“Jadilah tukang berita yang pandai bercerita,” kata penyair Sapardi Djoko Damono menutup 40 menit uraiannya tentang jurnalistik dan sastra. Acara masih lama, masih ada waktu hampir satu jam untuk sesi diskusi.

SAPARDI DJOKO DAMONO, penyair kelahiran 1940, dia menolak menyampaikan materi sambil duduk. “Boleh saya berdiri saja?” Tanyanya pada moderator yang langsung mengiyakan sambil tersenyum. Empat puluh menit uraiannya seluruhnya dia lakukan sambil berdiri, berjalan ke sana kemari dengan tangan satu memegang mikrofon dan tangan lainnya kadang bergerak ekspresif.

Bahasa Indonesia yang dia gunakan sesekali tercampur oleh bahasa Jawa. Pada poin tertentu hal itu kadang menggelitik, misalnya ketika dengan ekspresif dia menyebutkan “puisi gelap” sebagai “puisi yang tak bisa kita pahami mboh karepe opo”. "Mboh karepe opo" itu dia ucapkan dengan aksen yang medok. 

“Saya orang Solo,” kata dia. Maka tak heran ketika ditanya seorang peserta wanita tentang siapa penyair favoritnya, dia menyebut nama WS Rendra, penyair berbahasa ibu bahasa Jawa yang puisi bahasa Indonesianya bisa dia pahami. Tapi sebelum menyebut nama itu, dia terlebih dahulu menyebut satu nama penyair lain yang disambut dengan tawa dan tepuk tangan hadirin: Sapardi Djoko Damono.

Tentu Sapardi juga menyebut nama penyair lain yang disebutkannya “beberapa sajak dia mengacu ke penyair tersebut”: Wislawa Szymborska. Dia adalah seorang penyair wanita Polandia yang meraih Nobel Sastra tahun 1996. Lima puisinya dalam versi terjemahan bisa ditemukan dalam buku Antologi Puisi Nobel (Bentang Budaya, 2001) yang dipengantari oleh Sapardi Djoko Damono.

Seminar Sastra dan Jurnalisme yang diprakarsai oleh LPPM Sintesa FISIPOL UGM ini memang berjalan cair. Ada banyak tawa terdengar baik ketika sesekali Eyang Sapardi—demikianlah penyair kita ini mengatakan paling suka disebut—melemparkan guyonan spontan, ataupun ketika peserta menanyakan sesuatu hal yang memang lucu.

Termasuk ketika acara penyampaian materi baru dimulai. Pada slide awal yang ditayangkan, terpampang tulisan berita dan cerita itu hanya beda antara “b” dan “c”. Sontak semua hadirin tertawa. Mungkin itu cara Sapardi mencairkan suasana, strategi yang kemudian terbukti berhasil.     

*

Ruang Auditorium Mandiri Lt. 4 FISIPOL UGM, sebuah ruang luas berbentuk pentagon dengan atap yang jauh. Di satu sisi yang diposisikan sebagai bagian depan, nampak dua sofa kecil dengan latar lukisan wajah Sapardi Djoko Damono, di salah satu sisinya berdiri banner mini SINTESA, lalu kesemua itu diapit oleh dua LCD proyektor yang menampilkan Sapardi sedang berdiri memegang mikrofon dengan tangannya yang lain mengayun ke depan.

Terang dari jendela berbaur dengan terang neon-neon kecil pada atap. AC menderu memancing orang yang baru masuk untuk merapatkan jaket. Gedung itu bersih, rapi, dengan dinding putih. Kursi-kursi ditata dalam enam kelompok yang disusun makin ke belakang makin banyak. Di tiap kursi tergolek koran Kompas hari itu, bergabung dengan satu buku catatan, pulpen, dan makanan ringan yang didapatkan tiap hadirin saat registrasi di luar ruangan.

Pukul sembilan, jadwal acara dimulai, kursi sudah terisi 50an lebih, sebagian besar wanita, sementara di luar peserta masih banyak yang antri melakukan registrasi. Nampaknya itu menjadi salah satu alasan kenapa kemudian dari panitia memberitahukan bahwa acara akan dimulai lima belas menit lagi. “Animo peserta memang tinggi,” kata panitia. “Semula kuota dibatasi 150 orang, kemudian ditambahi menjadi 250.”

Memang panitia menepati janjinya. Lima belas menit setelahnya acara dimulai. Sepuluh menit kemudian barulah sang penyair masuk. Berkemeja warna marun dan jas warna biru tua, celana hitam, rapi. Hpnya nampak menyembul sedikit dari saku jas, benda yang nanti ia komentari sebagai “benda asing”. Ia langsung duduk di sofa panjang di deret terdepan kursi. Lalu terdengar Teater Selasar membacakan baris-baris sajak Pada Suatu Pagi Hari diiringi musik akustik:

Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja...

Peserta masih terus berdatangan, orang-orang yang datang dengan niat masing-masing: ada seorang peserta wanita yang mengatakan bahwa ia hadir karena memang ia merupakan pengagum puisi-puisi Sapardi, sementara alasan kenapa dia mengagumi puisi-puisi Sapardi adalah karena kata-katanya yang sederhana. Komentar yang sama juga terdengar dibisikkan oleh seorang peserta lain.

Lagipula informasi tentang acara ini juga menyebar melalui bantuan media sosial: “saya mendapatkan informasi tentang acara ini dari internet,” kata seorang peserta pada sesi ngobrol awal. Dari panitia dengan nada guyon menambahkan bahwa saking antusiasnya orang-orang akan acara ini sampai-sampai ditemukan kasus pamflet-pamflet yang ditempelkan panitia di mading-mading kampus pun beberapa ada yang diambil orang. Harga tiket acara 25 ribu nampaknya bukanlah harga yang mahal.    

Hampir pukul sepuluh, barulah penyair kita menempati tempatnya sebagai pembicara di sofa depan, didampingi seorang moderator yang nanti di ujung tiap sesi memberikan semacam ringkasan. Udara dalam ruangan saat itu tak lagi terasa sedingin di awal, mungkin panitia sudah mengubah angka pada pengatur suhu, atau mungkin karena peserta sudah hampir memenuhi ruangan: hanya tinggal satu dua kursi kosong yang bisa ditemukan.

Layar proyektor kini berganti menampilkan tulisan “Berita dan Cerita: Sebuah Catatan”. Itulah tanda benar-benar dimulainya acara inti Seminar Sastra dan Jurnalisme yang diprakarsai LPPM Sintesa FISIPOL UGM dengan tema “Membaca Dinamika Bangsa Melalui Jurnalisme Sastra” pada Minggu, 28 Agustus 2017 itu.

*

Pada dasarnya acara inti hari itu dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah sesi penyampaian materi oleh penyair Sapardi, 40 menit, sesi kedua adalah sesi diskusi dengan hadirin, 46 menit. Sesi pertama menghabiskan 26 slide yang penting, sesi kedua diisi oleh jawaban langsung sang penyair untuk 8 orang penanya.

Penyair Sapardi menjelaskan slide demi slide dengan tenang dan runtut. Ia tak berpretensi mengejutkan secara frontal, suaranya tak menggelegar tapi sampai ke kursi belakang tetap jelas terdengar. Dengan tenang sedikit demi sedikit dia menarik pendengarnya ke dunia yang dia ciptakan, sebagaimana demikianlah dia lakukan dengan puisi-puisinya selama ini.

Di awal materinya ia mengangkat pandangan umum tentang “berita” dan “cerita” dalam hubungannya dengan fakta dan fiksi. Bahwa berita mengangkat fakta, bahwa cerita mengangkat fiksi. Bahwa berita bisa dibuktikan, bahwa cerita hanya dikarang.

Lalu dia mulai mengusik dengan memberikan pertanyaan: “Ketika kejadian disampaikan oleh beberapa orang, apakah sama persis?”

Hadirin hening. Masing-masing nampaknya memiliki jawaban: tidak sama. Dengan pertanyaan itu Sapardi menukik pada titik singgung berita dan cerita, jurnalisme sastra. Sepanjang penyampaian materi, dia memang kerap mengajukan pertanyaan yang bisa memancing hadirin untuk memikirkan lebih jauh pandangan umum yang sudah lazim diyakini.

Kali lain dia misalnya mengajukan pertanyaan: “Seorang wartawan, apakah dia menyajikan berita, atau bercerita?”

Sebuah berita setiap hari digantikan oleh berita baru. Sebaliknya, sebuah cerita bisa bertahan lama. Maka cerita bisa digunakan sebagai alat untuk mengawetkan berita supaya bertahan lebih lama. Jika berita adalah “informasi baru yang bermanfaat diketahui terutama tentang kejadian hangat”, maka cerita adalah “berita yang bertahan sebagai berita”, news that stays news.

Pada titik ini seorang wartawan kemudian dipahami sebagai seseorang yang pada hakikatnya merupakan juru cerita, seseorang yang terampil menggunakan berbagai piranti bahasa: metafora, perlambangan, ironi, paradoks, dan kawan-kawannya.

Setelah memberi pondasi pemahaman semacam itu, barulah sang penyair mengajak hadirin meninjau secara sepintas persinggungan berita dan cerita dalam sejarah kesusasteraan Indonesia. Dia misalnya menyinggung bahwa ketika media cetak muncul, para jurnalis umumnya adalah sekaligus seorang sastrawan yang mengawetkan berita menjadi syair atau cerita. Ia mencontohkan beberapa nama: Kwee Tek Hoay, Mas Marco Kartodikromo, Rustam Effendi.

Peristiwa Sumpah Pemuda, juga dijelaskannya sebagai hasil berkumpulnya para aktivis, sastrawan, dan wartawan dalam berbagai perhimpunan pemuda saat itu. Teks Sumpah Pemuda itu sendiri diciptakan oleh Muhammad Yamin yang merupakan seorang penyair. Teks itu setelahnya disiarkan juga melalui karya sastra di berbagai media, baik dalam bentuk cerpen ataupun puisi.

Sementara itu, pada masa Pujangga Baru, zaman Jepang, dan zaman revolusi sampai 1959, para politikus biasanya juga merupakan seorang sastrawan. Salah satu nama yang disebutnya kembali adalah Muhammad Yamin sebagai seorang politikus yang sekaligus juga menulis puisi.

“Perkembangan sastra Indonesia kini sangat pesat,” kata Sapardi. Hal itu terutama didukung oleh kemudahan akses generasi netizen yang bisa berselancar ke mana saja tanpa halangan bahasa dan ruang geografis negara, hal yang membedakan mereka dengan generasi dulu, generasi “citizen”.

Dalam sesi pertanyaan, andai tak dibatasi, nampaknya acara tersebut tak akan pernah selesai. Terlihat dari kenyataan bahwa selalu ada sangat banyak tangan teracung pada tiap kesempatan. Dari 8 penanya yang terpilih dalam 3 kali kesempatan, 6 orang adalah wanita dan 2 orang adalah pria. Sampai akhir memang hadirin tetap didominasi oleh kaum wanita.

Salah satu yang menarik adalah ketika seorang penanya mengatakan bahwa kita bisa melihat dinamika sejarah bangsa dengan mendudukkan teks puisi Chairil misalnya secara kontekstual, lalu bagaimana generasi mendatang akan membaca sejarah masa kini jika karya sastra masa kini misalnya melulu berbicara tentang cinta-cintaan?

“Chairil Anwar juga sebagian besar puisinya adalah puisi-puisi cinta,” jawab Sapardi. Cinta pada dasarnya adalah hal yang tak bisa terpisahkan dari sastra, kalaupun misalnya bisa, siapa yang lantas mau membacanya?

Maka pada akhirnya yang penting adalah apa yang ada di balik cinta itu sendiri. Sapardi mencontohkan roman Sitti Nurbaya. Roman itu disajikan berupa sebuah kisah cinta, tapi apa yang bisa ditelusuri di balik kisah cinta itu adalah protes kenaikan pajak.

Ada juga seorang penanya yang menanyakan bagaimana caranya Jurnalisme Sastra bisa diterima semua orang. Sapardi sambil tersenyum menjawab: “Tulisan yang bisa diterima semua orang itu tak mungkin ada.” Karena itu pulalah penilaian terhadap seorang sastrawan dan karyanya pun seringkali beragam.

Seorang penanya lain menarik Sapardi untuk membahas perihal karya terjemahan. Sebuah proses penerjemahan menurut dia dimaksudkan untuk membuat pengguna bahasa sasaran memahami karya tersebut. Dengan demikian, hasil terjemahan itu sudah bukan milik sang pengarang asli, ia sudah menjadi pemilik si penerjemah.

Sementara tentang kepenulisan puisi sendiri, penyair Sapardi tak memberikan tips apapun. “Kalau mau menulis ya gak usah tanya-tanya, menulis saja,” kata dia. “Saya sendiri kalau mau menulis ya menulis.” Lanjutnya disambut dengan tawa hadirin.

Pukul 11.44, acara selesai setelah ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dan kuis untuk hadirin. Sang penyair legendaris yang sudah sepuh itu meninggalkan ruangan. Langkahnya masih nampak lincah, mengingatkan pada baris-baris sajak yang ditulisnya hampir 3 dekade yang lalu dan dibacakan oleh Teater Selasar pada pembukaan acara: yang fana adalah waktu. Kita abadi.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara