31 Oct 2016 Cep Subhan KM Sosok

Kawabata Yasunari adalah peraih nobel sastra pertama dari Jepang. Gaya tulisannya pepat lukisan alam dan psikologi manusia. Dia adalah mentor Mishima Yukio dan bunuh diri 4 tahun setelah menerima Nobel Sastra.

LAHIR 11 JUNI 1899, meninggal 16 April 1972, Kawabata Yasunari adalah peraih nobel sastra pertama dari Jepang sebelum kelak tahun 1994 Kenzaburo Oe mengikuti jejaknya. Cerpen pertamanya terbit tahun 1921, lima tahun kemudian dia menggebrak dunia sastra dengan Penari Izu-nya.

Karya Kawabata yang lain, Rumah Perawan (1961), menginspirasi penulis Kolombia yang juga meraih nobel, Gabriel "Gabo" Garcia Marquez, untuk menulis Memoria de mis putas Tristes. Satu pasase dari novel Kawabata itu kemudian dijadikan epigraf novelnya oleh Gabo

Suatu hari di masa kecilnya Kawabata bercita-cita menjadi pelukis. Bahwa dia kemudian terkenal sebagai penulis maka hal itu sama sekali tak berarti dia sudah melupakan cita-citanya. Karya-karya Kawabata menonjol dalam hal pelukisan alam maupun pelukisan psikologi manusia, dua keseimbangan yang mengantarkannya meraih nobel sastra 1968.

Alam dan manusia: jagat makro dan jagat mikro. Landasan pemikiran Kawabata bisa ditelusuri ke ajaran Zen, Budhisme Zen, yang berciri khas praktik meditasi, sunyata, dan pencarian akan kesejatian. Zen adalah salah satu aliran Budha Mahayana, sebagaimana Negeri Murni yang bisa ditemukan dalam salah satu cerpen Mishima.

Tak heran jika dalam pidato penerimaan hadiah nobelnya yang mengandung semacam pembelaan—meski tak bisa dikatakan persetujuan—atas tindakan bunuh diri Akutagawa, pendahulunya, Kawabata menyinggung Zen. Dari sanalah menurutnya orang bisa mencoba memahami bahwa pandangan atas kematian di timur berbeda dengan pandangan Barat. Sunyata tak sama dengan nihilisme, apa yang mungkin nampak sia-sia bagi Barat maka bisa jadi itu dipandang sangat tinggi bagi Timur.

Apa boleh buat, sekabur apapun batasan “Timur” dan “Barat”, Kawabata tak bisa mengabaikan hal itu, mungkin karena dia kuatir pencapaian estetik Akutagawa misalnya akan tercoreng di mata Barat karena tindakan bunuh dirinya, atau mungkin juga sebagai semacam nubuat bahwa tindakan yang sama masih mungkin terjadi pada penulis-penulis “Timur”: pidato Kawabata disampaikan pada akhir tahun 1968, dua tahun kemudian Mishima bunuh diri, empat tahun kemudian Kawabata bunuh diri.

Karya-karya Kawabata kuat dalam aspek “pelukisan”. Ketika memutuskan untuk menganugerahinya Hadiah Nobel Sastra, alasan panitia adalah karena “keunggulan cerita, yang dengan kepekaan yang dahsyat mengekspresikan esensi pikiran orang Jepang”. Kepekaan itu diterapkan Kawabata dengan menyerap gerak lembut daun-daun bambu, mengolahnya menjadi cerita yang menarik dengan mengkombinasikan pengetahuannya akan psikologis manusia Jepang.

Budaya Jepang tempat Kawabata tumbuh memang kombinasi dua hal yang bertentangan dan bisa membuat mereka yang tak tumbuh di tempat yang sama terperangah. Sebuah buku yang terbit tahun 1946 tentang budaya Jepang karangan seorang Antropolog Amerika, Ruth Benedict, diberi judul The Chrysanthemum and the Sword: Patterns of Japanese Culture, menegaskan hal itu: budaya Jepang adalah kesatuan antara dua hal yang kontradiktif.

Bunga Chrysanthemum adalah simbol kaisar, The Sword adalah simbol samurai: dalam sejarah Jepang keduanya sempat menjadi dua kekuatan politik yang berbeda dan menjadi pemisah zaman klasik dan modern. Keduanya memiliki sisi yang berbeda dalam budaya, keduanya saling berkelindan.

Karena aspek “lukisan” sangat kuat dalam karya Kawabata, karya-karya dia tidak pepat dengan beban moral, dia hanya melukiskan. Dengan demikian kita bisa menikmati lanskap mooi indie yang dia sodorkan kemudian menggabungkannya dengan pikiran kita sendiri sebagaimana memang seperti itu jugalah pada dasarnya bagaimana Kawabata menulis. Dia melukis lukisan mooi indie tapi kemudian mencampurnya dengan kemampuan menggambarkan psikologi manusia yang tak selalu molek. 

Dalam pembabakan kesusasteraan Jepang, Kawabata Yasunari dimasukkan sebagai penulis modern yang beraliran neo sensualis, bersama dengan Yokomitsu Toshikazu, yang disebut sebagai teorisi aliran ini meski konon dalam hal lirisisme karya Kawabata lebih liris darinya. Tapi pembaca karya-karya Kawabata juga terkadang menyebut alirannya sebagai aliran neo impresionis: kelindan yang tak lekang antara naturalisme dan impresionisme.

Mungkin itulah cara terbaik untuk memandang Kawabata: ia menolak didefinisikan. Ia tak segarang Mishima dalam memandang modernisme, tapi dia punya pembelaannya sendiri tentang karya-karyanya: “Karya-karya saya sendiri bisa dikatakan sebagai karya kehampaan; tapi ini tidak berasal dari nihilisme Barat.”

Karena itulah, meski dia mengatakan “Betapa pun seseorang teralienasi dari dunia, namun bunuh diri tetaplah bukan sebuah bentuk pencerahan. Betapa pun mengagumkan, namun orang yang memutuskan bunuh diri tetaplah jauh dari dunia orang suci.” akan tetapi Kawabata juga mengatakan bahwa konsep kematian dalam Buddha bisa dipahami dengan sudut pandang yang beda dari cara Barat memandang konsep kematian.

Dan dia nampak mengagumi Akutagawa, pendahulunya yang bunuh diri menelan obat tidur pada tahun 1929.

Akutagawa adalah penulis aliran neo realisme yang dipraktekkan dengan mendasarkan cerita pada realisme yang sudah ada untuk menciptakan cerita dalam versi baru. Akutagawa adalah penulis yang tak merubah seni berceritanya meski zaman berubah, dan kita menemukan kecenderungan yang sama pada Kawabata. Mungkin karena itulah saat dia mendengar kabar bahwa dia mendapatkan hadiah nobel sastra, konon dia berkomentar bahwa Mishima sebenarnya lebih pantas darinya.

Alasannya sederhana: Mishima bisa dikatakan adalah juniornya dalam kepenulisan, tapi justru karena itu dia lebih cergas dalam memotret Jepang yang berubah daripada Kawabata. Sementara Kawabata lebih terkesan sebagai sosok yang tak bisa melepaskan diri dari Jepang yang silam, Mishima menunjukkan berbagai ekses yang timbul—dan yang mungkin timbul—dari pertemuan antara “yang lokal” dan “yang asing”, termasuk ekses yang paling buruk: kebanalan identitas.

Tapi apakah sebenarnya batas antara “yang lokal” dan “yang asing”?

Ajaran Zen yang diakrabi Mishima dan Kawabata sendiri pada suatu masa bukanlah bagian dari “yang lokal”, asal-usulnya bisa ditelusuri ke China zaman Dinasti Tang, dan ia masuk ke Jepang pada abad ke-8. Modernisasi yang dipandang dengan sinis oleh Mishima juga berlaku pada perjalanan ajaran tersebut: abad ke 8 pada periode Nara kebanyakan penduduk Jepang adalah pemeluk animisme, ajaran Zen yang datang terkemudian adalah sebentuk modernitas.

Mishima selalu menganggap Kawabata sebagai mentornya, meski demikian, konon peristiwa kematian Mishima sedikit banyak mempengaruhi kondisi psikologis Kawabata. “Di kalangan mereka yang menggunakan otaknya untuk berpikir, adakah orang yang tak pernah memikirkan bunuh diri?” Demikian dalam pidato penerimaan Nobel Sastra pada 12 Desember 1968, Kawabata mengutip Pendeta Ikyu.

Empat tahun kemudian si pelukis cerita dari zaman Showa ini bunuh diri.


Kredit Gambar : japandailypress.com
Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara