Iman Budhi Santosa adalah penyair yang memilih jalan sunyi. Mencipta puisi sejak 1967, ia sering “memenangkan sayembara puisi, tapi tak pernah menerima piala”. Puisi, telah menyatu dengan darah dan dagingnya.

SETELAH TAMAT Sekolah Rakyat (SR) di Magetan (1960), tiga hari menjelang khitan, Budhi (nama panggilan Iman Budhi Santosa sewaktu kecil) didhawuhi berpuasa oleh sang kakek.

Sehari menjelang khitan, dalam keadaan masih berpuasa, ia didhawuhi untuk menanam cikal kelapa puyuh yang sudah disiapkan juga oleh sang kakek. Anehnya, sebelum menanam cikal kelapa tersebut, Budhi diminta melepaskan baju dan celana yang dikenakan hingga ia telanjang bulat. Selanjutnya, Budhi diminta menanam cikal kelapa itu dengan telungkup menghadap ke selatan sambil menirukan doa yang dirapalkan kakeknya. Selesai membaca doa, lantas kakeknya berujar dalam bahasa Jawa:

Jalaran dhisik nalika kowe lair, bapakmu ora nandur tuwuhan, saiki kowe nandura dhewe kanggo tandha kelairanmu lan saiki kowe wis arep sunat, tegese wis dadi bocah dewasa!”

Seusai memberikan pupuk dan mengubur dengan remah serta menyiramkan air, Budhi pun bangkit hendak menginjak memadatkan tanah, namun sang kakek melarangnya.

Ora kena! Tuwuhan kui uga makhluke Gusti Allah. Ora ilok yen kowe ngidak-idak tuwuhan. Tuwuhan kuwi mbesok dadi dulurmu selawase.”

Kira-kira demikianlah salah satu kisah masa kecil Iman Budhi Santosa yang menjadi akar hubungan dekatnya dengan tumbuhan. Sekali lagi, itu hanyalah salah satu kisah, karena masih banyak kisah lain yang dialaminya di masa kecil dan berkait erat dengan tumbuh-tumbuhan. Seperti, pada suatu malam di kebun ia mendengar suara dengkuran dari semak-semak yang ternyata berasal dari tanah yang geronggang gara-gara umbi uwi beras yang besar dan lama tidak diambil tertiup angin musim kemarau. Ada pula kisah menyaksikan dan mengikuti proses mekarnya bunga wijayakusuma sampai larut malam. Juga kisah keluarnya bunga pisang pada malam hari yang persis seperti seorang ibu tengah melahirkan. Atau bagaimana ia mengumpulkan getah pohon piribalsem untuk obat luka. Bahkan ketika bersembunyi dari pencarian kakeknya, ia tidak memilih kolong langgar, melainkan memanjat pohon manggis di halaman. Demikianlah kulit gejala yang secara empiris dialami Iman Budhi Santosa perlahan mengelupas.

Di tahun-tahun emas masa kecilnya benar-benar sudah belajar menyarikan setiap perlambang yang ditemui menjadi pikiran-pikiran dengan nilai-nilai filsafat hidup yang dalam mengakar. Sebagaimana sikap diam tumbuhan, ia pun tumbuh mengukuhkan jati dirinya dengan menempatkan tumbuhan sebagai sedulur sinarawedi. Kisah-kisah itu dicatatnya dalam buku dan pikiran, sebagai sebuah momentum puitis yang kelak akan lahir menjadi pokok-pokok puisi. Sebagaimana pesan sang kakek, “matna terus catheten!” Ia pun paham bahwa manusia adalah tempatnya luput dan lupa, maka apa saja yang pernah didengar, dilihat, dan dialami harus diperhatikan lantas dicatat.  

Memperhatikan dan Mencatat! Iman Budhi Santosa memahami tradisi pribadi yang diajarkan kakeknya itu seperti halnya sebuah proses menanam. Peristiwa menanam terus menerus yang dikerjakan, risikonya adalah memelihara. Ada nilai-nilai yang kemudian tumbuh dengan sendirinya, namun, juga tidak bisa tumbuh begitu saja. Yang terpenting adalah nilai-nilai apa yang akan disampaikan, mengenai bagaimana nilai-nilai itu tersampaikan, bisa dengan bermacam cara. Dan, Iman Budhi Santosa memilih menyampaikannya dengan puisi.

Menulis puisi baginya bukan sekadar menulis, tetapi mencipta. Jadi, tidak jelas jawabannya jika kemudian diajukan pertanyaan, “kapan pertama kali Iman Budhi Santosa menulis puisi?” Seperti halnya orang ditanya, “kapan pertama kali jatuh cinta?” Jawabannya tentu tidak akan pernah jelas. Oleh karenanya, tugas manusia sebagai pembelajar adalah menjelaskannya. Misalnya, ketika mendapati biji yang entah datang dari mana, untuk mencari jawabannya maka ia menanam biji itu, hingga tumbuh dan diketahui pohon apakah biji yang tumbuh itu. Demikianlah pikiran Iman Budhi Santosa bekerja, menguak peristiwa menjadi teks puisi di dalam kepala, lantas menuangkannya sebagai naskah puisi pada lembar-lembar kertas. Dengan kesadaran penuh dipahami bahwa akar tunggang ‘ketidakjelasan’ itu adalah sastra.

Iman Budhi Santosa hidup sebagai “dunia semata wayang”, tidak memiliki sedulur tunggal usus dari rahim sang ibu. Ia dilahirkan pada hari Ahad Kliwon tanggal 28 Maret 1948. Ibunya bernama Hartiatien, ayahnya bernama Iman Sukandar. Ketika Budhi masih berusia 1,5 tahun, ayah dan ibunya memutuskan untuk berpisah. Kehidupan ugahari di Magetan kisaran tahun 1948-1961, dalam asuhan ibu, kakek, dan neneknya, Budhi menjadi timangan keluarga, tetapi tanpa figur ayah. Sejak balita ia dibentuk situasi kondisi menjadi lelaki introver, pemalu, pendiam, dingin, defensif, sensitif, dan kurang ceria.

“Barangkali sudah menjadi takdir weton Ahad Kliwon, kemalangan demi kemalangan tercatat jelas dalam primbon.”

Sang kakek yang pensiunan kepala SR di Selosari Magetan pada zaman Belanda dan ibu yang menginginkan anak semata wayangnya sukses, justru ‘menghukumnya’ dengan ‘cambuk’ harus menjadi pandai. Ketika anak seusianya riang gembira bermain bola di alun-alun Magetan, ia malah didhawuhi kakeknya kursus mengetik yang tidak lazim untuk anak seusianya di masa itu. Kehidupan di Magetan, di rumah kakeknya yang dikelilingi rimbun bermacam pohon, Budhi banyak belajar kepada tumbuhan. Sekali lagi, atas dhawuh kakeknya. 

Meski hidup di tengah problem keluarga, namun, Budhi masih tergolong anak yang beruntung. Ia hidup dalam keluarga priyayi Jawa yang terpandang dengan intelektualitas dan kebudayaan yang tentu saja berbeda dari masyarakat biasa pada masa itu. Seperti diketahui, Orde Lama sangat otoriter terhadap media pers dan bahan bacaan. Bacaan-bacaan di masa itu langka. Sementara Budhi hidup dalam lingkungan keluarga dengan ketersediaan bahan bacaan yang cukup. Konon, ibunya adalah seorang pencandu bacaan yang getol. Bahkan pertemuan dan pergaulan Hartiatien dengan Iman Sukandar pun terjadi karena keduanya aktif lewat forum studiklub suatu majalah sebagai pencinta fiksi-sastra-bacaan semenjak usia muda. Budhi pun mewarisi sikap dan momentum demikian dari ibunya.

Sejak bayi sampai lulus SMP, Budhi tinggal bersama kakek-nenek dari pihak ibu di Magetan. Sang kakek meninggal tahun 1962 pada usia 74 tahun. Setelah kakek dan neneknya meninggal, mau tidak mau ia pun terpaksa pindah mengikuti ibunya yang telah menikah lagi dengan sastrawan Jawa terkenal, Any Asmara. Terpaksa! Karena sesungguhnya Budhi memiliki semangat kesendirian yang agak ekstrem. Sebab suasana di masa kecilnya, di rumah kakeknya itu, kesunyian sudah menjadi bagian dari kehidupannya sepanjang hari. Budhi yang tidak bisa berpisah dengan ibunya pun, dengan terpaksa akhirnya turut hijrah ke Yogyakarta.

Iman Budhi Santosa pada dasarnya adalah seorang perenung. Kegelisahan-kegelisahan membuat pikiran di kepalanya tidak pernah diam. Sehingga, ketika tahun 1963-1964 untuk sementara waktu Budhi menganggur—tidak sekolah juga tidak bekerja, ia hanya di rumah menulis dan membaca. Ia amat terbentuk oleh budaya gemar membaca dan gemar menulis yang dikerjakannya sudah sedari kecil. Walhasil, keadaan di rumah Any Asmara yang tentu saja banyak buku, majalah, dan surat kabar, tanpa disadari semakin mematangkan proses kreatifnya. Baru  kemudian ia lanjutkan pendidikan formalnya di SPbMA, tamat tahun 1968.

Usaha mencipta puisi dengan serius sesungguhnya sudah dimulai sejak tahun 1967. Tidak sedikit puisi karyanya yang dikirimkan ke media massa di Jakarta kisaran tahun 1967-1968. Namun sayang, tidak pernah ada kabarnya dan tidak terpantau pemuatannya. Baru pada 1970-an ia menemukan majalah-majalah bekas di pasar loak depan Seni Sono, banyak puisi karyanya termuat di majalah Keluarga Jakarta, bertiti mangsa 1967-1968-1969, dan ia terlambat mengetahuinya. 

Kehidupan di Yogyakarta beserta keluarga baru membuat masa remajanya kurang memuaskan, penuh problem, dan keluhan. Ia makin jadi perenung yang introver dan kontemplatif. Hari-hari dilewatkannya dengan baca-tulis apa saja. Ia akhirnya menemukan jagad suaka yang dirasa pas, yakni sastra. Realitas yang membuatnya berduka, kecewa, gelisah, frustrasi, diolah jadi puisi. Proses ini lagi-lagi berlangsung selama ia menganggur kisaran tahun 1968-1971.

Pada mulanya ia diajak Teguh Ranusastra Asmara, kakaknya, ke Mingguan Pelopor Yogya. Di sana sudah ada Umbu Landu Paranggi dan segenap penyair muda kala itu. Bersama Umbu Landu Paranggi, Ragil Suwarna Pragolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Soeparno S. Adhy, Mugiyono Gitowarsono, dan M. Ipan Sugiyanto Sugito, ia mendirikan Persada Studi Klub (PSK) di Mingguan Pelopor Yogya, Jalan Malioboro 175 Atas Yogyakarta pada tanggal 5 Maret 1969.

Pribadi yang dibentuk oleh situasi politik zaman Manipol-Usdek serta tumbuh di tengah kemelut debu ontran-ontran Gestapu/PKI itu, pada tahun 1969 menemukan pintu kemandirian tanpa cap dan bendera panji-panji ormas atau parpol yang terbuka lebar. Ia ada di sebuah dunia yang bebas merdeka dari tahun-tahun kelabu yang sebelumnya menyelubungi. Tidaklah penting baginya status atau predikat atau popularitas, tidak penting baginya jemaah atau massa. Yang baik dan penting sebagai nilai berharga adalah kreativitas, suatu proses pertumbuhan, berubahan, dan pertukaran sikap dalam kehidupan mandiri sebagai jati dirinya.

Ia renungkan peristiwa-peristiwa kecil yang membesar di sekitarnya membentuk hakikat dalam berpikir dan bersikap. Menjadi “Penyair”, ia “hidup berkisar-kisar dalam puisi” dan memuisi. Puisi sama dengan kehidupannya. Atau meminjam diksi Emha Ainun Nadjib yang dengan rendah hati menyatakan, “ia bukan sekadar seorang penyair yang setia. Ia benar-benar seorang penyair. Ia tetap senior saya dan saya tetap junior dia. Iman Budhi Santosa adalah puisi. Darah daging, urat syaraf, dan getaran batinnya adalah puisi.”

Berbekal rokok, korek api, pulpen, dan lipatan kertas dalam saku, Iman Budhi Santosa ke Malioboro sepanjang waktu pada tahun 1969-1971. Dengan “penuh seluruh” ia bergulat gelisah dan berproses dalam pelibatan total akal-budi-rasa atau jasmani-rohani-batin-spiritual dan sangat berkeringat. Ia sangat sadar bahwa puisi bukanlah sekadar untaian kata-kata indah semata, namun, lebih dari itu “puisi adalah percikan cahaya di malam buta.”

Langkah kakinya benar-benar menapak pasti di jalan puisi. Ia penyair produk akhir dasawarsa 1960-an dan matang oleh dasawarsa 1970-an yang hadir bukan sebagai penyair yang populer, melainkan sosok penyair dengan kepribadian yang berbobot dan menjadi.

Puisi-puisinya tidak berapi-api dan memukau di atas panggung. Puisi-puisi renungan yang lebih pas dibaca di dalam hati, dipikir-pikir, serta direnung-renungkan. Puisinya amat tenang, mantap, dan bersahaja memaknai alam benda, alam tumbuhan, alam manusia, nasibnya sendiri, dan nasib banyak orang yang keberadaannya tak pernah dipandang ada.

Dari puisi Iman Budhi Santosa, kita melihat percik perasaan dan letupan pikiran diracik dengan imajinasi dan pengalaman, dihayati dengan arif, diproses pada kulminasi renungan-renungan, penuh pesona sebagai pandangan kebijaksanaan. Membaca larik demi larik puisinya maka kita akan menemukan puisi demi puisi yang bertebaran di mana-mana. Corak renungan yang mendalam dengan penuh pertimbangan dalam pemilihan diksi pekat oleh filosofi.

Menurut Ragil Suwarna Pragolapati, ia adalah proses yang terus berkembang dan berubah, mencari jati dirinya, setia dan sadar memuisi. Selama 1970-1971, ia pernah turut menggembleng Emha Ainun Nadjib sebagai adik asuhnya di PSK. Saat Iman Budhi Santosa sudah ngetop, bahkan berhasil mengalahkan Abdul Hadi W.M. lewat sayembara puisi 1969 di Taman Budaya Yogyakarta, waktu itu Emha Ainun Nadjib barulah jadi pemula yang menapak dari awal keberangkatannya. Iman Budhi Santosa banyak mengirim puisi, namun tak terlacak pemuatannya. Ia juga sering memenangkan perlombaan cipta puisi, namun tak pernah menerima piala. Ketika pada tahun 1971 hijrah dari Yogyakarta, ia segera dilupakan orang. Dan, ketika kembali tahun 1986-1989 ia jumpai Emha Ainun Nadjib bersama Linus Suryadi Ag. sudah jadi super star-nya penyair.

Meskipun demikian, masih menurut Ragil Suwarna Pragolapati, sejarah puitika Yogya mencatat bahwa sepanjang usia PSK 1969-1977 yang jumlah anggotanya mencapai 1.555 orang, diakui, hanya Iman Budhi Santosa yang paling total berpuisi dan memuisi, paling otentik sosok kepenyairannya, paling unik dan paling berbobot. Puisi telah dikunyah dan dimamah secara tuntas menjadi darah dan nanah baginya, menjadi daging dan tulangnya, menjadi perilaku dan pola kepribadiannya, menjadi ucapan dan kehidupan kesehariannya.

Iman Budhi Santosa adalah penyair yang secara suntuk mengikuti jejak gurunya: Umbu Landu Paranggi. Ia khas-unik-otentik sebagai citra PSK, nyaris tipikal cetakan Umbu Landu Paranggi. Tanpa membekaskan lagi sisa-sisa cetakan Rendra, Darmanto Jatman, dan Abdul Hadi W.M. yaitu tiga penyair Yogya yang pernah akrab dicantrikinya 1969-1971. Iman Budhi Santosa telah mantap dan kokoh memiliki sosok kepenyairan.

 

Sumber bacaan:

Santosa, Iman Budhi. 1970. Sepanjang Bayangan: Puisi-puisi 1969-1970. (Dok. Ragil Suwarna Pragolapati).

_______. 1989. Bunga-bunga Api: Puisi-puisi 1967-1989. (Dok. Ragil Suwarna Pragolapati).

_______. 1999. Profesi Wong Cilik. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.

_______. 2003. Kalimantang. Yogyakarta: Jendela.

_______. 2004. Dunia Semata Wayang. Yogyakarta: Hikayat.

_______. 2012. Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup. Yogyakarta: Manasuka.

_______. 2016. Peribahasa Nusantara. Jakarta: DPP PDI Perjuangan.

_______. 2017. Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan. Yogyakarta: Interlude.

Santosa, Iman Budhi, dkk. 2012. Merajut Sunyi, Membaca Nurani: Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa di Medini. Kendal: Komunitas Lerengmedini.

Santosa, Iman Budhi, Herry Mardianto, Latief S. Nugraha (ed.). 2016. Ngelmu iku Kelakone Kanthi Laku: Proses Kreatif Sastrawan Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Bahasa DIY.

Suryadi Ag., Linus. 1986. Antologi Puisi 32 Penyair Yogya: Tugu. Yogyakarta: Dewan Kesenian Yogyakarta.


Kredit Gambar : Latief S. Nugraha
Latief S. Nugraha
Carik di Studio Pertunjukan Sastra dan Balai Bahasa DIY. Buku kumpulan puisinya Menoreh Rumah terpendam (Interlude, 2016).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara