Nama J.S. Badudu tak pernah bisa dipisahkan dari pembahasan tentang Bahasa Indonesia. Buku-buku yang dikarangnya di bidang itu juga selalu menjadi rujukan para pembelajar, sampai kini.

SEJAK tahun 1974-1979, nama Jusuf Sjarif Badudu atau yang dikenal sebagai J.S. Badudu, dikenal luas oleh publik sebagai narasumber dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI. Acara itu tidak saja menjadi penting karena materi acaranya, tetapi juga sikap Badudu yang tidak memilih-milih untuk mengkritik penggunaan bahasa Indonesia yang salah. Adalah Presiden RI saat itu, Soeharto, yang selalu menyebut akhiran “kan” dengan “ken.” Lewat acara inilah Badudu mengoreksi kesalahan itu, sesuatu yang amat sulit dilakukan semasa Soeharto menjabat.

Setelah Badudu memutuskan berhenti menjadi narasumber acara itu, banyak yang menduga kritikannya kepada Soeharto yang jadi musababnya. Puluhan tahun kemudian, tak lama setelah kematiannya pada 12 Maret 2016, kabar itu dibantah anaknya, Fransiska Dharmayanti. Menurut Fransiska pengunduran diri itu disebabkan oleh kesulitan sang ayah membagi waktu siarannya dengan kesibukan sebagai dekan di Universitas Padjajaran, Bandung. Fransiska, seperti yang dikutip dari Tirto.id, mengatakan bahwa kritik ayahnya atas penggunaan bahasa Indonesia yang salah tidak saja dialamatkan kepada penguasa, tapi juga kepada kalangan manapun, apapun latar belakangnya.  

J.S. Badudu juga merupakan penatar Bahasa Indonesia untuk berbagai lapisan masyarakat, seperti mahasiswa, dosen, guru, wartawan, pegawai pemerintah, dan polisi. Selain itu, ia sering menyajikan makalah di luar negeri, seperti di Belanda, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Jepang.

J.S. Badudu lahir di Gorontalo, 19 Maret 1926. Pada usianya yang ketiga belas tahun (1939) Badudu menamatkan Sekolah Rakyat di Ampana, Sulawesi Tengah.  Kemudian, ia mengikuti kursus Volksonderwijser/CVO (Pengajar umum) di Luwuk, Sulawesi Tengah (1941). Tahun 1949 ia menyelesaikan pendidikan Normaal School di Tentena, Sulawesi Tengah. Ia melanjutkan sekolah di KweekschooI/SGA, Makassar, Sulawesi Selatan dan tamat pada tahun 1951.

Tahun 1955 ia menyelesaikan pendidikan B.1, Bahasa Indonesia di Bandung dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung (1963). Tahun 1971—1973 Badudu melanjutkan pendidikan pada Postgraduate Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Tahun 1975 ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan spesifikasi linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta, melalui disertasi yang berjudul "Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo”.

Sebagai orang yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Bahasa Indonesia, Badudu telah mengabdikan diri sebagai guru sejak usia 15 tahun 5 bulan. Ia menjadi guru sekolah dasar di Ampana, Sulawesi Tengah hingga tahun 1951. Pada tahun 1951—1955 ia menjadi guru SMP di Poso, Sulawesi Tengah, dan pada tahun 1955—1964 menjadi guru SMA di Bandung. Ia juga pernah menyumbangkan tenaga sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1965–1991.

Tahun 1982, Badudu menjadi guru besar linguistik pada Program Pascasarjana (S2 dan S3) Universitas Padjadjaran Bandung dan Universitas Pendidikan Indonesia Ia juga menjadi guru besar di Universitas Pakuan Bogor pada tahun 1991—2016 dan di Universitas Nasional Jakarta pada tahun 1994—2016. Ia juga pernah, selama tiga tahun, menatar guru-guru sekolah dasar di enam provinsi (Sumatera Barat, D. I. Aceh, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan D.I. Yogyakarta) dalam proyek Prelimenary Education Quality Improvement Project (PEQIP), sebuah lembaga bantuan Jerman yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kala itu. Dalam rentang tahun 1995—1997, ia mengunjungi setiap provinsi itu 2 kali dalam setahun.

J.S. Badudu kemudian menikah dengan Eva Henriette Alma Badudu pada tanggal 9 Mei 1953. Pernikahan mereka menghasilkan sembilan putra-putri, yaitu Dharmayanti Francisca, Erwin Suryawan, Chandramulia Satriawan, Chitra Meilani, Armand Edwin, Rizal Indrayana, Sari Rezeki Adrianita, Mutia Indrakemala, dan Jussar Laksmikusala.

Sebagai guru dan dosen bahasa Indonesia selama 49 tahun, Badudu pernah menerima bintang jasa Pemerintah RI, yaitu Satyalencana 25 tahun Pengabdian dan Bintang Mahaputra yang diserahkan sendiri oleh Presiden Megawati Sukarnoputri pada tanggal 15 Agustus 2001 di Istana Negara. Bintang jasa itu diberikan pemerintah sebagai penghargaan atas jasanya membina bahasa Indonesia selama bertahun-tahun bagi seluruh lapisan masyarakat indonesia

Sampai tahun 2003, dalam usia 76 tahun Badudu tidak hanya aktif sebagai guru, dosen, dan penatar bahasa Indonesia, tetapi juga aktif sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar dan majalah. Gaya bahasanya sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, cakupan tema yang dibahasnya pun hal-hal yang nampak remeh seputar bahasa akan tetapi justru sebenarnya penting, dan Badudu bisa menyajikannya dengan menarik. Sejak tahun 1977 Badudu menjadi penulis atau pengisi rubrik tentang pembinaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari Jakarta. Di kemudian hari, kumpulan tulisannya dalam rubrik tersebut juga dibukukan.

Guru Besar Universitas Padjajaran dan Universitas Pendidikan Indonesia itu menghembuskan nafas terakhirnya di usia 89 tahun.  Sudah satu dekade terakhir ia pensiun sebagai dosen. Di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, J.S Badudu meninggal pada pukul 22.10 WIB karena sakit stroke yang dideritanya. Badudu dimakamkan sehari setelah kematiannya di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara