenungan bagi pembacanya.

Banguntapan, 28 Maret 2017

 

Sumber bacaan:

Santosa, Iman Budhi. 1970. Sepanjang Bayangan: Puisi-puisi 1969-1970. (Dok. Ragil Suwarna Pragolapati).

_______. 1989. Bunga-bunga Api: Puisi-puisi 1967-1989. (Dok. Ragil Suwarna Pragolapati).

_______. 1999. Profesi Wong Cilik. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.

_______. 2003. Kalimantang. Yogyakarta: Jendela.

_______. 2004. Dunia Semata Wayang. Yogyakarta: Hikayat.

_______. 2012. Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup. Yogyakarta: Manasuka.

_______. 2016. Peribahasa Nusantara. Jakarta: DPP PDI Perjuangan.

_______. 2017. Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan. Yogyakarta: Interlude.

Santosa, Iman Budhi, dkk. 2012. Merajut Sunyi, Membaca Nurani: Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa di Medini. Kendal: Komunitas Lerengmedini.

Santosa, Iman Budhi, Herry Mardianto, Latief S. Nugraha (ed.). 2016. Ngelmu iku Kelakone Kanthi Laku: Proses Kreatif Sastrawan Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Bahasa DIY.

Suryadi Ag., Linus. 1986. Antologi Puisi 32 Penyair Yogya: Tugu. Yogyakarta: Dewan Kesenian Yogyakarta.

 


Latief S. Nugraha
Carik di Studio Pertunjukan Sastra dan Balai Bahasa DIY. Buku kumpulan puisinya Menoreh Rumah terpendam (Interlude, 2016).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara