19 Jan 2017 Olih Teras Penerbit

Sebuah penerbit alternatif berdiri di Jogja pertengahan tahun 2015: Kakatua. Pemiliknya adalah pengagum James Joyce yang menerjemahkan sendiri “Chamber Music”. Terbitannya pun lintas-genre: novel, puisi, naskah drama.

IA DATANG KE Jogja sekira tahun 2011, selain disuruh kedua orangtua, juga karena ingin belajar hidup jauh dari keluarga. Sebelumnya ia kuliah jurusan elektro dan mendapat IP nol koma di kota kelahirannya, Padang, dan kini tengah menempuh studi di jurusan teknik Fisika di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. “Sialnya, kuliah di mana pun sama saja dan gak berguna,” katanya, dengan nada bercanda.

Gita Kharisma, mahasiswa semester 11, pemuda berambut keriting dengan mata yang selalu tampak lelah, murah senyum, dan gampang tertawa yang sedang kita perbicangkan di sini adalah pemilik penerbitan alternatif di Jogja bernama Kakatua; sebuah penerbitan yang berdiri sejak pertengahan tahun 2015.

Dipilihnya Kakatua sebagai nama penerbitan yang ia kelola adalah sebuah takdir yang harus dijalani. Pasalnya, Kolibri, nama yang lebih ia suka, sudah lebih dulu berjodoh dengan orang lain. “Tapi setelah dipikir lagi, Kakatua pun terdengar bagus, berima, meski Kolibri lebih keren karena merupakan satu-satunya burung yang bisa terbang mundur.”

“Awalnya sih, karena sebal saja, naskah novel saya ditolak di mana-mana,” ujarnya, menjawab pertanyaan saya menyoal alasan dibalik Kakatua berdiri. “Akhirnya saya putuskan untuk menerbitkan sendiri. Dalam pikiran saya ketika itu, kayaknya asyik kalau punya penerbitan sendiri. Setelah dijalanin, eh, ternyata susah juga.”

Meski demikian, nyatanya Gita, atau yang oleh beberapa teman dipanggil Uda, tetap yakin dan makin mantap untuk terus berjalan di jalur penerbitan. Hal ini dibuktikan dengan adanya 4 buku yang sudah diterbitkan.

Adalah Dongeng Binatang, sebuah fabel yang bercerita tentang dua ekor tikus yang dikembangbiakkan manusia untuk dijadikan bahan makanan bagi hewan lain di kebun binatang, yang menjadi terbitan pertama Kakaktua pada September 2015. Buku ini sekaligus juga novelnya yang kali pertama diterbitkan.

Lantas disusul Bilik Musik, kumpulan puisi James Joyce yang ia terjemahkan sendiri pada April 2016. Buku ini memuat seluruh puisi Joyce yang memang tak banyak. Yang menarik, melalui buku ini orang bisa mengenal sisi lain Joyce yang tak sesukar Ulysses, novel kontroversial besutan Raja Prosa Modern Sastra Inggris itu.

Lima bulan berselang atau setahun setelah buku pertamanya terbit, Kakatua kembali menerbitkan fabel—atau lebih tepatnya kumpulan fabel—karya Aesop, yang diterjemahkan oleh Nurul Hanafi. Tidak lengkap keseluruhan memang, karena akan membuatnya terlalu tebal. Maka ketika ada fabel-fabel yang mirip satu sama lain misalnya, dipilih satu saja yang paling menarik.

Seakan sudah menemukan irama langkah dan ingin segera membayarkan dendamnya yang tertahan sekian lama, sebulan kemudian, Kakatua kembali menerbitkan buku; kali ini adalah terjemahan karya Oscar Wilde, Rumah Delima, yang sekali lagi diterjemahkan oleh Nurul Hanafi.

Ada hal menarik di balik rentang terbit yang lama antara buku pertama dan buku kedua penerbit Kakatua, dan itu adalah naskah lain yang sedang dikerjakan oleh pengagum James Joyce ini.

“Sebetulnya, saya lebih ingin menerbitkan A Portrait of the Artist as a Young Man daripada Bilik Musik, tapi untuk menerjemahkannya saya perlu lebih banyak waktu karena lebih susah dan kalau diteruskan malah tidak ada buku yang terbit. Sekarang pun saya baru sampai pertengahan.”

Mendengar jawabannya, saya iseng bertanya kenapa tidak sekalian saja menerjemahkan Ulysses, alih-alih A Portrait of the Artist as a Young Man yang sudah pernah diterjemahkan oleh penerbit Jogja juga.

“Wah, kalau itu berat. Tebal dan susah. Bisa makin lama skripsi saya kelar kalau menerjemahkan buku itu.”

Gita memang melakukan hampir semua urusan sendiri. Mulai dari mencari naskah (termasuk menerjemahkan, meski belakangan sudah mulai bekerja sama dengan penerjemah lain), membuat kover, mengatur tata letak, menyunting, memasarkan, sampai mendatangi percetakan.

“Bukan tidak percaya kepada orang lain. Hanya saja saya bakal lebih puas dengan hasilnya jika dikerjakan sendiri.”

Akan tetapi, ia tidak ingin gegabah. Ia selalu meminta bantuan kepada salah seorang teman untuk memeriksa aksara. Baginya, urusan menyunting dan memeriksa aksara harus dilakukan oleh orang berbeda agar peluang munculnya typo atau kesalahan-kesalahan lain yang lolos lebih kecil.

Selain mengurus hampir semua urusan sendiri, ada hal lain lagi dari Gita yang menurut saya patut mendapat acungan jempol: seleranya dalam membuat kover. Kecuali buku pertamanya, buku kedua hingga keempat yang sudah ia terbitkan mempunyai visual yang cantik. Bukan berarti yang pertama tidak demikian, hanya saja coba deretkan buku terbitan kedua hingga keempat, maka Anda akan mengerti apa yang saya maksudkan.

Ketiga buku tersebut menggunakan template yang sama: sebuah gambar lukisan diletakkan di tengah kover dengan ukuran yang dibuat besar tapi tidak sampai menutup keseluruhan bidang dan nama penulis yang berukuran lebih besar daripada judul buku yang diletakkan di sisi kiri atas lukisan tersebut.

“Saya membuatnya setelah melihat-lihat kover buku terbitan luar yang kelihatan cantik sekali ketika dipajang.”

Dan untuk tema penerbitan, sejauh ini Kakatua lebih fokus untuk menerbitkan sastra klasik. Selain karena memang sudah menjadi domain publik, juga karena ia merasa senang ketika menerbitkannya. Maka saya sedikit paham—meski tetap diiringi rasa heran juga, selepas ia bercerita menyoal naskah yang tengah ia persiapkan untuk terbitan selanjutnya: Miss Julie, sebuah naskah drama karya August Strindberg.

Saya sampai bertanya dua kali untuk meyakinkan diri sendiri bahwa saya tidak salah mendengar, tetapi ia terus menjawab hal yang sama dan kemudian tertawa. “Pasti kamu belum pernah dengar, ya?”

Selain kegemarannya menerbitkan naskah yang boleh dibilang perlu kerja ekstra untuk dipasarkan, ia juga mempunyai kegemaran lain yang tak kalah membikin geleng kepala: mematok harga murah untuk buku terbitannya. Kegemaran yang satu ini bahkan sampai membuat salah seorang kepala penerbitan berseloroh—lebih karena tidak habis pikir, tentu saja—bahwa yang akan ia dapatkan hanya capek saja. Dan sebagaimana biasanya, Gita hanya tertawa.

Secara hitung-hitungan barangkali kepala penerbitan itu benar; bahwa setelah berhari-hari bergadang dan mengurus ini-itu, harga yang dipatok Kakatua sejauh ini hanya akan membikin si pemilik capek saja. Namun, yang tak boleh luput dimengerti, dengan mematok harga murah, sebetulnya Gita sedang meminimalisir pembajakan. Karena ia percaya, buku yang dibajak hanya buku mahal saja. Dan yang lebih penting lagi, ia memang suka dan menikmati proses mencipta.


Olih
Olih adalah pelapak daring yang bisa dijumpai di stanbuku.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara