Penerbit SAE lahir dari tangan kreatif seorang perupa, Andre Tanama, pada medio 2016. Produktif menerbitkan buku dengan kaver menawan. Sebuah eksperimen penerbit indie untuk memberi bahasa pada rupa.

“Proses ‘mengalami buku’ ini bisa diartikan sebagai
sebuah pengalaman estetik dan salah satu media perantaranya adalah kaver buku.”

Koskow, Merupa Buku

*

Dies Mortalis; Die Fatalis adalah rupa kritik Andre Tanama terhadap seloroh kebenaran. Seorang yang berdiam untuk kata tetapi tidak untuk tubuh. Bahwa laku tubuhnya adalah selalu gerak tanding pada keteraturan di atas kanvas, di atas kaver buku.

Barangkali SAE adalah karya dari Andre Tanama yang tak setenar Gwen Silent, si kecil yang tak genap lima tahun usianya dan terlahir tanpa mulut, tanpa keceriaan seorang anak. Namun SAE hadir sebagai sang “liyan”, sebagai perjumpaan seorang perupa yang tidak melulu menuntut perkakas grafisnya, melainkan dengan kata-kata yang berhambur dari halaman pertama menuju yang berikutnya.

Hal semacam itulah nampaknya sebagaimana bisa kita temukan pada Sudjojono dalam Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman. Nasjah Djamin, seorang ilustrator Balai Pustaka yang dirundung hidup melalui Gairah Untuk Hidup dan Untuk Mati juga ingatannya pada Affandi Pelukis. Serak catatan perjalanan dan pemikiran yang tertata rapi dalam Nashar oleh Nashar. Hingga rupa puisi Made Wianta Kitab Suci Digantung Di Pinggir Jalan New York.

*

Dalam bayang penerbit Bentang dan gerak penerbit Jendela, SAE kembali memilin kerja rupa dan ruang-ruang penerbitan yang pernah begitu akrab di awal 2000an. Keakraban yang mampu memindah kanvas ke atas kaver buku, sekaligus keluasan ruang rupa menuju ruang literasi. “Seniman Kaver Buku” jugalah yang telah membawa kerja penerbitan Jogja “mengalami” estetika kavernya, setelah Popo Iskandar di sebagian rupa Pustaka Jaya.

Perjumpaan geliat perupa dan teks membawa SAE lahir di pesta teks penerbitan alternatif Jogja yang mulai riuh pada medio 2016. Namun, SAE tidak benar-benar menyusup di kerumunan, melainkan di antara penyangkalan diri dan tepian kepura-puraan. Karena sebermulanya hanyalah persoalan teks dan hasrat menyimpan rapat kata-kata di setiap selip tumpukan buku.

N yang meskipun penanda penyangkalan diri dan kepura-puraan, tak pernah mampu menyimpan dirinya dengan benar di kerumunan. Maka N adalah juga penanda kelahiran SAE lewat usungan visual gestalt sebagai kaver. Gestalt yang jika dirujuk lewat Diksi Rupa Mikke Susanto lebih sebagai gejala fisik maupun kejiwaan dalam atur tata simbol dan kelebaran dari kaidah psikologi.

Barangkali juga pada Design Principles: Visual Perception and The Principles of Gestalt karya Steven Bradley. Bahwa yang tampak menyeluruh adalah peluang pembaruan ketimbang bagian lepasnya. Komposisi yang taksa dan yang tak terduga antara objek dan ruang. Begitulah SAE yang sedari awal menegur kita untuk tidak semata menilik buku sebagai yang tunggal, namun mengajak kita menelusup jauh di kedalamannya sebagai karya seni.

Dalam diam dan tenang SAE melakukan penyangkalan keduanya lewat sejimpit hikayat dalam SAN. Sebuah percobaan yang tak melulu mengejar keindahan kaver dalam kemungkinan-kemungkinan cukil kayu berfigur seekor gajah. Hingga akhirnya SAN adalah rupa kejut yang hadir justru dari usaha menjauhkan diri dari keindahan, dari keteraturan.

Konsekuensi yang harus dipikul SAE adalah kepastian yang datang bertubi untuk membenamkan diri dalam pesta teks penerbitan Jogja di akhir 2016. Kepastian tersebut hadir dalam kerja samanya dengan penerbit Tan Kinira lewat Lelaku. Bergayung-sambut dengan karya perupa muda, I Gede Oka Astawa, Narasi. Hingga eksperimen mutakhir seorang pematung yang giat mendaras teks, Asep Prasetyo yang berjudul Anusradead.

Identitas estetika SAE adalah identitas dalam isyarat yang terus mencari. Bahwa sedari N hingga Anusradead, kita disuguhi sentuhan kaver buku yang tak melulu sepadan gaya dan warna. Juga kumpulan ilustrasi yang tersaji di dalamnya. Karenanya, SAE berusaha mencoba segala bentuk kemungkinan untuk tak sekedar menggantungkan diri pada konten, dan mengajak rupa gambar untuk selalu berbahasa.

*

Ragam rupa bukanlah penilaian tunggal bagi SAE. Karena rupa kaver tak akan mampu berbicara banyak tanpa kualitas cetak dan tata ruang dalam, selain juga konten tentunya. Maka, sebagai penerbit SAE harus menaklukan dua hal: pasar dan kerja penerbitan.

Berhadapan dengan giur pasar dan batas-batas tata kelola finansial, SAE sebagai penerbit alternatif tidak melulu menghadirkan bukunya dalam timbunan eksemplar yang berlebih. Siasat yang diusung adalah konsekuensi untuk hadir sebagaimana kapasitas yang disanggupi tahap demi tahap dalam hitung sederhana. Meski berat untuk beberapa kali berpaling rupa dari giur pasar tentang harga buku yang menjulang dan usaha meraba jalur distribusi.

Kerja penerbitan yang mengharap kualitas cetak dan tata ruang dalam yang mumpuni, membawa SAE untuk tidak semata menjadi kamar kerja seorang Andre Tanama. Kerja kolektif menjadi siasat untuk menghadapi batas-batas keahlian dan finansial yang sulit tertebus. Setidaknya tiga dari lima rupa di kaver buku adalah garapan bersama. Begitupun tata ruang dalam yang mengisyaratkan kenyamanan bentuk, posisi, dan warna huruf beserta beberapa ilustrasi yang digagas secara kolektif.

*

SAE diambil dari bahasa Jawa yang berarti “baik”, sesederhana itu. Namun kerja penerbitan yang diusungnya tidaklah mudah. Karena SAE adalah kesederhanaan di tengah kemungkinan untuk menjajaki dunia kepenulisan bagi pekerja rupa di awal, bagi siapapun yang bersungguh-sungguh menantang dirinya untuk menulis dan berkarya.

 

*Disarikan dari wawancara dengan mas Andre Tanama pada Senin 31 Juli 2017


Hartmantyo Pradigto Utomo
Berdomisili Semarang. Menetap di Jogjakarta untuk menyelesaikan pendidikan strata satunya sambil menekuni filsafat kuliner.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara