Sebuah rubrik dalam majalah kadangkala sukar untuk bertahan, sebagaimana juga kadang majalah itu sendiri pun sukar untuk bertahan tetap terbit.

SERATUS itu angka bagus. Seratus dianggap pengesah keparipurnaan. Pada April 1976, majalah MAS (Musik, Artis, Santai) telah mencapai edisi keseratus. Angka bagus merekam kiprah serentang zaman. Perayaan cukup sejenak, majalah ogah selesai alias jalan terus. Seratus bukan akhir tujuan, melainkan pemberhentian sebentar kemudian perjalanan dilanjutkan.

Pada pekan depannya, majalah MAS terbit seperti biasa. Kita tergoda membaca surat pembaca di majalah MAS nomor 101, tahun ke-IV, April 1976. Sutrisno, dari Jakarta, menulis, “katanya majalah musik, kok nggak ada keterangan-keterangan mengenai istilah musik. Misalnya seperti apakah arti istilah: appassionato, bruscamente, bombardon, bolera, soul, dan lain sebagainya.”

Sutrisno lantas mengusulkan supaya redaksi menghubungi Iskandar, Kusbini, dan para ahli musik lain. Sebabnya, “kata redaksi tempo hari ahli musiknya sedang sakit, apakah tidak ada orang lain untuk menggantikan ahli musik itu, sementara dia sakit?” tulisnya. Surat Sutrisno menantang redaksi majalah MAS.

Redaksi menanggapi dengan singkat dan normatif, “terimakasih atas surat dan saran Anda. Semua saran Anda, sangat positif dan membangun sifatnya, sehingga memecut redaksi untuk segera menghubungi ahli2 musik tersebut di atas. Mudah-mudahan dalam waktu singkat saran-saran Anda bisa terlaksana dengan baik.”

Tanggapan redaksi itu berisiko diremehkan. Keseriusan redaksi kita uji dengan menengok edisi berikutnya, majalah MAS nomor 102, tahun ke-IV, Mei 1976.

Kita lalu menelusuri majalah MAS halaman demi halaman. Di depan, surat pembaca hilang, berganti pengumuman dari redaksi. “Berhubung sifat dan isi majalah “MAS” ini sesungguhnya memerlukan perhatian yang lebih mendalam dan membutuhkan waktu untuk membacanya dengan mantap, maka untuk memenuhi sementara saran dari pembaca2 yang suka musik dan ingin mendalami segenap isi yang ada dalam majalah ini, Pimpinan Umum dan Pimpinan Redaksi majalah “MAS” telah bersepakat untuk sementara merobah frekwensi terbitnya majalah ini dari seminggu sekali menjadi: SEBULAN DUA KALI,” tulis redaksi.

Pengumuman itu mungkin mengecewakan para pembaca yang berharap lekas berjumpa majalah MAS edisi berikutnya. Mereka dipaksa sabar menunggu dua minggu demi majalah edisi baru.

Kita pantas bersorak saat sampai di halaman terakhir majalah. Tantangan Sutrisno benar-benar diladeni majalah MAS! Sehalaman dengan “alamat artis-artis kita”, hadirlah rubrik Kamus Musik Kecil dengan kalimat penggoda: untuk yang mau maju. Kamus itu digarap J.K. Laksanadjaja. Keterbatasan ruang memaksa lema yang tertampilkan hanya sepuluh, dari lema “A” sampai “allto-allegretto”.

Sayangnya, Kamus Musik Kecil di majalah MAS ternyata bukan benar-benar kamus baru. Majalah MAS sekadar menukilkan Kamus Musik Kecil: Asing-Indonesia (1975) garapan Laksanadjaja. Jadi, Laksanadjaja bukan pengasuh rubrik melainkan penggarap kamus yang dinukil majalah MAS. Kita tak usah berharap banyak, setidaknya nukilan kamus memudahkan pembaca majalah MAS yang tak memiliki Kamus Musik Kecil untuk tetap “mau maju”.

Kita beranjak ke majalah MAS nomor 103, tahun ke-IV, Mei 1976. Kita tak sabar menuju rubrik Kamus Musik Kecil, lantas mengawali penelusuran majalah dari sampul belakang. Potret Yatni Ardi, aktris sekaligus Juara I Pop Singer se-DKI di tahun 1974, menyapa kita dengan manis dan menggoda. Majalah dibuka, dan pada halaman terakhir kita justru disuguhi profil Angel Pfaff. Kita terpaksa melanjutkan penelusuran majalah secara terbalik: dari kanan ke kiri, seperti membaca kitab suci.

Barulah kemudian kita menemukan rubrik Kamus Musik Kecil, letaknya di halaman 43, bersandingan dengan potret Nydia Sisters, Trio Sita, dan Nasution Sisters: cantik-cantik! Kamus Musik Kecil pada majalah MAS nomor 103 memuat lema lebih banyak. Kita kenyang melahap empat belas lema.

Penelusuran majalah dari belakang berujung kecewa. Di halaman depan, redaksi majalah MAS kembali memuat pengumuman. “Majalah ‘MAS’ no. 103 yang anda baca sekarang ini merupakan penerbitan majalah ‘MAS’ yang terakhir. Sesudah nomor ini majalah ‘MAS’ akan mundur dan melenyap dari dunia ini dengan mudah2an cita2 dan tujuannya berjalan lanjut dan senantiasa berkembang. Selama ini, melalui majalah ‘MAS’ ini, telah kami coba untuk turut serta menggairahkan pengembangan daripada musik terutama, pun kami usahakan penyebar luasan dari bahan2 informasi tentang perkembangan dunia film, para artis2nya dan dunia kesantaian pada umumnya,” tulis redaksi. Kita baru bertemu rubrik Kamus Musik Kecil dua kali dan majalahnya bubar?

Redaksi menulis alasan ideologis dan teknis bubarnya majalah “Pada permulaan tahun 1976 ini ada tanda2 bahwa tujuan dan cita2 sudah mulai menjadi pembicaraan ramai dan sudah mempunyai bentuk yang terarah dalam prakteknya. Pendidikan musik sudah mulai dimengerti makna dan tujuannya, apresiasi terhadap musik baik makin meluas, dan pemusik2 sudah menyadari bahwa dengan secara alamiah saja tidak mungkin dicapai suatu tingkat yang diharapkan bisa mensejajarkan musik Indonesia [dengan alat2 musik dunia-bukan tradisionil] dengan musik dunia. Kini, majalah ‘MAS’ merasa tidak akan bisa mencapai lebih dari apa yang dicapai sekarang, dan kalaupun mau ulet bertahan, sesungguhnya secara materi kamu tidak ada kesanggupan untuk itu.” Para pembaca diajak mengucap selamat tinggal dan bersiap menebar bunga di kuburan.

Rubrik Kamus Musik Kecil yang baru terbit dua kali terpaksa direlakan tenggelam bersama majalah MAS. Majalah bubar, namun redaksi berencana lain. Redaksi rupanya berambisi internasional dan memutuskan menerbitkan majalah berbahasa Inggris yang dinamai World Star. Majalah bermaksud menjadi “your magazine on travel, trade, and industry”.

Di samping pengumuman bubarnya majalah MAS kita bahkan bisa menemukan iklan majalah World Star terpampang nyata. Kemungkinan, itu iklan pertama majalah World Star. Redaksi tega memasang spanduk iklan majalah baru di samping kuburan majalah lama. World Star sebagai “magazine on travel, trade, and industry” mustahil meneruskan penukilan Kamus Musik Kecil. Padahal, para pembaca masih butuh kamus musik, kesempatan itu dimanfaatkan penerbit Alumni untuk mencetak ulang Kamus Musik Kecil Laksanadjaja. Kita lantas bingung, mesti bilang innalillahi atau alhamdulillah?


Udji Kayang Aditya Supriyanto
Pembaca buku dan pengelola "Bukulah!"
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara