Sastra berkembang melalui diskusi-diskusi dalam lingkaran kecil. Di Yogyakarta, salah satu warung kopi yang merutinkan agenda diskusi sastra mingguan adalah Warung Edukasi Jejak Kopi.

MALAM itu lima orang sedang berkumpul di bawah pohon bambu yang rantingnya dibonsai menyerupai kanopi. Di bawah bambu itu terdapat gundukan tanah yang disulap menjadi panggung pertunjukan yang dibuat permanen menggunakan semen. Di bawah sinar lampu yang dipasang di tengah-tengah rerimbunan pohon bambu itu, lima orang tadi sedang guyub mendiskusikan kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari.

Mendiskusikan cerpen karya Ahmad Tohari ini adalah agenda mingguan yang diadakan Warung Edukasi Jejak Kopi. Diskusi ini berjalan setiap Kamis sore, namun karena molor sudah menjadi bagian wajib para peserta, tak jarang diskusi ini dimulai setelah Isya. Pada Kamis itu diskusi ini sudah memasuki minggu kelima.

Dalam diskusi, metode yang digunakan adalah membahas setiap judul di setiap pertemuan. Pembahasannya meliputi banyak hal, mulai dari unsur intrinsik, ekstrinsik bahkan juga cocoklogi yang diutarakan oleh peserta diskusi. Tampaknya upaya mengaitkan peristiwa dalam cerpen dengan realitas terkini menjadi bahasan yang menarik. Setiap minggu biasanya akan ditunjuk siapa pembahas karya. Pembahas diwajibkan membuat esai yang berangkat dari cerpen yang dibahas.

Kumpulan cerita pendek Senyum Karyamin sengaja dipilih sebagai bahan diskusi karena tema-tema yang diangkat Ahmad Tohari sangat kental dengan psikologi dan sosial masyarakat pedesaan. Hampir semua konflik yang ada di masyarakat desa menjadi landasan Tohari dalam menulis cerpen. Tema-tema seperti ini besar dipengaruhi oleh lingkungan tempat Tohari tinggal, yakni di sebuah desa di daerah Banyumasan. Meskipun cerpen-cerpen dalam buku ditulis dalam rentang waktu 1976-1986, tapi tema-tema yang dibahas masih erat kaitannya dengan kondisi masyarakat kiwari.

Seperti salah satu cerpen yang dibahas minggu ini yang berjudul Ah, Jakarta. Cerpen ini mengisahkan kehidupan seorang preman yang buron kamudian ditemukan tewas di sungai Serayu. Preman itu kabur dari Jakarta setelah menabrakkan mobil majikan temannya. Ia lalu memilih bersembunyi di rumah karib lamanya. Setelah satu hari bersembunyi ia pergi tanpa sepengetahuan temannya. Beberapa waktu berselang temannya itu mendapatinya mengapung di sungai. Karena tidak ada satu orang pun dari kerumunan warga yang mau membantu, si teman tadi mengambil keputusan untuk memandikan, menguburkan dan menyolatkannya di pinggir sungai.

Dua minggu sebelumnya, cerpen Tohari berjudul Si Minem Beranak Bayi juga menjadi bahan diskusi yang menarik. Melalui cerpennya itu Tohari hendak menyampaikan kepada pembacanya mengenai risiko menikahkan anak di usia dini. Pernikahan anak di bawah umur memang menjadi persoalan yang belum bisa diatasi, terutama di daerah pedesaan. Meski cerpen ini ditulis Tohari sekitar 30 tahun silam, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda pernikahan usia dini memudar. Bahkan di daerah Lombok, NTB, seorang bocah laki-laki  menikahi dua perempuan bocah sekaligus juga bukan sesuatu yang baru.

Saya sebagai peserta tetap diskusi ini merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Selain menambah wawasan tentang kritik sastra, kegiatan ini juga bisa melatih analisis sosial saya terhadap gejala yang timbul di masyarakat. Bukankah kritik sastra Eropa modern misalnya, sebagaimana dikatakan Terry Eagleton dengan mengutip Habermas, tumbuh dan berkembang dari “lingkup publik” yang salah satunya adalah warung kopi?

Jejak Kopi bisa dibilang adalah salah satu warung kopi di Jogja yang mengadakan diskusi rutin tiap minggunya. Selain sebagai tempat kongkow dan nonton bareng pertandingan sepakbola, warung kopi memang kerap menjadi tempat diskusi, terutama bagi mahasiswa. Namun, jika menghitung warung kopi yang menginisiasikan diskusi  tematik, jumlahnya bisa dihitung jari.

Sejak pertama kali beroperasi awal September lalu, Jejak Kopi memang mengkultuskan dirinya sebagai wadah bertukar pikiran, bukan hanya menyeruput kopi saja. Bagi warung ini, ngopi itu adalah sebuah kepura-puraan. Hal ini tercermin dari slogan yang diusung: Jejak Kopi, Tempat Pura-Pura Ngopi.

“Kita ngopi di sini hanya pura-pura saja, karena tujuan utamanya adalah belajar,” ungkap Iqbal, salah satu konseptor Jejak Kopi.

Meski warung kopi yang berlokasi di Prenggan, Kotagede, Yogyakarta ini tempat untuk berpura-pura menyeruput kopi, semoga tidak demikian dengan senyum Karyamin. Di dalam kehidupannya yang serba susah Karyamin tidak pernah tersenyum dengan pura-pura.


Kredit Gambar : ilustrasi
Bintang W. Putra
Koordinator Aliansi Wisuda Maret. Menggarap skripsi kalau lagi mood. Kasir Jejak Kopi. Mahasiswa nomaden Bercita-cita menjadi Hacker.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara