Di tengah langkanya penerbit yang fokus menerbitkan buku-buku teater, penerbit Kalabuku hadir. Lahir tahun 2011 di Jogja, ia mencoba mengakrabkan kembali teater dengan kata-kata, dengan teks.

Saya percaya tubuh juga membutuhkan bacaan
untuk berbagai memori fisikal maupun traumatik yang pernah dialami
.”
Afrizal Malna, Rumah Untuk Tubuh

NASKAH DRAMA adalah kecemasan dalam ruang tunggu darurat. Bila dunia sastra mengucilkannya karena kadar imajinasi yang tipis, maka jagat teater kontemporer mulai meninggalkannya karena kecenderungan untuk membebaskan tubuh dari kata-kata. Tepat di tengah ketidakmungkinan tersebut Kalabuku hadir untuk menghidupi kecemasan.

*

Teks-Cacat di Luar Tubuh Aktor karya Afrizal Malna adalah penanda kembalinya Kalabuku dari enam tahun lelapnya tidur. Setelah Kintir, kumpulan naskah Ibed Surgana Yuga hadir sebagai kelahiran Kalabuku pada tahun 2011 yang lalu. Jeda adalah refleksi panjang bagi mas Ibed untuk membentuk ruang gerak yang tak sekadar riuh dari satu panggung menuju lainnya, dari suatu cipta artistik pada kembang bentuknya.

Kalanari Theatre Movement adalah sebuah ruang baru bagi mas Ibed untuk menerobos usaha penciptaan teater yang tidak sekadar perayaan estetika. Maka Kalanari meneropongkan jauh dirinya sebagai gerak budaya yang mengukuhkan dua hal semenjak kelahirannya pada tahun 2012. Silam bahasa sebagai dasar pertunjukan dengan dukungan Tubuh Lamis dan usaha menghadirkan derap kata lewat setiap terbitan Kalabuku.

Riwayat panjang arus penerbitan besar memang tak pernah akrab dengan buku teater karena batas pasarnya. Sesekali terserak sebagai terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, Grasindo, lembaga Dewan Kesenian Jakarta, lembaga penerbitan kampus, bahkan proyek Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui karya Radhar Panca Dahana, Teater dalam Tiga Dunia.

Keadaan tersebut justru meneguhkan buku-buku teater untuk akrab dengan penerbitan alternatif pada awal 2000an. Sebut saja Menunggu Godot garapan Bentang Budaya, Jagat Teater oleh Media Presindo, Homo Theatricus dan Waktu Batu dari IndonesiaTera, hingga naskah drama dari Tan Malaka yang diterbitkan Marjin Kiri, Merdeka 100%; Tiga Percakapan Ekonomi Politik.

Tradisi keakraban dengan pasar buku alternatif berlanjut meski terjadi kejatuhan penerbit alternatif Jogja di tahun 2007. Insist Press menerbitkan naskah drama yang dipentaskan di FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) XX milik Puthut EA Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta tahun 2009. Forum Penulis Lakon Indonesia menerbitkan Di Luar 5 Orang Aktor yang merupakan kumpulan naskah dari Indonesia Dramatic Reading Festival 2013.

Selanjutnya, Teater Garasi mendokumentasikan dua puluh tahun perjalanan lewat Bertukar Tangkap Dengan Lepas di akhir 2014. Awal tahun 2017 penerbit Kakatua merilis terjemahan salah satu naskah kanon Strindberg, Nona Julie. Terbaru tentunya terbitan Yayasan Umar Kayam yang bekerjasama dengan Indie Book Corner, Ideologi Teater; Gagasan dan Hasrat Teater Yogyakarta Hari Ini.

Rekam jejak tersebut memang masih menyisakan penyataan bahwa buku-buku teater adalah “terbitan kedua”. Terkecuali sebagai kewajaran bagi lembaga yang bergerak penuh dalam pengkajian teater. Dalam kesadaran tersebutlah Kalabuku hadir sebagai lampu sorot di tengah remangnya perbukuan alternatif terhadap terbitan buku-buku teater.

Setidaknya deret panjang adalah usaha menghantar Kalabuku untuk kembali pada tampuk perbukuan alternatif setelah terbitan terbarunya karya Benny Yohanes, Metode Kritik Teater; Teori, Konsep, dan Aplikasi. Deret tersebut sudah memajang beberapa naskah penulis kanon, mulai dari Tiga Saudari Anton Chekov, Salome Oscar Wilde, Exiles James Joyce, hingga bersua kembali dengan Afrizal Malna lewat Perjalanan Teater Kedua.

Kalabuku telah mendaulat gerak bebasnya dalam arus penerbitan alternatif. Bahwa kecenderungan teater kontemporer memang menyediakan tubuh sebagai cipta teks. Tetapi tubuh tak sepenuhnya terbebas dari pengalaman-pengalaman membaca dan ingatan kata-kata. Sehingga Kalabuku hanya sesaat padam, selanjutnya ia luruh bersama dengan tubuh, bersama masing-masing diri kita.

*

Bentang Budaya dan Jendela adalah dua balut bagi Kalabuku untuk menghidupi  gerus pasar yang seolah enggan memberi tentu. Semangat kedua penerbit untuk membangkang dari arus yang bertukar tangkap dengan kedatangan mas Ibed ke Jogja medio 2003 untuk menempuh studi teater di ISI (Institut Seni Indonesia).

Pukau yang tak dapat disembunyikan oleh mas Ibed, temasuk bagi setiap kita, ketika dimanjakan oleh kover buku penerbit Jogja yang digarap pak Ong Harry Wahyu. Meski tidak berusaha untuk melanjutkan tradisi gores lawasan dari pak Ong, setidaknya Kalabuku berusaha menjadikan setiap kover untuk memiliki timbang takar sebagai karya seni.

Maka buku pun lantas bukan hanya menjadi sebundel teks berjilid dengan wujud fisik tak dipedulikan, melainkan buku itu sendiri merupakan sebentuk karya seni.

Sementara itu, salah satu siasat yang didengungkan Kalabuku dalam melakukan tata keuangan adalah dengan menggunakan naskah-naskah public domain (bebas royalti) teruntuk deret naskah terjemahan. Sembari juga mencantumkan esai lewat perizinan dari beberapa Guru Besar kajian teater di Eropa dan Amerika sebagai pengantar yang tepat. Pun juga keuntungan yang diperuntukkan untuk memperpanjang nafas gerak budaya bagi Kalanari.

Bersama dengan timbang takar yang ditentukan, bersamaan pula dengan tersisanya dua pekerjaan rumah yang tak terelakkan dari Kalabuku. Pertama adalah detail buku yang tentu masih mengalami sedikit kekurangan dan jauh dari perkiraan timbang takar yang diharapkan. Sebab mesin PoD (Print on Demand) selalu memiliki konsekuensi tak menyenangkan jika tak dibarengi dengan kemampuan cetak.

Kedua, Kalabuku masih meraba pasar dan jejaring distribusi penerbitan alternatif. Seperti yang dikatakan mas Adhe (penerbit Octopus, eks penerbit Jendela), bahwa pencapaian panjang dari proses gerak penerbitan alternatif adalah pembentukan jejaring distribusi. Karena dari setiap jejaring tersebutlah setiap buku hidup dan penerbit alternatif dikenal dari dekat.

*

Seperti juga kata “kala” yang menelusur dua arti dalam bahasa Jawa Kuno: waktu (K?la) dan raksasa (Kala, dibaca khala), sekiranya Kalabuku akan mencapai kebesaran pada waktunya. Ketika pementasan usai, ketika pegiat teater kembali ke meja untuk mengingat dan mematrinya pada teks.

 

*Disarikan berdasarkan wawancara dengan mas Ibed Surgana Yuga pada Rabu, 26 Juli 2017.


Hartmantyo Pradigto Utomo
Berdomisili Semarang. Menetap di Jogjakarta untuk menyelesaikan pendidikan strata satunya sambil menekuni filsafat kuliner.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara